CERPEN RIKI UTOMI

Jinggo Membelokkan Nasib

10 September 2016 - 23.48 WIB > Dibaca 2202 kali | Komentar
 
Jinggo Membelokkan Nasib
TIDAK usah muluk-muluk untuk menginginkan sesuatu. Kau cukup bekerja saja apa adanya. Ikuti irama kerja tersebut, gampang bukan? Sebab kalau tidak ada irama kerja, kau akan muak dan isi kepalamu pasti tidak karuan. Hanya tubuhmu saja berada di tempat itu.

Itulah yang dikatakan Jinggo kepadaku tempo hari. Tepat saat dia mendapatkan gaji pertama—yang tak seberapa—dari hasil kerjanya di sebuah tempat cucian sepeda motor. Dia bangga berkoar sambil menyantap nasi bungkus sebagai bonus dari sang bos plus sebotol teh instan dengan merk tak dikenal, “kerja itu tidak pilih-pilih, asal dapat langsung sikat. Agak mirip jambretlah… tapi itu negatif, tapi kalau aku punya positif,” ucapnya tertawa dengan mulut penuh nasi. “Kau tahu sendirilah, di negara ini sejak dulu sampai sekarang cari kerja susah, bukan?” lanjutnya sambil iseng menawariku sepotong tempe goreng.

Dulu dia katakan ingin melanjutkan kuliah selepas tamat dari bangku SMA. Aku masih ingat dengan antusias dia mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti tes jalur bidik misi dari sekolah. Tapi di tengah jalan, sang ibu merasa tak mampu membiayainya tersebab ibunya hanya berjualan ikan asin di pasar (sedang ayahnya—sedari dia kecil—tak diketahui lagi rimbanya). Hal itu membuatnya murung satu bulan. Di akhir bulan, aku sempat menemuinya di pinggir sebuah kali dengan wajah sekusut benang, mulutnya terus mengepulkan asap rokok. Setelah kuhampiri dan bertanya, dia malah mengejutkanku, “aku ingin mati saja …” ucapannya sedingin es batu. Aku yang hanya sendiri waktu itu tak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa membujuk dengan harapan dia tak berbuat nekat. Tapi terlambat, setan lebih dulu menguasainya sebelum nasihatku melekat di hatinya. Jinggo terjun ke kali. Aku tentu saja hampir mati ketakutan melihatnya—terlebih karena desas-desus kalau di kali itu kadangkala pernah muncul ular besar. Untuk itu aku teriak sekuat-kuatnya agar ada segelintir orang yang mau menolong.

Tapi nahas, tak satupun orang lewat di tempat sepi itu tersebab kedaaan yang mungkin sudah hampir magrib, lagi pula agak jauh dari keramaian dan terpelosok. Dalam keadaan heran, aku melihat Jinggo malah tertawa sambil berenang. Dia menunjukkan sikap gembira dari biasanya, “Sepertinya bunuh diri bukan sikap ksatria, seperti klaim orang Jepang. Aku masih ingin hidup, Entah mengapa tiba-tiba terlintas dipikiranku tentang Ningrum. Aku tidak mau mati cepat-cepat sebelum dapat menciumnya….” dia meledak tertawa. Aku mengumpatnya dan tanpa peduli segera meninggalkannya. Gemblung!

PERKARA tidak jadi ikut tes masuk perguruan tinggi melewati jalur bidik misi tampaknya menjadi perkara baru baginya. Meskipun dia tampak murung tapi sesekali tertawa sendiri, senyum-senyum sendiri, atau berbicara lirih sendiri (atau juga bergumam dengan maksud bernyanyi?) tapi sungguh aku yakin dia berbicara sebab aku pernah mendengar beberapa kali kalau mulutnya sedang berbicara lirih seolah sedang berdialog dengan seseorang tapi aku tak tahu siapa gerangan yang menjadi khayalannya itu. Aku menaruh khawatir kalau pikirannya telah miring beberapa derajat.

Hari ini dia sibuk membantu ibunya berjualan di pasar. Sebenarnya Jinggo remaja yang rajin meski membosankan. Rajin membantu keadaan ekonomi orangtua. Dia remaja yang sadar akan hal itu. Dulu dia pernah menawariku buah-buahan hutan bernama Karimunting. Buah berwarna merah tua kecokelatan itu begitu sepat dan agak pahit dimakan, tapi cukup mempesona karena dia mempengaruhi kawan-kawannya, selain kepadaku.

“Kalau kalian tersesat di hutan dan tidak ada makanan, jangan khawatir, makan saja buah ini. Sebab buah ini langka dan aku sudah membawakannya untuk kalian. Beli saja dariku, murah saja, tidak mahal, kok,” dia berkata dengan wajah yang sangat miris. Buah-buahan itu telah dibungkusnya dengan teratur dan sangat rapi. Akhirnya ada beberapa teman perempuan yang membeli dan sedikit sekali teman lelaki yang membeli; itupun karena faktor belas kasihan tanpa yakin benar apakah kelak mereka akan memakannya seperti menikmati buah pisang, papaya, atau anggur. Aku tahu mereka—tanpa sepengetahuan Jinggo—membuang buah-buahan itu di tempat pembakaran sampah setelah ada seorang teman yang memakannya langsung muntah.

Dari hal itulah menurutku bahwa dia rajin dalam mengolah apapun menjadi uang. Katanya, “meski orang lain tidak suka, jangan kau ambil pusing! Sebab nasib ada di tanganmu, bukan di tangan mereka” aku mengangguk saja tanpa serius benar dari perkataannya itu, meski juga memahami. Pernah juga dia berjualan bermacam bunga, sebelum dijual dia terlebih dulu membeli plastik tipis dengan beragam corak dan merancang lipatannya dengan bentuk mengesankan, tak ketinggalan ditambahkan semprotan parfum sambil diikatkan dengan pita warna-warni. Hari itu dia mengajakku membawa bunga-bunga itu menuju ke sebuah kampus yang sedang melangsungkan acara wisuda. Dia menjajakan bingkisan bunga-bunga itu sambil sibuk menawari dengan harga paling murah. Tapi entah bagaimana, dari awal sampai acara wisuda berakhir, tak satupun orang tertarik dengan bunganya. Wajahnya tak dapat kuucapakan lagi, tapi sebelum dia menumpahkan air mata, segera kusodori sebungkus tisu kecil yang kebetulan kubawa dari rumah. Dia mengelap peluhnya yang membanjiri di wajah dengan mata yang tampak berkaca-kaca. Dia menarik mafas panjang… “Seharusnya aku berjualan sirup saja hari ini. Sebab panas begitu menggila.” Dia beralih memandang penjual minuman dingin di pojok sebelah gedung tak jauh dari kami. Penjual itu tampak tua tapi terus saja cengengesan sambil tersenyum bangga ketika melayani sejumlah pembeli air sirupnya. Jinggo mendesah lesu. Dia tak semangat lagi memandang bunga-bunga yang telah dibungkusnya sejak pukul tiga pagi itu; kini bunga itu juga terlihat telah lesu dan layu.
“Barangkali orang tidak memerlukan bunga untuk wisuda tahun ini,” balasku menghiburnya.
Jinggo menggeleng, seperti kesal tapi tertawa, “Bunga bukan bagian dari budaya kita, sepertinya begitu, bagaimana menurutmu? Mungkin senasib juga kalau aku berjualan buku, kurasa para mahasiswa hanya menimang, melihat, lalu membaca sekilas apa yang ada di kulit buku tanpa mau membelinya. Seharusnya aku berjualan air minum dan makanan…”

“Sudahlah… barangkali hari ini bukan rezeki kita,” balasku akhirnya.

Dia memasukkan lagi bunga-bunga bingkisan yang telah layu itu ke kantung plastik besar. Lalu beranjak dari kampus. Siang begitu mambakar tubuh. Aku yang berjalan merengut karena kepanasan di sebelahnya begitu aneh menatapnya. Sambil menenteng kantung besar itu, dia kembali mengoceh tentang nasib tapi dengan wajah senyum. Baru aku tahu ketika besok, emaknya berkata bahwa Jinggo menangis semalaman dan tak tidur-tidur sampai pagi karena—seperti yang dikatakan emaknya—menyesali nasib.

***

JINGGO tidak terlalu pintar, tapi juga tidak bodoh. Dia cukup memiliki wawasan karena rajin membaca. Kalau kawan-kawannya di jam istirahat selalu asik di kantin sampai jam istirahat berakhir atau juga kalau kelas sedang tidak masuk guru dan penugasan telah selesai (atau juga tidak ada tugas) Jinggo malah sibuk dan khusuk di pustaka; juga, baginya, pustaka sebuah tempat “pelarian” yang paling menyenangkan. Dia melahap bacaan apa saja yang menarik hatinya. “Toh, aku juga tidak memiliki uang untuk jajan, bukan?” katanya padaku. Aku tertawa, “Jadi kalau kau lapar dan haus bagaimana?” Dia malah ngakak dibilang begitu, “Soal haus dan lapar itu manusiawi, selama kita mampu membelokkan nasib dari rasa lapar dan haus, kita tidak akan masalah dalam hidup ini, bukan? Lihatlah, kau boleh lihat, bahwa mana ada aku sibuk haus dan lapar di sekolah ini? Bahkan kau tak pernah melihatku jajan, kan?” katanya meyakinkanku. Lalu dia sibuk lagi dengan bacaan buku yang baru. Aku hanya tersenyum. Tapi aku sungguh terkejut, ketika pas pelajaran terakhir dia masuk ruang P3K dengan kondisi memprihatinkan sambil memegang perut. Aku meringis melihatnya.

“Kurasa kau sakit maag…” kataku lirih.

Dia memandangku dengan wajah seperti kertas yang telah dikerumuk, sambil terus memegang perutnya. Dia mengaduh meski tampak berusaha menahan. Kupesan sepiring nasi goreng agar dia segera makan. Tapi dia menggeleng, “aku lebih baik begini… “ aku sungguh heran. Setelah kubujuk dan sedikit mengancam tentang bahaya penyakit itu, dia malah berkata, “Penyakit itu nasib. Selama kita bisa menanggulanginya kita tidak akan terjebak pada takdir penyakit itu.” Aku hanya membuang nafas.

***

HARAPAN Jinggo untuk dapat meneruskan kuliah di perguruan tinggi kandas. Meski aku kadang menyemangatinya tapi dia tampak tak peduli lagi. Tapi aku yakin dia punya semacam modal nekat. Tempo hari dia berkata kepadaku kalau kuliah itu yang dibutuhkan hanya kemauan keras. “Kita harus keras seperti batu karang. Kuliah saja apa adanya. Soal biaya, tidak perlu dipikirkan benar, nanti akan datang sendiri,” ucapnya yakin. Aku mengangguk mengangkat jempol. Lanjutnya, “Soal makan, apa adanyalah… yang penting, asal jangan makan batu!”

Lalu kami tertawa berdua. Aku sedih untuk kali ini harus berpisah dengannya. Aku melanjutkan perguruan tinggi di kota lain. Sedang Jinggo masih belum kuat dengan apa yang menjadi pilihan hidupnya itu. Aku mengerti dengan kondisi keluarganya yang demikian, meskipun dia kadang selalu menghibur diri dengan mengatakan “aku kuat… aku kuat” sambil mengepal tangan, tapi aku tahu itu hanya bentuk hiburannya saja. Nyatanya dia selalu menangis di dalam kamar reotnya. Emaknya selalu bercerita kepadaku dengan wajah miris.

HAMPIR lima tahun kini aku tidak lagi berjumpa dengan Jinggo. Emaknya dikabarkan telah lama meninggal dunia karena penyakit tua. Dari kawan-kawan yang kudengar, Jinggo pergi meninggalkan kampung. Dia ingin merantau mencari hidup sampai berhasil. Entah dimana rimbanya saat ini. Tapi yang kutahu dia memiliki tekad kuat untuk berhasil dalam segala hal. Bulan ini aku selesai menuntaskan tugas akhir, tinggal menanti wisuda dua bulan lagi. Untuk itu aku pulang kampung.

Aku turun di simpang setelah ojek tidak bisa melewati jalan tanah gambut yang amblas akibat sejak beberapa hari disirami hujan lebat. Kususuri jalan kampung yang mengingatkanku beberapa tahun lalu. Melewati pembelokan setelah masjid jamik, tampak rumah Jinggo masih seperti dulu namun papan-papan dinding rumah itu telah banyak yang lapuk. Sayang… dia hanya membiarkan rumah itu begitu saja hingga terbengkalai. Seandainya rumah itu disewakan, dia akan punya tabungan, walau sedikit. Kupandangi rumah tua itu, sangat miris senasib dirinya  dan emaknya.

Aku disambut ibu dengan penuh suka-cita. Tapi adikku tiba-tiba nyelutuk kalau Jinggo sudah mati. Aku tentu saja terbelalak. Ibuku menepis adikku yang sok tahu itu. “duduk dulu, minum teh dulu…” ajak ibuku sambil senyum. Tapi wajahku malah semrawut. “Apa benar Jinggo telah meninggal dunia, Bu?” ibuku berubah berat. Wajahnya tiba-tiba tak bercahaya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dibenaknya.

“Sehari lagi ia mungkin akan mati…” kata ibuku dingin.

Aku gelagapan, “Ada apa sebenarnya?”

“Vonis hakim telah menjatuhkan hukuman mati untuknya. Tak ada sesiapa yang dapat membela dan menolongnya. Itu nasib dan takdirnya ….”

Aku terhenyak. Kupejamkan mata erat. Dadaku bergemuruh. Tubuhku seperti tak bertenaga sama sekali. Jinggo, sahabat baikku itu, akan dihukum mati? Aku menjambak rambutku. Semua orang kampung juga tidak menyangka kalau selama beberapa tahun ini Jinggo terlibat bisnis obat-obat terlarang dan tertangkap basah membawa berkilo gram sabu-sabu, juga selalin itu yang semakin hatiku terhenyak bahwa dia menjadi mucikari wanita-wanita penghibur.

BESOK tanpa pikir panjang, aku segera berangkat kembali ke ibu kota. Kujumpai dia di sebuah sel penjara sebelum diterbangkan ke tempat eksekusi mati. Aku memohon kepada aparat penjaga agar dapat berjumpa dengannya untuk terakhir kali. Ahirnya kami saling berjumpa. Jinggo tersenyum memandangku. Menyapaku dengan santun dan ramah seperti dulu. Aneh, aku malah tak bergairah dan dingin memandangnya.

“Jangan khawatir. Aku tidak akan apa-apa. Bukankah kematian sebagai jalan menuju ke tempat yang lebih baik?” katanya kepadaku.

“Tidakkah kau ingin bertdaubat?” balasku.

“Taubat telah kulakukan sepenuh hati sebelum besok peluru menembus jantungku. Aku telah membelokkan nasibku ke jalan lain dan takdir memihakku menjadi seperti ini…” 

“Ke jalan apa?”

“Jalan kematian. Bukankah itu nasib yang kubelokkan?”

“Tapi mengapa kau membelokkan kepada hal yang berujung kepada kematian!?”

“Sebab aku telah kehilangan kompas.”

“Di belakangmu, iblis berpesta pora merayakan kemenangannya.”

“Tapi malaikat juga mengangkat tangannya untuk ampunanku.”

Kutatap lagi Jinggo. Gila, dimana aku yang merasa sangat ketakutan, dia malah tampak tenang sekali seperti tidak terjadi apa-apa. Apakah sejak hari-hari yang lalu para ustad telah menceramahinya hingga dia seperti ini? Barangkali dia benar. ***

Selatpanjang, Mei 2016


Riki Utomi penikmat sastra dan linguistik. Buku kumpulan cerpennya Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015). Sejumlah karya pernah dimuat dalam Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Indopos, Suara Merdeka, Lampung Post, Banjarmasin Post, Babel Pos, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Inilah Koran, Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Kendari Pos, Buletin Jejak, Majalah Sabili, Haluan Kepri, dll. Mendapatkan Penghargaan Acarya Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta. Tinggal di Selatpanjang.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us