OLEH YULITA FITRIANA

Komik Mayang Terurai

10 September 2016 - 23.59 WIB > Dibaca 1472 kali | Komentar
 
Komik Mayang Terurai

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah buku yang tersimpan di Perpustakaan Balai Bahasa Provinsi Riau. Buku tersebut berjudul Mayang Terurai (Legenda Puteri Tujuh, Asal Mula Nama Kota Dumai). Buku yang berjumlah 130 halaman itu menjadi menarik dan istimewa karena berbentuk komik.

Di Indonesia, penerbitan komik diperkirakan sudah ada sejak 1930-an. Komik “Si Put On” karya Kho Wan Gie di Harian Sin Po yang terbit tahun 1931 ditengarai sebagai komik pertama Indonesia. Komik ini terpengaruh gaya visual Cina. Pada akhir tahun 1940, komikus Nasroen AS menyajikan komik “Mentjari Poetri Hidjaoe” yang diterbitkan mingguan Ratu Timur. Dalam perkembangannya, komik Eropa dan Amerika juga  masuk ke Indonesia, seperti Flash Gordon, Flippie Flink, atau Tarzan. Setelah itu, komik-komik bernuansa Indonesia sempat berjaya pada masa 1960—1980-an. Sebut saja komik-komik karya RA Kokasih, seorang legenda komik Indonesia, yang menulis komik Sri Asih, Mahabarata, dan Ramayana. Akan tetapi, kemudian komik Jepang (manga) menyerbu Indonesia. Diperkirakan hampir 80 persen pasar komik di Indonesia dikuasai komik asal Jepang  (Ilham Khoiri, 2015).

Walaupun ditengarai pada tahun 2000-an, komik khas Indonesia mulai muncul kembali, pengaruh komik Jepang tersebut ternyata masih kuat. Hal itu terlihat pula pada komik Mayang Terurai (Legenda Puteri Tujuh, Asal Mula Nama Kota Dumai). Di sampul komik tersebut ditampilkan seorang gadis asing berwajah Jepang atau Cina dengan pakaian yang juga tidak mencerminkan budaya Melayu. Keseluruhan gambar pada cerita tersebut membawa kita seolah-olah tengah menikmati sebuah cerita yang berasal dari negeri Jepang, Cina, atau Korea. Bentuk wajah tokohnya dan pakaian yang dikenakan mengarah pada budaya Asia Timur.

Di dalam sastra, perubahan cerita rakyat ke dalam komik termasuk bagian dari  bentuk transformasi teks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, transformasi diartikan sebagai ‘perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dsb.)’. Transformasi tersebut dapat berwujud terjemahan, salinan, alih huruf,  parafrase, dan adaptasi/saduran (Sudjiman, 1993). Hubungan intertekstual antara teks dengan hipogram/teks dasarnya dapat berupa ekpansi, konversi, modifikasi, dan serapan (Sardjono dalam Pudentia, 1992). Terkadang hasil transformasi tersebut tidak persis sama dengan bentuk asalnya.

Hal seperti itulah yang terjadi di dalam komik Mayang Terurai. Komikus membaca cerita rakyat Legenda Puteri Tujuh: Asal Mula Nama Kota Dumai, lalu meresepsi karya tersebut berdasarkan pengetahuan, wawasan, dan hal-hal lain yang dipunyainya. Karena masing-masing orang memiliki “gudang” pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, hasil resepsi komikus tersebut juga sedikit berbeda. Di dalam komik Mayang Terurai, perbedaan tersebut terlihat secara visual berupa gambar-gambar.

Hanya sedikit detil pada komik tersebut yang mengesankan bahwa cerita itu berlaku di tanah Melayu. Pada halaman 3 dan 38, dijumpai sebuah rumah yang menggunakan selembayung di atapnya. Di beberapa bagian cerita, terdapat tokoh-tokoh laki-laki yang menggunakan tanjak (ikat kepala untuk laki-laki Melayu) di kepalanya. Pada halaman 36 terdapat ukiran bernuansa Melayu. Sementara itu, pada halaman selanjutnya ada sebuah gerbang yang bertuliskan “Empang Kuala” dalam tulisan Arab Melayu.

Berbeda dengan komik Mayang Terurai, penulisan serial komik Cerita Rakyat Indonesia seri 1,2, dan 3 yang ditulis oleh Tethy Ezokanzo dan Dian K. berupaya lebih “setia” pada cerita asalnya. Buku Cerita Rakyat Indonesia 1 yang memuat cerita rakyat dari Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara, Cerita Rakyat Indonesia 2 yang memuat cerita rakyat dari Jawa, Maluku, dan Papua, serta Cerita Rakyat Indonesia 3 dengan cerita rakyat dari Kalimantan dan Sulawesi tersebut diupayakan tetap ditampilkan dengan karakter khas tempat cerita rakyat itu berasal, misalnya sosok tokoh dan busananya.             

Di dalam kata pengantar komik Mayang Terurai, Komunitas Riau Membaca bekerja sama dengan Komunitas Kreatif Pekanbaru dan Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata Provinsi Riau mendasari penulisan komik ini karena adanya keprihatinan akan terputusnya “penyampaian” cerita rakyat dari generasi tua ke generasi muda. Hal itu diperparah dengan kegemaran generasi muda terhadap tokoh superhero dari Hollywood yang berakibat penafikan terhadap tokoh lokal, seperti si Kantan, si Lancang, Yong Dollah, Putri Tujuh, dan sebagainya. Kondisi yang demikian dianggap dapat mengancam Visi Riau 2020 yang ingin menjadikan Riau tidak hanya sebagai pusat perekonomian, tetapi juga pusat kebudayaan Melayu. Komik ini diharapkan sebagai salah satu jalan baru menuju pelestarian khasanah budaya (Melayu) sehingga dapat diterima kalangan anak muda.

Di tengah persoalan kegemaran anak-anak Indonesia menonton film kartun dan membaca komik asing, pengomikan cerita Mayang Terurai yang berasal dari masyarakat Dumai, merupakan sebuah upaya yang patut diacungi jempol. Upaya Komunitas Riau Membaca, Komunitas Kreatif Pekanbaru, dan Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata Provinsi Riau untuk menulis dan menerbitkan komik berdasarkan sebuah cerita rakyat patut diapresiasi. Apalagi di Riau, penerbitan  komik belum terlalu banyak, termasuk komik yang ditulis berdasarkan cerita rakyat. Walaupun dibenarkan ditulis secara berbeda, tentu akan lebih rancak apabila cerita masyarakat Melayu tersebut ditampilkan melalui gambar-gambar yang menunjukkan kemelayuan juga. Visual komik tersebut dapat berbentuk wajah para tokoh dengan kemelayuannya dibalut busana baju kurung dan teluk belanga.

Upaya penulisan komik yang ditulis berdasarkan cerita rakyat perlu dilanjutkan. Hanya saja hendaknya para komikus dapat menyesuaikan gambar kartunnya dengan cerita dan tokoh yang dia adaptasi. Pemertahanan ini juga diharapkan akan membuat ciri khas komik Indonesia (bahkan Riau) akan terbentuk dengan sendiri.***

Peneliti sastra pada Balai Bahasa Provinsi Riau

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us