Forum Penyair ASEAN 2016

Melaungkan Suara Rakyat

18 September 2016 - 09.39 WIB > Dibaca 676 kali | Komentar
 
Melaungkan Suara Rakyat
Forum Penyair ASEAN 2016 mempersoalkan, “laungan” atau juga “riak” puisi, meluahkan suara diri atau suara rakyat? Itulah tema besar, pada acara yang dihadiri para penyair dan kritikus sastra, pada acara Forum Penyair ASEAN 2016, yang berlangsung di Auditorium Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, pekan lalu (3/9).

-----------------------------

HADIR sastrawan-sastrawan ternama dari negara-negara ASEAN, membentangkan kertas kerja masing-masing, antaranya dari Malaysia Muhammad Lutfi Ishak, Dato’ Anwar Ridwan, Dr MalIm Ghazali PK, dan Dr Lim Swee Tin. Dari Indonesia Zawawi Imron, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Rukmi Wisnu Wardani. Dari Singapura Dr Sa’eda Buang dan Hamed Ismail. Dari Brunei Darussalam Awang Haji Mohamad Rajap. Lalu ada nama Dr Shirley Lua (Filipina), Dr Pen Pakata (Thailand), Oum Suphany (Kamboja), dan Han Lynn (Myanmar).

Para pemakalah ini, selain membentangkan kertas kerja pada siang harinya, didaulat pula membacakan puisi mereka pada malam harinya di auditorium Dewan Bahasa dan Pustaka.  Selain di auditorium DPB, penyair-penyair yang hadir pada acara yang ditaja Institute Terjemah dan Buku Malaysia (ITBM) bekerja sama dengan Penulis Nasional (PENA) dan DBP Malaysia ini diberi juga kesempatan membacakan puisi mereka di panggung Rumah PENA, yang jaraknya berdekatan dengan audotorium DPB.  “Saya gembira para penyair ASEAN antusias mengikuti acara ini. Suatu pertanda kepenyairan di Nusantara tumbuh dengan baik,” ujar Dr Saleeh Rahamad, presiden PENA, yang juga ketua panitia acara ini.

Para penyair dari Riau, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Aris Abeba, Kazzaini Ks, Mosthamir Thalib bersama musikus puisi Ian Machyar dan Fitriansyah serta dua pelantun nyanyian puisi Mariani Marni dan Pratiwi Devi, selain tampil di acara Forum Penyair ASEAN, juga diundang tampil bersama sejumlah penyair Malaysia lainnya di Rumah Titi di Taman Tasik Titiwangsa, komunitas sastra yang dikelola sastrawan andal Malaysia, Raja Ahmad Aminullah, yang selain penyair, juga pelukis dan penulis berbagai tulisan sosial budaya (4/9).

Soal Diri dan Suara Rakyat

Sebelum para pemakalah mendedahkan pikiran mereka masing-masing, soal puisi suara diri ataukah suara rakyat, Haji Abdul Adzis Abas mengemukakan, puisi adalah wadah suara kemanusiaan. Hal tersebut dipaparkan Ketua Pengarah DPB, ketika membuka dan meresmikan forum ini. Puisi Suara Kemanusian juga merupakan tema Pertemuan Penyair ASEAN sebelumnya, 2015.

Soal puisi suara diri atau suara rakyat ini, Zawawi Imron, penyair Indonesia asal Madura memulai dengan mengedepankan apa itu puisi. Puisi baginya, sebagai ekspresi hidup manusia, pada hakekatnya adalah manifestasi dari pengalaman estetik seseorang atau sekelompok orang. Sebagai ekspresi, puisi menjadi bahasa yang harus menjadi alat komunikasi sampai pada sentuhan yang sublim. “Yang disebutkan Sutardji calzoum Bachri, “rasa yang dalam”,” kata Zawawi.

Sehubungan dengan itu sebagian besar pemakalah dalam forum ini seperti sepakai, puisi tetaplah suara diri dan juga suara yang menyuarakan masyarakat lingkungannya. Di satu sudut puisi adalah suara diri penyair yang otonom, menurut Muhammad Lutfi Ishak dari Malaysia, di sisi lain, sesuatu karya adalah respon dan bersumberkan sekitar kehidupan lingkungan masyarakat. Keindahan yang terekam dalam objek seni adalah gambaran suatu masyarakat.

Sa’eda Buang dari Singapura mengemukakan, persoalan puisi untuk diri sendiri atau untuk masyarakat ini soal mudah, sudah, klise, dan tidak lagi relevan karena memang adanya karya-karya dihasilkan atau ditulis untuk diri sendiri, selain itu juga puisi ditulis berdasarkan apa yang terjadi di dan untuk masyarakat. Karya-karya yang untuk diri sendiri, hanya dipahami diri sendiri, dan selalu tidak bertempat di masyarakat.

Untuk itulah, Sa’eda Buang mengingatkan, penyair perlu merenung bahwa peranan manusia sebagai insan berpikir dan agen perubahan diberi bakat dan tanggung jawab terhdap masyarakatnya. Kesadaran ini harus tertumpah dalam karya-karya mereka yang membayangkan kedalaman renungan, pemikiran, dan keberanian untuk menegur seraya memberikan harapan kepada masyarakat dan kemanusiaan. “Puisi itu luahan hati diri yang amat personal atau atau wadah untuk tatapan dan renungan akal budi masyarakat, keduanya mempunya tempat yang istimewa dalam dunia seni.”

Awang Haji Muhammad bin Rajap, menyampaikan karya sastra sebenarnya adalah rekaman manusia dan masyarakat pada masa dan tempat karya itu dihasilkan sehingga dengan melihat karya itu orang akan melihat ketinggian pikir, daya intelektual, kreativitas seni, dan budaya masyarakat pada sesuatu masa yang diwakilkannya.

Sebagai suara rakyat, menurut penyair dari Brunei ini, karya sastra khusunya puisi sangat bermanfaat bagi kehidupan karena dapat memberikan kesadaran kepada pembaca – masyarakat yang lain - tentang kebenaran hidup walaupun dilukis dalam bentuk puisi atau fiksi.

Sehubungan pentingnya suara rakyat disebarluaskan kepada kelayak rakyat lainnya, malah Awang Haji Muhammad meminta agar para sastrawan memanfaatkan juga adanya media internet dan kecanggihan dunia teknologi informasi yang terus berkembang karena sangat memberikan pengaruh positif pada kesuasatraan, khusus dunia sastra Melayu untuk dikenalkan pada dunia yang lebih luas.

“Penting bagi kita, para penulis baru untuk turut sama menerjah ke arus perkembangan “langit terbuka” dengan berganding bahu dengan penulis-penulis mapan untuk memberikan sumbangan dan merancakkan ruangan sastra di alam maya,” katanya. “Hal ini penting untuk pendedahan sastra lepada masyarakat umum, khususnya kepada generasi muda tentang sejarah perkembangsaan sastra Melayu. Para penulis perlu membuat web atau situs-situs pribadi bagi mengenalkan sastra Melayu kepada warga dunia.”

Apa yang disampaikan Awang Haji Muhammad bin Rajap, sejalan dengan yang dikemukakan Anwar Ridwan, yang menjadi penyaji utama bersama Zawawi Imron. Sebagaimana dikutip juga Berita Harian (3/9). Sastrawan negara Malaysia ini berharap, karya-karya sastra ASEAN sebaiknya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing agar menjangkau pembaca yang lebih luas.

Sebagai suara rakyat, puisi banyak mendedahkan peristiwa gejolak sosial, perjuangan kemerdekaan, peristiwa-peristiwa penting dan menyentuh yang terjadi di tengah di masyarakat. Di Indonesia Zawawi Imron mengutip puisi-puisi Khairil Anwar, yang menyuarakan perjuangan kemerdekaan, seperti puisi Kerawang Bekasi, Toto Sudarto Bachtiar dengan Tentang Kemerdekaan, Tentang penderitaan suatu bangsaan medeka, Hamed Ismail dari Singapura, menyitir puisi Tanah Airmata karya Sutardji Calzoum Bachri. Apa yang dikutip Hamed Ismail selaras dengan ulasan panjang pada makalah yang disampaikan Isa Kamari, juga penyair dari Singapura, tahun sebelumnya, berjudul Suara Kemanusiaan Penyair Melayu Singapura, yang juga mengupas Masalah Melayu Singapura.

Tetap pada soal suara rakyat dan suara diri, Lim Swee Tin memaparkan bahwa betapa para penyair di Malaysia memberikan perhatian besar dan berhemah, amat peduli, terhadap segala gejolak dan denyut nadi masyarakat bangsanya. Penyair tidak kurang penting peranan dan sumbangan buah pikiran mereka, malahan semakin tajam. Telah banyak karya dinukilkan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat. Terbaru di Malaysia, banyak
sekali sajak lahir dari peristiwa hilangnya pesawat Boing MAS MH370 dua tahun lalu.
“Penyair perlu mengokohkan persepsi, mengerahkan segala tenaga kepekaan dalam berkarya jika mau terus relevan dalam gugahan zaman ini. Sedemikian banyak karya mutahir ini sesungguhnya membuktikan segala hal ini tersandang di bahu kreativitas penyair.”
Profesor sastra Melayu Malaysia ini banyak sekali mendedahkan puisi-puisi yang berkaitan dengan suara rakyat, suara diri, tentu pula sampai suara keluarga. Tentang suara rakyat dalam hal gejolak sosial yang terjadi di mana-mana di dunia Melayu, di antaranya dia kutip dari puisi Darah di Gaun Putih karya T Alias Taib, seorang penyair Malaysia.

Mengejutkan kau pulang dari kota
membawa darah
di gaun putihmu. Ibumu tersentak,
antara
percaya dengan tidak,
hampir tidak mengenalimu lagi,
“Astaga, inikah manisku dulu yang
dulu
Pemalu sn amat mentah?
Siapakah gerangan yang
Memesongkan kiblatmu,
menelanjangkan hatimu,
Mengasarkankan sopanmu?
Di lorong manakah kau
Tercecer selendang kesayanganmu?

Mengejutkan kaupulang ke desa
membawa harum di
Rambut pirangmu. Ayahmu
juga tersentak, tapi
masih dapat menegenali manisnya
yang dulu pemalu
dan amat mentahk kejelittaanmu
mempesonakannya;
kelopak matamu yang hijau-teduh,
dua bibirmu
yang merah basah, pipi halusmu
yang samar lembut.

Siapakah yang memerdikkan
darah di gaun putihmu.***




Oleh  Mosthamir Thalib, Kuala Lumpur mosthamir_thalib@yahoo.com.
Penulis adalah penyair  dan sastrawan Riau

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:30 wib

Kadis Diingatkan Harga Ikan

Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Follow Us