Oleh: Alpha Hambally

Antara Rupa dan Kata

18 September 2016 - 10.27 WIB > Dibaca 1644 kali | Komentar
 
Antara Rupa dan Kata
“Ia tidak lagi berpedang, tetapi memedang. Jurus-jurusnya semakin hemat. Bahkan pada saat-saat tertentu, jurusnya seperti laku berdiam diri. Pedang itu tidak lagi menusuk, mambabat, tapi melukis, menggambar.”

Teks yang saya kutip tersebut ‘digambar’ dengan tinta cina berwarna hitam di atas gulungan putih kira-kira setinggi dua meter. Dan digantung bersama beberapa teks dari dalam buku Satu Setengah Mata-mata karya Nirwan Dewanto yang menghadapi nasibnya, gantian, dimata-matai oleh orang lain. Selain itu, ada dua buah goresan-masih dengan tinta cina-tanda tangan si seniman, yang membuat kesannya seperti lukisan ‘abstrak’.

Gelaran arsip Nirwan Dewanto (1-11 September 2016), di Dialogue ArtSpace, Kemang, Jakarta Selatan, mengingatkan saya bahwa kata sebenarnya bukan milik mesin cetak, ataupun milik font di piranti elektronik. Jika Sutardji C. B dengan kredonya, mengembalikan kata kepada mantra (pembacaan), gelaran ini justu mengembalikan kata kepada hakikat kelahirannya (penulisan). Yaitu kata-kata sebelum menghadapi era perbukuan. Kata-kata yang pernah dipahat di batu, dinding dan prasasti. Kata-kata yang ditulis indah dengan kaligrafi Arab dan Cina, yang dulu mungkin tidak dianggap artistik dan menyimpan kesan magis tersendiri seperti sekarang ini. Sampai kata-kata yang kini sedang berjuang menghadapi era buku digital. Atau mengutip kata senimannya ketika pembukaan acara, gelaran yang memperlakukan teks sebagai benda seni rupa.

Selain memperlihatkan perlakuan kuas di atas kertas, gelaran arsip ini juga menampilkan tulisan-tulisan tangan Nirwan. Buku-buku harian yang mencatat pengalamannya menjelajahi seni di luar maupun di dalam negeri. Proses perjalanan terjadinya Senjakala Kebudayaan, Jantung Lebah Ratu, Buli-buli Lima Kaki, hingga beberapa manuskrip yang belum dibukukan. Lalu ada alat-alat tulis, dan benda-benda pribadi. Juga self potrait, yang kata senimannya sendiri adalah untuk menghadapi gejala selfie.

Pembukaan gelaran pada hari kamis tanggal 1 September 2016 juga diisi oleh pembacaan teks berjudul Nisan oleh Jay Subiyakto, dan Sayap oleh Mira Lesmana. Juga Ubiet Rasuki yang menyanyikan puisi Pejalan Tidur Bulan Ramadan.

Gelaran penting. Sebab tidak semua penyair dan penulis memiliki arsip yang lengkap dan rapi, dari tulisan tangan sendiri.

Tentang Buku Satu Setengah Mata-mata

Membicarakan SSMM mungkin ada baiknya membuka kembali buku Nirwan Dewanto sebelumnya. Senjakala Kebudayaan (kumpulan esai), Buli-buli Lima Kaki (kumpulan puisi), dan Jantung Lebah Ratu (kumpulan puisi).

Dalam kumpulan puisi JLR dan BBLK, misalnya, ada puisi-puisi tentang hewan-hewan, benda-benda yang sesungguhnya adalah rupa yang tidak bisa ditolak—bentuk objek yang sudah nyata, dan dapat ditemukan sehari-hari—direkonstruksi ulang selayaknya kerja seorang perupa.

Misalnya puisi-puisi berjudul Apel dan Roti (BBLK), Semangka (JLR), Lebah Ratu (JLR), Anjing Kidal (JLR), Akuarium (JLR) atau dua puisi berjudul Cumi-Cumi (JLR), yang salah satunya berbunyi;

Ia mata-mata, hanya terpindai di antara//nisan batu karang dan gaun ganggang.

Dan puisi-puisi yang kurang lebih sama, yang menyisipkan frasa baru di luar persepsi pembaca tentang kenyataan dari objek tersebut.

Tapi bedanya dalam SSMM, kita mendapati sebuah bentuk yang dibahasakan kembali dengan ulasan detail seperti halnya esai-esai di Senjakala Kebudayaan. Namun bentuk yang sekarang adalah milik perupa dan gerak yang diciptakan koreografer tari. (Ada tulisan tentang seni tari berjudul Kutub)

Saya ambil tulisan yang berjudul Jeroan, ulasan dari karya rupa Entang Wiharso;

Lampu itu berbentuk jantung. Atau lebih tepatnya, lampu itu adalah sebuah jantung. Bukan jantung biasa. Namun jantung berukuran sangat besar yang menumbuhkan sulur-sulur atau belalai-belalai. Seakan-anak jantung itu berusaha menjulurkan diri ke luar sana.

Penggambaran ulang dengan bahasa berdasarkan karya Entang seperti di atas diperluasnya hingga ke pelbagai sisi, dipertemukan dengan karya-karya Entang yang lain, sampai meraba reaksi yang terjadi di dalam maupun di luarnya. Tentang tradisi, modernisme, dll. Tulisan Jeroan juga menawarkan sedikit tafsir dari bentuk karya Entang.

Tapi masalahnya adalah apabila karya-karya Entang diamati dan dibahasakan kembali oleh orang lain, tentu hasilnya berbeda, seperti halnya seseorang menafsirkan puisi. Sebab seni rupa, kita tahu, juga menawarkan pengertiannya sendiri-sendiri. SSMM memiliki daya seperti itu, adanya intertekstual dalam arti yang lain. Lintas seni.

SSMM mewakili pikiran penyair yang biasanya diserang oleh bentuk dan pengertian, dan riset seorang pengamat ketika menghadapi seni rupa dan gerak. Nirwan menawarkan bahasa yang didapatnya dari sana, tentang apa yang membuatnya berbentuk dan berubah. Seperti halnya Senjakala Kebudayaan. (yang ulasannya kental dengan perihal modernisasi dalam kebudayaan, yang juga dilengkapi dengan bagian prolog dan epilog yang terasa sangat autobiografis.)

Saya mengambil asumsi demikian dari pengalaman saya sendiri ketika mengamati elektron melalui mikroskop pada sebuah praktikum Minyak Milikan. Pada praktikum yang saya lakukan ketika kuliah itu, saya sebenarnya hanya mengamati sebutir elektron dari ratusan yang tampak. Dan ketika melakukan pengulangan, menyemprot kembali tabung yang memiliki dua lempeng besi dengan minyak parafin, sebenarnya saya tidak mengamati elektron yang sebelumnya. Apalagi ketika pada pengulangan berikutnya, saya harus mengatur jarak dua lempeng besi di dalam tabung itu, elektron yang saya amati, juga bukan dua di antara itu.

Tapi setelah itu, saya iseng, dan membiarkan elektron-elektron berhamburan. Saya berhenti praktikum, tapi masih memandangi elektron-elektron itu tanpa memfokuskan pandangan kepada satu elektron. Saya mencari, kira-kira apa yang saya dapatkan dari sana.

Begitu pula Nirwan yang keluar-masuk galeri, museum, dan pameran. Berdiri di depan banyak rupa yang berupa lukisan, patung dan instalasi dari dalam hingga luar negeri, namun tidak mengategorikan ‘objek’ pengamatannya itu dalam satu bagian di SSMM. Berbeda dengan Senjakala Kebudayaan, yang setiap bagiannya memiliki kategori tersendiri.

Nirwan membiarkan seni instalasi, seni fotografi, lukisan, ataupun patung itu berhamburan seperti elektron-elektron hasil kerja iseng saya. Misalnya tentang patung karya Anusapati dan Rita Widagdo yang tidak digabung dengan patung karya Edhi Sunarso. Tentang khazanah seni rupa pop “Yogyakarta” karya Eko Nugroho, pada bagian satu, yang digabung bersama memahami ulang penamaan abstrak dari karya Hanafi. Semua dibiarkan Nirwan bergerak tanpa dipengaruhi sebuah medan magnet. SSMM juga membebaskan semua itu dari pengertian-pengertian yang terlanjur diberikan oleh pengamat lain, kecuali pengertian yang berada di luar ilmu pengetahuan.

Saya mengedepankan hal tersebut karena tertarik dengan satu kalimat dalam buku itu yang berbunyi, “Bahwa seni rupa mengungkai ranah-ranah gelap yang dilewatkan oleh ilmu-pengetahuan.”

Kalimat yang menarik, bagi saya sendiri, sebab di antara rupa dan kata, memang ada benang tipis yang tidak teraba, bernama ilmu pengetahuan. Benang itu bisa bersifat pasti dan tidak. Kadang jujur dan seringkali berdusta seperti sejarah. Benang itu menghubungkan keduanya, secara timbal balik, secara langsung atau tidak, dari rupa ke bahasa. Banyak kemungkinan yang didapat karena halusnya benang itu. Salah satunya saya rasa adalah tentang perbedaan. Sebab pengertianlah yang kadang mengurung kita dalam perbedaan, dan yang dapat membebaskan itu kembali adalah bersandar kepada ilmu pengetahuan.

Dan kurang lebih, kebudayaan kita dan perangkatnya kebanyakan masih terkurung dalam pengertian ‘tradisi’ masing-masing. Padahal kita lupa, yang membawa itu sejak lama adalah ilmu pengetahuan, yang datang dari berbagai belahan dunia, yang datang terus dari waktu ke waktu.

Di serat benang itulah SSMM membangun kembali pengertian yang bebas, di tengah masyarakat yang mentimur-timurkan diri (bunyi kalimat di sampul belakang buku SSMM). Sementara setengah mata yang lain barangkali hendak mencari mata-mata baru untuk kesenian di Indonesia di generasi selanjutnya, yang kita tidak pernah tahu akan seperti apa bentuknya, proses dan perkembangannya, yang mau mewarisi khazanah kesenian dunia ataupun yang tidak.

Penulis Lahir di Medan, 26 Desember 1990. Lulusan Fisika ITS Surabaya. Menulis puisi dan esai. Puisinya pernah dimuat di Riau Pos, Pikiran Rakyat, dan Media Indonesia. Sekarang bekerja di Jakarta.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us