PAMERAN KARTUN "TUN KOPI"

Ketika Tawa Milik (Hampir) Semua Kelompok

1 Oktober 2016 - 22.28 WIB > Dibaca 681 kali | Komentar
 
Ketika Tawa Milik (Hampir) Semua Kelompok
Oleh Furqon Elwe
furqonelwe@gmail.com

Our laughter is always
laughter of a group*.
 Tawa kita adalah selalu
tawa sebuah kelompok.


KARTUN itu gambar lucu, secara konseptual tentu ia merupakan sebuah “kamar” dalam rumah bernama “humor”, walaupun ia (kartun itu) juga sebuah “kamar” di “rumah” bernama seni rupa . Kalimat di awal tulisan ini yang dicuplik dari buku Laughter, An Essay on The Meaning of Comic karya filsuf Perancis Henri Bergton, rasanya pas bila disanding dengan judul tulisan ini, untuk menggambarkan respon audiens setelah pameran kartun Tun Kopi dibuka, sepekan lalu (24/9).

Karena saya “orang dalam” di Sikari (Sindikat Kartunis Riau) yang menaja pameran ini, maka saya memilih sudut pandang tulisan ini dari pengamatan saya terhadap respon audiens pameran. Artinya saya memposisikan diri sebagai “orang luar” yang mengamati pameran ini. Bukan seputar konsep pameran, atau  informasi pameran, apalagi menelaah karya yang dipamerkan satu per satu. Selain untuk menghindari kesan “jeruk makan jeruk”, tulisan yang menelisik bentuk respon audiens terhadap suatu pameran rasanya tergolong langka. Selain peristiwa pameran seni rupa (termasuk pameran kartun) itu sendiri juga peristiwa langka di Bumi Lancang Kuning ini.

Balik ke teori humor Bergson di atas, bisa kita maklumi bila kartunis –terutama kartunis editorial- , sering ketar-ketir hati ketika berkarya. Tema-tema sosial-politik yang menjadi objek kritik mereka, sehingga tak terhindarkan ada person atau institusi yang tergambar di dalamnya,  otomatis menjadi kelompok yang takkan ikut tertawa. Kalau pun mereka merasa lucu, paling senyum-senyum masam. Beda dengan respon di luar kelompok objek kritik itu. Tawa mereka bisa terbahak. Senyum mereka bisa lepas.

Ini terlihat ketika Sikari menggelar pameran kartun bertajuk “PekanbaRuko”, pada iven Pekanbaru Bandar Kartun Festival (PBKF) IV tahun lalu. Beberapa pekan sebelum pameran, saya sering didatangi, atau dihubungi online (via WA, BBM atau inbox di FB) oleh para kartunis SiKari. Mereka mendiskusikan kartun yang akan dipamerkan. Bahkan komunitas ini sampai menggelar diskusi khusus membahas karya pra pameran yang akan dipamerkan.

Pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah: “Ini kira-kira bahaya nggak Bang?”.  Bisa dimaklumi, tema yang diangkat ke pameran adalah fenomena maraknya ruko (rumah toko) di Pekanbaru, kota tempat pameran digelar. Tentu kritiknya sedikit banyak menyerempet-nyerempet pemerintah kota ini. Sebagian malah memilih “jalan aman”, mengangkat sisi humor humanis, non politis/kebijakan pemko.  Saya ingat, dalam masa pameran PekanbaRuko itu saya pernah didatangi seorang pria yang mengaku berprofesi planologi (ahli tata kota). Ia meminta saya juga menggelar pameran kartun dengan tema infrastruktur kota. Dan ia datang  dengan wajah sangat serius, bukan senyum tawa.

Bagaimana dengan Tun Kopi? Pa­meran yang merekam fenomena minum kopi yang membudaya di kota Pekanbaru khususnya, ditandai dengan bermunculannya kedai kopi hampir di setiap ruas jalan, ternyata direspon dengan riang hati oleh kartunis.
Walaupunn kira-kira sebulan sebelum pameran, tersiar kabar di media-media online, seorang kartunis di kota Gorontalo mengalami kekerasan fisik karena memuat kartun yang mengkritik kebijakan pemkonya terhadap pohon-pohon di kota tersebut, tidak menyiutkan nyali kartunis di Sikari.

Mungkin karena temanya kan “cuma”kopi. Atau karena jauh hari sebelum pameran, mereka mendapatkan “pembekalan” dari diskusi bertema Kopi dan Peradaban. Nara sumbernya Pradonggo dan Syaukani Al Karim,  praktisi komunikasi dan budayawan Riau.
Pengunjung pameran Tun Kopi juga terlihat lebih banyak senyum tawa sambil ber-swafoto di karya-karya yang mereka sukai.

Tun Kopi yang berarti penghargaan terhadap kopi, atau juga berarti karTUN tentang kopi, jika dikartun-kritikkan, dilucu-lucukan, rasanya memang tak adalah pihak yang tersakiti.
Walaupun ada satu kartun berjudul “Kalah Bersaing” karya Rhomi AB, yang merekam fenomena satir tergusurnya kedai-kedai kopi milik warga tempatan di kota Telukkuantan, kabupaten Kuantan Singingi, kalah bersaing manajemen dengan kedai kopi warga keturunan, tak lantas menciptakan kelompok yang tak tertawa.

Semua pengunjung pameran maupun peserta yang berinteraksi dengan kartunis di acara live event, semua terlihat riang gembira.

Sayapun juga riang gembira, karena tak lagi didatangi orang dengan wajah serius, meminta diadakan pameran kartun dengan tema teh, misalnya.***

Furqon LW, kartunis dan jurnalis.

* Observasi ketiga Henri Bergton dalam memaknai humor, dalam buku  Laughter: An Essay on The Meaning of the Comic (1913, Mc Millan). Sumber: internet.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us