SASTRA

Menjulang Syair Melayu Rentas Benua

1 Oktober 2016 - 22.53 WIB > Dibaca 769 kali | Komentar
 
Menjulang Syair Melayu Rentas Benua
IDAWATI
Sebuah helat dengan tema “Syair Rentas Benua” telahpun berlangsung di Negeri jiran Malaysia, 22- 23 September lalu. Helat yang menghimpun para pakar, pelantun syair dari negara-negara ASEAN itu diberi tajuk Syair Alam Melayu Nusantara.  Pakar syair Riau, Idawati, turut serta membentangkan makalah dalam acara yang berlangsung di Auditorium Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur tersebut. Selain itu, juga penyanyi asal Riau, Juspebgo Setiawan ikut pula terlibat dalam pentas syair yang berlangsung dalam acara yang ditaja oleh Institut Terjemahan & Buku Malaysia (ITBM), Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Akademi Seni ND LALA dan  (USIM).

Menurut Idawati, selain memperkenalkan dan memopulerkan kembali syair kepada generasi hari ini, program yang ditaja menjadi pentas untuk berbagi inormasi dan ilmu kepada semua peserta yang datang dari serata tanah air seperti Singapura, Thailand, Indonesia dan Brunei. Selama ini, syair bagi masyarakat terutama di Riau hanyalah sebatas mengetahui irama dan lagunya saja tetapi di dalam acara tersebut, keberadaan syair benar-benar dikupas dari segala sudut pandang.

“Helat ini menarik karena menurut saya, syair tidak hanya dipelajari dari irama atau jenis lagunya saja tetapi memang dibahas tuntas oleh pakar-pakar  syair dari beberapa negara yang ikut terlibat,” jelas Idawati.

Helat Syair Alam Melayu Nusantara tersebut dibagi dalam tiga kemasan acara, diantaranya, seminar, bengkel syair alam Melayu nusantara, dan malam pemuncak yakni malam persembahan syair alam Melayu nusantara. Pada malam itu  dipersembahkan syair gabungan peserta negara ASEAN.

Yang menarik lagi, lanjut Idawati, persembahan syair itu tidaklah disenandungkan atau dilagukan begitu saja tetapi ianya dikemas sedemikian rupa, menjadi sebuah seni pertunjukan yang cukup menarik. “Jadi persemabahan malam puncak itu seperti seni pertunjukan syair yang dikemas dalam bentuk pertunjukan teater. Menarik dan sangat inovatif. Saya kira, di Riau juga patut dibuat seni perrtunjukan seperti itu, dan memang sangat layak mengingat kekayaan dan ragam irama syair yang kita miliki,” jelas penyanyi Melayu senior itu.

Idawati dalam kesempatan itu berkesempatan membentangkan makalah di sesi seminar. Adapun materi yang dibentangkannya terkait dengan beragam jenis irama syair yang dimiliki Riau dalam makalahnya yang berjudul Keberadaan Irama Syair Melayu di Riau: Suatu Tinjauan Fenomenologi-Indonesia. Selain itu, turut juga memberikan kertas kerja sastrawan Negara Dato’ Dr. Zurinah Hassan, Mohd Fauzi Abdullah (Guru-guru Bahasa Melayu di Malaysia), Drs. Sahril, Pehin Dato’ Haji Abd Ghani Rahim (Brunei Darussalam), Saliha Musor (Patani-Selatan Thailand).

Lebih jauh dijelaskan Idawati, dalam acara tersebut dapat dirasakan bahwa syair seperti mendapat nafas baru. Program selama dua hari itu mengumpulkan penggiat syair. Jika selama ini, banyak yang menyangka syair hanya memiliki beberapa irama seperti yang telah dipelajari di sekolah tetapi kemudian di acara itu para peserta seolah mendapat kejutan. Karena dari kegiatan itulah kemudian terhimpun hampir 30 irama berbeda yang didendangkan dari seluruh peserta yang terlibat terutama dari negara ASEAN.

“Perhelatan ini juga akan dirancang untuk menjadi agenda tahunan. Dan ke depannya, seluruh irama yang terhimpun akan dilakukan pendokumentasian secara keseluruhan. Semua akan dihimpun sesuai dengan kepemilikannya masing-masing,” jelas Ida lagi.

Sementara itu, Juspebgo yang ikut terlibat dalam persembahan malam pemuncak, mengaku sangat bangga bisa ikut serta meramaikan pertemuan dari para pakar syair dari kawasan ASEAN tersebut. Katanya, potensi budaya Melayu nusantara sangat dapat diapresiasi dan menjadi kebanggaan tersendiri pula. “Apalagi syair hari ini rasanya tidak begitu populer di kalangan generasi muda dan saya mendapat kesmepatan untuk ikut serta melestarikan dan menjulangnya kembali, tentu saja merasa bangga dapat ikut serta melesetarikan khasanah budaya Melayu ini,” jelas alumni Akademi Kesenian Melayu Riau itu. (jef)

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Follow Us