RESENSI BUKU

Mengembalikan Spirit Puasa

1 Oktober 2016 - 23.00 WIB > Dibaca 1476 kali | Komentar
 
Mengembalikan Spirit Puasa
Oleh Muhammad Amin
 
Hakikat puasa, khususnya di Bulan Ramadan adalah upaya latihan kesabaran menuju predikat takwa. Dalam akhir ayat 183 Surat Al-Baqarah disebutkan kalimat, "mudah-mudahan kamu jadi orang yang bertakwa". Artinya, ada yang lulus dalam ujian puasa dan meraih predikat takwa, namun ada juga yang gagal.

Kenapa gagal? Kegagalan itu terjadi kebanyakan karena umat gagal memaknai spirit puasa. Ramadan kerap dimaknai secara massal sebagai budaya dibanding spirit ibadahnya. Memang benar, bahwa umat sebaiknya menyambut Ramadan dengan kegembiraan dan sukacita. Tapi jika semua yang dilakukan secara simbolik itu saja yang diterapkan, sementara spirit utama Ramadan dilupakan, maka esensi puasa itu tak akan tercapai. Predikat takwa pun tak akan dapat diraih.

Kenyataannya saat ini, ketika Ramadan akan menjelang, umumnya umat Islam, terutama di Indonesia.   telah mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya. Mereka mulai bersih-bersih rumah. Bahkan kadang sampai memindahtempatkan beberapa perabot rumah tangga agar suasana rumah lebih terasa fresh dan kondusif untuk menyambut bulan suci. Ada juga yang membeli perabotan baru atau mengecat rumah jelang Ramadan.

Memasuki Ramadan, berbagai tradisi dilakukan. Di Riau ada tradisi mandi balimau hingga petang megang. Niatnya mungkin baik, yakni menyucikan diri secara simbolik dari daki-daki kotor, baik fisik maupun mental. Tapi tradisi mandi bersama-sama yang bercampur lelaki dan perempuan ini makin hari makin tak jelas saja tujuannya. Anak-anak muda bergurau dan saling melihat aurat. Ada pula pengiring musik yang justru tak menggambarkan acara yang islami. Belum lagi mudarat lainnya, mulai beberapa kasus tenggelam di sungai hingga ajang mojok muda-mudi.

Saat Ramadan datang, masyarakat sangat antusias berpuasa, terutama di hari-hari pertama. Penyakit masyarakat (pekat) diberantas. Wali kota dan bupati mengeluarkan imbauan untuk menghormati orang yang berpuasa. Warung makan tutup di siang hari. Tapi setelah sepekan, biasanya spirit Ramadan itu mulai luntur. Tak sedikit juga kepala daerah yang justru berpikir sebaliknya. Bahkan oknum pemerintah pusat pun mendukung, bahwa orang yang tak berpuasa pun harus dihormati.

Secara umum, umat memang menghormati datangnya Ramadan. Bahkan anak-anak pun demikian. Di pondok-pondok pesantren, di kompleks perumahan, sampai kampung-kampung, anak-anak muslim ramai-ramai berbaris sambil melakukan atraksi seperti memukul beduk kecil, gendang, bambu, dll. Ada juga yang sambil menyanyikan lagu-lagu pujian, bersalawat dan menyerukan orang untuk berpuasa dan bangun sahur. Sekolah dan masjid ramai mengadakan pesantren kilat. Tadarus Alquran juga ramai dilakukan, terutama bagi anak-anak.

Anehnya, semangat dan spirit yang sama justru tak dilakukan para remaja dan orang-orang dewasa. Para remaja justru banyak yang kongko, bergerombol dan main petasan saat malam Ramadan. Sore hari, mereka ngabuburit, mencari hidangan perbukaan, atau sekadar kumpul-kumpul. Yang lebih ironis, ada pula istilah asbuh atau asmara subuh, yakni remaja lelaki dan perempuan berduaan usai salat subuh. Baru saja puasa dimulai setelah sahur dan imsak, mereka telah merusak puasanya.

Orang-orang dewasa pun demikian. Saat Ramadan ini, belanja ibu rumah tangga bukannya berkurang karena tak masak di siang hari. Alih-alih berkurang, belanja Ramadan malah membengkak. Puasa dijadikan ajang "balas dendam" makan. Jika siangnya tak makan dan minum, maka begitu beduk Magrib berbunyi, semua makanan di meja pun diserbu. Kalau di hari biasa tak ada minuman pembuka, kali ini tujuh macam jumlahnya, mulai dari sirup, teh, cincau, es doger, kolak, es rumput laut hingga kelapa muda. Makanan pun demikian. Jika bulan lain hanya ada satu hingga dua lauk, kini meningkat jadi tiga hingga empat macam lauk pauk.

Fenomena seperti ini merisaukan penulis buku ini, Ahmad Supardi. Kerisauan atas fenomena puasa yang kerap disalahartikan dalam kehidupan umat membuatnya harus menulis. Buku Spirit Puasa ini adalah manifestasi dari kerisauan itu dan ditulis dengan sangat baik. Kumpulan tulisan ini benar-benar memberikan sesuatu yang baru sebagai pencerahan bagi umat.

Spirit puasa, menurut buku ini, memberikan kita pelajaran moral bahwa hidup ini tidak saja "menerima", tetapi juga "memberi". Tidak saja "menikmati", tetapi juga "menyukuri". Tidak saja "kenyang", tapi juga "lapar". Tidak saja "bahagia", tetapi juga "sengsara". Dalam berpuasa, kita menemukan diri sebagai "orang kaya", tetapi dalam saat yang sama, kita juga merasakan bagaimana menjadi "orang miskin".

Kenyataannya saat ini, menurut penulis buku ini, puasa menjadi bergairah lebih banyak terkait pada faktor sosial ketimbang ibadah. Puasa Ramadan lebih dilihat sebagai festival kebudayaan yang diakhiri dengan "pesta" harian yakni berbuka, dan di akhir bulan Idul Fitri. Puasa, yang pada dasarnya adalah bermaksud "menunda kesenangan", berubah menjadi sekadar "mengubah jadwal kenikmatan".

Dalam masyarakat kita, puasa memberikan pemandangan ironi yang masif, ketika kita harus melakukan keprihatinan, masyarakat menyerbu pasar, menumpuk makanan yang lebih nikmat dari yang biasa di keseharian. Bagi yang berpunya akan memborong pakaian baru, perlengkapan rumah, sepeda motor bahkan mobil. Puasa menjadi persiapan pesta akbar, bukan jihad akbar.

Buku ini menggambarkan soal fenomena sosial di tengah masyarakat itu dengan rinci. Pandangan kritis dan bijak penulis menjadikan tulisan ini menukik pada kritik sosial atas fenomena yang ada. Diperlukan mengembalikan spirit puasa agar Ramadan itu benar-benar sebagai bulan ibadah, bukan sekadar festival kebudayaan. Sebuah buku yang mencerahkan bagi umat. Buku yang perlu dibaca kalangan pemimpin umat, akademisi, ulama, dan para pemangku kebijakan.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 12 Desember 2017 - 03:18 wib

Fadli Zon Gantikan Setya Novanto Jadi Plt Ketua DPR RI

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:58 wib

Gugatan PT RAPP pada Kementerian LHK Mulai Disidangkan

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:48 wib

Rihanna sudah Dilamar Orang Super Kaya Arab Saudi?

Selasa, 12 Desember 2017 - 02:17 wib

Meski Tetap Eksis, Pendapatan Iklan Radio Turun

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:29 wib

Laga Sulit di Liga Champions

Selasa, 12 Desember 2017 - 01:16 wib

Nasib Anjing Bertukar dengan Melayangnya Nyawa Manusia

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:59 wib

Fahri Hamzah: Hargai Pengadilan Dong...

Selasa, 12 Desember 2017 - 00:49 wib

Fahri Hamzah Dipecat dari Jabatan Wakil Ketua DPR

Follow Us