ESAI SASTRA

Kemerdekaan dan Heroisme Bangsa Plural

1 Oktober 2016 - 23.08 WIB > Dibaca 1119 kali | Komentar
 
Oleh Iwan Ridwan

BARU-BARU  ini keharmonisan bangsa kita tergores dengan tragedi perusakan rumah ibadah di Tanjung Balai, Sumatra Utara beberapa hari lalu. Amuk masa seolah tak terbendung karena persoalan yang berbau agama. Akibatnya, 3 wihara, 8 klenteng, dan 2 kantor yayasan jadi korban. Hal ini mengakibatkan guncangan terhadap kerukunan umat beragama  (SARA) sebagaimana yang diwartakan Kompas (1/8).

Fakta menarik ditampilkan Kompas ketika berbicara sejarah hancurnya sebuah bangsa seperti Balkan, Kashmir, Afganistan, atau Nigeria akibat ledakan pluralisme. Sejarah kelam keempat negara tersebut bisa jadi terulang kembali di era mondial saat ini. Kemajemukan negara-negara di dunia tengah diguncang dengan menjalarnya konflik-konflik internal maupun eksternal seperti kudeta yang terjadi di Turki, perang tiada henti di Timur Tengah, serta aksi terorisme yang mengancam semesta. Hal ini menandakan adanya kemunduran dunia milenium dalam merawat perdamaian.   

Azyumardi Azra, seorang cendekiawan muslim mengatakan bahwa dunia saat ini cenderung mengalami kekacauan tatanan internasional (international disorder).  Dari 162 negara yang diukur dengan Indeks Perdamaian Global (Global Peace Index), Suriah, Afganistan, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah berturut-turut menjadi negara yang paling rendah tingkat keamanan dunianya. Tampaknya, disintegrasi keharmonisan tengah melanda Timur Tengah yang mayoritas masyarakatnya Islam (Kompas, 29/2).

Fenomena itu bertolak belakang dengan asas dan etos kemanusiaan Islam yang sangat menjunjung perdamaian, keadilan, dan kehormatan (Azra, 2002: 18). Angin segar masih berhembus di era gersangnya keharmonisan bangsa-bangsa dunia. Sebagai negara multietnik, Indonesia muncul sebagai negara terdamai dengan kategori tertinggi di urutan ke-46. Hal ini terlihat dari hasil survei Institut Ekonomi dan Perdamaian (IEP) sebagaimana yang dilansir Kompas (16/2). Indonesia termasuk ke dalam negara terdamai bersama dengan Perancis, Italia, Inggris, UEA, Korea Selatan, dan Malaysia.

Bangsa yang memiliki 1.128 suku ini dapat menjadi figur bagaimana perbedaan  bernaung dalam persatuan dan kesatuan. Bangsa Indonesia dapat menjadi inspirator perdamaian dunia. Potensi ini harus ditopang dengan kesadaran dan partisipasi aktif seluruh masyarakat Indonesia untuk merawat keharmonisan bangsa.

Heroisme Bangsa Plural

Bangsa kita adalah bangsa yang pemberani sejak masa kolonial. Beragam etnis se-Nusantara bersatu padu dalam tekad meraih kemerdekaan yang sejati. Tidak peduli berasal dari Jawa, Kalimantan, Sumatra, ataupun Papua, secara tidak sadar bangsa kita disatukan dengan pluralisme yang memunculkan heroisme yang gemilang (Parera, 2004).  Hal ini tidak boleh kita lupakan mengingat perjalanan suatu bangsa tak terlepas dari sejarah berdirinya bangsa tersebut.

Bertepatan dengan momentum kemerdekaan, kita tumbuhkan kembali nasionalisme kebangsaan dan tanam dalam-dalam semangat perjuangan di era yang berbeda dengan cara yang berbeda pula. Jika zaman dulu orang berjuang dengan taruhan nyawa demi arti keamanan. Zaman sekarang, kita tinggal memertahankan eksistensi kemerdekaan itu ke dalam bentuk nyata sebagai produk perjuangan yang sama dengan para pendiri bangsa (founding fathers). Kita mampu mengendalikan globalisasi ini ke dalam filterisasi kebangsaan dengan menyesuaikan tindak-tanduk sesuai jati diri bangsa. 

Atas dasar itu, marilah kita perkuat lagi harmonisasi kebangsaan. Mulai dari lubuk hati yang paling dalam. Menjadi manusia-manusia Indonesia yang toleran, tenggang rasa, dan menghargai adanya keragaman dan kemajemukan. Mari perkuat lagi kolektivitas atas dasar “berbeda-beda tetapi tetap satu” dalam merawat masa depan bangsa dan generasi emas 2045.
Semua orang di Indonesia, baik rakyat kelas bawah, menengah maupun kelas atas diberikan hak yang sama untuk merayakan kemerdekaan. Tak ada si miskin dan si kaya. Tinggal bagaimana kita merawat kemerdekaan dengan panji-panji persatuan dan kesatuan untuk merajut lagi semangat kebangsaan. Hal inilah yang dapat kita optimalkan setelah meraih kemerdekaan tatkala bekas-bekas penjajahan serta rezim otoriter mulai terkubur dalam-dalam di tubuh bangsa Indonesia.    

Keharmonisan dalam Kemerdekaan

Mengembalikan pancasila ke dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia menjadi upaya nyata dalam merawat keharmonisan. Semangat revolusi mental Jokowi-JK (melakukan revolusi karakter bangsa, memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia) harus diaplikasikan dengan rasa lokalitas yang memperkuat kolektivitas. Hal ini telah dilakukan oleh sistem pemerintahan Tiongkok yang mampu menyalip kemajuan negara Amerika dan Eropa (Glen, 2013: 120). 

Efianingrum (2011) menekankan bahwa pembangunan bangsa hanya akan berhasil jika manusia bangsa tersebut telah menjadi manusia maju dalam pemikiran dan tindakan. Dalam konteks Indonesia, beragam perbedaan suku, ras, dan agama harus senantiasa dijaga keharmonisannya dalam nilai-nilai kebinekaan yang telah diusung ketika bahasa, tanah air, dan bangsa ini dideklarasikan dalam Sumpah Pemuda 1928 Oktober. Sehingga lahirlah Indonesia, sebagai suatu negara yang berdaulat dalam kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Jangan sampai terjadi lagi politisasi ras di era penjajahan Belanda yang kita kenal dengan istilah politik adu domba (divide et impera). Ketika pluralisme bangsa kita tercerai-berai, maka hancurlah Indonesia! Mahasthavira, seorang rohaniawan Budhis berpendapat bahwa untuk melahirkan persatuan dan kesatuan diperlukan kesediaan untuk mengakui adanya pluralitas dan menghormati kemajemukan bangsa Indonesia. Dengan kuatnya kolektivitas bangsa dapat memperkuat kesadaran kita akan identitas bangsa yang mengikrarkan diri “bertumpah darah satu; tanah air Indonesia, berbangsa satu; bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan; bahasa Indonesia”.

Akhirnya, semangat tersebut akan mampu memperkuat keharmonisan dalam kehidupan bangsa dan negara. Sehingga, cita-cita bangsa yang ingin “membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa” akan terwujud dalam wadah persatuan dan kesatuan. Niscaya, bangsa ini akan kembali mencengangkan dunia seperti halnya kemerdekaan yang diraihnya 71 tahun silam. Percayalah!

Iwan Ridwan, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. Menulis Esai dan Puisi. Tulisannya pernah termuat di Analisa, Fajar Sumatra, Media Indonesia, Koran Sindo, Koran Madura, Koran Merapi, Riau Pos, Suara Karya.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Follow Us