ESAI SENI RUPA

Kartun, Pameran Bersama dan Seni Rupa Kita

1 Oktober 2016 - 23.12 WIB > Dibaca 1172 kali | Komentar
 
Oleh Khalil Zuhdy Lawna

Menggagas pameran bersama adalah kerja kolektif dengan tujuan menyampaikan karya sebagai visualisasi individu. Kebersamaan  itu sendiri menyiratkan kekuatan subjek untuk tampil dengan mental kawanan, kelompok, kerumunan  Bahayanya, individu mencuat atau tenggelam. Untuk itulah adanya antisipasi  resiko kegugupan, inferioritas/superioritas, absolut, kelicikan bahkan ketamakan, Yang agak jelas mungkin perasaan tak menentu,: keresahan, ingin tampil, absurditas, main-main, kewenangan, kemarahan, kegundahan, kehampaan atau mimpi-mimpi. Seniman merasa hal-hal tersebut merupakan (hak). Meski harapan bermuatan ekonomi, seniman kerap terbentur.

Kini membahas  karya seniman amatlah menarik. Episode tersebut tak akan dianggap usang, membosankan, mengada-ada, membohongi atau menipu. Budaya konsumen yang kita alami saat ini lebih terlihat pada gaya hidup, rumah tinggal, cara berpakaian (baju, celana da­lam, BH, kaus kaki), kendaraan, bi­na­tang peliharaan, makanan, atau gaya ucap seorang seniman. Meski terkesan re­meh–temeh, setidaknya mencoba me­mahami (kembali) seniman sebagai manusia.

 Pada kasus kelompok, kita tidak lagi mempersoalkan estetika atau ideologi yang dianut, tapi lebih pada kontribusi mereka di masyarakat. Apakah seniman ikut ronda di kampung? Tahukah nama ketua RT/RW? Lurah? Camat? Tetangga? Ayah? Ibu? Kakek? Buyut? Kapan lahirnya? Apa yang dimakan? Diminum? Dimana? Berapa anaknya? Dibayar penuh atau ngutang? Kenapa van Gogh mengiris kupingnya?

Seni Rupa yang Bingung

Meskipun di Riau terdapat banyak perupa yang sebagiannya hidup dari berkesenian, pada dasarnya dunia seni rupa kita adalah sebuah dunia yang bingung. Dunia seni rupa kita nyaris tidak punya kebanggaan. Satu-satunya kebanggaan yang masih tersisa adalah penyelenggaraan–penyelenggaraan pameran yang tak kenal henti, misalnya Pameran Seni Lukis atau seperti Pameran kartun Tun Kopi yg diselenggarakan oleh Sindikat kartunis Riau (SiKari) di Mall SKA Pekanbaru pekan lalu. Di Riau ini kebanggaan seniman seni rupa terpecah dua, ada yang bangga terus bisa berpameran karena karyanya banyak yang mengapresiasi, ada juga yang bangga karena terus terusan berpameran tanpa peduli diapresiasi atau tidak yang penting setiap karyanya terpajang di ruang pameran. Yang terakhir ini adalah jenis perupa yang mempunyai sikap kesenimanan yang tak bisa ditawar-tawar.

Dunia seni rupa kita yang bingung ini memiliki elemen-elemen dasar tetapi sulit berkembang, contoh pertama elemen seni rupa di luar perupa adalah kritikus seni rupa, ini sangat penting dalam perkembangan seni rupa itu sendiri, tapi apakah kita memiliki kritikus seni rupa? Bisa jadi jawabannya “belum”, padahal pelaku seni rupa banyak sekali, namun belum bisa membentuk wacana, baik wacana publik maupun wacana seni di kalangan perupa itu sendiri.

Hutang yang mesti segera disadari seniman setidaknya hutang pada sejarah. Visualisasi karya pada kertas, kanvas bukanlah nature milik seniman, tapi lebih pada peristiwa culture, karena dikonstruksikan oleh buku, museum, galeri, akademi seni, televisi, media massa, film, fotografi, kurator, penulis seni rupa dsb. Sekarang, seniman saatnya menyadari ‘hutang visual’ tersebut. Apalagi terhadap visual seniman pendahulunya. Yakni komposisi, bentuk, warna, tekhnik, ukuran kertas/kanvas, hingga cat yang digunakan. Disinilah pula, referensi visual sekaligus menjadi ilusi.

Tentang Kartun

Seni Rupa adalah bahasa rupa sebagai mana musik adalah bahasa bunyi atau tari bahasa gerak. Bahasa ini bergerak dan berkembang pada wilayahnya masing-masing, ada pun kartun merupakan bagian dari seni  dalam wilayah seni rupa. Pada perkembangannya dalam sejarah manusia, kartun telah menempati kedudukan yang spesial, merambah ke segala lini, komunikatif dalam tataran manapun. Dilihat dari fungsinya kartun telah mewakili bentuk peristiwa, menjadi illustrasi bahkan propaganda, visualisasi tragedi apalagi komedi, penguat cerita atau semata-mata karikatur, bahkan pada pameran Kartun Tun Kopi ada dua keping karya yg menampilkan medium eksperimental yakni karya Eko Fazra kartunis Pekanbaru dengan judul “Serba tahu”....dimana karya ini sengaja memakai warna yang terbuat dari kopi..benar-benar Tun Kopi. Karya semacam ini tidak akan ditampilkan jika bukan karya aslinya, pigment warna menjadi kekuatan. Dalam hal ini persoalannya masuk ke wilayah fine art (seni murni) dimana segala sesuatu dalam visual seni rupa dapat berbicara termasuk medium kopi itu tadi.

Lalu bagaimana dengan karya kartun printing? Layakkah ditampilkan dalam pameran? Boleh boleh saja, berhubung kartun dibuat sebagai bahasa komunikasi maka salah satu fungsinya adalah memberi kesan dengan bahasa kartun. Menyampaikan sesuatu dalam bentuk visual yg artistik dan lucu.

Perupa yang mahir melukis belum tentu mahir dalam membuat kartun karena kita tahu keunikan kartun tergantung pada cara kartunis mendeformasi bentuk dari bentuk figur yang realis(sebagaimana idealnya suatu figur), adanya perubahan-perubahan itu terjadi bertujuan demi kelucuan dan tuntutan artistik.  Distorsi merupakan jenis perubahan yang sering terlihat pada kartun, ditandai dengan penyimpangan bentuk. Pada bentuk lain ada perubahan simplifikasi yakni penyederhanaan bentuk, biasanya sebuah objek hanya di tanda dengan garis kemudian bila diwarnai cukup dengan warna seadanya. Ada juga bentuk perubahan dengan jenis stylisasi dimana figur objek sengaja digayakan sedemikian rupa, pada perubahan lain mengacu pada distruksi, namun ini jarang ditemukan dalam dunia kartun berhubung perubahan seperti ini sulit dijadikan media komunikasi sebab bentuk figur aslinya dirusak untuk mendapatkan nilai artistik.

Memperhatikan sekaligus mengapresiasi pameran kartun Tun Kopi, disebabkan banyaknya peserta pameran membuat perasaan dikerumuni ide-ide kreatif, beberapa karya yang ditampilkan menonjolkan ide liar. Cita rasa karya yang liar ini menyentak emosi, lalu pertanyaan di kepala muncul, kenapa bisa ya muncul ide seperti ini?

Beberapa karya membuat penonton terpesona, barangkali karena kelu­cu­annya, atau karena kedalaman daya ungkapnya, atau tekhnik dalam pembuatan kartun itu sendiri, seperti karya Slamet Widodo, Semarang, kartun yang mengetengahkan ide liar yang tidak sederhana ketika menggambarkan dua prilaku, yang satunya pulang sehabis minum- minuman beralkohol, yang satunya pulang sehabis minum kopi. Citra kedua figur ini berbeda, digambarkan garis zebra di jalan penyeberangan dengan suasana sempoyongan, lalu digambar membentuk gelombang. Berbeda dengan peminum kopi, di jalanan dia riang-riang saja yang ditandai dengan garis zebra utuh seperti biasa.

Pada panel yang lain kartunis Furqon Elwe, Pekanbaru, mengedepankan visual kartun dengan bantuan balon kata. Teknik membuat kartun ekspresif dengan garis pasti, menambah nilai artistik yang komunikatif, tentu saja kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat sama pentingnya dengan kartun dan barangkali tanpa balon kata kartun dengan jenis seperti ini sulit ditangkap sebagai bahasa komunikasi.

Junaidi Syam alias Jon Kobet, Pasirpengarayan, telah lintang pukang dalam dunia kartun, baik sebagai illustrasi, karikatur atau komik yang kali ini menampilkan karya dengan figur yang padat. Pada panel 40 x 60 cm memuat beberapa peristiwa tanpa kolom laksana komik, seperti drama kolosal satu babak yang membuat mata menjelajah ke seluruh arah, dimana setiap mili kertas digarap serius berdasarkan prinsip dekoratif. Drawing seperti ini semacam pelestarian budaya menggambar, menciptakan suasana pada suatu peristiwa dengan ide-ide mengejutkan, lihat saja sudut kanan atas ada sebuah adegan komedi, ditelusuri lagi dan telusuri lagi sehingga kelucuan kartun yang diolah berdasarkan penciptaan sendiri ini selalu muncul dan berbicara dengan sendirinya tanpa bahasa tulisan sebagai penguat.

Meskipun tema pameran ini tentang kopi namun peran kopi dalam kartun ini tidak begitu penting, jauh lebih penting karya kartun sebagai bentuk karya seni yang artistik sehingga bagi siapa pun yang melihatnya bisa memberi judul beragam bahkan tafsiran bermacam-macam. Dari ketiga kartunis ini kiranya sudah bisa mewakili semua bentuk karya yang di tampilkan meskipun keunikan individual masing-masing kartunis secara detail akan terlihat disana sini.***


Khalil Zuhdy Lawna, Alumnus Institut Seni Indonenesia (ISI) Yogyakarta Fak. Seni Rupa Jurusan Fine Art/Seni Murni. Sekarang menekuni Seni Rupa (Lukisan, Kaligrafi, Interior)
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Follow Us