SAJAK

Sajak-sajak Lamuh Syamsuar

1 Oktober 2016 - 23.29 WIB > Dibaca 1516 kali | Komentar
 
Pedagang Semangka di Sumbawi

tuan-tuan dan puan-puan
belilah buah air yang tumbuh di indung kemarau ini
semangka manis yang di siram
bebulir puisi dua kali sehari

dipupuk tanah bersari
sari dari musim berseri
sekalinya naik ke tingkap hati
setelah talang menampung
batang hujan yang puntung

tuan-tuan dan puan-puan
belilah. semangka yang disemai
anak-anak jerami yang mati kekeringan

kulit gading
fajar dan senja warna daging

air berpasir, sesari pekerti kaum lapar tanah ini
dihimpun lapak sebesar kelepak daunnya
seratus kali lebih kecil dari hasil ladangmu

barangkali nanti
tuan-tuan dan puan-puan
haus di perjalanan

Sumbawi, 08 Juli 2016 


Burung April

cuaca kini seperti dirimu yang belia
tak ada pagi yang kau tutup
di antara tamsil sepasang burung april

meski telah kuketuk bertahun-tahun
kau tetap tak mengenal air mataku

bunuhlah aku
seperti deru seruling
yang menikam rinduannya
pada rumpun bambu. lewat kidung

Loteng, 17 juni 2016


Lempung Jati

lempung jati menjalar malam
memburu mimpi besarnya
yang tersembunyi di relung damar

malam semakin pagi
Lembah Rinjani menjelang
kematian dini hari

dan ledak-ledak yang tak sempat pecah
akibat tumbal puasa bulan sembilan
membusuk kedinginan seperti di neraka

Lombok, 08 Juli 2016


Kidung Mustofa

dan ghazal yang merdu itu. cinta!
bukanlah paduan sekumpulan rambat gelombang
dari benda-benda yang digetarkan di Gunung Qaf
melainkan nyanyian angkasa raya yang lepas dari sumbunya

nur, aku melihat Mustofa menari di kencana milik Jibril
dan laron bersayap api itu mengepung Ibrahim

Loteng, 07 Juli 2016


Panen Kedelai

di saban hari, kala waktu
telah letih mengasuh cerita dan cita-cita
anak jerami yang enggan mengaku ladang
sebagai rumahnya lagi

mendeliklah mata kedelai
setelah musim gemah usai
setelah
basah yang ditadah
tandas. bersama lapuknya lumbung
                        ilalang penyambung
maka terlepaslah, rontoklah baju
manik-manik doa kesat nan langsat
dari kulit, dari miang kuning yang alit

Alhamdulilah
meski jumlah jerih. jauh
menyusut dari gabah
toh, petani tak terlalu lelah

Lombok, 9 Juli 2016

Lamuh Syamsuar, lahir di Lombok Tengah. Menyelesaikan Studi S1 di IKIP Mataram. Puisi-puisinya juga pernah dimuat di Suara NTB, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang dan Bali Pos. Belajar sastra di Komunitas Akarpohon (Mataram). Buku puisi pertamanya Secauk Pasir Kesunyian (2014).

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 23 Januari 2019 - 09:40 wib

Masih Kurang Tujuh Unit Komputer

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:35 wib

Hasil Audit Belum Keluar, Ranperda PPJ Urung Disahkan

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:30 wib

Pengajuan NIP CPNS Serentak

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:25 wib

Pejabat Diberi Waktu Enam Bulan

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:20 wib

APBD Riau Belum Sejahterakan Masyarakat

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:20 wib

Awal Tahun, Waspadai DBD

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:15 wib

Dua Pelaku Curanmor Diringkus Polisi

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:10 wib

Tabrak Dump Truck, Personel Satlantas Tewas

Follow Us