OLEH IMELDA

Bengkel Pantun

1 Oktober 2016 - 23.33 WIB > Dibaca 2465 kali | Komentar
 
Bengkel Pantun

Sirih berlipat sirih pinang/Sirih dari Pulau Mutiara/Pemanis kata selamat datang/Awal bismillah pembuka bicara/.

Di dalam berbagai acara di Riau, seringkali dijumpai orang-orang yang berpantun. Tidak hanya pembawa acara (pewara), peserta, bahkan pejabat yang hadir pun tidak ketinggalan untuk menyampaikan pantun. Tentu saja, hal tersebut bukan hal yang mengherankan karena pantun merupakan salah satu ciri khas budaya Melayu yang dikenal luas.

Walaupun pantun dianggap sudah bersebati dengan masyarakat (Melayu) Riau, nyatanya tidak semua orang (Melayu) Riau dapat berpantun dengan baik. Permasalahan yang muncul tidak hanya masalah diksi yang digunakan dan kesesuaian dengan ketentuan pantun yang sesungguhnya, tetapi juga masalah kecepatan berpikir pada saat membuat pantun. Permasalahan terakhir tersebut akan mengemuka pada saat diadakan acara atau lomba berbalas pantun.

Beberapa tahun terakhir, Balai Bahasa Riau mengadakan lomba berbalas pantun antarmahasiswa yang diselenggarakan dalam rangka pekan sastra. Setiap tahunnya, dijumpai masalah yang nyaris sama, yaitu kurangnya minat masyarakat, terutama kalangan generasi muda untuk mengikuti lomba tersebut. Padahal berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyosialisasikan kegiatan tersebut supaya diketahui oleh masyarakat. Selain itu, kualitas para pemantun yang tampil pun masih belum menggembirakan. Mereka masih terbata-bata pada saat akan menjawab pantun lawan. Pilihan-pilihan kata yang dipergunakan juga masih terbatas dan cenderung mirip. Sampiran jalan-jalan ke …. (menyebut nama tempat yang sesuai dengan persajakan pada bagian isi) kerap dipakai para pemantun. Mereka juga memerlukan waktu yang cukup lama untuk “membeli” (menjawab) pantun dari lawannya.

Tentu saja, kondisi tersebut cukup memprihatinkan. Generasi muda Riau yang diharapkan akan menjadi penerus tongkat estafet budaya Melayu ini seakan sudah tidak mengenal budayanya sendiri.  Apakah hal itu menjadi salah satu indikasi bahwa masyarakat sebenarnya sudah tidak “akrab” lagi dengan pantun? Apakah pantun hanya muncul pada acara-acara seremonial, tetapi sudah hilang dalam kehidupan sehari-hari?

Diakui atau tidak, ada pergeseran pandangan masyarakat terhadap pantun. Perkembangan teknologi dan komunikasi memiliki andil terhadap hal itu. Pantun tidak lagi dianggap sebagai media yang efektif dalam penyampaian pesan moral, nilai-nilai, hukum suluh, dan tunjuk ajar.

Untuk menghidupkan kembali tradisi berpantun (juga berbalas pantun) diperlukan perhatian dari berbagai pihak sehingga di masa yang akan datang, berpantun yang sudah menjadi ciri khas orang Melayu tidak hilang ditelan zaman. Upaya ini perlu dipelopori  oleh pemerintah. Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota, melalui Dinas Pariwisata atau Dinas Pendidikan, dapat melakukan pembinaan terhadap masyarakat dalam memasyarakatkan pantun.  Selain itu, Balai Bahasa Riau juga dapat ambil bagian  sebagai institusi yang salah satu tugas dan fungsinya berkaitan dengan pembinaan sastra, termasuk sastra daerah.

Selama ini, Balai Bahasa Riau sudah menyelenggarakan sebuah kegiatan bernama bengkel sastra. Akan tetapi, kegiatan bengkel sastra masih difokuskan pada musikalisasi puisi, sedangkan pantun belum pernah dilirik untuk dibuat semacam bengkel pantun. Dengan kondisi perpantunan yang kurang baik dewasa ini, kegiatan bengkel sastra ini ke depan dapat saja dialihkan/ditambahkan dengan “membengkel” pantun.

Di dalam kegiatan tersebut, berbagai pengetahuan dan praktik berpantun disampaikan oleh para narasumber. Peserta bengkel diperkenalkan pada pengetahuan mengenai pantun yang menurut Navis (1984:234) merupakan bentuk puisi tradisional Indonesia yang paling tua. Pengetahuan bahwa biasanya, pada tiap bait (kuplet) pantun terdiri atas empat baris yang bersajak ab-ab dan umumnya tiap baris terdiri dari 4-8 kata perlu disampaikan. Baris pertama dan kedua disebut sampiran dan baris ketiga dan keempat disebut isi pantun. Pantun yang sempurna adalah pantun yang sampirannya mengandung ketiga unsur itu (isi, bunyi, dan irama), seperti pada pantun: pulau pandan jauh di tengah, di balik pulau si angsa dua, hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua.

Selain memahami berbagai teori mengenai pantun, yang terpenting setelah mengikuti bengkel pantun, para peserta dapat mempraktikkan cara berpantun yang baik. Mereka diharapkan menguasai teknik berpantun, baik untuk keperluan sehari-hari, maupun untuk keperluan   lomba.  Mereka diajari cara mudah untuk membuat pantun dengan cepat sehingga tidak akan mengalami kesulitan untuk menjawab pantun lawan. Berbalas pantun akan mudah jika pemantun cermat mencari peluang untuk menangkis apa yang dikatakan lawan. Dengan demikian, pemantun tidak akan kehabisan ide karena sudah memanfaatkan sampiran lawan untuk dijadikan pantun baru.

Tanggung jawab untuk menyosialisasikan budaya berpantun ini, hendaknya tidak dibebankan kepada pemerintah semata. Keterlibatan semua pihak harus lebih ditingkatkan agar berpantun tidak menjadi asing di kalangan anak muda, khususnya di Provinsi Riau. Para pakar pantun, baik dari kalangan akademisi atau praktisi pantun harus lebih aktif mengenalkan kembali pantun kepada generasi selanjutnya supaya pantun kembali menjadi salah satu jati diri Melayu.

Selain itu, masyarakat harus berperan aktif  untuk menggunakan seni berpantun dalam kehidupan sehari-hari. Pantun bukan saja warisan budaya leluhur, tetapi menjadi bagian dari hidup masyarakat Melayu yang berkarakter. Seni berpantun merupakan ciri kreativitas masyarakat Melayu yang mengandung nilai sastra yang tinggi. Apabila kemahiran berpantun sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, hal itu dapat membantu cara berpikir cepat dan spontan.

Mari berpantun dan kembalikan kebanggaan masyarakat Melayu terhadap pantun.***

Imelda bekerja sebagai peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau

 

 

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Follow Us