MUSIKALISASI PUISI

Genre Seni yang Unik

9 Oktober 2016 - 23.54 WIB > Dibaca 694 kali | Komentar
 
Genre Seni yang Unik
Setiap orang sudah tentu menyukai nyan­yian, dengan tingkat selera masing-masing. Lagu dan puisi yang dikawinkan secara estetis kemudian dikenal dengan sebutan musikalisasi puisi.

SETIAP larik puisi yang kemudian dikawinkan dengan aransmen musik menghasilkan karya seni yang baru tentunya, meskipun puisi menjadi landasan dan tumpuannya. Namun keberadaan musikalisasi puisi memberikan tawaran dan capaian tersendiri dalam hal akan membangun jiwa yang damai lewat untaian nada dan senandung yang dihasilkan.

Dengan demikian, dalam program Peningkatan Kreatifitas Kesusasteraan tajaan Balai Bahasa Provinsi Riau yang ditaja di Kabupaten Indragiri Hilir (5-8 Oktober) lalu, Marhalim sebagai salah seorang narasumber mengatakan, musikalisasi puisi adalah genre seni tersendiri, saat ini. Ianya berdiri sendiri dengan capaiannya sendiri, tidak lagi dimiliki oleh seni sastra ataupun musik.

Meskipun demikian, keberadaannya memang belum diakui sepenuhnya tetapi hal itu dapat disimak atau dijadikan sebagai bahan kajian serta analisa bagaimana kemudian beberapa unsur di dalam musikalisasi puisi yang hadir dari kekuatannya sendiri. “Ini menarik untuk diperbincangkan lebih jauh. Memang kecendrungan untuk menempatkan itu perlu kajian lebih dalam tetapi kita bisa lihat fenomena yang ada di Indonesia, misalnya,” jelas Marhalim.

Perjuangan cukup panjang dilakukan oleh Sanggar Matahari yang dengan gigih berjuang sehingga pada tahun 2003, terbentuk sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi). Memang kemudian, perjuangan ini juga tercatat tidak terlepas dari kerjasama dengan Pusat Bahasa yang turut merintis dari waktu ke waktu, baik melalui pelatihan maupun festival.

Tercatat juga bahwa musikalisasi puisi di Indonesia sebetulnya tumbuh subur di awal tahun 80-an. Ketika gubahan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono menjadi lagu  oleh beberapa pelaku seni yagn ada. Tembang sederhana yang diiringi dengan petikan gitar ketika itu memberikan kesan keanggunan kepada sang puisi.

Kemudian, banyak pula peristiwa sastra yang tak meriah jika tidak dihiasi dengan musikalisasi puisi. Setidaknya, selain Sapardi, puisi Toto Sudarto Bahtiar, Sutardji Calzoum Bachri, dan lain-lain mulai menjadi lagu yang asyik. Dan memang, dari sejumlah kelompok musikalisasi puisi, Sanggar Matahari menjadi semacam ikon, karena konsisten mengamalkan cabang seni itu.

Enam bersaudara itu gigih melatih kelompok-kelompok dari berbagai provinsi dalam format workshop. Dalam dua tahun terakhir, dengan semangat luar biasa, akhirnya mereka sanggup menghimpun grup musikalisasi puisi dari 22 provinsi dan 14 kabupaten/kota. Dan pada 22 provinsi itu, terdapat Balai Bahasa yang turut membina pertumbuhan kelompok-kelompok itu. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tanggara, Maluku, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua dan lain-lain.

”Sedangkan di Riau, musikalisasi puisi belum begitu populer, ha­nya ada beberapa pelaku seni yang kemudian memilih untuk menggelutinya seperti komunitas Gendul, itu pun baru. Juga komposer Matrock bersama dengan siswa-siswi di SMA 1 Pekanbaru yang konsisten dan terus mengeksplorasi puisi-puisi penulis Riau yang dijadikannya karya musikalisasi puisi,” jelas Marhalim.

Sedangkan menurut narasumber Bengkel Sastra lainnya, Zalfandri Zaenal alias Matrock bahwa kebe­radaan komunitas Musikalisasi Puisi termasuk baru dibandingkan dengan cabang seni yang lain. Padahal menurutnya, komunitas ini menjadi penting untuk perkembangannya ke depan. Kebutuhan untuk saling mengasah wawasan, meningkatkan frekuensi diskusi, menggali potensi dan tentu saja berkarya, diwadahi oleh sebuah komunitas.

Namun demikian, hal itu tidak pula lantas menjadi alasan bahwa musikalisasi puisi adalah hal yang baru dilakukan. Bahwa memang, keberadaanya adalah sebuah genre seni tersendiri jika hendak lebih jauh ditelaah baik dari cara kerja penggarapannya maupun hasil karya yang telah jadi.

Ada hal yang kemudian terlihat unik anatara grup musik, penyair atau pembaca puisi. Lagu, jika bukan instrumentalia, tentu akan berisi lirik. Syair atau lirik itu, bisa ditulis oleh anggota band, penggubah lagu atau seorang penyair. Bahwa musikalisasi puisi, menurut Matrock berada diantara semuanya namun aransmen dan lagu atau nandung yang dihasilkan hendaknya memiliki wilayah sendiri.

 “Tentu saja, nada-nada yang terlahir berangkat dari kehendak nuansa atau makna puisi yang dijadikan musikalisasi puisi itu sendiri,” jelasnya.

Dari pengalamannya dalam meng­garap musikalisasi puisi, maupun menjadi narasumber bengkel sastra beberapa tahun belakangan ini, hal itulah yang diapresiasi dan dipelajarinya. Tahun 2016 ini saja, melalui kegiatan Balai Bahasa, ada tiga daerah yang terdiri dari kira-kira 240 siswa-siswi yang terlibat dalam pelatihan musikalisasi puisi. Masing-masing dibagi menjadi kira-kira 36 grup, di mana mereka dilatih untuk menggarap musikalisasi puisi.

“Di sinilah yang ditemuinya, ada sesuatu capaian lain dari musikalisasi puisi itu, yang keberadaanya sangat kuat untuk ditempatkan sebagai genre seni tersendiri,” jelasnya.

Terkiat dengan kegiatan yang ditaja Balai Bahasa provinsi Riau, menurut Matrock adalah sebuah kekuatan untuk membuktikan hal itu nantinya. Karena secara jelas, dari kegiatan ini akan melahirkan generasi musikalisasi puisi di Riau. Terlepas itu semua, harapannya, dengan musikalisasi puisi, kreativitas anak-anak muda tersalurkan. Nilai positifnya, dengan sibuk berkreasi, mereka setidaknya akan terhindar dari hal-hal yang tidak berguna.

”Selain itu, bahasa seni bersifat universal, apapun cabangnya. De­ngan demikian, dapat menggalang persahabatan. Dengan genre baru ini, budaya kita akan semakin ber­kembang, apalagi kekuatan dan potensi seni budaya yang ada di Riau jika hendak dijadikan sebagai referensi karya. Apalagi bidang se­ni ini sesungguhnya masih mempunyai lahan yang cukup terbuka bagi seniman dan pelaku-pelaku musikalisasi puisi yang ingin serius membidanginya, dimana  tingkat persaingan musikalisasi puisi baik dari segi jumlah dan kualitas masih tergolong rendah, dan ini tentu merupakan sebuah tantangan,”jelasnya panjang lebar.

Konsisten Mendekatkan Sastra pada Masyarakat

Sebanyak tiga daerah, didatangi Balai Bahasa Provinsi Riau dalam program Peningkatan Kreatifitas Kesusasteraan bagi Guru dan Siswa 2016. Di antaranya adalah Kabupaten Pelalawan, Pekanbaru dan Kabupaten Indragiri Hilir.

Kegiatan yang lebih dikenal dengan Bengkel Sastra ini adalah kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak 2006 lalu. Fokus agendanya adalah mengenalkan kepada siswa dengan musikalisasi puisi. Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Umar Solikhin mengemukan pelatihan yang ditaja memang dalam rangka meningkatkan kreatifitas sastra kepada siswa-siswi di sekolah. Bengkel Sastra adalah salah satu kegiatan yang ditawarkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau untuk meningkatkan kreativitas dan apresiasi sastra kepada masyarakat dalam hal ini siswa dan guru di Riau.

Kegiatan tersebut berfokus pada pemberian pelatihan dan pementasan seni kreatif yang berupa musikalisasi puisi. Kegiatan tahunan ini, sengaja dilakukan di beberapa daerah yang telah ditetapkan jauh hari sebelumnya. Dengan cara, Balai Bahasa mendatangai daerah-daerah tersebut, menggelar pelatihan sampailah para peserta mengetahui seluk beluk dalam membuat karya musikalisasi puisi.

“Bengkel sastra ini, dalam upaya untuk menghimpun para peserta dari daerah untuk mengikuti helat berikutnya yang diselenggarakan di Pekanbaru, yaitu pekan sastra yang didalamnya ada lomba musikalisasi puisi se-provinsi Riau. “Kegiatan ini sudah berlangsung sejak lama sekali, akan tetap kami pertahankan bukan saja dikarenakan banyak manfaatnya tetapi bahwa sambutan dan antusias para peserta yang cukup tinggi sehingga program ini sepertinya sangat dibutuhkan oleh para siswa dan guru. Ditambah lagi, kegiatan serupa ini tidak hanya di tingkat daerah tetapi akan ada kelanjutan berupa perlombaan yang akan sampai ke tingkat Nasional,” jelasnya.

Program tahunan dari Balai Bahasa ini adalah sebuah tawaran guna meningkatkan apresiasi sastra bagi peserta, menumbuhkan rasa kecintaan peserta terhadap sastra terutama puisi. Para peserta dipertemukan langsung dengan para sastrawan Riau untuk dapat memahami, mengetahui dan juga mempraktikkan langkah-langkah dalam menghasilkan karya berupa musikalisasi puisi.

Tak heran dari tiga daerah yang didatangi, siswa-siswi ‘bercengkerama” dengan puisi dan kemudian dari hasil pelatihan itu, mereka menampilkan karya mereka pada hari penutupannya. (jefrizal)



KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Follow Us