SAJAK

Sajak-sajak F Rizal Alief

10 Oktober 2016 - 14.17 WIB > Dibaca 1646 kali | Komentar
 
Dalam Secangkir Kopi

Kelihatannya memang terlalu sederhana, hanya secangkir
Kopi biasa dihidangkan bersama rokok yang juga biasa
Tanpa pisang goreng atau renyah kerupuk ikan kampung
Tapi kami benar-benar paham bunyi gemerincing cangkir
Menyimpan harga diri yang tidak baik disimpan di dapur

Ya, kami biasa melakukannya tiap kali ada seseorang yang
Datang bertamu atau sekadar singgah sebentar, sebelum
Berangkat ke sawah untuk mencangkul kerasnya angkuh
Segelas air putih tak mampu menanggung rasa malu kami
Apalagi hanya sebatas kata-kata yang meliukkan bibir saja

Maka hanya secangkir kopi hangat dengan aroma tajam
Dan uapnya yang meliuk-liuk di udara menjalar pada pagi
Pada tumbuhan, pada tanah, pada hati yang bersih, pada
Percakapan sederhana yang tidak terhalang jarak rumah
Kami bisa melarutkan pahit doa bersama manisnya cinta

Sebelum kopi habis dan menghapus cemas dalam dada
Kami tidak bisa beranjak ke mana-mana, sebab luka bisa
Menyelinap dari balik hitam pekatnya, sebab perih lebih
Tajam dari sekadar pecahan-pecahan gelas yang runcing
Dan pada keduanya tidak cukup sehari kami memikirkan

Sungguh, kelihatannya memang terlalu sederhana, hanya
Secangkir kopi biasa, tapi di dalamnya kami tidak pernah
Menemukan aku yang meluap bersama ampas-ampas kopi
Hanya manis cinta bercampur pahit doa yang larut dalam
Hati, mengalir dalam darah dan menjadikan kami bahagia

Kini, kopi benar-benar habis dan dada kami sudah kosong
Hingga kata-kata bersinar dalam cangkir dan puisi menjadi
Kopi lain dengan aroma yang lebih menggoda dari sekadar
Wangi susu yang paling segar, dan kami menyiapkan hari
Untuk pertemuan berikutnya, untuk nikmati kebersamaan

Bandungan, 2016


Giliyang


Demi Daeng Karaeng yang membabad pulau ini dengan
Cahaya syahadat, aku lahirkan puisi dengan kata-kata
Sederhana, berirama dan lembut, bergetar dari kaki hingga
Rambut, menyusup ke sumsum dan berdenyut, menari
Di hati yang tulus, menjaga tanah ini agar tetap keramat

Demi Daeng Karaeng sebagai moyang yang menyimpan
Selembar peta bersama jiwa puisi, kakiku tak akan pernah
Penat untuk mengembara, memasuki kampung, ramai kota
Mengarungi laut, masuk hutan rimba, agar cinta di dada
Tetap bercahaya sebagai kompasku sepanjang masa

Demi Daeng Karaeng yang ketulusan jiwanya begitu kuat
Menggumpal, aku pun merasa sangat perlu tinggal
Di tanah asal untuk menjaga banyak hal: rumah, saudara
Tetangga, adat dan etika hidup, tanah, batu, tumbuhan
Kerikil, jalan, ikan, laut, karang sampai hal terkecil

Demi Daeng Karaeng yang bercahaya, aku membiarkannya
Semakin bernyawa menjadi lampu-lampu terangi kamar
Tempatku biasa kemalingan cinta, berjajar di sepanjang
Jalan tua sebagai rute menuju hakikat cintaNya, agar puisi
Bisa mengunci pintu dan aku tak perlu lagi kemalingan

Demi Daeng Karaeng yang sudah jadi jimat dan menyatu
Dalam semesta batin, aku tak perlu takut ombak-ombak
Gusar atau gelombang dahsyat kesekian, lagi pula cagak
Yang kau tancapkan di hatiku masih tegak sebagai iman
dan ikan sunyi itu masih selalu mengunjungiku dari kesepian

Ya, sungguh demi Daeng Karaeng yang semakin
Membagkitkan gelombang, sudah waktunya aku bersuci
Dalam puisi, hingga tak ada lagi penghalang untuk menjadi
Masa depannya yang paling gemilang, hingga pulau ini
Tetap memberi nyawa pada setiap yang datang dan pulang

Bandungan, 2015-2016


Api Tak Kunjung Padam

Di dalam puisiku tersimpan sumber api yang begitu ramah
Api yang menyala dari cinta, dari kesunyian, dari harapan
Dari doa-doa yang tak pernah padam, dari suara leluhurku
Yang tak pernah diam, menjalari kata-kata di antara buku
Dan tumpukan koran, menuju dadaku, mengaliri darahku

Di sini, cukup kaumenggali barang sejengkal, dua jengkal
Api itu akan menggeliat perlahan dari balik kata-kata
Lantas kauboleh membakar jagung, menanak nasi, atau
Memasak air, hingga keluar aroma cintaku yang menggoda
Setelah selesai, tutup lagi galian itu agar api kembali sunyi

Di dalam puisiku, nyala api itu tidak akan pernah padam
Meski hujan deras mengguyur dengan angin lebat sekalipun
Sebab, ia terlanjur menjalar di sela-sela kata, di balik bahasa
Dalam lembut jiwa, berdenyut di antara degup jantung, dan
Berdesir di antara keinginan yang tidak pernah lupa pulang

Bila rindu, kauboleh datang ke sini lagi kapan pun kaumau
Boleh sendiri, boleh juga bawa orang lain, untuk menikmati
Suguhan terindah dari api dan puisiku, atau sekadar untuk
Membakar sampah kejenuhan, menyalakan sumbu doamu
Sebagai pengganti lampu-lampu yang semakin angkuh saja

Jika aku sedang pergi, tidak usah merasa sungkan, gali saja
Api itu tidak akan membakarmu, sebab ia adalah jiwaku
Jiwa yang ingin bersahabat dengan siapa saja, sekalipun ada
Percik-pecik cemburu, bukan berarti untuk membakarmu
Tapi sebagai bukti, bahwa bersama puisi aku miliki rindu

Bandungan, 2016


Mata Pisau

Aku mengasah pisau dalam diriku, tiap kali keheningan
Menyelinap masuk dalam bulan, sebagiannya berloncatan
Dari bintang ke bintang, dan kesunyian menjalari kulitku
Masuk ke dalam detak jantungku, lalu aku mengukir batu
Di dasar hatiku, menjadi kata-kata rapi yang berkilauan

Seperti bulan, mataku juga bersinar begitu terang, kulihat
Jalan-jalan masih sepi, pohon-pohon bergerak selembut hati
Dan rumah seperti sebuah gua yang tampak begitu ramah
Dengan sisa lampu yang kelihatan tidak begitu angkuh
Aku yang belum selesai, kembali mengasah pisau sunyiku

Lalu aku mengukir kembali batu-batu, lebih hati-hati lagi
Lebih rapi lagi, dan kata-kata semakin berkilauan di sini
Hingga tak ada lagi satu batu pun tersisa untuk menyumbat
Pernapasanku, mengganjal lubang-lubang dari kotoranku
Dan hati ini menjadi tempat dari setiap kata-kata indahku

Tinggal aku menyusun ukiran-ukiran ini menjadi kalimat
Yang tidak hanya sebatas bacaan belaka di dalam kelas
Di alam bebas dengan pengeras suara yang paling berkelas
Atau menyangkut di koran sebelum menjadi bungkus nasi
Dan terbuang percuma ke tempat sampah, lalu tiada

Setelahnya, mungkin aku tidak perlu tidur atau sekadar
Berbaring ringan, sebab mata pisauku lebih berkilau dari
Kesunyian dalam bulan dan tang-bintang, sebab aku perlu
Menunggu subuh datang, di mana kalimat itu memastikan
Diri menjadi yang terbaik dari yang pernah aku lahirkan

Bandungan, 2016


F. Rizal Alief atau Faidi Rizal lahir di Sumenep, 15 September 1987. Menulis puisi, cerpen dan novel di media massa nasional, Mingguan Malaysia dan lokal serta di beberapa antologi bersama. Pernah membacakan puisinya di Rumah Pena Kualalumpur Malaysia. Bukunya yang telah terbit Alief Bandungan (Puisi, 2015), Gaik Bintang (novel, 2015) dan Purnama di Langit Pangabasen (novel biografi Kiai Hosamuddin Pangabasen, 2015). Tetap aktif menulis bersama Komunitas SEMENJAK yang tinggal di Rumah Kreasi al-Jauzi Gapura Sumenep, Madura.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us