CERPEN ARDIAN PRATAMA

Dermaga Api

10 Oktober 2016 - 14.27 WIB > Dibaca 1600 kali | Komentar
 
AKU sangat suka desa ini, begitu tenang dan sunyi. Apalagi saat-saat kami menyisiri bukit bagian utara, semua terlihat kecil mengagumkan, apalagi pemandangan laut dari atas sini. Padang rumput yang terbentang luas bergelombang dengan sapi-sapi dari Joe’s Husbandry dan perkebunan membuatnya seperti permadani hijau bermotif-motif.

Aku, Kiel dan Rudy sering menjelajah, kami suka alamnya, kami suka pohon-pohonnya, dan kami suka orang-orang di sini. Sering kami petik apel dan berry liar di hutan, membantu Joe memerah sapinya, berteriak-teriak di bukit, dan banyak hal lain yang tak bisa kusebut semuanya, terlalu pedih untukku.

Delapan tahun sudah sejak kejadian itu. Membuat diriku begitu takut dan sedikit pendiam. Sering aku hilang kendali, emosi, dan menangis sepanjang hari. Bahkan kejadian itu masuk di celah-celah mimpi untuk beberapa bulan, membuat Dr. Alena datang sesering mungkin.
Partikel-partikel ingatan itu belum seutuhnya pudar, walaupun sempat aku diasingkan ke luar kota untuk menghabiskan masa studi belajarku, ingatan itu tetap terbawa, karena sejatinya ia berada di kepalaku.

Hari ini aku kembali, memberanikan diri melintasi batas terliarku untuk pergi. Berharap saat kudatangi, ingatan itu pergi secepat aku dulu berlari. Karena sekarang ini kakiku hanya ada yang sebelah kiri, yang lainnya tertinggal saat aku menyelamatkan diri.
***

Kamis pagi di musim semi, seharusnya dimana kami akan berkumpul di dermaga selatan, tertunda oleh gerimis yang cukup membuatmu basah meskipun kau berlari. Aku menunggu sembari menyantap potongan bacon dilapisi roti panggang dan segelas susu hangat. Duduk sebentar di perapian membaca beberapa cerita karangan Enid Blyton.

Belum lagi gerimis reda, Rudy mengetuk-ngetuk pintu dan memanggilku dengan dialek Inggris-Jermannya. “Jesse, buka pintunya!” seperti kataku sebelumnya, rambut pirangnya basah, untung ia kenakan jas hujan.

“Kau cukup basah untuk bisa masuk ke fishco market,” candaku nyengir.

“Oh yea, mungkin kau punya sepotong handuk untuk mengeringkan ikan basah yang kedingan ini,” balasnya menggeretakkan gigi.

“Masuklah, masih ada beberapa potongan roti di dalam.”

Hari ini rencananya kami akan membantu ayahku mengangkut ikan-ikan hasil tangkapannya ke apa yang kusebut rumah—fishco market. Ini menyenangkan sekali ketika kau bisa melihat bermacam-macam jenis ikan dan ada saja jenis baru tiap harinya, apalagi kau tak bisa menebak jenis apa yang datang hari ini.

Setiap tiga hari sekali ayah akan pergi kelaut mencari ikan-ikan, dan ibu menjajanya di kios rumah. Aku kadang-kadang menolong, tak banyak, karena ayah tak mengizinkanku ikut berlayar dan ibu lebih lagi melarangku memegang pisau.

Aku dan Rudy berangkat begitu ibu mulai menjemur cuciannya. Kiel memang tidak ke rumahku, Karena rumahnya berada tidak jauh dari dermaga.

“Hei, Apa terkaanmu hari ini?”

“Hmm.. Sepiring penuh sayuran untuk Tuna besar,” jawabku ragu.

“Hmm.. Ok, sepiring penuh sayuran untuk Salmon Merah,” ucap Rudy yakin.

“Hahaha.. Deal,” tawaku menyetujuinya.

Walaupun ayahku pelaut, aku tak pernah menang sekalipun dari tebakan Rudy, bahkan Kiel. Kenapa aku begitu bodoh untuk tebakan sepiring penuh sayuran. Menjijikkan.

Tampak di ujung sana Paman Grell sibuk mengutip bekicot dari kebun kubisnya. Memang hama ini akan meningkat saat-saat musim seperti ini.

“Paman Grell! Apa Kiel ada?!” Teriakku di pinggiran kebun kubisnya.

“Ya, di rumah. Tolong bantu aku sekalian angkat kubis itu ke rumah!” tunjuknya pada keranjang tak jauh dari tempat kami berdiri.

“Ok,” jawabku.

“Terimakasih, dan jangan pulang kesorean,” ucapnya, masih sibuk dengan perawatan kebunnya.

Rudy mengacungi jempol padanya pertanda setuju. Kami tergopoh-gopoh membawa keranjang sayur itu, lumayan berat. Jika rumahku fishco market, rumah Kiel adalah farmarket—kios pertanian, bisa juga berarti kios yang jauh (far market) karena letaknya di ujung desa.

“Kiel.. Kiel..!!” Aku dan Rudy tiba di kiosnya.

“Oh kalian, taruh saja keranjang itu di sana,” katanya buru-buru.  “Sebentar, aku harus memanggil ibuku.”

Aku dan Rudy duduk di pelataran kursi panjang, menunggu Kiel memanggil ibunya untuk menggantikan menjaga kios. Mengingat hanya aku dan Kiel yang mempunyai kios, keluarga Rudy yang pelarian perang tidak diizinkan melakukan aktifitas ekonomi oleh pemerintah setempat, karena Rudy dan keluarganya merupakan warga negara Jerman.

Sebelumnya Rudy dan keluarganya lari dari Jerman dengan bantuan kerabat ke London. Karena situasi mulai tidak kondusif, mereka mulai meninggalkan London dan akhirnya sampai ke desa ini. Mereka pendatang yang baik, tidak sedikit orang yang membantu keluarganya, bahkan saat ini ayahnya diperkerjakan oleh Joe si pemilik peternakan--Joe’s  Husbandry.

Cukup lama menunggu, Kiel datang dengan pancingan dan ember peralatan memancing kami yang dititipkan disini. Untuk berjaga jikalau ayahku belum sampai kami bisa mengusir kebosanan dan menambah jenis ikan baru. “Ayo pergi!”.

Di jalan, Kiel turut serta bertaruh, “Sepiring penuh sayuran untuk Lobster, Hahaha..” Entah apa jadinya nanti, membayangkan pemenang taruhan ini bersorak girang melihat kedua temannya melumat sayuran porsi besar. Memuakkan.

Kami tiba di dermaga. Membongkar peralatan pancing dan mengaitkan umpan.

“Kau siap?” tanya Rudy.

“Belum,” timpal Kiel. “Aku bahkan Belum mengambil cacing itu,” tambahku.

Matahari sudah di puncaknya, tapi tak ada tanda kapal ayah akan hadir cepat. Biasanya ayah tak pernah telat berlabuh. Dan kami baru hanya mengumpulkan beberapa Cuttlefish.

“Apa karena cuaca tadi pagi?” keluh Kiel.

“Tak mungkin hanya karena gerimiskan?” jawabku.

“Seseorang pernah bercerita kepadaku ‘Saat di tempat kita hujan, belum tentu di tempat lain juga hujan’. Bisa jadi di lautan hujan badaikan?” kata Rudy payah (karena saat itu aku belum mengenal geografi).

“Haha.. Kau ini mengada saja,” kataku sumpal. Kata-katanya membuatku takut. “Panas begini, bagaimana kalau kita berenang? Aku mulai bosan memancing,” alihku demikian.

Barusan kata itu diucakan sepersekian detik, Kiel sudah menceburkan diri ke laut. “Huahh.. Segarr..,” kedua tangannya diayun-ayunkan ke belakang. Aku dan Rudy segera melompat tak sabaran menghantamnya di bawah sana.

Lelah mondar-mandir menyusuri karang dan overeat air laut, kami berteduh di bawah dermaga, duduk di bagian sekat antara tiang penyangga. Tak pernah aku lupakan pembicaraan kami hari itu. Rudy mengimpikan berlayar keliling dunia bersama kapalnya dan Kiel mencerocos hebatnya menjadi pilot pesawat tempur. Sedangkan aku hanya berharap seperti Shakespeare atau selihai Leonardo Da Vinci, yang sampai hari ini impian itu tak juga terrefleksi.

“Hei, Lihat!” telunjuk Rudy seperti ingin lepas, membuat kami kaget saja.

Itu ayah, kapal itu terlihat di kejauhan sana--timur. Kami naik dan bersiap, alat pancing dibereskan. Sekali lagi tampak olehku, tapi ada sesuatu di sana, ada kapal lain, bukan kayu, tapi besi berbentuk aneh di belakang.

kapal itu kini membesar sudah, hanya tinggal sekitar dua puluh menitan untuk berlabuh. Kini kami tahu apa itu, sebuah kapal perang. Yang Kiel kira sebelumnya adalah teropong besar rupanya moncong meriam. tampak di sana ayah melambai-lambai.

“Wow, ayahmu sungguh mengesankan Jesse,” kata Kiel.

“Apa itu kerabatnya? atau butuh bantuan kapal perang untuk mengangkut ikan di sana?” sahut Rudy heran.

“Entahlah, yang penting siapa pemenang taruhannya,” balasku melambai dan tersenyum saing pada mereka.

Kini kapal itu mengurangi kecepatan, terlihat dari layar dan ombak di sekitarnya. Sayup-sayup terdengar suara, ayah berteriak di seberang sana, tapi aku tak dapat mendengarnya. terus ia berteriak, dirapatcembungkannya kedua jari tanggannya di mulut agar suaranya menggema.

“Jesse! .......” suara itu terdengar. “....i Jesse. ....... orang-orang!” sekali lagi.

“Apa katanya?” tanya Rudy.

“Entahlah, belum terdengar olehku.”

Kali ini suara itu agak jelas, mungkin karena kapal semakin dan angin mengarah kemari atau kami cukup fokus mendengar, “Jesse! Lari! Jerman datang!” sontak kami langsung membeku. “Beritahu orang-orang!”.

Yang aku tahu dari Rudy dan surat kabar, bahwa tentara Jerman cukup kejam dan aku belum pernah melihat tentara yang diceritakan itu. Kini ia ada di depanku, di belakang ayah.
Aku, Kiel dan Rudy berlari, sekencang-kencangnya. Di atas papan jembatan dermaga, meninggalkan ayah dan segala hasil taruhan yang dibawanya.

Belum lagi meninggalkan pasir pantai, kami bertiga tesandung jatuh, dikejutkan oleh kuatnya suara dan gelombang angin di arah belakang. Kapal ayah meledak, kayu-kayu tersepah dimana-mana. Moncong meriam itu berasap seperti moncong Joe sehabis mengisap cerutu.
Aku tak dapat menemukan ayah di mataku, yang kudapat hanya seserpihan kayu di lautan dengan api. Seingatku, Aku hanya berteriak dan menangis di pantai itu.

“Ayo Jesse! Kita harus pergi!” Kiel menarik-narikku. Ia sudah pucat pasi, sedang Rudy terdiam.

Mungkin ada jutaan perasaan yang bercampur aduk dalam diriku saat itu. Meskipun kaki masih kuat berlari, hatiku sudah hancur seutuhnya. Kami tergopoh-gopoh menyusuri pasir menjauhi pantai. Tanpa suara, hanya suara laut dan angin, tapi ada suara yang ingin bergabung dalam suasana itu, suara keras seperti ketukan besi atau runtuhnya pohon pinus dalam kecepatan ribuan kali. Kami sadari itu adalah Machine Gun.

Pasir berhamburan seperti debu di pertambangan, menghantam kesana kemari. Sial! Punggung Kiel tertolak kedepan. Aku dan Rudy sempat berhenti, tapi tak berani mendekat. Belum lagi terpikir ide nekat, kepala Kiel sudah dihantam kembali. Rudy berlari ke tubuh Kiel dan Mengaum seperti biri-biri. Saat itu juga aku melihat moncong meriam berputar dan dengan cepat mengeluarkan secercah cahaya.

Hari ini aku pergi, memberanikan diri melintasi batas terliarku untuk kembali. Berharap saat kukembali, ingatan itu pergi secepat aku berteriak, “Rudy!”.***

Ardian Pratama, lahir di Dumai 11 Desember 1995. Mahasiswa Pertanian Universitas Islam Riau. Aktif bergiat di Lembaga Pers Mahasiswa AKLaMASI UIR. Menyukai dan membaca buku-buku sastra serta menulis cerpen dan puisi.







KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us