OLEH SARMIANTI

Sepeminuman Teh

10 Oktober 2016 - 14.32 WIB > Dibaca 2355 kali | Komentar
 
Sepeminuman Teh


Pernahkah Anda mendengar bentukan kata sepeminuman teh atau sepenanak nasi dalam percakapan? Barangkali Anda sendiri sering menggunakannya. Apabila Anda penggemar cerita silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo atau Bastian Tito, tentu pula Anda tidak akan asing dengan bentukan kata itu termasuk sepelemparan batu atau dua tombak .

Bagi yang belum mengetahuinya, frasa sepeminuman teh bukan berarti ‘teman bersama minum teh;’ sepenanak nasi bukan ‘teman yang bersama memasak nasi.’ Dua frasa ini menunjukkan rentang atau pengukuran waktu.  Kalau dimaknai, barangkali sepeminuman teh berarti ‘sama dengan/sebanding dengan satu kali meminum teh.’ Sepenanak nasi bermakna ‘sama dengan/sebanding dengan satu kali menanak nasi.’ Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), memang ada bentuk sepenanak nasi, tetapi maknanya merujuk pada sepertanak nasi (nomina) yang berarti ‘waktu yg lamanya sama dengan orang menanak nasi (kira-kira 20 menit).’ Sementara itu, bentuk sepeminuman teh belum tercantum, yang ada adalah bentuk peminum atau minuman (tentu dengan makna yang tidak serupa).

Sementara itu, bentuk sepelemparan batu atau dua tombak dipakai untuk menunjukkan jarak. Bentuk pengukuran itu membuat kita berpikir dengan mengira-ngira berapa lama atau jarak yang dimaksud penulis. Sepelemparan batu barangkali dapat dimaknai ‘sama dengan/sebanding dengan satu kali melempar batu.’Dua tombak berarti ‘dua kali panjang tombak. Ini penghitungan yang mudah. Namun, jika dalam cerita disebutkan berjarak 15 tombak, kita terpaksa harus mengeluarkan kalkulator tampaknya. Kedua bentuk ukuran itu belum tercantum dalam KBBI.

Bentuk pengukuran seperti ini dilakukan dengan cara membandingkan sesuatu dengan hal lain yang sangat akrab bagi masyarakat saat tidak/belum ada presisi alat ukur untuk waktu atau jarak.  Pembanding yang diambil adalah hal-hal yang umum. Tombak, misalnya, yang dijadikan ukuran adalah tombak yang paling umum, yaitu berkisar, 5—2 meter panjangnya. Jadi, bukan tombak yang pendek atau yang sangat panjang. Baru pada masa modern dikenal pengukuran yang tepat dengan ukuran yang tetap dan pasti, seperti jam, menit, dan detik untuk waktu; juga mil, kilometer, dan meter untuk jarak.

Saat ini, meski telah ada satuan pengukuran yang akurat, frasa seperti ini masih sering digunakan orang. Bahkan, muncul bentuk-bentuk lain yang beranalogi sama. Bila kita menonton televisi yang sedang menayangkan laporan banjir di suatu daerah, akan sering terdengar penyiar televisi menyebut “tinggi air sebetis orang dewasa atau sepinggang orang dewasa” ketimbang kata 30 centimeter atau 1 meter. Mungkin timbul pertanyaan yang agak nyeleneh, bagaimana bila orang dewasa itu bertubuh kerdil? Tentu tinggi pinggangnya tidak lagi sekitar 1 meter. Bukan makna seperti ini yang diacu oleh frasa tersebut. Di atas telah disebutkan bahwa pengukuran ini digunakan dengan mengambil pembanding yang telah diketahui secara umum oleh masyarakat. Tinggi tubuh orang dewasa di Indonesia umumnya adalah sekitar 160 centimeter. Tinggi inilah yang menjadi acuan bentukan kata tersebut. Dalam KBBI (2008) telah tercantum kata sepinggang (adverbia) yang berarti ‘sampai ke pinggang:’ rambut gadis itu ~ panjangnya.

Dari segi semantis, penggunaan frasa seperti itu, pada masa lalu atau di dalam cerita silat, mengandung makna denotatif. Bentuk kata itu memang semakna dengan bentuk yang dibandingkannya.  Frasa sepeminuman teh benar-benar untuk menunjukkan rentang waktu tidak lebih dari 30 menit, yaitu waktu yang dihabiskan orang bila dia meminum secangkir teh panas. Frasa sepelemparan batu menunjukkan jarak sekitar 30 meter atau paling jauh 100 meter, yaitu jarak yang dapat dicapai bila kita melempar sebuah batu. Begitu pula untuk frasa sepenanak nasi dan dua tombak digunakan untuk menunjukkan rentang waktu dan jarak sesuai dengan pembandingnya.

Selanjutnya kini, frasa seperti sepelemparan batu dan sepeminuman teh, tidak lagi digunakan untuk makna yang denotatif. Kata itu sekarang sering dimaknai sebagai pengganti kata dekat dan sebentar. Kata sepelemparan batu, misalnya, ia tidak lagi hanya bermakna sekitar 30—100 meter, tetapi juga bermakna dekat atau tidak ratusan kilometer. Pada novel Hujan Bulan Juni (2015:119), Sapardi Djoko Damono menggunakan istilah sepelemparan batu untuk menunjukkan jarak Yogya—Solo, seperti pada kutipan berikut, “Dan disantapnya obat pusing itu dalam rangka usahanya untuk mencoba tidur, meskipun Yogya-Solo hanya sepelemparan batu jauhnya.” Pada kutipan ini, sepelemparan batu tidak berarti 30—100 meter, tetapi bermakna tidak terlalu jauh hanya sekitar 60 kilometeran bila dibandingkan dengan jarak yang telah ditempuh sang tokoh sebelumnya.

Begitu pula kata sepeminuman teh, tidak hanya bermakna sekitar 30 menit, tetapi juga mengacu pada makna sebentar atau tidak menghabiskan waktu seharian. Mirip dengan bentuk kata ini, orang sering juga menggunakan bentuk sebatang rokok. Frasa sebatang rokok digunakan dalam kalimat yang bermakna denotatif dan konotatif. Contohnya pada kalimat berikut ini.         

Jangan tinggalkan saya, sebatang rokok dulu.

Kalimat itu bermakna seseorang minta ditunggu sampai dia habis menghisap sebatang rokok. Namun, pada kalimat,

Sebentar lagi saya datang kira-kira sebatang rokok saja.

mengandung arti belum tentu dia akan datang setelah menghabiskan sebatang rokok. Dia dapat saja melanjutkannya dengan makan nasi sepiring dan teh segelas.

Masih banyak bentuk kata yang beranalogi sama dengan sepeminuman teh, misalnya satu selepetan ‘ketapel, jepretan,’ seujung jarum, sekejap mata, sekepalan orang dewasa, dan seujung kuku. Kita juga masih dapat berkreasi dengan membuat bentuk kata baru yang masih beranalogi sama. Bukankah kreativitas berbahasa diperlukan agar komunikasi menjadi lebih menyenangkan?***

Sarmianti adalah peneliti sastra di Balai Bahasa Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us