HARI PUISI INDONESIA 2016

Tanah Air Para Penyair

15 Oktober 2016 - 21.13 WIB > Dibaca 497 kali | Komentar
 
Tanah Air Para Penyair
Melalui jari-jarinya, tali pengikat persatuan berupa bahasa itu hendaknya semakin kokoh. Semakin terjaga. Semakin membahana. Semakin membuatnya di posisi terdepan bahasa-bahasa dunia. Di tangannya, bahasa hendaknya semakin indah, lentur dan penyambung lidah bangsa: tangan sakti para penyair.
-----------------------------------------

PUISI tak lagi di jalan sunyi. Itulah kata-kata pertama yang terekam saat para penyair Indenesia berkumpul, menggelorakan suara hatinya, suara orang-orang di sekitarnya dan suara bangsanya selama dua hari di Taman Ismal Marzuki (TIM), 11-12 Oktober 2016. Mereka berkumpul merayakan hari puisi. Beraya di tanah air sendiri. Penuh ekspresi. Membuka ruang seluas-luasnya kepada kata. Memberinya laluan sebebas-bebasnya sehingga kata, sehingga puisi tak lagi berjalan sendiri di lorong sepi. Ia semakin memberi arti. Ideologi tanpa mati. Bagi negeri.

Banyak para penyair menempatkan puisi di kamar-kamar sunyi. Membiarkan diam, tersembunyi. Untuk sendiri. Dibaca sendiri. Atau dibiarkan berjalan kemana ia pergi. Tujuan tak pasti. Makna pun kadang sulit dimengerti. Padahal, puisi seharusnya lebih dari itu. Penyair seharusnya berperan lebih dari itu. Di tangannya yang mengalirkan kata-kata, hendaknya menyampaikan pesan jiwa dan ideologo bangsa. Menjaga garda terdepan agar Bahasa Indonesia semakin kokoh.

Perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini, atau tahun-tahun sebelumnya, tidak hanya sebagai ajang membaca puisi, meneriakkan kata-kata, menciptakan puisi atau sekedar memilih diksi-diksi agar puisi terdengar lebih indah ketika dibaca. Tapi, perayaan tersebut sebagai tempat berkumpul para penyair, tempat mereka merayakan kemerdekaan kata-kata, merayakan kebebasan berkepsresi dan berkarya:  tanah air para penyair.

Karena di tangan penyair, Bahasa Indonesia (hendaknya) akan terjaga dan terpelihara, maka tanah air para penyair itu dianggap penting. Supaya Puisi tak lagi berjalan di lorong sunyi. Supaya penyair tak lagi terasing, dianggap kaum paling terasing bahkan tersesat di jalan gelap. Gagasan yang gemilang. Pasti bukan pemikiran biasa. Pemikiran ini sudah lama berkecamuk, menggumpal di kepala seorang Rida K Liamsi sang penggagas Hari Puisi Indonesia itu.

Dengan segala upaya, dengan segala kemampuan merangkul hati sesama penyair, merangkul siapa saja yang hatinya terpanggil, dengan pengalaman panjang dan perjalanan batin tiada henti ke tanah-tanah penyair negara lain, pemikiran itu disampaikan kepada penyair lain di Indonesia. Gayung bersambut. Rida tak berjalan sendiri. Maka, 22 November lalu, hari puisi itu dideklarasikan di Riau:  tanah air Bahasa Indonesia.

Lebih 40 penyair di seluruh Indonesia, dari sabang sampai Marauke berkumpul di sana waktu itu. Berdiskusi, berbincang, bahkan bersitenggang menetapkan hari dan tanggal yang tepat untuk hari puisi. Hari yang sakral. Semangat juang dan bakti penyair terkemuda Indonesia ditimang-timang untuk dijadikan landasan agar tak salah berpijak. Sampai disepakati hari lahir Chairil Anwar, 26 Juli sebagai hari yang tepat sebagai hari puisi. Itupun tak semua sependapat. Harus kembali ditimang. Sampai tak ada lagi yang dianggap lebih layak. Sebagai penyair pembawa perubahan, Chairil Anwar patut dan selayaknya dibanggakan, diabadikan, dijadikan sebuah momentum dalam menentukan sejarah baru. 

Kesepakatan lebih 40 penyair dalam menentukan hari puisi itu, kini menjadi pancang, menjadi tiang-tiang yang kuat di dalam tanah air para penyair itu. Setiap tahun hari puisi dirayakan di berbagai daerah di Indonesia. Pasti dengan gaya, bentuk dan caranya sendiri. Ramai. Dari kota hingga ceruk-ceruk desa. Modern atau jauh dari kekinian.  Hari puisi menjadi virus baru yang memberi kekuatan, semakin berkembang. Semakin terang. Jarak, waktu dan ketidakmampuan tidak lagi menjadi alasan untuk menjadikan para penyair tidak bertemu, berkumpul dan merayakan puisi.

Setiap tahun, selama empat tahun hingga hari ini, mereka datang ke puncak perayaan hari puisi yang dipustkan di TIM, Jakarta. Datang sendiri tanpa dibiayai, tanpa diberi tempat tidur atau makan. Semua benar-benar dari kantong sendiri. Nyatanya, ratusan penyair, lebih 300 penyair berkumpul bersama. Menegakkan tiang-tiang bahasa melalui puisi. Membaca puisi. Menyanyikannya, menyampaikan pesan-pesan di dalamnya. Melaungkan semangat membangun dan sebagainya.

Berpesta di tanah air para penyair bukan hanya untuk penyair. Tapi, suntuk semua anak bangsa. Tak mengenal asal dan batas usia. Tak menganal jabatan dan rakyat biasa. Semua memenuhi halaman parkir TIM dan gedung Graha Bakti. Gegap gempita. Badai kata-kata. Banjir puisi sejak pagi hingga pagi. Hujan yang mengguyur deras Kota Jakarta sehari sebelum malam puncak, menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Puncak perayaan digagas sedemikian rupa. Dalam segala cuaca. Untuk bisa sampai ke titik pengakuan bahwa kelak Indonesia memiliki sebuah hari bernama Hari Puisi.

Pemikiran-pemikiran tentang pentingnya Indonesia memiliki hari puisi disampaikan kembali oleh Penggagas Rida K Liamsi malam itu. Di depan pejabat negara, Wakil Presiden Jusuf Kalla, para menteri, gubernur, bupati, ratusan penyair Indonesia dan masyarakat umum, Rida membakar semangat persatuan, kesatuan, semangat menjaga Bahasa Indoensia melalyu karya sastra.

‘’Semua karya sastra pada hekekatnya adalah puisi. HPI harusnya menjadi tanah air bagi para penyair. Sebuah rumah, besar, ruang dan medan perjuangan para penyair dengan karya-karyanya. Sebab, sekecil apapun ruang yang dimiliki, itulah roh dan darah kreatifitasnya. Sepanjang ruang dan wilayah itu adalah ruang bahasa,’’ beber Rida.

Dikatakan Rida, HPI adalah rumah bersama para penyair yang harus dijaga, dipelihara bersama-sama. Ada kesdaran penuh bahwa bahasa adalah jati diri penyair. Penyair yang kehilangan bahasanya berarti kehilangan jati diri.

 ‘’Yang tak berumah takkan menegakkan tiang,
begitu kata salah satu bait puisi  Polandia, Ann Marie Rielke. Karena itu pula, salah satu tugas penting penyair adalah memelihara, memperkaya, dan mempertahankan bahasanya. Karena itu adalah perjuangan menegakkan jati dirinya,’’ sambung Rida.

Apalagi sekarang ini, kenyataannya, lanjut Rida, bahasa adalah benteng terakhir nasionalisme yang masih bisa bertahan dan tegak di tengah gempuran globalisasi dan kemajuan teknologi informasi. Para penyair Indoensia beruntung karena Hari Puisi Indonesia dibangun di atas landasan kreativitas yang berteraskan bahasa yaitu Bahasa Indoenesia.

‘’Tidak banyak di dunia bangsa yang memiliki bahasa sendiri, yang menjadi jati diri dan saran konvensi kehidupan, terutama di dunia kepenyairan. Maka, penyair adalah salah satu pengawal dan penjaga garda terdepan benteng nasionalisme berupa bahasa itu. Penyair harus melahirkan karya-karya yang hebat, kuat. Bahasa Indonesia sangat apresiatif. Bukan hanya memiliki kemerdekaan dalam bentuk dan struktur, juga memiliki keindahan diksi, intonasi dan rimanya. Bisa dinyanyikan, mendayu dan merdu seperti puisi lama berupa syair, gurindam,’’ sebut Rida.

HPI menjadi sangat penting untuk menjadi salah satu sarana perjuangan agar bahasa tetap memberi kontribusi  bagi perjuangan membangun peradaban bangsa ini. Bahasa bukan hanya bagian dari kesejarahan, tapi juga menciptakan sejarah. ‘’Tanah air, sekecil apapun ujudnya, tetap memerlukan kekuatan untuk memelihara, mengingat dan memuliakan, menghargainya untuk membangun tradaisi. Karena tradisilah yang membuat ingatan kita tetap utuh dan merasa memiliki. Itulah yang menjadi visi ideal hari puisi dan itulah tugas para penyair,’’ harap Rida.

Gagasan dan pemikiran besar itulah yang mendorong segenap penyair dari berbagai daerah beriya-iya, berbondong-bondong untuk sebisa-bisanya hadir di puncak perayaan HPI. Begitu juga dengan Yayasan HPI melalui panitianya, juga sebisa mungkin menghadirkan pejabat negara. Keinginan menghadirkan presiden dan para menteri dengan satu tujuan, agar mereka melihat, menyaksikan, menyelami dunia kepenyairan, memahami makna kehadiran para penyair denga segala perjuangan dan perannya sehingga Indonesia melalui tangan-tangan mereka menyediakan ruang dan mengakui satu hari, yakni Hari Puisi Indonesia.

‘’Kami menyambut baik kegiatan dan semarak hari puisi ini. Saya meyakini puisi lahir dari hati. Tulus. Memperhalus rasa. Banyak Negara yang bangun dan berkembang dengan karya puisi,’’ kata Yusuf Kalla malam itu.

Lomba buku puisi yang ditulis para penyair Indonesia, juga sebagai upaya melahirkan penyair-penyair berkualitas. Mencari karya-karya hebat dan menumbuhkan penyair-penyair muda yang berani. Lebih 250 buku puisi masuk ke meja panitia, dan hanya ada satu buku terbaik serta lima buku puisi pilihan. Adalah sebuah penghargaan, apreasiasi yang luar biasa karena para pemenang diberi hadiah ratusan juta. Buku terbaik Rp50 juta dan lima buku pilihan masing-masing Rp10 juta.

Lima pemenang yang beruntung itu adalah Hasan Aspahani penyandang gelar buku puisi terbaik 2016 dengan judul Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering. Lima buku pilihan selanjutnya adalah Ketika Rumputan Bertemu Tuhan (Ahmadun Yosi Herfanda), Kidung Cisadane (Rini Intama), Wthathitma (Sosiawan Leak), Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (Tjahjono Widarmanto) dan Lukisan Anonim (Umi Kulsum).

Semua hadiah ini disediakan Indopos, media di Jakarta yang tunak dan setia menyediakan halaman puisi, sebagai laman bermain para penyair. Media ini juga di bawah pimpinan Rida K Liamsi. Bahkan media-media lain, khususnya di Sumatera yang tergabung di dalam Riau Pos Group (RPG) yang juga dirintis dan dirikan Rida, juga menyediakan halaman sastra termasuk puisi seluas-kuasnya. Semua dengan satu nama, yakni halaman Hari Puisi.

Perhatian yang begitu besar. Mulai menggagas, memperjuangkan dan menyediakan ruang besar yang terbuka lebar, telah dilakukan Rida. Sudah pasti dengan dukungan, semangat dan kerjasama semua penyair dan orang-orang ‘gila’ yang mau bertungkus lumus, bersusah payah, tanpa pamrih yang terus.  mau menegakkan tiang-tiang hari puisi itu. Agar rumah yang dibangun dengan tiang-tiang, agar tanah air yang dibangun dengan bahasa, senantiasa terjaga dan terpelihara.

Sebagai rumah kelahiran dan tanah air bersama, HPI menjadi pojok silaturrahmi yang luar biasa. Para penyair bersembang, berbincang lepas. Dimulai dari grup WA hingga pertemuan yang ditembus setelah melalui jarak yang jauh. Tidak ingin pertemuan menjadi sia-sia, berharap agar kebersamaan yang ada semakin kuat, Rida langsung mengikatnya dengan sebuah karya bersama. Buku puisi tertebal yang ditulis 216 penyair Indonesia, lahir sempurna.  Buku dengan 2016 halaman itu berjudul Matahari Cinta Samudera Kata.
Gagasan mengumpulkan puisi ini memang bersama-sama. Tapi Rida langsung menangkapnya. Ia langsung membidani lahirnya buku ini. (kunni masrohanti)




 

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Follow Us