SAJAK

Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS

15 Oktober 2016 - 22.13 WIB > Dibaca 2340 kali | Komentar
 
Kelak Ketika Kita Tua

SAYA maklum kamu tak akan pernah
sampai ke kedalamanku. kau begitu
sibuk ingin menguasaiku, dan kau
tak pernah niatkan saya duduk
di sebelahmu. atau memilin berapa
kata yang diperlukan hari ini, lalu
esok memburu lagi. katakata yang
kelak kita tua bisa menjadi teman
gurau dan membunuh sepi

MAKA kamu selalu dirundung kecewa,
inginnya saya mati: di sumur, di laut,
di bukit, ataupun di udara. “kuingin
kau digulung gelombang dahsyat,”
ancammu. tapi, saya tak bergidik.

sebaliknya saya bermain dengan
ombak, awan, kedalaman air, juga
naik makin puncak gunung. “kalau
sudah ajal saya, sebab Tuhan amat
rindu. bukan murka...”

SAYA hanya menunggu. apalagi
permainanmu, wahai waktu?

/2 Oktober 2016



Kembali ke Laut Lepas

ombak tak jemu menghampiri pantai
meski pasir menolak lagi ke laut lepas

camar selalu melayang hinggap di bagan
tapi pelaut mengusirnya agar terbang

kapalkapal memilih laut biru
sementara pelabuhan merayu

2016



Tafsir Pelayar

sebagai pelayar, aku tahu kapan
badai menghampiri. atau ombak
bakal menggulung perahuku. pada
rasi atau rambu kutetapkan arah
jalanku. melalui awan dan angin
kuserahkan kemudiku

hanya pada ajal, tak mampu
kutembus. lantas bagaimana
aku tergulung gelombang?

musim dan rambu kupercayakan
pelayaran ini. pada badai aku
ingin dibelai. angin akan membawaku
singgahi berbagai pelabuhan;
menaruh dan mengangkut
benci dan cinta

-- bukan karena serapahmu,

aku pasti berlabuh –

2 Oktober 2016



Setelah Hujan

setelah hujan
aku berangkat
hanya sendiri
begitu sepi

sebuah taman
masih basah
sangat berair
mungkin untuk
basuhku sebentar lagi

satusatunya air
yang kutemui
di taman itu

airmatamu?

1 Oktober 2016



Tubuh Malam

tubuh yang mulai jadi malam
berlenggok serupa kupukupu
menyelinap ke balik pohon
bersarang di putik

bertengger di pucuk daun
di ranting, di kuncup lampu
wajah yang malu malu
menutup tubuh malam

di sini, di suatu tempat
amat keramat
kupu-kupu beterbangan
jadi terang

secahaya malam

30 September 2016



Kutitip Sebait Puisi, Juga Doa

karena pintu rumahmu terkunci
apakah aku harus pergi? tak
menitipkan kata, sebait puisi,
juga doa: sejahtera di bumi
direstui di langit

malam memang sudah tua. aku
datang seperti perahu menembus
badai, ombak raksasa, laut hitam
“tapi aku tak bisa ke mana
selain ke rumahmu.”

ingin menatapmu, bercakap-cakap
melepas penat, karena panjang
jarak perjalanan

tapi rumahmu terkunci. dan aku lupa
ayat apa bisa membukanya; di sebuah
sudut ruang, waktu yang lain kita
bertemu. tak ada bukit yang pecah
saat itu
tiada kota dibalikkan, perahu
lancar hingga ke bukit, burungburung
mati kembali hidup

apakah cerita akan berulang?

28-30 September 2016


Isbedy Stiawan ZS, lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Karya-karya sastranya terhimpun dalam sejumlah buku tunggal dan bersama. Buku puisi Menuju Kota Lama  memenangkan sayembara buku puisi Hari Puisi Indonesia 2014. Buku puisinya yang lain Pagi Lalu Cinta dan Perjalanan Sunyi.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us