OLEH REZALI YUDISTIRANDA

Nama Jalur (Perahu Panjang) Lebih Populer dari Bahasa Indonesia

15 Oktober 2016 - 22.30 WIB > Dibaca 1470 kali | Komentar
 
PERHELATAN  tradisi lomba pacu jalur yang ada di tepian Nerosa Teluk Kuantan Kab. Kuantan Singingi Riau telah usai. Tradisi yang telah ada sejak ratusan tahun dan masih ada sampai dengan saat ini. Tradisi yang dulunya untuk membawa hasil panen pertanian dan menjadi pertunjukan pada ratu Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia diadakan untuk memperingati kemerdekaan Indonesia.

Tradisi pacu jalur diadakan pada tanggal 25 s.d 28 Agustus 2016. Jalur andalan orang Pangean, Kab. Kuantan Singingi, Siposan Rimbo RAPP keluar sebagai juara 1 dan berhasil mengalahkan jalur andalan Kab. Indragiri Hulu, Dewi Putri Datuk Lintang.

Tradisi pacu jalur memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Kuantan Singingi. Ketika bunyi cagak(meriam) dibunyikan, seluruh penjuru tepian nerosa akan penuh sesak dengan ribuan manusia yang ingin secara langsung menyaksikan jalur yang berpacu. Tetapi, dari banyaknya jalur yang berlaga ditepian nerosa, ada beberapa hal yang menarik dilihat dari jalur itu sendiri. Setiap jalur memiliki nama yang mencirikan dari bahasa daerah masing-masing. Seperti dari bagian Hulu Kuantan Singingi ada jalur dengan nama Palimo Olang Putie desa Sungai Alah. Kemudian di Kuantan Tengah ada jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo, kemudian ada Pangeran Salendang. Itulah sebagian kecil nama-nama jalur yang ada. Dari sebagian kecil dapat kita melihat penggunaan bahasa daerah yang lebih popular dibandingkan bahasa Indonesia pada pemberian nama jalur.

Tetapi, tidak semua jalur menggunakan bahasa daerah. Ada beberapa daerah yang memberi nama jalur menggunakan bahasa Indonsia. Bintang Emas Cahaya Intan, serta Tombak Sakti, beberapa nama jalur yang masih tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa daerah pada nama jalur tidak terlepas dari peran tokoh masyarakat maupun masyarakat daerah itu sendiri, melalui rapat jalur memutuskan apa nama jalur yang membawa keberuntungan untuk dilombakan di tepian Nerosa Teluk Kuantan. Tetapi, tradisi jalur dan pemberian nama jalur memiliki kekuatan mistik tersendiri bagi pawang (dukun) jalur. Setiap pawang jalur akan menjaga dan memberi mantra pada jalur yang akan berpacu, mantra yang diucapkan memiliki kepercayaan tersendiri bagi pawang jalur untuk melihat dan menguji apakah mantra yang diucapkan berfungsi pada jalur tersebut.

Berdasarakan semua hal tersebut, kembali kita melihat arti dan fungsi dari pemberian nama jalur pada masing- masing daerah. Ketika bahasa daerah sudah populer dari bahasa indonesia  dan sudah menjadi tradisi turun temurun pada masyarakat kuantan singingi, dan menjadi hal yang mistik bagi para pawang jalur. Bagaimana cara kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki bahasa persatuan bahasa Indonesia untuk menyikapi hal tersebut?

Kita melihat seperti 2 sisi mata uang yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Dari satu sisi kita melihat ini merupakan tradisi dan memberikan nama jalur adalah hal yang sakral bagi pawang dan masyarakat. Sedangkan sisi lainnya ketika bahasa yang digunakan tidak bahasa Indonesia, wisatawan dari daerah lain akan kebingungan dengan arti dari nama jalur tersebut. Tetapi, itulah uniknya tradisi pacu jalur yang ada di Kuantan Singingi, dengan adanya penggunaan bahasa daerah pada nama jalur akan memiliki daya Tarik tersendiri bagi wisatawan untuk melihat acara pacu jalur di tepian nerosa.***

Rezali Yudistiranda, guru bahasa Indonesia SMAN 1 Teluk Kuantan.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Follow Us