CERPEN ILHAM FAUZI

Taman Para Bocah

15 Oktober 2016 - 23.21 WIB > Dibaca 1831 kali | Komentar
 
Taman Para Bocah

Ia melihat bocah-bocah di sana. Dari sekian banyaknya bocah yang berkumpul, ada satu yang menarik perhatiannya. Ia perhatikan sosok itu dengan saksama. Bocah itu berbeda dengan yang lainnya. Ia merasa mengenalinya. Baik dari tingkah maupun bentuk wajah. Khawatir pemandangan itu akan hilang, tanpa merasa sungkan segera ia meminta gelas plastik yang dipegangnya pada seorang kakek yang masih berada di depannya.

“Gelas ini boleh untukku, Kek?”

Kakek itu mengangguk, “Ambillah! Gelas itu memang untuk anak sepertimu.”

***

Akra masih terus memperhatikan gelas yang diberikan seorang kakek kepadanya. Sudah berkali-kali kakek itu bertanya apakah ia melihat sesuatu. Namun Akra tetap menggeleng. Mata kakek itu berbinar-binar. Ada keharuan yang memancar dari wajahnya. Seperti orang yang baru mendengar kabar bahagia, ia berujar dengan nada suka cita.

“Bawalah semua gelas-gelas plastik ini. Jika kau tidak membutuhkannya, pasti berguna bagi orang di sekitarmu.”

Kakek itu menyodorkan sekantong besar plastik berisi gelas-gelas plastik bekas.Akra menatap dengan bingung. Matanya sesekali melirik ke arah pedagang ikan tempat ibunya berbelanja. Takut kalau-kalau ibu kesusahan mencarinya. Karena tidak mengerti dengan ujung-pangkal gelas plastik yang disodorkan kepadanya, Akra segera menolak, “Tidak, Kek. Saya tidak memerlukannya. Lain kali saja.”

“Terimalah. Barangkali ada orang lain yang akan membutuhkannya.”

Namun Akra telah berlari ke arah ibu yang sudah berkali-kali memanggilnya.

***

“Kau tidak pergi bermain?” suara ibu menghentikan gerakan tangan Akra yang sedang menulis.

“Tidak, Bu. Nanti saja begitu tugas ini selesai.”

“Ini sudah sore, istirahatlah sejenak. Lagi pula sekarang hari Minggu. Kau tidak seharusnya belajar terlalu keras,” bujuk ibunya

“Tidak, Bu. Nanti saja!” balas Akra dengan suara sedikit keras.

Ibu tersenyum mengamati tingkah putranya. Akra memang sedikit keras kepala dibanding dua saudaranya. Apalagi kalau menyangkut keseriusannya mengerjakan tugas sekolah. Tidak bisa ditawar lagi. Perempuan itu seperti melihat ada sebuah ambisi yang tertanam dalam diri anaknya. Ambisi yang nantinya ia khawatirkan akan membuat Akra tersiksa dengan apa yang ingin ia raih.

“Seorang temanmu sedang menunggu di depan,” kembali lembut suara ibu menembus gendang telinganya. Jari-jari ibu yang lentik—meski sudah digerus usia—menaruh segelas susu coklat hangat di salah satu sudut meja.

Akra tidak bereaksi. Pulpen dengan gagang berwarna hitam di tangannya kembali bergerak. Terus menggurat angka dan garis dengan perlahan namun teliti.

“Cepatlah, ia menunggumu!” ibu menaikkan nada suaranya karena merasa diabaikan.

“Apa dia perempuan?”

“Tidak.”

“Suruh saja ia masuk.”

“Dia tidak mau.”

Akra menarik kursi, menjangkau sendal rumah yang berada di sisi tempat tidur, dan dengan enggan menyeret kaki ke teras. Seorang anak laki-laki dengan baju kumal duduk termangu menunggunya. Ia tidak mengenalnya.

“Ada apa?” Akra bersuara.

Terkembang senyum lebar pada bibir anak laki-laki yang sebaya dengannya itu, “Kau menolak pemberian kakekku di pasar tadi. Sudah puluhan anak melihat gelas ini dan mereka menerimanya dengan sukarela. Kau harus menerimanya juga seperti mereka.” anak itu menyodorkan plastik yang ditolak Akra di pasar tadi.

Akra melirik sesaat dan tetap tidak tertarik, “Aku tidak mau. Pergilah. Aku banyak tugas sekolah.”

Namun anak itu tidak mau menyerah begitu saja, “Tidak! Kau harus menerimanya. Gelas ini aku letakkan di sini. Selanjutnya terserah kau.”

Ucapan itu mau tak mau membuat Akra melotot. Cepat anak itu berlalu dari hadapannya tanpa berkata lagi. Akra mengalihkan pandangannya pada kantong kresek berisi gelas-gelas plastik yang menurutnya tidak berguna. Ia tidak berminat sama sekali dengan bungkusan itu. Mulanya akan ia buang saja. Namun ia putuskan untuk menumpuknya di taman samping rumah. Sewaktu-waktu ibu pasti membutuhkannya untuk tempat bibit bunga yang baru dibelinya.

***

Hari ini sepulang sekolah teman-teman Akra berkunjung ke rumah. Seperti biasa mereka akan mengerjakan tugas kelompok hingga sore. Tugas mereka kali ini tidak jauh dari tumbuh-tumbuhan. Sehingga disepakati mereka akan mengerjakan tugas di taman samping rumah.

“Mengapa begitu banyak gelas plastik di sini?” tanya salah seorang teman lelaki Akra. Ia mengambil sebuah gelas lalu memperhatikan sejenak.

“Itu untuk tempat bibit tanaman ibuku,” jawab Akra santai.

“Hei, lihat ini! Ada taman di dalamnya.” temannya yang masih memegang gelas berteriak.
Anak-anak yang lain mendekat. Bersama-sama mereka melihat isi gelas, “Kami tidak melihatnya,” ujar teman-temannya bingung.

“Coba kalian ambil gelas yang lain!”

Mereka menurut lalu memperhatikan isi gelas. Masing-masing dari mereka kemudian mengeluarkan seruan yang sama, “Bagaimana bisa dari sekian banyak anak di sini bisa ada satu yang begitu mirip denganku?”

***

Sebetulnya banyak soal-soal latihan yang harus Akra kerjakan. Tetapi tawaran ibu pergi ke pasar sungguh menarik perhatiannya. Ia harus bertemu dengan kakek dan cucunya yang ia jumpai tempo hari. Banyak yang ia tanyakan. Terutama tentang sikap teman-temannya yang serta-merta berubah semenjak memiliki gelas plastik itu. Akra seperti menemukan kepribadian baru pada diri teman-temannya. Mereka tidak lagi menjadi individu yang sibuk dengan benda elektronik yang mereka miliki. Permainan-permainan yang mereka lakoni pada benda pintar itu telah menguap begitu saja. Mereka kini berubah mejadi sosok yang ramah, yang ceria, dan bercanda lepas satu sama lain begitu ada waktu kosong.

Tanpa perhitungan panjang, Akra meninggalkan begitu saja buku-buku yang bertebaran di meja belajar. Ketika ibunya sibuk berbelanja, Akra menuju tempat dimana pernah bertemu dengan lelaki itu. Matanya tidak menemukan apa yang ia cari. Baik laki-laki itu maupun cucunya tidak tampak terlihat. Gelas plastik satu-satunya yang masih tersisa ia timang-timang. Ia memerlukan jawaban mengapa teman-temannya begitu terkesima melihat  gelas itu lalu sifat mereka berubah kemudian.

Akra tetap tidak menemukan sosok yang ia cari. Ia mendengar namanya dipanggil ibu dari kejauhan. Dengan rasa tidak puas, ia melangkah meninggalkan tempat itu.

Sementara dua sosok yang ia cari memperhatikan diam-diam.

“Dia sudah menyelesaikan tugasnya, Kek.”

Lelaki tua mengangguk, “Gelas-gelas plastik itu telah sampai pada anak-anak yang sedang mencari dirinya sendiri.”

“Kakek benar. Setidaknya dia adalah sedikit dari anak-anak yang belum kehilangan dirinya.”

Mata laki-laki tua terlihat menyimpan sebuah kelegaan. Dalam bayangannya, ia melihat sekumpulan anak-anak telah terbebas dari sebuah kungkungan peradaban teknologi yang menakutkan. Mereka tidak lagi bergantung pada benda itu. Tidak lagi larut pada hal-hal yang terdapat dalam benda itu sehingga membuat mereka lupa waktu dan lupa diri.

Namun sebenarnya lelaki tua itu salah. Masih banyak anak-anak lainnya yang justru masih terperangkap dalam persoalan yang lebih rumit sehingga membuat mereka tidak menyadari bahwa mereka juga telah kehilangan diri mereka sendiri.

***

“Kau yakin belum ingin memiliki telepon pintar? Bukankah semua teman-temanmu sudah memilikinya?” perempuan yang tengah menyetir itu bertanya pada bocah yang duduk di sampingnya. Matanya yang awas terus mengawasi jalanan yang padat.

“Tidak, Bu. Aku takut nanti kehadiran benda itu membuat aku lengah dan gagal mempertahankan gelar juara di kelas.”

Ibunya tersenyum dan tidak menanggapi lagi. Anaknya kembali memperhatikan gelas plastik di tangannya. Matanya tertuju pada sesuatu yang berada dalam gelas plastik. Ia menggosok-gosok kedua matanya berharap pemandangan itu sebuah bayangan belaka. Mulanya ia melihat begitu banyak bocah-bocah seusianya di sana. Namun semakin ia perhatikan, matanya mulai fokus melihat seorang anak yang begitu mirip dengannya. Baik dari wajah maupun gerak-gerik yang ia lakukan. Ia melihat sosok yang amat mirip dengan dirinya itu tidak menikmati waktu yang ia jalani dan seakan-akan dikejar oleh target yang ia buat sendiri. Target-target itu seperti berbicara kepadanya bahwa ia harus mempertahankan gelar juara, harus menjadi perwakilan sekolah untuk lomba, dan harus selalu menjadi yang terdepan. Hingga semua itu membuatnya tidak lagi menjadi diri sendiri.

 “Tidak! Astaga! Ya Tuhan!” ia berteriak. Keras sekali.

Ibu yang berada di sampingnya menginjak rem seketika.

“Akra? Kamu baik-baik saja?” suara perempuan itu terdengar cemas.***

Kota, September 2016

Ilham Fauzi
, lahir pada 28 Desember 1992. Mahasiswa pascasarjana FISIP Universitas Andalas. Alumni UIN SUSKA Riau dan pernah bergiat di FLP cabang Pekanbaru. Cerpennya termaktub dalam Hikayat Bunian (Cerpen Pilihan Riau Pos 2015). Merupakan Pemenang Unsa Ambassador 2016 yang diselenggarakan Komunitas Unsa/Unsa Press.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 13:30 wib

Bupati Launching Aplikasi Sipedih

Selasa, 20 November 2018 - 13:00 wib

Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri

Selasa, 20 November 2018 - 12:30 wib

Rp772,5 Juta Beasiswa Belum Disalurkan

Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Follow Us