TEATER

Perkokoh Teater Bangsawan

22 Oktober 2016 - 21.33 WIB > Dibaca 960 kali | Komentar
 
Perkokoh Teater Bangsawan
Merah, kuning adalah warna kemegahan peterakna. Musik, syair, lagu, tarian dan sinema,  penyempurna rupa. Ruh bangsawan mengapung, mengepung ruang dan rasa ketika kisah perjalanan hidup Raja Kecil "Anak Mayat", diusung ke atas panggung.

RAMAI. Pelataran panggung Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT), Jumat malam (22/10) hampir penuh. Begitu juga dua malam berturut-turut sebelumnya. Lebih 40 aktor dan aktris memenuhi panggung itu. Ditambah peterakna, tiang-tiang agung kerajaan Johor yang tinggi menjulang. Merah kuning berukir di setiap sisinya. Kanan, kiri, hampir tak ada ruang kosong. Para aktor dan aktris itu adalah Bujang dan Inang. Pelayan istana. Bermacam bentuk dan rupa. Bersongkok, bersarung, berkain dan berbaju kurung. Jumlah yang banyak. Jumlah yang tak biasa. Mereka menari, bersenda gurau, bermain, dan yang pasti berkemas membersihkan seluruh bagian istana. Sebuah pertunjukan kolosal yang digarap sempurna.

Keletah Bujang dan Inang adalah penyempurna pertunjukan. Suasana semakin riang, cair dan selalu mengundang gelak tawa. Pada hakekatnya, kisah sesungguhnya adalah tentang wafatnya Raja Agung kerajaan Johor Sultan Mahmud Syah II yang tak biasa. Ia wafat tidak sempurna. Wafat dengan birahi membara. Mangkat dengan zakar yang masih tegak. Datok Bendahara bersama Bujang dan Inang Juara mengatur rencana. Cik Apong, putri Datok Laksmana harus bersalin badan dengan Sultan agar mangkat dengan sempurna. Rahasia besar yang harus dijaga meski akhirnya pecah jua.

Cik Apong perempuan biasa. Tapi karena menyimpan benih sultan dalam perutnya, ia harus diasingkan. Benar, seluruh dayang-dayang dan perempuan dalam istana diperiksa. Yang hamil, langsung dibinasakan. Beruntung, Cik Apong segera diselematkan. Sahabat Sultan, pendekar Malin dari Pagaruyung segera membawa Cik Apong ke Ranah Minang. Melewati lembah, hutan dan gelombang badai di luat lepas. Di sanalah Raja Kecil dibesarkan sampai akhirnya ia kembali ke istana, merebut kembali kerajaan Johor.

Hadirnya Raja Kecil disangsikan banyak pihak. Bahkan selama tinggal di Pagaruyung, Raja Kecil yang diberi gelar Buyung Geruyung sempat menjalani ujian. Di antaranya, tubuhnya kebal oleh pohon jelatang, tidak gatal ketika terkena getahnya, tidak luka apatah lagi mati ketika memakan rumput yang diyakini beracun. Setelah lolos dari segala ujian, keabsahan Buyung Geruyung sebagai Raja Kecil, pewaris tuggal Sultan Mahmud Syah II tak disangsikan lagi. Iapun kembali merebut tahta ayahndanya.

Datok Bendahara kalap. Gagap. Seperti tidak percaya meski akhirnya harus kalah, pergi dan meninggalkan istana serta ketiga putranya; Raja Sulaiman, Tengku Tengah dan Tengku Mahbungsu. Raja Kecil raja disembah kembali menguasai kerajaan Johor. Terbalaslah dendam atas kematian ayahnda tercinta. Terbalaslah dendam atas penderitaan yang ditanggung ibundanya Cik Apong yang sengsara dalam pelarian panjang.

Suka, duka, gelak tawa, keletah, nyanyian, tarian, airmata, dendam, kebencian dan pertempuran tumpah ruah di atas panggung ASIT tersebut. Darah mengalir, pedang terhunus di sana. Panggung bergerak bebas, berputar, bertukar, beralih dari satu sisi ke sisi lainnya. Panggung yang tak lagi sunyi. Gegap gempita. Penuh sesak. Di hadapan, ratusan penonton sedikitpun tak beranjak dari tempat duduknya hingga pertunjukan selama hampir 2,5 jam itu berakhir sempurna.

Tak kurang 70 pemain menguasai panggung itu. Tak kurang 50 kru mengisi ruang kosong di kanan, kiri, depan dan juga atas panggung. Sebuah persembahan teater kolosal Sanggar Latah Tuah. Bukan yang pertama. Kisah Raja Kecil dalam Peterakna sudah diusung dalam episode sebelumnya, seperti Seulang Nangka dan Mangkat Dijulang. Anak Mayat adalah kisah selanjutnya. Semuanya lahir dari tangan sutradara muda Muhammad Reza Akmal.

Pertunjukan melibatkan banyak orang, ratusan, berhari-hari, memerlukan tenaga dan fikiran lebih. Kekompakan, kebersamaan adalah ujung tombak keberhasilan. Rezza tidak sendiri. Ratusan orang itulah yang membantunya. ‘’Kesuksesan malam ini, malam kemarin dan sebelumnya, atau kesuksesan selanjutnya, adalah kesuksesan kami bersama,’’ katanya malam itu.

Dalam pementasan Anak Mayat Reza didukung Fytra Maulana Akmal (pimpinan produksi), Anggia Sucila (sekretaris), Anniza Qanitah Saena (bendahara), Dwiki Asyarin (pendanaan), Fiono Osakinah (konsumsi), Imam Aminudin (perlengkapan), Kelik Runiardiyanto (tiketting), Andeska Putra (pemusik), Harry Zardi (penata gerak), Titis Istatori dan Muhammad Raffi (penata rias), Nur Rahmaf (penata busana), Ahmad Junaidi dan Saldi Tahu (penata artistik), Novriwandi (penata suara), A Amesya Ariana (penata cahaya) dan Harry Effendi (stage manager).

Pergelaran tunggal naskah Anak Mayat yang dilaksanakan selama tiga hariberturut-turut ini disempenakan dengan perayaan hari jadi ke-20 Sanggar Latah Tuah. Tak heran jika pendiri, penggagas hingga anggota Latah Tuah dari tahun ke tahun juga hadir dalam acara tersebut. ‘’Seni penghubung tali silaturrahmi,’’ sambung Reza.

Naskah Panjang

Naskah Peterakna, termasuk episode Anak Mayat ditulis SPN GP Ade Dharmawi. Malam itu, ia juga hadir. Tokoh-tokoh bangsawan lain seperti Tengku Ubaidillah juga turut menyaksikan. Orangtua, remaja, anak sekolah dan mahasiswa adalah penonton yang memenuhi kursi ASIT malam itu. Apalagi, pertunjukan kali ini melibatkan siswi sekolah dasar yang berperan sebagai Raja Kecil semasa belia.

Dalam naskah Peterakna, diawali dengan naskah berjudul Robohnya Kota Melaka, Seulas Nangka, Mangkat Dijulang, Cik Apong, Pengabsahan Raja Kecil, Sengketa Cinta, Buang Asmara dan Marhum Marhum Buantan. Delapan naskah ini sudah dipadatkan dari 19 naskah sebelumnya. Salah satunya Anak Mayat tersebut.

Penulis naskah, SPN GP Ade Dharmawi, menyebutkan, naskah ini memang mengisahkan perjalanan Raja Kecil, bahkan sejak ayahndanya Sultan Mahmud Syah II masih hidup, Raja Kecil lahir, Raja Kecil mendirikan istana Siak hingga Raja Kecil meninggal dunia. Tak heran, jika naskah ini ditulis dalam waktu yang lama setelah melakukan penelitian-penelitian.

’’Cerita yang dibangun dalam bentuk naskah ini bersumber dari berbagai literatur berkenaan dengan sejarah Kesultanan Melayu tempo dulu yang berasal dari buku-buku sejarah maupun hikayat. Bahan yang menjadi sumber olahan dan inspirasi cerita dalam penulisan naskah Peterakna adalah peristiwa sekitar saat-saat menjelang robohnya kota Melaka tersebab karena dihancurkan oleh Peringgi (Portugis) pada tahun 1511 M, kemudian beralih kepada peristiwa sejarah  tragedi seulas nangka yang menjadi sebab penderhakaan Megat Sri Rama berakhir dengan takdir mangkatnya Sultan Mahmud Syah Marhum Mangkat Dijulang,’’ jelas Ade yang juga termaktub dalam prolog dalam naskah Peterakna tersebut.(kunni masrohati)

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Jumat, 21 September 2018 - 10:52 wib

Tim Yustisi Amankan 58 Warga Tanpa Identitas

Jumat, 21 September 2018 - 10:11 wib

UAS Jadi Perhatian Peneliti

Jumat, 21 September 2018 - 10:05 wib

Curi Besi Alat Berat, Dua Sekawan Dibekuk Polisi

Follow Us