ESAI SENI RUPA

Riau yang Pulang ke Rumah Besar Seni Rupa

23 Oktober 2016 - 00.35 WIB > Dibaca 1163 kali | Komentar
 
Oleh Dantje S Moeis

DARI beberapa kali acara pembentangan karya, yang ditaja oleh institusi dan organisasi kesenian dalam beberapa tahun terakhir ini di Pekanbaru (baca; Riau). Wajah karya seni rupa yang ditampilkan hampir terlihat menjadi seni rupa (yang benar-benar utuh), berkurangnya jumlah sekat-sekat “pemisah”, bergerak ke semangat “satu seni rupa”, semangat kembali ke Rumah-besar. Walau pengamatan untuk ini dilakukan cukup hanya dengan selintas-kilas. Tak perlu kajian yang terlalu mendalam membuat kesimpulan akan adanya fenomena perubahan dari kondisi mainstream masa lalu.

Sebenarnya, seni rupa adalah seni yang melibatkan proses pembuatan yang memberikan kepuasan, gugahan estetis melalui penerimaan indera rupa. Meliputi, ungkapan ekspresi (seni murni/fine art), dan, gubahan rupa barang fungsional (disain dan kriya/applied art).
Namun seni rupa Indonesia, sebuah wajah terpecah. Semua cabangnya; seni murni, desain, kriya dan seni rupa terapan lainnya, berkembang secara sendiri-sendiri, seolah menyangkal ada satu prinsip estetika mendasari semuanya. Namun citra ini telah mengakar cukup lama, terutama di kalangan seniman (masa lalu). Membagi-bagi, dan mengklasifikasi kadar nilainya. Dan ironisnya, mereka membuat peng-kelasan tersendiri (konvensi terselubung) dengan memberi kedudukan lebih tinggi buat karya seni murni ketimbang karya disain dan kriya (serta yang bukan fine art lainnya).

“Pameran Seni Rupa” di Pekanbaru, yang lalu-lalu kerap hanya memunculkan karya sebagai ungkapan ekspresi murni (fine art) meninggalkan bentuk lain yang notabene adalah karya seni rupa juga. Toh kalau ada kehendak melibatkan, tajuk kegiatan akan ditambah dengan; dan… Karikatur, Kartun, Disain serta Kriya yang mencuatkan citra rancu, seolah-olah seni rupa hanyalah seni murni. Sedang karikatur, kartun, disain dan kriya, adalah bidang-bidang terpisah.

Pemahaman yang menciptakan sekat-sekat itu dipastikan akan semakin meninggalkan istilah seni rupa. Menjauhi awal perkembangan seni rupa yang hampir tidak membedakan applied art dan fine art. Adalah kenyataan yang tak terbantah, banyak perintis desain dan pengembang kriya di Indonesia umumnya perupa seni murni.

Prediket pelukis, pematung, pengrajin ukir, penggrafis, kartunis, karikaturis, pelukis-potret dan lain-lain, merupakan penamaan yang sangat sempit dan menghasilkan karya yang tersekat pada predikat-predikat tersebut, yang sebenarnya penama-an tersebut tertuju pada karya seni yang dihasilkan serta bertujuan kepentingan pendidikan saja dan jauh dari tujuan meng-kotak-kotak-kan  Seni rupa.

Istilah perupa dan karya seni rupa, muncul di era 80-90-an mengiringi semangat kembali mempersatukan ke dalam sebuah pengistilahan/terminologi yang sebenarnya dipecah bagi hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan samasekali bukan menggiring karya berjenis itu keluar dan berdiri sendiri di luar “rumah besar” seni rupa.

Karya diciptakan dengan berbagai inovasi, percobaan medium-medium baru, bahkan memuat unsur-unsur seni rupa lain yang telah ada, seperti memberi muatan karya kriya pada bidang dwimatra yang bukan hanya sebagai elemen tambahan, karena tanpa muatan karya kriya tersebut karya yang dihasilkan menjadi tidak utuh dan tak selesai. Artinya seni rupa menyiapkan ruang kreativitas yang sangat luas tanpa sekat pembatas antara fine art dan applied art sejauh perupa mampu atau mau melakukannya. Mampu  dalam artian mempunyai kekuatan ungkapan ekspresi yang digabungkan dengan gubahan rupa barang fungsional bersyarat estetis dan kaya pemaknaan.

Dalam menuju pencapaian sebuah karya yang mumpuni, aspek eksperimentasi dan bermain-main itu menjadi penting karena, menunjukkan jauhnya jangkauan perjalanan, penjelajahan dan daya kreativitas yang tak pernah habis.

Baru-baru ini, tepatnya 5-7 Agustus 2016. Sebuah lembaga pemerintah, dengan dukungan uang rakyat yang memang sebenar-benarnya diserahi tugas dan tanggung jawab mengurusi hal yang berbau kreativitas (termasuk seni dan kesenian di dalamnya) didaerah ini (Riau), Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menaja sebuah helat yang diberi tajuk “Gerbang Melayu, Pameran Seni Rupa”,

Dari sejumlah karya yang terpajang (hasil pengkurasian oleh tim kurator) tanpa adanya karya senirupa dalam percabangan lain seperti, Karikatur, Kartun, Disain serta Kriya terlihat semangat penyatuan dari berbagai cabang seni rupa (yang saya yakini sebagai inisiatif dari perupa peserta), sebagai implementasi rasa keinginan untuk bebas dalam hal berkreativitas dan melahirkan karya yang benar benar berpenampilan “baru”. Sehingga terlihat wajah karya senirupa yang tidak lagi mandeg/stagnan dan itu-itu saja.

Pada karya dwimatra yang dipamerkan, terlihat unsur kriya yang semula dianggap tabu, karena melintas batas sekat konvensional (lama). Begitu juga pemberian warna, penggunaan media, unsur kriya yang semula menjadi pantang larangan bagi sebuah sculpture (trimatra), berubah menjadi lain dan lebih bergizi bagi makanan bathin pemerhati.

Menuju ke puncak kreativitas total adalah dambaan setiap seniman yang sebenar-benarnya adalah manusia kreatif, karena kegiatan seni yang dilakukannya sarat dengan kegitan kreatif. Mengacu kepada kenyataan tersebut maka untuk melakukan apresiasi/penghargaan salah satunya adalah mengenali aspek kreatif senimannya. Aspek ini memiliki arti penting dalam seni, karena kreativitas menjadi salah satu bagian dari kegiatan seni. Ada tahap-tahap kreativitas yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat kemampuan seniman dalam membuat karya seninya. Menurut Lasy Corporation dari Jerman, tahap kreativitas mulai dari penguasaan teknik, meniru model, melakukan inovasi dan akhirnya kreasi. Kreasi adalah kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan “orisinal” dan hal ini berbeda dengan “inovasi” yang sifatnya mengubah yang telah ada menjadi kelihatan baru.

Jadi menurut tahapan ini kemampuan kreatif berada paling akhir dari proses kreatif. Kreatifitas dalam seni rupa ada banyak dimensinya, semua berdasar dari gagasan atau ide yang dapat diterapkan pada setiap aspek seni rupa misalnya kreatif dalam penggunaan alat dan bahan, penggunaan warna dan bentuk, atau kreatif dalam penampilan bahkan kreatif dalam melintas batas sub percabangan senirupa, bahkan percabangan seni lainnya.
Setiap karya seni dibuat senimannya tentu dengan menyelipkan suatu ‘rasa’ ke dalamnya.

Rasa tersebut dapat bermacam-macam, mungkin hal ini setara dengan ekspresi yang dimaksud oleh Herbert Read. Kemampuan mengungkapkan rasa yang ingin disampaikan oleh sang seniman tergantung dari kemampuannya mengelola unsur seni rupa, menangkap moment di luar senirupa serta menguasainya dan kemampuan penggunaan bahan yang bebas. Mengelola unsur seni rupa maksudnya adalah bagaimana sang seniman mampu menggunakan karakter unsur seperti garis, bentuk, warna, dan tekstur untuk mewakili perasaannya. Selanjutnya bagaimana kemampuan seniman menghubungkan kemampuan tekniknya menggunakan alat dan bahan dengan karakter unsur sebagai wakil dari perasaannya. Keberhasilannya adalah terletak dari hubungan kedua aspek ini.

Selain kondisi emosi, pendapat kritikus tentang seorang seniman dan karyanya sangat berpengaruh terhadap sikap kita dalam melakukan apresiasi terhadap suatu karya seni. Tidak ada rumus yang paling tepat dalam menentukan kualitas baik buruknya karya seni, biasanya orang cenderung memberi respon “negatif” terhadap sebuah karya seni yang baru dan kreatif sebagai sebuah konsekwensi logis manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru pula. Hal ini memerlukan waktu, setelah sekian lama terpaku pada satu bentuk, namun kemampuan masyarakat lambat laun meningkat dan memberikan apresiasi pada karya seni baru yang kreatif dan pada saatnya, akan diterima oleh masyarakat luas. Contohnya kasus Van Gogh dan Jackson Polock, masyarakat kebanyakan bahkan masyarakat penikmat senipun terkadang memandang karya mereka tidak bermutu karena keluar dari standar (konvensi) yang sedang berlaku di masyarakat.

Dalam hal ini peran kritikus seni rupa sangat penting untuk mendidik dan meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan apresiasi dengan memberi penjelasan tentang nilai-nilai yang disampaikan oleh seorang seniman kreatif. Dengan demikian peran kritkus seni sangat menentukan perkembangan apresiasi masyarakat terhadap karya seni. Namun demikian, ada pula sisi negatifnya ketika seorang kritikus berkolaborasi dengan seniman dan kolektor, pendapat sang kolektor dapat menjadi tidak obyektif. Dapat terjadi pula ketika seorang kritikus menjadi komersial dengan memasang tarif tinggi kepada sang seniman untuk diangkat karyanya di media masa. Untuk itu, kejujuran dalam mengungkap kebenaran, ketulusan, dan kualitas karya seni rupa menjadi sangat penting bagi semua pihak yang mencintai dunia seni yang bermutu.

Tataran selanjutnya dalam melakukan apresiasi seni menurut Zelanski adalah keahlian teknik dan desain yang ditampilkan oleh seniman. Hal ini memang sangat memerlukan kepekaan estetik yang bersifat bawaan yang juga tak tertutup kemungkinan buat diasah. Untuk melakukan apresiasi terhadap sebuah karya seni rupa pengetahuan tentang teknik dan utamanya tentang kepekaan estetik sangat diperlukan. Kedua hal ini memiliki hubungan timbal balik, karena tanpa kematangan teknik, sulit untuk mencapai keindahan yang dinginkan, begitu pula tanpa kepekaan estetik, sulit merealisasikan teknik yang telah dikuasai.

Ide atau gagasan merupakan satu aspek dalam karya seni yang harus diketahui, ide ini bukan sekedar tema tetapi menyangkut sesuatu yang ingin disampaikan oleh senimannya. Untuk mengetahui itu yang diperlukan adalah deskripsi dari sang seniman tentang karyanya. Hal yang terakhir perlu diketahui dalam melakukan apresiasi adalah tentang sejarah, atau perkembangan senimannya dalam berkarya, juga mengenai kehidupan personalnya, dan motivasinya dalam berkarya. Hal ini juga penting untuk diketahui, sehingga memahami bagaimana sang seniman sampai pada jenis karya yang dibuatnya. Kadang ada seniman karena idealismenya tinggi dan motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang baru sangat kuat bergejolak dalam dirinya sebagai titik tolak menciptakan karyanya maka ia rela meninggalkan semua yang telah dimilikinya.

Jean-Michel Basquiat (lahir di Brooklyn, New York, 22 Desember 1960 – meninggal 12 Agustus 1988 pada umur 27 tahun) adalah seorang seniman berkebangsaan Amerika Serikat. Dia mulai debutnya sebagai seorang seniman grafiti di Kota New York pada 1970-an dan berkembang menjadi seorang perupa ekspresionis dan neo-primitif. Sepanjang karirnya, Basquiat berfokus pada “dikotomi sugestif,” seperti kekayaan versus kemiskinan, integrasi terhadap segregasi, dan pengalaman batin versus luar. Karya Basquiat yang dimanfaatkan merupakan sinergi perampasan, gambar puisi, dan lukisan, yang dikawinkan dengan teks dan gambar, abstraksi dan figurasi, dan informasi sejarah dicampur dengan kritik kontemporer ( yang bahkan melintas-batas percabangan seni). Memanfaatkan komentar sosial sebagai “batu loncatan untuk kebenaran yang lebih dalam tentang individu”, lukisan Basquiat kadang menyerang struktur kekuasaan dan sistem rasisme. Sementara puisinya yang dimuatkan pada bidang dwimatra karya, akut menohok ranah politik dan langsung menjelma dalam satu kesatuan seni rupa yang menohok sistem kolonialisme dan ekspresi dukungan untuk perjuangan kelas bawah.

Terakhir sebagai penutup. Tulisan saya ini hanyalah sebuah anjuran, upaya percepatan/akselerasi mengejar ketertinggalan dan sebagai informasi bahwa “Senirupa” adalah sebuah Rumah-besar yang penghuninya terdiri dari beragam bentuk dan karakter, yang boleh-boleh saja atau, seyogianya bergabung dalam satu penampilan bersama dan tak tertutup kemungkinan setiap individu mampu tampil dalam penggabungan semua cabang yang diwujudkan pada satu karya utuh senirupa. Salam “Perupa” dalam semangat kreatif.***

Dantje S Moeis, lahir di Rengat, Inderagiri Hulu, 12 April 1952. Redaktur senior Majalah Budaya Sagang ini, mengajar di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), dan pengurus Lembaga Adat Melayu Riau. Menerima sejumlah penghargaan sebagai perupa, dari Dewan Kesenian Riau dan Anugerah Sagang.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us