ESAI SASTRA

Bahasa Daerah di Ambang Kepunahan

23 Oktober 2016 - 00.42 WIB > Dibaca 1460 kali | Komentar
 
Oleh Rafita Dewi
 
INDONESIA merupakan negara yang sangat luas. Terdiri dari berbagai suku dan ragam bahasa. Setiap daerah punya bahasa daerah atau ibu. Penduduk Papua tidak akan sama bahasa daerahnya dengan penduduk Sumatera, begitu juga sebaliknya. Untuk menyatukan suku yang beragam ini dibutuhkan komunikasi yang bisa dipahami oleh semua suku.  Maka lahirlah satu bahasa yang disepakati yakni, Bahasa Indonesia.

Kehadiran Bahasa Indonesia ini sangat membantu suku-suku yang ada untuk berkomunikasi. Bisa dibayangkan jika dalam kehidupan bernegara, kita menggunakan bahasa bahasa daerah masing-masing. Apa yang terjadi?. Sudah dapat dipastikan yang muncul adalah kesalahpahaman. Karena semua suku bisa dipastikan akan menonjolkan bahasa daerahnya masing-masing. Di sisi lain kepentingan negara tidak akan terwujud.

Program pemerintah akan terhambat. Baik yangf bersifat fisik maupun non fisik.
Kesepakatan menjadikan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional telah dipertimbangkan oleh pendahulu kita. Tentunya kehadiran bahasa Indonesia tidaklah menjadi penyebab punahnya bahasa daerah. Malah bahasa Indonesia  banyak mengadopsi kata-kata dari bahasa daerah, kemudian dijadikan sebagai Bahasa Indonesia. Hanya saja, penggunaan bahasa daerah kian hari kian berkurang penuturnya.

Dan ini tentu menjadi berita buruk bagi bangsa Indonesia yang memiliki 746 bahasa daerah. Bahkan menurut hasil penelitian UNESCO, kepunahan bahasa ibu terbanyak terjadi di Indonesia.

Apa sesungguhnya yang membuat bahasa daerah atau ibu diambang kepunahan?. Benarkah bahasa Indonesia menjadi penyumbang kepunahan bahasa daerah atau ibu?. Kepunahan atau hilang sebuah budaya termasuk bahasa daerah sejatinya terkait dengan peradaban dan perubahan zaman serta komitmen penuturnya untuk selalu menggunakan dalam komunitas mereka. Contohnya, masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal handphone, ketika mereka sudah menggunakan handphone, otomatis mereka akan belajar bahasa yang ada di handphone tersebut.

Demikian juga halnya dengan berita-berita yang mereka dengar, yang dibaca setiap waktu. Semua ini akan berpengaruh terhadap budaya daerah setempat, termasuk dalam penggunaan bahasa daerah atau bahasa ibu.

Perkembangan zaman dan ilmu menyebabkan terjadinya banyak pilihan untuk berkomunikasi atau berinteraksi. Bahkan dalam komunikasi yang dilakukan tak jarang bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa juga diabaikan. Suku kata atau kalimat asing dicampuradukkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Tentu saja hal ini memberikan dampak buruk terhadap perkembangan bahasa itu sendiri.   Arus moderenisasi juga menjadi penyumbang signifikan terhadap bahasa daerah atau ibu. Bahkan lajunya perkembangan informasi membuat sistem hidup masyarakat juga berubah dan menyelaraskan dengan tatanan kehidupan sosial di luar sistem sosialnya.

Seperti keinginan untuk berbaur dengan komunitas yang berbeda menyebabkan seseorang harus belajar menggunakan bahasa asing dalam kehidupannya sehari-hari. Padahal mereka berada pada lingkungan sosial mereka sendiri. Misalnya, wisatawan mancanegera yang datang ke daerah kita menggunakan Bahasa Inggris. Sadar atau tidak sadar masyarakat tempatan juga terpacu untuk belajar Bahasa Inggris agar mereka bisa berinteraksi. Artinya secara tidak langsung bahasa ibu akan mereka tinggalkan secara perlahan-lahan.

Pesatnya perkembangan zaman, mau tidak mau membuat mobilitas orang kian cepat. Alhasil perpindahan penduduk atau urbanisasi dari satu daerah ke daerah yang lain menjadi penyebab bahasa daerah jarang digunakan. Orang yang berpindah ke daerah baru, otomatis bahasa yang digunakannya adalah bahasa di tempat baru. Tidak mungkin ia menggunakan bahasa daerahnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. kondisi ini , sadar atau tidak telah membuat bahasa daerah menjadi terpinggirkan dari arus utama komunikasi.

Demikian juga apabila terjadi pernikahan dari pasangan yang berbeda bahasa daerahnya. Sehingga komunikasi di keluarga jarang menggunakan bahasa daerah. dan anak-anak pun tidak mengenal bahkan tidak tahu dengan bahasa daerah orangtua mereka.

Potret tersebut menggambarkan bahwa beragama penyebab, bahwa bahasa daerah kian punah. Perkembangan zaman dengan segala konsekuensinya telah membuat bahasa daerah kian meregang nyawa. Menunggu ajalnya saja dan selanjutnya hanya tinggal nisannya saja, bahwa bahasa daerah pernah hidup di suatu daerah tersebut. Beberapa literatur menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun bahasa daerah terus tergusur dan punah.

Di Papua dulunya ada 273 bahasa daerah, kini tinggal 271 bahasa. Di Sumatera 52 bahasa berkurang menjadi 49 bahasa.

Kepunahan ini tentu menjadi kegelisahan kita semua. Sebab bahasa daerah tidak hanya sebagai bahasa komunikasi saja, tapi juga dia adalah entitas budaya yang sarat makna. Keberadaanya adalah cerminan dari masyarakatnya. Untuk itu, tidak ada kata terlambat untuk kita menyelamatkan aset bangsa ini secara bersama-sama. Jangan pernah malu berbahasa daerah dalam komunitas sesama, dan tentu menggunakan bahasa Indonesia dalam lintas komunitas menjadi keniscayaan agar terbangun komunikasi dan jalinan kepercayaan yang baik.***
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Follow Us