OLEH SARMIANTI

Mukidi vs Yong Dolah

23 Oktober 2016 - 00.51 WIB > Dibaca 1779 kali | Komentar
 
Mukidi vs Yong Dolah

BEBERAPA waktu yang lalu “virus” Mukidi  melanda dunia maya. Cerita-cerita lucu tentang Mukidi menjadi viral  melalui berbagai media sosial, seperti facebook, Blackberry Messenger, atau WhatsApp. Tentu ada yang menarik dari cerita Mukidi ini sehingga menjadi yang cukup sering dikirim ulang.

Mukidi adalah tokoh rekaan dalam cerita yang ditulis oleh Soetantyo Moechlas. Di dalam blog penulisnya dijelaskan bahwa Mukidi berasal dari Cilacap, Jawa Tengah. Tipikal orangnya biasa saja. Punya karir, tetapi kadang-kadang bisa menjadi apa saja. Istrinya bernama Markonah,  juga punya karir, tetapi tidak terlalu istimewa. Anak mereka dua orang: Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran yang masih di bangku SD. Sahabat Mukidi adalah Wakijan. Namun, bila kita baca ceritanya, Mukidi ini terkadang disebutkan berasal dari Madura, masih berstatus anak sekolah. Di dalam cerita lainnya disebutkan Mukidi sudah kakek-kakek. Cerita ini telah ditulis dan rutin dimuat Soetantyo di blog-nya sejak Agustus 2012. Bahkan kisah Mukidi telah dibukukan dalam trilogi Laskar Pelawak.

Cerita tentang Mukidi ini dapat dikelompokkan sebagai humor. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, humor diartikan sebagai sesuatu yang lucu; keadaan yang menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan. Yoseph Yapi Taum dalam bukunya Studi Sastra Lisan (2011) membedakan humor dan lelucon. Humor diartikan sebagai kisah fiktif mengenai anggota suatu kolektif, seperti suku bangsa, golongan, atau ras yang sasarannya adalah diri sendiri sehingga sering mendapat simpati. Adapun lelucon yang menjadi sasarannya adalah orang atau kelompok lain sehingga cerita bentuk ini sering dimusuhi atau tidak disenangi.  Bila dilihat isinya, di dalam humor Mukidi terdapat unsur fiksi, kreativitas, manfaat (utile), dan hiburan (dulce) karena itu ia dapat digolongkan sebagai karya sastra. Cerita ini disebut fiksi karena humor Mukidi adalah rekaan penulisnya. Kreativitas terlihat dari cerita yang selalu segar, penuh kejutan, dan bervariasi. Humor Mukidi ini juga menyalurkan kritik penulisnya terhadap hal-hal yang terjadi di dalam masyarakat. Bagi pembaca, cerita ini dapat dijadikan cerminan diri atau otokritik. Sebagai hiburan, cerita ini jelas sangat menghibur.

Cerita humor cukup banyak beredar di masyarakat, baik itu yang berupa cerita rakyat (lama) atau cerita-cerita terbaru. Untuk cerita humor baru, kita mengenal humor Gus Dur (Presiden Abdurrahman Wahid) dan yang lebih baru adalah humor ala Cak Lontong. Humor Gus Dur sempat booming pada saat beliau menjabat sebagai Presiden Indonesia dan humornya ini sempat dibukukan. Sementara itu, humor Cak Lontong mulai terkenal saat Pemilu tahun 2014. Gaya humor Cak Lontong ini banyak diikuti oleh orang lain.

Di Riau, kita mengenal cerita Yung Dolah, yaitu cerita tentang seseorang yang bernama Yong Dolah dari Kota Bengkalis. Orangnya sederhana dan lugu, tetapi paling hebat dari siapapun. Yong Dolah tidak pernah kalah dari siapapun atau keadaan apa pun. Selalu ada cara bagi Yong untuk menang dan terbebas dari masalah meskipun cara itu kadang tidak masuk akal. Cerita Yong Dolah ini dahulunya berupa cerita lisan dari seorang yang bernama Abdullah bin Endong. Jadi, Yong Dolah adalah dirinya sendiri.  Ceritanya ini sangat menarik bagi masyarakat yang menjadi pendengarnya. Kemudian, cerita-cerita yang disampaikan itu tersebar dari mulut ke mulut. Selanjutnya, beberapa sastrawan mencoba menuliskan kembali cerita Yong Dolah ini, seperti Afrizal Cik dan Hang Kafrawi. Siapapun yang pernah mendengar atau membaca cerita Yung Dolah pasti dapat mengetahui kekhasan cerita humor Yung Dolah.

Humor Mukidi dan Yung Dolah memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan yang pertama, tokoh utamanya orang yang sama pada berbagai episode cerita, yaitu Mukidi untuk humor Mukidi dan Yong Dolah untuk cerita humor Yung Dolah. Persamaan yang kedua adalah unsur lokal pada kedua humor ini sangat terasa, yaitu unsur Jawa/Madura pada cerita Mukidi dan Melayu pada cerita Yong Dolah. Kesamaan yang ketiga adalah kedua cerita ini juga memiliki unsur kejutan yang dapat menggugah nalar kita. Terdapat peristiwa cerita yang di luar  perkiraan, tetapi hal itu yang menjadi kekuatan untuk memancing tawa. Persamaan yang keempat, Yong Dolah dan Mukidi bisa menjadi siapa saja. Maksudnya, profesi tokoh ini dapat berubah-ubah. Yang kelima, humor Mukidi dan Yong Dolah juga telah menjadi milik masyarakat.Cerita humor ini berkembang dengan kisah-kisah lain yang mengambil pola dan nama tokoh yang sama tetapi oleh penutur/penulis berbeda.

Adapun perbedaan kedua humor ini adalah humor Mukidi dimulai dari bentuk tulisan sementara humor Yong Dolah dimulai dari cerita lisan. Mukidi adalah tokoh rekaan penulisnya, sedangkan Yung Dolah merepresentasikan penceritanya. Selain itu, humor Mukidi disajikan dengan uraian yang singkat, bahkan hanya terdiri dari dua atau tiga dialog, sementara humor Yong Dolah ceritanya cenderung lebih panjang dan memuat beberapa peristiwa.

Lalu, mengapa cerita Mukidi yang sangat populer? Semua itu karena bantuan teknologi informasi terutama jaringan internet. Penulis memang memublikasikan tulisannya di internet, yaitu melalui blog dan twitter. Melalui ponsel pintar, masyarakat dapat melacak cerita Mukidi dan membagi ulang cerita tersebut pada orang lain. Karena bentuknya yang singkat, membaca humor Mukidi tidak menghabiskan waktu, juga tidak terlalu berat untuk dibagikan sebagai status di akun media sosial.Oleh karena itu, masyarakat lebih suka humor Mukidi ini. Kepopuleran humor Mukidi semakin bertambah karena orang-orang juga membuat meme-meme tentang Mukidi. Sejauh ini, Soetantyo Moechlas tidak berkeberatan dan berkesan membiarkan Mukidinya semakin “liar” di tangan orang lain.

Mukidi sempat “berkeliaran” di jagat maya beberapa waktu yang lalu. Dapatkah Yong Dolah menyusul sehingga sepopuler Mukidi?***

Sarmianti adalah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.

 

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 14:00 wib

Diprioritaskan untuk Koridor Rumbai dan Tenayan Raya

Rabu, 21 November 2018 - 13:45 wib

Bupati Motivasi Anak Siak Terus Berprestasi

Rabu, 21 November 2018 - 13:36 wib

Oknum Polisi Pesta Narkoba

Rabu, 21 November 2018 - 13:30 wib

Pencegahan Kejahatan, Buat Pelaku Tidak Nyaman

Rabu, 21 November 2018 - 13:15 wib

Syamsuar Hadiri Haul Marhum Pekan

Rabu, 21 November 2018 - 13:07 wib

2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000

Rabu, 21 November 2018 - 13:00 wib

Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari

Rabu, 21 November 2018 - 12:45 wib

Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK

Follow Us