CERPEN RISDA NUR WIDIA

Kabut Ayah

23 Oktober 2016 - 00.57 WIB > Dibaca 2207 kali | Komentar
 
Kabut Ayah


SEMENJAK Ibu hanya dapat terbaring dan menunggu malaikat maut mengetuk pintu kamarnya, pada waktu itu pula setiap malam Ayah selalu pulang dengan sebuah kabut di sampingnya. Ayah seperti menutup segala kemungkinan tentang Ibu. Pria itu tidak pernah berbicara, atau memberikan dorongan dan doa-doa kesembuhan pada wanita yang telah hidup bersamanya selama dua puluh lima tahun terakhir. Ayah  hanya menyuruh Sanikem—pembantu tua yang begitu rentan dan gerakannya yang terlihat tertatih-tatih dan terlihat tanda-tanda kalau sudah dapat dipastikan dalam waktu dekat ia akan ikut mati juga—mengurusi segala keperluan Ibu selama terbaring lemah.

Kerenggangan hubungan Ibu dan Ayah memang sudah lama terjadi. Tetapi aku tidak tahu kapan kerenggangan itu terjadi. Hingga melenyapkan suasan hangat di dalam rumah dari percakapan-percakapan panjang yang intim; penuh tawa di meja makan serta kalimat-kalimat ‘sayang’ yang sering aku dengar dari kedua bibir mereka; menguap bagai embun disepuh cahaya matahari yang panas. Bahkan seolah ada jeda di antara Ibu dan Ayah. Mereka seakan mengurung diri dalam kehangatan yang terasa ganjil. Sampai akhirnya menjadi hambar dan dingin.

Mungkin kerenggangan ini dimulai saat umurku 10. Pada malam yang begitu dingin. Bahkan karena sangat dinginnya malam itu, aku menutup semua pintu dan jendela di dalam rumah. Aku mematikan pula pendingin ruangan. Tak ketinggalan, aku tidur dengan penghangat. Namun dingin yang membekap masih mengulitiku. Sampai aku tahu kalau hawa dingin ini bukan hal yang biasa. Hawa dingin ini berasal dari suasana hati seseorang. Dingin yang berasal dari hati Ibu yang murung melihat Ayah yang acap menemui sebuah kabut di luar rumah tanpa sepengetahuannya.

Barangkali sejak itu rumah menjadi dingin dan, Ibu mulai menjaga jarak dengan ayah. Pada tengah malam—semenit sebelum umurku menginjak 11—Ibu bahkan mengeluarkan sebuah serapah yang begitu dingin menusuk tulang: “Dia lebih bahagia bersama kabut terkutuk itu, dan aku sudah tidak ada gunanya.”

Begitulah. Ketika umurku memasuki 11, suasana rumah benar-benar telah beku. Ada tembok pula yang tiba-tiba terbentang di hadapanku. Tembok-tembok kasat yang kokoh berdiri menghalangi hubungan Ibu dengan Ayah. Bahkan, aku melihat tembok-tembok raksasa itu terpacak angkuh di mana saja. Termasuk di atas ranjang orangtuaku. Mereka juga menciptakan jarak dengan mantra-mantra busuk yang tidak pernah aku mengerti artinya. Mantra-mantra kotor yang malah mengeristal dan menjadi benteng es di dalam rumah.  
Selain itu, setelah mengetahui perangai Ayah yang kerap berpergian dengan sebuah kabut, sifat Ibu yang semula baik dan lembut menjadi aneh. Ibu acap memekik-mekik seperti seorang dukun di dapur. Ibu seolah menciptakan sihir-sihir busuk sembari menyerapahi peralatan memasaknya. Terkadang Ibu—sering diikuti dengan wajah frustasi—memukul-mukul tangannya sendiri pada alat-alat masaknya. Hingga tangan Ibu yang halus mengelurakan darah. Maka tidak aneh masakan yang dibuat Ibu terlalu asin, atau amis. Ayah tetap tak peduli.

“Apa yang terjadi pada Ibu?” Tanyaku pada Sanikem memastikan apa yang aku pikirkan. “Apakah ini berhubungan dengan Ayah dan kabut itu?”

Sanikem hanya diam saja. Aku menatap wajah pembantu tua itu. Aku memperhatikan setiap inci air mukanya yang gelisah; yang seperti menyimpan rahasia terlarang dariku.  Dan aku tahu rahasia gelap dan kotor apa itu, dan mengapa rahasi itu harus disimpan rapi oleh Sanikem dariku. Sepasang mata kami akhirnya hanya saling menatap. Sampai akhirnya kami menciptakan perjanjian tak langsung; suatu persekutuan yang tak pernah kami umumkan kepada siapa saja. Soal Ibu dan Ayah.

Seiring bertambahnya waktu keadaan Ibu semakin memburuk. Ibu tidak saja mengutuki alat-alat memasak di dapur. Namun, Ibu acap keluar malam mengusir kabut yang menangkup sekitar rumah. Ibu biasanya berteriak-teriak sepanjang malam apabila kabut meringsek dari tengah kegelapan. Ibu tiada lelah menyumpahi kabut-kabut yang mengelilingi rumah agar tak mendekat, dan membuat suasana dingin di rumah semakin parah. Tak luput Ibu menyuruku juga ikut:

“Kau harus mengusir kabut-kabut itu,” kata Ibu ketika kami—merayakan umurku yang ke-15—di dapur. “Kabut-kabut itu hanya membuat rumah ini sial. Jadi kau harus mengusirnya.”

Aku mengangguk. Namun aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ibu. Karena, Ibu hanya bergumam tanpa sedikit melirik ke arahku. Tapi malam itu aku hanya hanya mendapati mata Ibu yang dahulu hidup, kini menjadi muram. Bahkan bertahun-tahun kemudian mata Ibu malah bertambah kosong. Pun, mata Ibu itu seperti menciptakan ruang kesunyiannya sendiri...

***

Memasuki umurku yang ke-21, kesehatan Ibu semakin menurun. Ibu masih saja menciptakan dinding tebal kepada ayah. Begitu juga dengan Ayah. Ayah tetap berlalu, dan menutup segala kemungkinan tentang Ibu. Ayah bahkan seperti tidak pernah mengenal Ibu. Tetapi di tengah kemerosotan kesehatannya, Ibu masih saja mengutuki perabotan makan dan kabut-kabut yang selalu datang ketika malam. Bahkan pernah di dalam kamar, Ibu berteriak-teriak sembari mengutuki segala benda yang berada di sana. Ibu melempar foto-foto pernikahannya, dan membakar gaun pengantinnya.

“Pergi kau kabut! Jangan kau ganggu kami! Pergi!” Ibu membentak-bentak, dan aku hanya mengigil melihatnya.

Ayah yang melihat kejadian itu pun diam saja. Ayah tidak mencoba menenangkan Ibu. Ayah malah pergi bersama sebuah kabut. Kemudian menghilang. Aku tidak tahu ke mana perginya Ayah bersama kabut itu. Karena ayah seperti ditelan begitu saja. Ayah pun hanya akan kembali bila pagi telah datang. Pria itu—setiap kali pulang—pasti terlihat sangat buruk dan lelah. Rambut Ayah yang rapi menjadi masai, dan matanya merah.
 
“Siapa kabut itu sebenarnya?” Pekikku sendiri di kamar penasaran. “Mengapa Ibu membencinya?”

Malam berikutnya karena penasaran, aku memutuskan untuk membuntuti Ayah. Dengan mengendap-endap seperti kucing yang ingin menubruk tikus, aku menguntit Ayah melangkah bersama sebuah kabut menuju kota. Kemudian Ayah dan kabut itu singgah di tempat yang cukup ramai. Ayah bercakap-cakap riang dengan kabut itu. Seakan tidak pernah terjadi segala hal muram di rumah. Ayah terlihat sangat mesra dengan kabut itu. Sesekali aku melihat Ayah menciumi kabut itu. Apakah hal ini yang membuat Ibu menjadi murka dan senewan? Pekikku dalam hati.

Sepajang malam aku terus mengintai Ayah dengan kabut di sampingnya. Mereka syahdan memasuki sebuah hotel, dan akhirnya aku kehilangan jejak mereka. Aku tidak tahu: Apa yang Ayah serta kabut itu lakukan di dalam hotel? Aku hanya pulang dengan berbagai pertanyaan yang tak mendapatkan jawaban. Aku malah semakin gelisah memikirkan kejadian malam itu; mengingat-ingat tingkah Ayah serta kabut yang seperti sepasang kekasih. Sesampainya di rumah, aku kembali melihat Ibu yang meringkuk di depan pintu. Ibu mendelik memandang pintu gerabang rumah. Sesekali aku juga mendengarkan teriakan-teriakan Ibu yang seperti sumpah. Namun aku sadar, sebenarnya Ibu tidak sedang menyumpah-serapahi siapa pun. Ibu hanya menangis dengan suara meratap; tidak merelakan sesuatu pergi dari hidupnya.

***

Bertambah hari kesehatan Ibu terus menurun. Beberapa bulan terakhir Ibu sudah tidak lagi dapat berdiri. Ibu terbaring pucat di atas ranjang menunggu malaikat maut datang menjemputnya. Sedangkan Ayah bertambah terang-terangan membawa kabut itu datang ke rumah. Bahkan Ayah membiarkan kabut itu berkeliaran ke mana pun yang disukainya tanpa ada yang menghalangi. Tetapi, kabut itu belum berani muncul di depan Ibu. Dan kini aku mengerti: Mengapa Ibu begitu menderita?

Sebenarnya aku merasa bersyukur ketika sang ajal benar-benar menjemput Ibu. Dengan cara itu Ibu telah terbebas dari rasa sakit karena dihianati Ayah. Namun sebulan setelah meninggalnya Ibu, Ayah nekat melangsungkan pernikahan dengan kabut itu. Ayah seolah membuat pesta di tengah rasa dukaku. “Ayah akan menikah lagi? Semoga kau mengijinkanku!”

Ayah tidak menunggu jawabanku. Ayah tetap mengadakan sebuah pesta pernikahan dengan kabut itu. Dan belum genap sembilan bulan pernikahan mereka, kabut itu sudah melahirkan anak. Pun, aku cukup terkejut dengan itu. Kini di dalam rumah ada dua kabut. Dan kehadiran dua kabut itu hanya menciptakan udara dingin menusuk tulang. Pun karena dua kabut itulah—seperti halnya Ibu—aku memutuskan membuat tembok pemisah antara diriku dengan ayah.

“Kau harus belajar menerima mereka,” kata ayah kepadaku di suatu malam. Aku masih tetap diam saja. “Aku tahu: aku memiliki salah pada Ibumu, dan aku menyesal telah membuat Ibumu seperti itu.”

Aku memandang Ayah dan kabut itu. Geram. Dan secara bergantian. Pun aku memilih untuk meninggalkan Ayah dan kabut yang menatapku meminta pengampunan. Malamnya, aku sendirian menekur di kuburan Ibu. Di sana, aku membuat sumpah ingin membalaskan dendam Ibu. Begitulah. Malam itu, tiba-tiba dalam kuburan Ibu muncul sebuah asap. Asap itu membentuk sebuah kabut dengan bentuk tubuh dan wajah Ibu. Bahkan kabut itu mengajak bicara:

“Usir mereka! Usir mereka!” Kata kabut itu.

Paginya aku kembali ke rumah. Pertama-tama aku mencari Ayah. Aku melihatnya sedang sibuk di gudang mencari perlengkapan bayi milikku dahulu. Tanpa pikir panjang, aku menikam Ayah dengan belati. Setelah selesai dengan Ayah, aku melenggang menuju dapur. Sekilas aku memandang ke arah kabut itu, dan sama yang seperti aku lakukan terhadap Ayah; aku membunuhnya. Belum selesai. Aku menuju kamar.  Di sana ada kabut mungil. Aku mendekat, dan cepat menyibak sebuah tirai. Kabut kecil itu tiba-tiba menangis. Dan pada saat itu pula aku bingung ingin membunuhnya atau tidak. Tanganku hanya bergetar di udara, sedangkan kabut Ibu terus berbisik untuk lekas membunuhnya.***

Risda Nur Widia, belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua syambera menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nomintaro Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Bukunya kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015).

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us