SAJAK

Sajak-sajak Jasman Bandul

23 Oktober 2016 - 01.14 WIB > Dibaca 2437 kali | Komentar
 
Kau yang Bersorban Matahari

Kau yang bersorban matahari
bersembunyi di balik awan-awan
Ada zikir di bekas telapak perjalananmu
Yang memeta arah dalam kesenyapan

Kau yang bersorban matahari
Tak ada jarak perjalanan yang jauh di matamu
Tak ada rintang penat di kaki
Istiqomah melangkah, menyeruak panas dan hujan
Menembus kabut dan kemelut
Adalah ketangkasanmu menerpa hari

Wahai kau yang bersorban matahari
Adakah jasad yang kau pikul di bahu
junjung tinggi di kepala
jerakah  batin menempuh jauh?

 Bandul, 08 Juni 2016


Berkerudung Pelangi

hujan yang turun pagi itu
sigap menghantar sejuk di ubun-ubun
pada perih terakhir musim
di tangisan senyap yang tak pernah tercatat
di buku harianmu
bahkan tak sekalipun menetas dari mulut mungil
juga tak sempat melukisnya di kanvas paling percapun
hanya percikan pelangi setelah hujan usai

Mak, aku tumbuh dalam rahim sucimu
bernafas dan minum di aliran plasentamu
bergerak sepak oleh do’a- do’amu
lalu menatap bulan-matahari tersebab selusuh kasih
menangispun adalah karena perihmu.

kaulah yang berkerudung pelangi
memandikan pagi di kulitku
dengan mantra kasih cinta dan matahari
dengan selusuh rindu yang tak pernah alfa,
sehingga kini.

kaulah yang berkerudung pelangi
silau warna-warni memancar seri
sampai ke senyum sengihpun tiada terperi
sengaja kadang kau tinggalkan duri ditelapak kaki

lalu, siapa lagi yang hendak ku sebut pertama
dalam setiap do’a sujudku,
selain kau
siapa lagi yang hendak ku umpamakan matahari
siapa lagi yang harus ku sebut rembulan
bahkan, masakanmu saja lidahku tak lupa.
Mak, kau yang berkerudung pelangi,
Warna-warni hidup dalam diri.

Bandul, 10 Juni 2016


Renyai Senja

setelah derasnya hujan
renyaipun menyambangi senja
ada cerita lain yang hendak diutarakan
selain dari kisah subuh bukat
atau tingkah malam dalam debar
juga tentang sajak-sajak singkat
tercatat kaku dibahu buku-buku

direnyai senja
betapa hujan, beberapa waktu kerap
membenihkan gigil pada selusin waktu
yang terpatri di jam dinding,
wajah sedan pasi mengutarakan kisah
perihal rindu menusuk dalam ke jantung hari
nyaris tak tersisa sedikitpun nyilu itu
atau lebih bukat dari cerita seribu satu malam
yang pernah terbaca singkat dihikayat penuntun sepi

betapa renyai senja sedang melangkahi sendu
menguap dikedalaman diam

renyai jatuh perlahan
ramai-ramai mengisi kesenyapan
pohon-pohon malam berselimut gigil
hingga ke subuh yang khusyuk

Bandul, 06 Juni 2016


Munajat Kuwarkahkan

munajat kuwarkahkan
pada bentangan sajadah yang panjang
di halaman mihrab di ujung kiblat

Tak sekadar itu
Juga serupa bulan-bintang ke puncak kubah
Hendak mencecah ke badan langit
Setinggi itu hati menggantungkan hajat
semula mengecap tawarnya hidup
Lalu menjuntaikan serpihan-serpihan doa
Dan sisanyapun kupungut sampai ke batas
Paling jumput

Dimanapun munajat itu kuwarkahkan
Pada azan subuh
Saat embun mengering jatuh ke akar-akar
Hingga ke azan pertengahan malam
Terhenyuh di hati jadi senyap

adakah lenguh di lidah ucap
serta komat-kamit tasbih,
juga doa yang merangkak di angin-angin puyuh
Akan mencapai kursi arsyi-MU

kokok ayam  membangunkan tidur  panjang
Lalu memijak bumi dan menatap langit tinggi-tinggi
Segayung air jatuh ke wajah mimpi
Mengalir ke tangan
Menyeruput ubun rambut
Berayun ke kaki-kaki

Percakapan diam
Paling khusyuk

Pada sujud paling akhir
Disinilah munajat ku warkahkan

Bandul 12 Januari 2016



Ranggas

Akupun mimpi
Dahan pohon ranggas
jatuh ranting-ranting
Daun ngeluh luka
Matikan kicau burung hari
Meniadakan irama pagi
Jadi sepi

Bandul, 12 April 2013

Jasman Bandul, lahir di Bandul, (Riau, Indonesia)  10 Juni 1984, Beberapa puisi pernah terbit dibeberapa Media Lokal Riau, antara lain Riau Pos dan Aceh (News Citra Aceh : 2014). Beberapa sajaknya termaktub dalam antologi puisi (Puisi Pilihan Riau Pos 2014 : Bendera Putih Untuk Tuhan), (Puisi Pilihan Riau Pos 2015 : Pelabuhan Merah), dan Antologi Puisi “Puti Bungsu” Majlis Alumni PSPBSI FKIP Universitas Riau Tahun 2015. Antologi puisi “ Melukah Bulan di Malam Kemarau” dan Kumpulan Cerpen “ Lorong”  tahun 2015 oleh Komunitas Gemar Menulis Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kab. Kep. Meranti, Riau, dan termuat pada Antologi TIFA Nusantara 3  2016  Kalimantan Selatan. Saat ini bertugas sebagai tenaga pengajar di SMA N 1 Tasik Putri, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Indonesia. Dan aktif mengelola komunitas sastra (Komunitas Gemar Menulis) Kec. Tasik Putripuyu.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Follow Us