SAJAK

Sajak-sajak Ade Novi

23 Oktober 2016 - 01.19 WIB > Dibaca 2724 kali | Komentar
 
Negeri di Atas Awan

Senja melontar resah mengumpul kenangan
Sepotong perasaan tergelepar dalam diam terpendam
Senja merah membuat kita menyerah
Melupakan sesuatu yang menghantui kalbu

Masih terdengar saat angin berhembus
Saat gelap malam tanpa bintang dan juga rembulan
Mimpi yang menari seirama denyut nadi
Tentang negeri yang menjadi imajinasi

Saat ini nyanyian rindu antara senja dan malam
Seperti negeri di atas awan
Berjuta pelangi mewarnai
Dalam dekapan ibu pertiwi

Jakarta, 2016


Rahasia Dua Hati


Seraut kabut membuat rindunya menyala
Dalam nada irama debar tak tertakar
Iapun terbakar ketika disebut dalam doa
Yang selalu terurai tanpa makna

Ia tergetar karena tak sabar
Tetapi ia tak mengerti kenapa kabut menyisip
Tanpa ia tau kenapa dan mengapa
Begitu saja tiba-tiba langit gelap
Hujan pun turun

Rasa itu tak pergi-pergi
Menyahut jiwa untuk saling terpaut
Ke dalam dekapan doa mereka berpeluk
Hanya Tuhan dan mereka yang tau

Depok, 2015


Laki-laki


Menitik airmata ketika mengingatnya
Laki-laki dalam diamnya menyimpan segudang kasih
Maafkan aku,
Yang tak mampu membantumu
Berjalan sendiri tanpa arah yang pasti

Kutatap mata teduhnya
Banyak cerita tersimpan disana
Sebuah misteri kehidupan di dalam hati
Laki-laki tak berdaya pada takdir yang diterima

Hhhmmm...
Hanya hela nafasnya
Yang mampu bertahan
Demi hidup yang diperjuangkan

Depok, 2015


Subuhku Indah


Ada ketenangan saat kupeluk diri-Mu dalam doa
Nafasku adalah asma-Mu
Darahku adalah Ruh-Mu

Kau yang merasuki jiwaku
Dengan segenap cahaya indah-Mu
Aku tak mampu bersandar
Jika bukan karena-Mu

Pujian dan rasa syukur selalu menjadi rahmat
Hingga hidayah-Mu terasa nikmat

Ach... ach... lena-Mu indah
Membuatku tak ingin beranjak meninggalkan-Mu
Damai hati tentram jiwa
Pada dinding waktu yang berlalu

Jakarta, 2016


Maaf


Aku berhenti bertanya kepada diriku sendiri
Aku berhenti menanyakan mengapa begitu?
Banyak hal sudah terjadi

Aku berhenti menunggu hal-hal itu berubah
Aku berhenti untuk lebih memahami,
Mengerti
Memang aku terkalahkan
Aku selalu memaafkan
Jika memang sudah takdir Tuhan

Depok, 2015


Ade Novi,
lahir di Depok 10 November. Menulis adalah kegiatan yang ditekuninya sejak duduk di bangku kelas 2 SMP. Meski belajar secara otodidak, tetapi puisi dan cerpennya kemudian dapat dimuat diberbagai media dan majalah remaja ibukota sejak tahun 1989. Pada tahun 2010, media Radar Depok memuat cerbungnya yang berjudul Jakarta Malaysia. Pada tahun 2014, bersama 22 penulis dari gabungan 3 negara (Indonesia, Malaysia dan Singapura) dia juga ikut terlibat menulis antologi puisi Bebas Melata. Juga termasuk salah satu  penulis  pantun bersama 105 penyair dari negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand. Ia juga menulis dalam antologi puisi dengan penyair nusantara, serta antologi puisi bersama Dapur Sastra Jakarta (DSJ). Ia sebagai salah satu anggota Dewan Kesenian Depok (DKD) di komite sastra.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us