Menabuh Gemuruh Kompang

31 Oktober 2016 - 09.51 WIB > Dibaca 1166 kali | Komentar
 
Menabuh Gemuruh Kompang
Agar tetap riuh tabuhnya. Agar tetap terjaga tengkahnya. Wariskan bunyinya. Wariskan seninya. Biar yang lama tetap baru. Tak hilang ditelan waktu. Khazanah negeri tetap bermutu. Turunkan hingga ke anak cucu.
-------------------------------------------

LAMA
tak berarti kuno. Lama justru jati diri. Mesti dijaga. Dilestarikan. Diturunkan dari generasi ke generasi. Agar tak hilang ditelan bumi. Begitu saja. Atau musnah tak berjejak. Apalagi ianya wariskan dari zaman ke zaman. Seni yang melambangkan kebudayaan. Jati diri anak Melayu. Diturunkan. Digemuruhkan tabuhnya. Diperbanyak bunyinya. Semakin riuh. Semakin gaduh. Kompang dipukul, dendang dilantun.

Pelestarian nilai-nilai budaya seperti kompang ini terus dilakukan. Memang, permainan alat musik klasik ini, di sebagian tempat, hanya dikuasai oleh orang-orang tua. Tapi di sebagian tempat, ianya dimainkan dengan bebas oleh siapa saja: orangtua, anak-anak, kaum lelaki maupun perempuan. DiKabupaten Siak Sri Indrapura, misalnya. Kompang di kota ini semakin berdengung. Semakin ditabuh dan riuh. Diajarkan tiada henti kepada anak-anak sekolah. Serentak. Meriah. Hingga mampu memecahkan rekor MURI tahun ini.

Kompang adalah salah salah satu alat musik tradisional Melayu. Selain kompang ada gendang, kordeon, gambus, rebana ubi dan gong. Kompang merupakan alat musik paling populer  kayu disebut baluh di tanah Melayu karena sering digunakan dalam banyak perhelatan. Mulai dari pesta perkawinan, penyambutan hingga pawai kemerdekaan.

Kompang termasuk alat musik gendang; dipukul mengeluarkan bunyi. Biasanya terbuat dari kulit kambing betina. Tapi, sekarang banyak juga dibuat dari kulit lembu dan kerbau. Ada juga getah sintetik. Semakin bervariasi. Tapi tetap dipukul dengan tangan untukmenghasilkan bunti. Tetap banyak jumlahnya agar tetap bergemuruh bunyinya.

Kompang terdiri dari dua bagian. Bagian kulit disebut muka dan bagian badan antara keduanya perlu alat penegang dari rotan yang disebut sedak. Dengan sedak bunyi kompang akan lebih sedap didengar. Sebelum memainkan alat musik ini, pemain kompang agar terlebih dulu memperhatikan apakah bunyi kompang sudah merdu atau belum dengan memperkuat sedak tersebut.

Meski kompang bisa mengeluarkan bunyi dengan ditepuk atau dipukul, tapi selalu tidak sama. Sekali bunyi besar, sekali bunyi kecil. Sekali bunyi keras, bisa juga lirih. Ini dikarenakan cara pukul. Posisi telapak tangan saat memukul kompang akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Buka tutup, beda cara buka tutup telapak tangan, juga menghasilkan bunyi yang tidak sama.

Paluan kompang juga bermacam. Ada yang tradisional, ada yang modern atau kreatif. Paluan tradisional selalu diiringi dengan nyanyian. Senandung seperti salawat. Sedangkan paluan modern selalu diiringi dengan tarian. Sangat beragam. Tergantung seperti apa gerak yang dihasilkan, kompang mengikut dalam rentaknya sehingga seimbang. Padu padan yang membanggakan.

Kompang sendiri awalnya berasal dari Arab. Masuk ke tanah Melayu dipercayai pada masa kesultanan Melaka oleh pedagang India Muslim atau melalui jawa pada abad 13 oleh pedagang Arab. Semakin

Menabuh Gemuruh Kompang

lama semakin melekat di hati orang Melayu. Semakin asyik dipelajari. Semakin asyik didendangkan. Dan mudah dipelajari karena hanya mengandalkan pukulan tangan dan nyanyian pengiring.

Kompang di Riau, muncul di tanah Melayu, Kabupaten Bengkalis. Kompang di Bengkalis dipercayai berasal dari Kampung Jawa, Moar, Johor Malaysia. Ia telah berkembang sejak tahun 40-an. Siak dulunya tergabung dengan Bengkalis. Tak heran, saat telah menjadi kabupaten sendiri, kompang di sini juga terus berkembang.

Karena perlu bakat dan keahlian khusus dalam menabuh kompang, semakin tahun, semakiin hari, semakin waktu, penabuh kompang semakin berkurang. Anak-anak muda semakin lupa.Lebih senang dengan musik modern. Elektrik, gaul dan penuh gaya. Sebagai alat musik tradisional yang memerlukan orang banyak untuk menghasilkan keindanhan bunyi, kompang semakin jauh. Tak banyak peminat. Dianggap sulit,rumit dan tidak kekinian.

Kondisi inilah yang membuat pemerintah Kabupaten Siak, terus melakukan upaya agar kompang senantiasa dilestarikan. Terjaga keberadaannya. Diterima generasi berikutnya. Maka, kompang diajarkan kepada seluruh anak didik. Seluruh siswa. Jumlahnya ribuan. Diajarkan melalui guru dan orang-orang yang ditunjuk mampu. Ditabuh bersama. Dipukul sempurna. Dan, bergemuruhlah langit negeri istana.

Lagi, agar melekat di hati masyarakat tentang pentingnya menjaga khazanah negeri, kompang tidak hanya dipukul. Tidak hanya sekedar dipelajari. Tapi ditaballkan dan diabadikan melalui rekor MURI. Sebanyak 2.676 pelajar mebanuh kompang bersamaan. Satu pukulan. Satu irama. Satu tujuan agar ianya tetap terjaga sepanjang zaman.

Agar tetap tidak jauh dari kekinian, kompang dipadu-padankan dengan kegiatan lain. Dipukul dalam perhelatan besar. Bertaraf internasional. Diikuti peserta asing dari berbagai negara. Salah satunya pembukaan balap sepeda antar negara dalam kegiatan Tour De Siak beberapa waktu lalu. Ini dilakukan juga untuk memperkenalkan kepada dunia, bahwa, kebudayaan dan kesenian Melayu tradisional tetap terjaga utuh dalam era globalisasi saat ini.

‘’Yang baru boleh datang. Tapi yang lama jangan ditinggalkan. Kompang harus dilestarikan. Sebagai kebudayaan Melayu, khazanah negeri ini harus senantiasa dijaga. Tidak boleh putus generasi. Anak-anak juga harus belajar kompang. Agar lebih abadi, kita sematkan melalui rekor MURI,’’ kata Bupati Siak, Syamsuar.

Komitmen pemerintah seperti ini sangat mendukung agar kompang tetap terjaga keberadaannya. Sudah pasti, pengrajinnya semakin mendapat tempat untuk terus membuat kompang itu terdengar bunyinya. Ada pembeli, ada barang, ada kemajuan ekonomi. Tidak dalam sekali helat, tapi banyak kegiatan yang bisa dimeriahkan dengan kompang. Mylai dari pesta kecil di tengah masyarakat hingga pemerintahan. Tak heran, jika kompang juga banyak dijual di toko-toko besar di tengah kota.

‘’Tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi para pengrajin kompang, yang lebih penting bagaimana anak-anak kita saat ini tidak asing dengan kopang. Sekarang zaman modern, alat musik serba modern, ditambah informasi global yang luar biasa. Kalau tidak diajarkan, anak-anak tidak tahu lagi apa itu kompang. Kalau tidak, bisa putus generasi. Ini yang tidak kita mahu. Harus dijaga, harus dilestarikan dengan berbagai upaya,’’ sambung Syamsuar.***

Laporan : KUNNI MASROHANTI, Siak Sri Indrapura                                                 kunnimasrohanti@riaupos.co.id
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us