ESAI SASTRA

Tradisi Plagiat Penulis Instan

6 November 2016 - 00.33 WIB > Dibaca 1420 kali | Komentar
 
Oleh Untung Wahyudi

AKTIVITAS menulis bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan perjuangan dan kegigihan seseorang yang benar-benar ingin menerjuni dunia menulis. Dewasa ini aktivitas menulis seolah-olah merupakan pekerjaan yang diincar banyak kalangan. Dari mahasiswa, guru, dokter, dosen, dan lainnya berlomba-lomba untuk menulis, baik buku maupun tulisan kreatif semacam cerpen atau opini di media massa. Hal ini semakin meyakinkan bahwa, selain untuk menyampaikan gagasan dan olah pikiran, menulis adalah kegiatan yang dianggap bisa mendatangkan penghasilan.

Namun, terkadang ada calon penulis yang tidak mau berlelah-lelah untuk menjadi seorang penulis yang benar-benar berkualitas dan diandalkan, terutama oleh penerbit yang, mungkin, suatu saat bisa meroketkan namanya sebagai penulis terkenal. Mereka ingin jalan pintas atau instan hanya agar dianggap sebagai penulis. Padahal, menulis membutuhkan riset, waktu, tenaga, bahkan modal materi untuk membeli buku sebagai referensi pendukung tulisan.
Penulis yang malas berusaha tersebut lazim dikenal sebagai “penulis karbitan”, yang ingin menjadi penulis dengan cara mudah, tanpa harus berlelah-lelah dan berdarah-darah. Padahal, kalau kita mau belajar dari penulis-penulis ternama, mereka berkali-kali jatuh dan gagal sebelum akhirnya karyanya dikenal masyarakat. Sebut saja JK Rowling, penulis novel fenomenal Harry Potter. Sebelum fenomenal, novel Rowling tersebut ditolak banyak penerbit.

Namun, tahun 1997 nasibnya berubah total ketika penerbit Inggris, Bloomsbury Press, menerbitkan buku Harry Potter yang pertama; Harry Potter and the Philosopher’s Stone, begitu juga buku-buku selanjutnya (Pustaka Annida, 2004).

Begitu juga yang dialami Mahfud Ikhwan, pengarang novel Kambing & Hujan. Sebelum novel yang mengangkat kisah cinta yang bersinggungan antara NU dan Muhammadiyah itu keluar sebagai pemenang pertama Sayembara Menulis Novel DKJ 2014, Mahfud Ikhwan sudah pernah menawarkan novel tersebut ke beberapa penerbit. Dan, tak satu pun penerbit yang merespons tawaran tersebut. Tapi nasib berkata lain. Novel roman yang sebentar lagi akan diadaptasi ke layar lebar tersebut berhasil memenangkan sayembara novel bergengsi di negeri ini.

Rasa malas melakukan riset dan ketidaksabaran calon penulis justru bisa menjadi bumerang bagi karir kepenulisannya ke depan. Karyanya bisa jadi hanya menjadi karya mentah dan kering karena tidak berhasil menarik masyarakat untuk membacanya. Karya yang dihasilkannya sering kali hanya jadi “buku pesanan” penerbit yang ujung-ujungnya diobral ketika bukunya baru terbit dalam hitungan bulan. Padahal, jika mau bersungguh-sungguh, mereka bisa menggarap tulisan (buku) yang sesuai dengan kemampuan atau bidang yang digelutinya.

Masalah ini pernah disinggung Ali Usman dalam tulisan berjudul Buku, Penulis, dan Pasar (Jawa Pos, Oktober 2015). Menurutnya, banyak buku sejenis cara sukses menjawab soal ujian CPNS, tetapi isi di dalamnya tidak menjelaskan layaknya buku how to, tapi berisi kumpulan soal CPNS yang pernah diujikan pada tahun-tahun sebelumnya. Atau, buku tentang kesehatan/kedokteran yang ditulis sarjana (bahkan masih berstatus mahasiswa S-1) agama.
Budaya Plagiat dan copy paste

Perilaku malas membaca dan melakukan riset juga bisa menjerumuskan penulis ke lembah plagiarisme. Hal ini sudah banyak terbukti. Baru-baru ini di media sosial heboh tentang plagiat yang dilakukan seorang penulis cerpen pemula. Penulis yang masih berusia muda tersebut memplagiat secara utuh sebuah cerpen yang pernah dimuat Story Teenlit Magazine, majalah cerpen remaja yang sudah berhenti terbit sejak pertengahan 2014. Si plagiator terbukti hanya mengganti judul dan nama penulis. Sebuah perilaku yang tak laik dilakukan, apalagi bagi seorang pemula yang menggebu-gebu menjadi penulis instan.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa budaya plagiat ini juga terjadi dalam penulisan buku. Seorang penulis yang malas melakukan riset bisa jadi juga tergoda untuk melakukan copy-paste, baik dari buku-buku, lebih-lebih dari internet yang bisa diunduh dengan mudah. Hal ini juga yang membuat banjirnya buku-buku how to, agama, keterampilan, dan semacamnya yang sedang tren, dari penulis-penulis baru yang sebelumnya belum pernah menerbitkan buku.

Dalam bukunya berjudul Declare!: Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007), Adhe menyatakan bahwa, tren buku dan tingginya tingkat penjualan buku dengan tema-tema tertentu telah mendorong beberapa penerbit untuk ikut mencicipinya walau dengan cara-cara yang menafikan produk mereka. Misal, lakunya buku-buku panduan tes psikotes telah melahirkan buku-buku yang isinya satu sama lain serupa namun berasal dari sekian penerbit yang berbeda. Proses penerbitannya dilakukan dengan mengambil dari buku-buku psikotes yang sudah ada, lantas mencantumkan nama penulis asal-asalan dan bisa siapa saja.

Lebih lanjut Adhe menegaskan bahwa akibat dari penggunaan cara-cara semacam itu maka muncullah beberapa kecenderungan buruk yang dilakukan oleh penerbit dan penulis (dalam hal ini Adhe melakukan riset untuk penerbit Jogja). Di antaranya adalah ditemukannya cara penulisan dan penerbitan yang sembrono karena tidak mencantumkan sumber tulisan, munculnya nama-nama anonim yang merupakan rekayasa penerbit, adanya penulis yang menjual berbagai naskah buku bertema tertentu ke penerbit dengan isi yang hampir sepenuhnya sama karena hasil otak-atik, dan tidak ada proses penulisan yang dilakukan oleh penulis atau penerbit selain sekadar menganyam dari berbagai sumber yang sudah beredar (Adhe, 2007).

Di sinilah pentingnya usaha keras dan kesabaran bagi calon penulis. Bahwa untuk menjadi penulis yang karyanya ditunggu-tunggu pembaca harus melalui proses yang panjang dan berliku. Jika semua itu sudah dilalui, bukan hal mustahil jika suatu saat ia akan sukses seperti Tere Liye, Habiburrahman el-Syirazy, Andrea Hirata, Asma Nadia, dan penulis Indonesia lainnya yang karyanya banyak diincar penerbit dan ditunggu pembaca.***

Penulis merupakan lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya. Tulisannya dimuat di berbagai media di Indonesia.







KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Sinergi Pemerintah-Swasta Tingkatkan Pendidikan Karakter Guru

Kamis, 15 November 2018 - 15:01 wib

Bulog Tawarkan Beras Berkualitas dan Murah

Kamis, 15 November 2018 - 15:00 wib

Banjir di Inhu Kembali Makan Korban

Follow Us