ESAI SASTRA

Teori Psikoanalisis Sastra dalam Kumcer Pulau Hikayat

6 November 2016 - 00.38 WIB > Dibaca 1150 kali | Komentar
 
Oleh Alam Terkembang

Salah satu ruang pembahasan pada teori psikoanalisis sastra yang cukup menarik adalah studi psikologi seorang pengarang bila dikaitkan dengan karya sastra yang dihasilkan. Proses analisa psikologi seorang pengarang bisa terlihat dari bagaimana ia menyajikan sebuah karya serta apa saja yang ada pada tulisannya. Pikiran manusia terkadang berada dalam kondisi sadar dan alam bawah sadar. Pada kondisi alam bawah sadar itulah imajinasi mulai berkembang. Alam bawah sadar itu pula yang akhirnya menyublim dalam proses kreatif seorang pengarang, misalnya dalam menciptakan tokoh.

Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, adalah seorang yang menghargai kebudayaan, menyukai seni, dan gemar membaca sastra sejak muda. Tidak heran kalau kemudian ia menjadikan sastra sebagai medan penelitian sekaligus ilustrasi untuk membuktikan teori-teori yang dikembangkannya. Dalam karya-karya sastra besar, misalnya Oedipus (Sophokles), Hamlet (Shakespeare), dan The Brother Karamazov (Dostoyevsky), Freud menemukan tipe-tipe manusia yang menyerupai dan sesuai dengan pemikirannya. Psikonalisis lahir dari penelitian tentang mimpi. Ketika menganalisis mimpi-mimpi pasiennya, Freud menemukan bahwa mimpi bekerja melalui mekanisme atau cara kerja tertentu, dan ternyata mekanisme mimpi itu mirip dengan pola yang terdapat dalam karya sastra. (Asep Sofyan, 2009)

Karya Freud yang cukup bisa dijadikan sebagai analogi pada pembahasan kali ini adalah Das Unheimliche (Keanehan yang Mencemaskan), terbit tahun 1919. Di sini Freud mengangkat sebuah efek atau kesan yang kerap dirasakan pembaca ketika menikmati karya sastra tertentu yang bersifat tragik atau horor, yaitu perasaan cemas, takut, atau ngeri. Meskipun perasaan yang mencemaskan itu muncul, anehnya pembaca tetap menyenangi dan menikmati karya sastra demikian, (Asep Sofyan, 2009).

Teori psikoanalisis sastra yang cukup menarik ini dapat pula kita terapkan dalam mengapresiasi sebuah buku kumpulan cerpen milik cerpenis Riau, berjudul Pulau Hikayat karya Fathromi Ramdlon. Kondisi psikologi pengarangnya terekam jelas dalam setiap naskah cerpen yang ia tulis. Membaca cerpen-cerpen dalam buku Hikayat Pulau akan membuat kita teringat dengan ucapan Freud, “Penyair bertindak seperti anak-anak yang bermain, dan menciptakan dunia imajiner yang diperlakukannya dengan sangat serius, dalam arti bahwa penyair melengkapinya dengan sejumlah besar pengaruh, seraya tetap membedakannya dengan tegas dari realitas.”

Cerpen-cerpen yang begitu mudah ditafsirkan dengan teori psikoanalisis sastra dalam kumcer Pulau Hikayat ini diantaranya Imaji Mimpi Aneh, Hikayat Kematian Sungai, Ketam, Malaikat, Moon dan beberapa cerpen lainnya. Sangat jelas pergelutan imajinasi, mimpi dan alam bawah sadar yang mempengaruhi proses penggarapan cerpen-cerpen tersebut di tangan pengarangnya. Seolah ada yang tersembunyi pada setiap ide yang dijabarkan, dengan balutan bahasa-bahasa ringkas dan memancing imajinasi yang lebih matang dari pembacanya.

Cerpen-cerpen tersebut seolah menjadi refleksi nyata pada pengalaman empirik penulis yang bisa jadi dipengaruhi banyak faktor eksternal seperti apa yang ia saksikan, apa yang ia dengar, apa yang ia rasakan selama hidupnya, baik di masa kini ataupun masa yang telah lampau. Berikut sebuah paragraf contoh yang bisa kita amati.

Ia menginginkanku mati. Ia hendak membunuhku. Dengan caranya sendiri. Ia serupa orang munafik, punya banyak topeng dan kalimat berbunga-bunga untuk menarikku ke sumur kematian. Kata-katanya menyihir, menyeret unsur-unsur kehidupan agar tunduk pada keputusasaan. Tak ubahnya iblis. Tak heran jika suatu ketika di malam beku, aku tak mau tidur karena aku tahu ia akan datang lagi (Cuplikan cerpen Membunuh Ilusi dalam Kumcer Pulau Hikayat)

Di dalam beberapa cerpen dalam buku Pulau Hikayat tersebut, tampak proses kreatif dengan teknik asosiasi bebas yang dilakukan oleh pengarang, yakni pengarang yang menggunakan teknik asosiasi akan menuliskan apa saja yang masuk ke dalam pikirannya. Seringkali dalam melakukan asosiasi ini, pengarang mengingat-ingat segala kejadian yang pernah dialaminya, khususnya kejadian di masa anak-anak, atau memunculkan kembali pikiran-pikiran dan imajinasinya yang paling liar. Itulah dorongan id yang sedang dipanggil kembali. (Asep Sofyan, 2009).

Selain psikoanalisis sastra yang bisa terlihat dalam kumcer Pulau Hikayat, secara umum cerpen-cerpen di dalam buku ini memiliki kekuatan alur yang cukup baik. Cukup padat dan mampu memanfaatkan dengan baik setiap konflik yang dibangun. Hal ini menunjukkan potensi penulis yang cukup baik dalam menggarap sebuah karya sastra prosa, apakah nantinya cerpen ataukah novel. Akan tetapi pembaca akan tetap disuguhi berbagai misteri, keanehan dan sedikit rasa horor dalam menyelesaikan pembacaan karya-karya penulis bersangkutan.

Kuhampiri pintu depan, dan kurasakan ada bayangan bergerak di kaca jendelanya. Bukan bayangan pohon. Bukan bayangan anak kucing milik tetangga sebelah. Bukan. Perlahan kubuka pintu, dan saat itu aku nyaris lupa tujuan awalku ada di situ. Seseorang. Berwajah  lelah, di tangan kiri memegang seikat kertas. Ia berkedip beberapa kali ketika melihatku. Wajahnhya seakan tak percaya padaku yang berdiri, yang nyaris lupa tujuan awalku di sini (Kutipan Cerpen Membunuh Ilusi).***



KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Follow Us