CERPAN LIDYA NAHKLUZ PETROVASKAYA

Gadis di Bawah Hujan

6 November 2016 - 00.43 WIB > Dibaca 2040 kali | Komentar
 
Gadis di Bawah Hujan
HUJAN rintik-rintik. Bawa angin pinggir jendela. Ia tegang bagai boneka kayu. Menatap kosong hujan itu. Ia berangan-angan. Jika suatu hari ia bisa seperti hujan. Turun ke bumi tanpa beban. Tak punya cerita. Meski hidupnya berat. Namun, itu  tidak mudah. Karena  masalah tak juga sudah. Hujan sore  cerminan banyak makna. Sadar akan itu, ia menyakini bahwa perjuangan bukanlah  omong kosong. 

Di luar  dingin. Tapi, hatinya remuk-redam. Bikin tak betah. Dari mata beningnya, hujan menguras kenangan. Masa kecil bersama  orangtua dan teman sebaya. Saat cinta tumbuh dalam kasih sayang tanpa pamrih. Kenangan tersebut  buat  ia  menangis. Meneteskan air mata kerinduan. Semenjak Ibu meninggal, ia hidup dalam kenangannya sendiri.  Terasa makin kosong. Rasa itu telah terluka dari waktu ke waktu.

Angin menuai kencang. Menumbangkan pohon di luar. Mengiring  hujan masuk rumah.  Ia terkejut.  Hujan melumuri wajahnya. Menyentuh  rambut dan pipi.  Kejadian tersebut   cukup buatnya benci.  Kabar yang ia terima perihal pernikahan Ayah bikin jiwanya berontak. Ia tak mampu menerima kabar ini. Rindunya terpecah-pecah. Pupus seluruh kenangan indah. Berita  ini telah melanggar sebuah perjanjian. Janji sehidup-semati. Ibu dan Ayahnya. Sayang! kebimbangan ini tak mampu ia usir. Membatalkan niat Ayah justeru melahirkan masalah baru. Ia takut dicap anak durhaka. Walau, ia bukan satu-satunya anak ayah. Akhirnya, ia bingung. 

Sebenarnya, bukan itu yang menjadi buah pikiran Kia. Ia tak lagi mau memikirkan perihal ayahnya itu. sudah habis waktunya untuk mengenang semua itu. Kini, beberapa hari ini ia teringat teman lama, Nita. Entah mengapa semua itu terjadi tiba-tiba. Saat hujan datang menemaninya sendiri di rumah waktu itu.

Kia tak mau berlama-lama memikirkan hal ini. Semakin lama ia berpikir, semakin pikirannya pusing. Ia ingin membuang sementara perihal kabar tersebut. Bersama hujan, ia ingin berbagi. Dan alam dianggap teman sejati.

Wajahnya tegak dengan langit. Melihat titik hujan menimpa atap rumah. Suara bulir hujan menimbulkan irama. Mendamaikan resah. Ada kesan bahagia yang ia tangkap dari suara itu. Dalam hati ia berdoa, moga masalahnya cepat selesai.    

  Pikirannya tenang. Sedikit mendinginkan suasana. Namun, tiba-tiba  badanya kaku. Kaki dan tangannya jadi batu. Ia tak mampu bergerak sedikit pun. Melangkah saja seperti menyeret beban berat. Ia mencoba untuk memertahankan tegak tubuhnya. Agar tak limbung. Mencari tempat bersandar. Dekat dinding samping jendela. Pelan namun pasti, ia melangkah dan meraih sesuatu. Mendekati sebuah meja. Mengambil benda yang ada di sana. Sebuah telepon. Ia seperti ingin mengalihkan perhatian pada benda itu.  Kia ingin menghubungi seseorang di luar sana. Teman lama yang sering mendengar keluhannya. Dengan tersiksa, ia berhasil  meraih  telepon.  Dan mencoba menghubungi temannya tersebut. 

“Hello.......! katanya lembut. Nit, bisa nggak kamu datang ke rumahku. Aku ingin minta tolong!” serunya tegas.

Ia menanti jawaban. Agak lama. Telepon itu panas di tangannya. Mungkin karena hujan maka signal penerima jadi tak bagus. Ia mengerti keadaan ini. Dan berusaha bersabar menunggu jawaban dari seberang. Di tempat lain, Nita terburu-buru masuk rumah. Ditujunya suara telepon yang berdering sejak tadi. Atas meja kamar depan.

“Maaf....! aku baru sampai rumah Kia. Kebetulan di kampus ada kegiatan. Kamu mau apa nelepon aku? Kok tumben nelepon!” seru Nita.

“Nggak penting amat kok! Cuma aku pingin kamu datang ke rumah. Bukan sekarang. Maklum sekarang hujan di sini. Kamu bisa datang setelah hujan reda atau besok hari.”

“Oh! Bisa. Nanti aku kasitahu kedatanganku. Makasih!”seru Kia memotong.

Nita adalah teman karib semenjak SMA. Baginya, Nitalah teman satu-satunya yang mengerti keadaan dirinya. Semua yang dialami dan ia rasa selalu ia curahkan pada temannya itu. Meski sebuah rahasia. Tak ada yang mengantikan posisi Nita dalam hidupnya sekarang. Nita begitu berarti baginya. Nitalah yang memberi semangat hidup baru. Tanpa dukungan Nita, Kia yakin ia entah jadi apa sekarang.

Hujan mulai reda. Angin pun tak banyak tersisa. Kia masih terpaku di meja telepon. Tertegun melihat keadaan luar. Sungguh! Hujan begitu lebat sehingga ia tak sadar kalau sebagian permukaan tanah tenggelam oleh air. Hanya pohon besar  yang masih bisa tegak. Sedang,  lebihnya sudah tumbang. Ia  bangkit.  Bergerak menuju depan pintu. Berdiri angkuh. Melihat luar rumah.

Seminggu sudah Kia tak ke mana-mana. Hujan kemarin telah menghancurkan   seluruh permukaan tanah. Banyak kerusakkan yang terjadi. Baik di rumah maupun di jalan. Ia harus memerbaiki dan mengemas rumahnya kembali. Untung hujan tak bawa banjir besar. Kalau tidak kebimbangannya mungkin saja belum berakhir sampai kini. Kabar tentang ini tak lupa ia sampaikan pada Nita. Nita jadi penasaran untuk melihat apa yang telah ia alami. Sambil menunggu temannya itu, Kia duduk di beranda. Menikmati pagi hening.  
 
Pintu diketuk tiga kali. Pelan. Kia yang sejak tadi duduk langsung menuju ke suara itu. Ia seperti tak sabar meraih gagang pintu. Dengan sigap ia berdiri. Menyambut temannya itu. Namun, orang yang ditunggu-tunggu selama ini ternyata tak ada depan mata. Ia kecewa. Tertunduk lesu. Di depan tamu itu, Kia terdiam tak peduli. Sesaat orang asing itu mengeluarkan sepucuk surat. Kini, baru ia sadar bahwa tamunya itu sudah begitu lama mematung. Ia mengucapkan sepatah kata padanya. Sambil minta maaf. 

“Surat dari siapa Bung! Kamu baca sendiri. Saya tak bisa mengatakannya. Karena sudah janji sama yang buat surat. Kewajibanku hanya menyampaikan surat ini.”

“Oh,ya! Terima kasih. Nggak apa-apa. Nanti juga saya akan tahu siapa pengirimnya. Sama-sama,” kata pembawa surat.

Orang itu lalu menghilang. Tak ada kesan bahwa ia sahabat Nita. Karena selama ini, tak pernah sedikit pun Nita memberitahu perihal laki-laki dalam hidupnya. Kia tak mau peduli tentang ini. Fokusnya sekarang hanya pada surat yang ada di tangan. Dibukanya surat itu. Ia langsung menuju isi surat.  Membacanya dengan seksama.

Kia...temanku!

Ini mungkin surat terakhir dan terbaik untukmu. Apa yang kutulis di dalamnya semua memang demi kamu dan persahabatan ini. Meski aku tahu sekarang kamu kecewa. Kecewa, karena aku tak bisa menempati janji padamu.

Kia, sebenarnya aku tak mau kamu terus terluka.  Karena aku tahu kau sudah banyak mengalami dilema. Makanya aku tak membuka rahasia diriku padamu. Apa yang aku alami, biarlah aku sendiri yang merasakannya. Aku nggak mau masalahku bikin kamu banyak mikir. Aku yakin, pada suatu saat kau juga akan tahu apa yang telah terjadi.

Kia tercenung. Ada cahaya redup di matanya. Perasaan jadi tak enak. Ia jadi menyangka yang tidak-tidak. Ia kembali membaca surat itu.

Kia, maafkan aku! Aku terpaksa berbohong padamu kemarin. Ketika kamu meneleponku. Sebenarnya aku tak punya kegiatan apa pun waktu itu Aku memang baru saja pulang, tapi bukan dari kampus, melainkan check up ke dokter spesialis penyakit dalam. Memeriksa kembali kesehatanku. Karena aku telah mengalami hal ini jauh sebelum aku mengenalmu. Aku takut kalau kecewamu semakin panjang. Aku tak mau kau jadi tambah drop! Makanya surat ini aku tulis buatmu.

Kia membisu. Badannya tak mampu bergerak. Kaku. Tanganya gemetar. Wajahnya pucat. Bibirnya berat terbuka. Ia hilang kosentrasi. Lunglai menutupi tubuhnya. Namun, ia  ingin tahu  pasti apa yang telah  terjadi pada temannya itu.  Ia kembali membaca surat itu.  Agak dalam.

Kia, aku mengidap kanker payudara akut. Oleh dokter usia dabatas hidupku tidak lama. Surat ini kubuat menjelang kepergianku selamanya. Semenjak aku mengenal penyakit ini, aku jadi minder....Kia! Tapi setelah kamu ada, semua pikiran jahatku berubah. Aku banyak belajar darimu. Aku banyak tahu bahwa kita semua mengalami hal yang sama. Meski kadarnya berbeda. Makanya, sisa-sisa hidupku kupertaruhkan untuk membantumu sedapat mungkin. Biar kematianku nanti tak  lenyap begitu saja. 

Kia,maafkan...aku sekali lagi! Aku tak bisa menutup rahasia ini selamanya darimu. Dan kalau aku bersikeras menutupinya hingga akhir hayatku, rasanya jiwaku tak akan damai.

Pertolonganku sia-sia, Kia....! aku tahu kamu menangis sekarang. Meski begitu, tangismu itu bisa membahagiakanku. Sebab, aku sudah membuka seluruh kebohonganku padamu selama ini.    

Oh! ya...Kia, kamu pantas juga gembira atas apa yang aku alami  karena akhir dari semua ini aku telah mendapatkan teman istimewa. Teman yang mengerti keadaanku, teman yang bisa diajak sharing dalam situasi yang tak enak ini. Sama seperti aku terhadapmu. Dialah orang yang menberi surat ini padamu. Aku juga sengaja tak membuka rahasiaku padanya. Soalnya aku ingin lihat sampai di mana kejujurannya padaku. Lagian perkenalanku dengannya sangat singkat. Tak ada waktu bagiku untuk menceritakan kebahagiaan ini padamu. Kia...semua ini aku lakukan demi kamu, sahabat setiaku!

Kia...

Mungkin kita berdua adalah ‘the losers’ di mata orang lain. Tapi! sadarkah kamu Kia, bahwa di mata Allah, kita adalah manusia istimewa. Allah memilih kita untuk menghadapi ini. Biarpun buat kita sakit!  Percayalah Kia! tak ada yang percuma di sisi-Nya. Hanya manusia yang tak pernah bersyukur merasa menyesal terhadap apa yang mereka alami. Atas semua itu, hanya keikhlasanlah yang buatku bertahan. Aku ingin kau juga begitu.

Pintaku padamu hanya satu, kamu jangan menangisi semua yang aku alami. Aku bahagia kalau kamu tidak menangis. Aku senang kalau kamu ceria. Karena aku tahu kamu sudah banyak menderita. Aku tak mau lagi mendengar cerita pilumu. Yang aku mahu sekarang, kamu bahagia...dan bahagia! Hiduplah dengan kebahagaianmu saat ini. Sebab usia dan masa depanmu masih panjang. Beda dengan aku. Kalau kamu senang, aku di dunia sana juga akan ikut senang. Hanya ini pintaku.

Sebelum semuanya hilang dari pangkuanku. 

Temanmu, Nita Lovina

Kia tak mampu lagi menahan air mata. Ia benar-benar menangis sedalam-dalamnya. Ini kali kedua ia bisa menangis sehebat ini. Terakhir, saat kematian ibunya. Harapannya sudah hilang. Pikirannya melayang. Kenangan indah tak mampu bertahan.  Ia hanya bisa menunpahkan kesal dalam sepotong  fatihah!

Mungkin, besok ia akan menanti hujan kembali. Bermain bersamanya. Agar jiwanya jadi tenang. Pesan terakhir Nita, ia pegang. Pelindung, baginya jika hujan datang tak sempurna. Meski itu belum hilangkan resahnya...***


Lydia Nahkluz Petrovaskaya 
lahir di Bengkalis. Eks Penggiat Komunitas Pencinta Sastra dan Seni (KOMPENSAS) Bengkalis serta anggota komunitas Forum Aktif Menulis (FAM) di Kediri, Jawa Timur. Pernah memenangi beberapa perlombaan menulis. Di samping menulis, ia menyukai sketsa. Sketsa pertamanya terbit di Harian Riau Pos. Sekarang tinggal di kota kelahirannya.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us