OLEH BENI SETIA

Pagar Betis

6 November 2016 - 00.49 WIB > Dibaca 6723 kali | Komentar
 
Pagar Betis

JUDUL tulisan ini, secara sederhana dan kasat mata, terdiri dari dua kata, pagar serta betis--yang dalam bahasa Sunda lebih dikenal sebagai pager bitis. Dalam bahasa Indonesia, kita menemukan sejumlah gabungan kata (kata majemuk, idiom, atau frasa) yang memuat kata pagar itu, sebut saja, pagar ayu, pagar hidup, pagar desa, pagar negeri. Ada lagi contoh lain, yaitu pagar kawat, pagar besi, pagar tembok, pagar rumah, pagar bambu. Yang lebih “seru” dan “saru” lagi adalah pagar makan tanaman.

 KBBI (1995: 714) mengartikan pagar sebagai: n, barang yang digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat) pekarangan tanah, rumah, kebun, dan sebagainya. Makna leksikal semacam itu lebih sesuai dipakai untuk memaknai kelompok kata (kata majemuk) pagar kawat, pagar besi, pagar tembok, pagar rumah, pagar bambu. Tidak demikian halnya dengan contoh pagar ayu, pagar hidup, pagar desa, pagar negeri, juga dengan  pagar makan tanaman. Kelompok contoh yang ini merupakan kelompok kata bukan kata majemuk, tetapi ungkapan atau idiom. Makna kata majemuk berbeda dengan makna idiom. Idiom pagar ayu berarti ‘barisan penerima tamu yang terdiri atas wanita-wanita cantik;’ pagar hidup berarti ‘ pagar dari pohon kecil, perdu, atau pun semak yang ditanam;’ pagar makan tanaman bermakna ‘orang yg merusakkan barang yg diamanatkan (dititipkan) kepadanya.’ Sementara itu, pagar betis bermakna ‘penjagaan yang ketat’ (KBBI, 2008). 

Pagar betis memiliki sejarah heroik. Ungkapan tersebut dipakai sebagai suatu operasi militer (Operasi Pagar Betis atau Operasi Brata Yudha oleh Kodam VI Siliwangi [kini Kodam III]) untuk menumpas gerakan DI/TII. Vitalitas makna pagar betis itu saya rasakan eksistensinya ketika berusia 10--11 tahun, ketika kelas 3 atau 4 SD pada awal dekade 1960-an di Kabupaten Bandung, Jabar. Ketika itu, ada gerakan bersengaja membatasi gerakan kelompok DI/TII dengan menyudutkan mereka ke gunung dan tak membiarkan mereka bergerak bebas mendapat pasokan logistik, dengan memisahkan desa dan perladangan dari kelompok itu. Setiap  orang dewasa--setidaknya di Jawa Barat bagian selatan yang bergunung-gunung itu--diberi jatah bertugas meronda seminggu (dapat diwakilkan oleh peronda bayaran). Mereka membawa makanan, bebas memasak, serta menghidupkan pos ronda, dan mengawal per-batasan desa, bersenjatakan kentongan dengan ditemani warga setempat (yang disebut OKD). Tugas mereka hanya berjaga, mengamati sekitar, dan memukul kentongan ketika ada gerakan yang disangka kelompok pimpinan Kartosuwiryo. Operasi ini efektif, buktinya, Kartosuwiryo tertangkap, dieksekusi, dan beberapa anak buahnya menyerah serta mendapat amnesti. Namun, apakah filosofi  pengepungan semacam itu selesai?

Saya pikir tidak, empat atau tiga tahun kemudian--pada paruh kedua dekade 1960--, meletus pemberontakan PKI. ABRI bergerak untuk mengatasi nyala pemberontakan itu. Kala itu, mereka tidak menggerakkan rakyat untuk mengisolasi desa, tetapi menyebarkan tentara--ada resimen khusus--yang ditempatkan di satu daerah, dan (mereka) disebar agar menempati salah satu kamar nyaris setiap rumah penduduk. Selain penegakan ronda, kini tentara berada di antara penduduk desa sekaligus memata-matai orang desa. Dengan itu, sedikitnya, mereka juga dapat secepatnya mengetahui kedatangan orang asing, yang dicurigai dan bisa segera diteliti identitasnya. Terjadilah apa yang disebut dengan pengamanan aktif, dengan menjadi orang setempat dan bertindak sebagai pribumi.

Ini mungkin ada kaitannya dengan pendekatan militer. Mereka memanfaatkan perangkat struktural desa sehingga tangan pemerintah yang biasa cuma sampai ke desa lebih jauh sampai di dusun, bahkan kini lebih merasuk sampai ke RW-RT. Konon, pola ini dikembangkan oleh tentara pendudukan Jepang di Indonesia. Meski Orba pernah melakukan upaya pendekatan keamanan (security approach) lebih merasuk lagi, yaitu dengan membagi wilayah RT menjadi wilayah dasa-wisma (sekelompok rumah/KK diberi tanggung jawab keamanan dengan salah seorang menjadi ketua dan kepala keamanan). Pola serupa ini benar-benar merupakan kewaspadaan dan pengepungan subversif yang mirip konsep pagar betis. Untunglah program ini tak berjalan dengan mulus karena bencana kurs dollar yang tak tertangani sehingga rupiah terpuruk dan kesejahteraan ekonomi hancur. Kondisi politik saat itu tidak bisa ditata lagi. Isu kebangkitan PKI pun--yang dulu sangat keramat--kini tidak berdaya. Apa arti semua itu?

Ada sebuah cerita wayang nonpakem dan agak ngawur, yang pernah dibaca entah di media apa, perihal pertarungan di antara Bima dan Dursasana. Pertarungan itu awalnya berlangsung seimbang, tidak memungkinkan yang satu bisa segera kalah dan terbunuh, menjadi tidak imbang. Peperangan yang berlangsung lama itu tidak mengganggu Bima walaupun sedang berpuasa, tetapi sangat menyiksa Dursasana. Padahal, Dursasana suka makan enak dan tak biasa berpuasa. Berkali-kali Dursasana kalah, tetapi tak bisa mati karena punya ilmu kebal. Akhirnya, para saudara Pandawa yang lain mengisyaratkan kelemahan Dursasana yaitu di kaki kiri di titik yang tidak terbasahi ketika mandi. Apabila titik itu dipukul, Dursasana akan mati. Itu memang terbukti. Mari kita bandingkan dengan kelompok Kartosuwiryo juga kelompok Santoso. Mereka menyerah karena tak ada lagi pasokan logistik.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah itu? Apakah mungkin nanti bangsa Indonesia ini jadi bangsa yang patuh karena dibagi kupon ransum oleh kapitalisme asing yang berkelebihan bahan makanan? Meyedihkan sekali! Di titik ini, rasanya kita harus mulai mendidik rakyat untuk berpuasa dan menahan lapar. Apabila tidak, kita akan kalah, seperti Dursasana--meski ia punya ilmu kebal.****

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 15 Desember 2018 - 17:33 wib

Banjir Masih Melanda Desa Buluh Cina Siak Hulu Kampar (video)

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:32 wib

Petani Muda Riau Terima Bantuan Bibit Sapi dari Chevron

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:14 wib

Pelaku Perusak Atribuat Partai Demokrat Diperiksa Penyidik

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:06 wib

Hari Ini, 54 Wartawan PWI Riau Konsentrasi Ikuti UKW

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:00 wib

Aturan Jilbab ASN Tak Berlaku di Riau

Sabtu, 15 Desember 2018 - 14:57 wib

Malam Ini Penentuan

Sabtu, 15 Desember 2018 - 14:39 wib

Truk Tonase Besar "Berjatuhan"

Sabtu, 15 Desember 2018 - 14:13 wib

Hari Ini Batas Akhir Pelunasan Pajak

Follow Us