Oleh: Dessy Wahyuni

Fakta dan Fiksi

14 November 2016 - 09.07 WIB > Dibaca 2355 kali | Komentar
 
Fakta dan Fiksi
KAUM realisme sosialis meyakini bahwa sastra mencerminkan kehidupan atau proses sosial. Pada hakikatnya sastrawan tidak bisa terlepas atau melepaskan diri dari kenyataan sosial. Pengarang tidak sekadar menampilkan kembali fakta yang terjadi dalam kehidupan, tetapi telah membalurinya dengan imajinasi dan wawasannya. Oleh karena itu, meskipun tidak akan sama persis dengan kehidupan nyata, karya sastra sering dianggap dan dijadikan fakta sejarah sehingga lahirlah istilah sastra sejarah.

Sastra sejarah merupakan karya sastra yang di dalamnya terkandung nilai-nilai sejarah atau fakta-fakta sosial yang terjadi dalam masyarakat. Dengan mengandalkan kreativitasnya, seorang pengarang menginterpretasikan peristiwa sejarah pada waktu dan tempat tertentu ke dalam karyanya (sastra sejarah). Dalam sastra sejarah, dengan demikian, fakta sejarah telah diolah (dengan imajinasi dan kreativitas pengarang) dan dituangkan kembali melalui tokoh, seting, dan/atau peristiwa yang dibangun. Mungkin, itulah sebabnya muncul pendapat bahwa sastra sejarah hanyalah suatu upaya untuk merekonstruksi peristiwa sejarah yang pernah terjadi, bukanlah sebuah buku referensi sejarah yang ditulis dengan metode sejarah (Junaidi, “Novel Sejarah: Antara Fiksi dan Fakta” dalam Sastra yang Gundah, 2009).


Dalam tulisannya “Sastra/Sejarah” yang termuat dalam Humaniora, Volume 16, Nomor 1, Februari 2004, halaman 17—26, Kuntowijoyo mengatakan bahwa di Indonesia, sejarah dan sastra menjadi satu dalam mitos sampai awal abad ke-20. Ketika kesadaran mitis itu berakhir, keduanya berjalan sendiri-sendiri. Sekali pun keduanya merekam realitas, tetapi sejarah adalah ilmu, sastra adalah imajinasi. Sejarah dan sastra berbeda dalam struktur dan substansi. Dalam struktur sejarah ada evidensi, informasi, fakta, dan berguna untuk menjelaskan realitas. Dalam struktur sastra ada strukturalisasi kemungkinan, ekspresi, imajinasi, dan berguna untuk mengadili realitas. Sementara itu, substansi sejarah adalah objektivikasi kehidupan karena ia harus sadar akan perubahan. Sastra adalah subjektivikasi kehidupan dan acuannya adalah keabadian. Sejarah, sebagai ilmu, hidup di tengah dunia realitas, pekerjaannya ialah merekonstruksikan realitas itu. Sementara, sastra, sebagai seni, hidup dalam dunia imajinasi, pekerjaannya ialah mengekspresikan imajinasi itu. Sejarah dan sastra berbeda dalam struktur dan substansi.

Struktur di sini adalah construct dalam sejarah dan form dalam sastra. Menurut Allan J. Lichtman dan Valerie French dalam Historians and the Living Past yang dikutip Kuntowijoyo dalam tulisannya tersebut, “Sherlock Holmes dan sejarawan mempunyai banyak persamaan”. Seperti detektif (Sherlock Holmes) yang mengumpulkan bukti untuk mengungkap kejahatan, sejarawan juga mengumpulkan bukti untuk mengungkap masa lalu. Dari seluruh proses metode sejarah, yang paling mirip dengan sastra ialah interepretasi dan eksplanasi. Kuntowijoyo juga mengutip perkataan Lee Benson, sejarawan Amerika, dalam buku karya E.M. Forster (Aspects of the Novel), bahwa mengonstruksikan sejarah sama dengan sastrawan yang membuat plot.

Serpihan-serpihan realitas yang ada, dikumpulkan oleh sastrawan, kemudian ia membuat struktur cerita (plot). Sastrawan mencipta tema, karakter, konflik, serta resolusi konflik tersebut. Jika dalam sejarah, pengalaman (evidence) itu sepenuhnya adalah kenyataan konkret, dalam sastra, pengalaman itu sebagian besar hanya berupa kemungkinan. Oleh sejarawan, realitas yang berserakan berupa pecahan tak teratur ditata kembali agar informasi utuh mengenai realitas yang ada dapat dipahami.

Fakta merupakan tulang punggung tulisan sejarah. Fakta tersebut harus didukung oleh dokumen yang autentik, sedangkan sastra adalah imajinasi tentang realitas itu, bukan realitas yang aktual. Bagi sejarawan, bahan-bahan dalam membuat struktur sejarah tersedia dalam realitas, baik berupa benda, dokumen, maupun ingatan, sedangkan sastrawan harus menciptakan realitas imajiner. Selain itu, dalam penyajian realitas, tugas sejarawan adalah menjelaskan tanpa keberpihakan. Sejarawan harus membiarkan gejala sejarah yang “berbicara”. Namun sebaliknya, sastra memang terlahir untuk suatu nilai, kesadaran, dan kebenaran. Kalau sejarah adalah rekaman tentang perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang terjadi secara nyata, sastra merupakan strukturasi dari apa yang seharusnya terjadi. Paul Goodman (Speaking and Languages: Defense of Poetry, 1971), yang dikutip Kuntowijoyo dalam tulisannya, berkata,  “Writing is not boring. It is the way I pray to God and my present community.” Sastra, sebagai constructed language, harus mengadili gejala-gejala sejarah yang merusak kemanusiaan dan eksistensinya, dan yang tidak bisa diselesaikan oleh ilmu. Sastra adalah komitmen pengarang kepada Tuhan dan kemanusiaan.

Dunia sastra tetap dunia imajinatif. Fakta dalam karya sastra adalah fiksi. Pada hakikatnya, sastra adalah fiksionalitas. Karya sastra merupakan hasil pencampuran antara pengalaman, imajinasi, kecendikiaan, dan wawasan pengarang. Berbagai hal yang dialami pengarang dalam kehidupan ini, direnungkan, dihayati, dan dievaluasi. Kemudian, dengan kemampuan imajinasi dan keluasan wawasan pengetahuannya, pengarang mengungkapkannya kembali dengan menggunakan bahasa sebagai alat.

Meskipun pengarang tidak sekadar menampilkan kembali fakta yang terjadi dalam kehidupan, melainkan telah membalurinya dengan imajinasi dan wawasannya, sehingga teks sastra yang dihasilkan tidak sama persis dengan kehidupan nyata, tetapi tetap saja dalam menghasilkan karyanya, pengarang dipengaruhi oleh lingkungannya. Dalam menghasilkan sebuah karya sastra, pengalaman, pengetahuan, dan wawasan pengarang adalah hal yang sangat menentukan mutu kreasinya.

Sekalipun bersifat fiktif dan imajinatif, sebagai karya yang mengangkat peristiwa sejarah menjadi objeknya, sekurang-kurangnya sastra sejarah memiliki dua manfaat: (1) dari segi pembaca, sastra sejarah dapat digunakan untuk menerjemahkan peristiwa sejarah sesuai dengan maksud dan kadar kemampuan pengarang melalui bahasa imajinernya; dan (2) dari segi pengarang, sastra sejarah dapat menjadi sarana penyampai pikiran, perasaan, dan tanggapannya terhadap peristiwa (fakta) sejarah. Dalam hal yang terakhir ini, sastra sejarah dapat menjadi “dunia” penciptaan kembali sebuah peristiwa (fakta) sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang.

Atas dasar itu, kriteria (harapan) atas sastra sejarah pun ditetapkan oleh para ahli. George Lukacs, misalnya, menulis

Novel sejarah harus mampu menghidupkan masa lampau, yang membuat pembacanya mengalami kejadian-kejadian, merasakan suasana sesuai zaman, berhadapan dengan tokoh-tokoh yang dihidupkan, mengenali perasaan-perasaan mereka, semangat mereka, pikiran-pikiran mereka, dan motif-motif perbuatan mereka. Novel sejarah tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tetapi pengalaman konkret subjektif dalam bentuk gambaran-gambaran (dalam Suharno, “Membudayakan Novel Sejarah”, 2009).

Sementara itu, filosofi penting dalam ilmu sejarah pun mengatakan bahwa masa lampau merupakan pelajaran bagi masa kini dan masa yang akan datang. Apabila berupa kebaikan, masa lampau itu dapat dijadikan contoh untuk masa depan. Sebaliknya, apabila berupa kesalahan, masa lampau itu bisa dijadikan pelajaran agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang telah melahirkan (karya) sastra sejarah adalah kerusuhan Mei 1998. Peristiwa sejarah yang sempat mencoreng nama baik Indonesia dan telah membangkitkan kemarahan dunia itu, oleh sejumlah pengarang, diabadikan dalam sastra sejarah, baik berupa puisi, cerpen, maupun novel. Denny J.A., misalnya, mengabadikannya dalam Atas Nama Cinta (kumpulan puisi, 2012). Salah satu puisinya, “Sapu Tangan Fang Yin”, bercerita tentang kasus perkosaan seorang gadis keturunan Tionghoa pada kerusuhan Mei 1998. Dengan mengambil Jakarta sebagai latar tempat peristiwa, pengarang menggambarkan situasi yang miris: rumah-rumah dibakar, toko-toko dijarah, kerumunan massa membuas, serta perkosaan dan penganiayaan merajalela. Saat itu, Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya pahlawan reformasi.

Puisi karya pengarang kelahiran Palembang, 4 Januari 1963, ini secara gamblang menggambarkan kerusuhan yang terjadi serentak di beberapa kota di Indonesia pada 13 Mei hingga 15 Mei 1998 silam. Puisi yang dapat secara mudah diunduh dari www.puisi-esai.com tersebut berkisah tentang seorang Fang Yin, tokoh fiktif yang digambarkan Denny J.A. Ia mengalami trauma akibat perkosaan yang dialaminya. Melihat putrinya yang terguncang, ayah-ibu Fang Yin—beserta banyak keluarga Tionghoa lainnya—memutuskan untuk keluar dari Indonesia dan pindah ke Amerika. Gadis berusia 22 tahun itu selalu didampingi seorang psikolog selama berbulan-bulan. Setelah tiga belas tahun berlalu, gadis yang dikhianati kekasihnya, Kho, dan sahabatnya, Rina—mereka menikah tanpa sepengetahuan Fang Yin—berusaha untuk menerima kenyataan itu sebagai takdir dan ia harus terus melanjutkan hidup. Meskipun semula gadis tersebut membenci Indonesia, tetapi di akhir cerita ia berpikir untuk kembali ke tanah kelahirannya tersebut dan berdamai dengan masa silam.

Sutardji Calzoum Bachri dalam tulisannya yang berjudul “Satu Tulisan Pendek atas Lima Puisi Panjang” (Acep Zamzam Noor [ed.], 2013:83) mengatakan bahwa “Sapu Tangan Fang Yin” adalah kisah perlawanan Fang Yin ke dalam, terhadap diri sendiri. Tidak seperti beberapa sajak lainnya, puisi ini mengisahkan perlawanan ke luar, terhadap orang lain. Fang Yin yang disibukkan dengan deritanya sendiri sebagai korban kekerasan dan perkosaan, membenci Indonesia, akhirnya bisa melihat sisi positif Indonesia, dan mulai mencintai negeri ini. Hal ini merupakan kisah perjalanan jatuh cinta pada Indonesia setelah sebelumnya melalui berbagai derita, benci, dan kerinduan. Di Jakarta Fang Yin diperkosa, ditinggalkan pacar, mengungsi ke Amerika, setelah tiga belas tahun, ingin kembali ke Indonesia. Klimaks kisah ditampilkan dengan Fang Yin membakar sapu tangan—lambang cinta—pemberian kekasihnya. Kenangan cinta lama dibakar dengan munculnya rasa cinta terhadap Indonesia yang dulu pernah dibencinya.

Begitu pula yang dilakukan Hary B. Kori’un. Melalui cerpennya, “Luka Beku” (dalam Tunggu Aku di Sungai Duku, 2012: 91—100), Hary memaparkan historisitas kerusuhan Mei 1998. Melalui pendekatan historis, dalam cerpen itu terlihat arti dan makna kesejarahan yang diungkapkan pengarang melalui cerita yang disuguhkannya. Peristiwa kerusuhan yang terjadi serentak di beberapa kota di Indonesia cenderung hanya menimpa warga Indonesia keturunan Tionghoa. Ihwal terjadinya pelecehan seksual dan perkosaan massal menjadi sorotan tersendiri, baik di dalam negeri, terlebih lagi di luar negeri, sama halnya dengan penjarahan dan pembakaran, serta tindak kekerasan seksual yang banyak menimpa warga keturunan Tionghoa, khususnya yang berusia muda.

Dengan mengambil Jakarta sebagai latar tempat peristiwa, pengarang menggambarkan situasi Jakarta yang miris. Hary B. Kori’un menggambarkan dalam “Luka Beku”, seperti yang terlihat berikut.

“…Aku memang Cina. Kami semua Cina, apa salahnya menjadi Cina? Apakah karena ada satu Cina yang buruk kemudian seluruh orang Cina semuanya brengsek dan ada pembenaran untuk dijarah, dibunuh, dan diperkosa? Ini benar-benar tidak adil!”

Hingga akhirnya dia menjelaskan, bahwa telah terjadi proses pelepasan naluri binatang ke dalam tubuhnya. Tanpa kemanusiaan. Hanya karena dia Cina. Aku marah semarah-marahnya. Apakah karena dia Cina kemudian ada penghalalan dan pembenaran sebuah agama untuk melakukan perkosaan?

Sementara itu, Ratna Indraswari Ibrahim dan Leila S. Chudori mengemas peristiwa Mei 1998 itu dalam bentuk novel: 1998 (2012) dan Pulang (2012). Bedanya, Ratna (melalui 1998) memilih kisah percintaan dengan latar khusus kerusuhan Mei 1998, sedangkan Leila (melalui Pulang) berkisah tentang sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan dengan latar tiga peristiwa sejarah sekaligus: 30 September 1965 (Indonesia), Mei 1968 (Perancis), dan Mei 1998 (Indonesia).

Keempat (karya) sastra sejarah itu, bila diamati secara mendalam dan sungguh-sungguh, dapat dirasakan adanya perbedaan antara karya sastra yang bersifat fiksi dan sejarah yang bersifat fakta. Karya fiksi lebih mementingkan unsur imajinasi yang bersifat subjektif, sedangkan sejarah lebih mementingkan fakta yang bersifat objektif. Namun, dengan kreativitasnya, keempatnya (pengarang) mampu menyatukan dua hal yang berbeda itu ke dalam karya rekaannya.

Kebenaran yang terdapat dalam sebuah karya sastra tidak semata-mata bersifat imajinatif.  Dengan menguraikan  unsur-unsur yang membangun cerita secara keseluruhan, terlihat penggambaran para sastrawan dalam karya mereka mengenai peristiwa sejarah yang menimpa Indonesia beberapa waktu lalu itu. Mereka meramu kisah sejarah tersebut secara terperinci. Mereka membaluri pula peristiwa demi peristiwa yang dialami oleh para tokoh dalam karya sastra dengan sentuhan sejarah, tetapi tetap dengan gaya bahasa yang indah. Pembaca seolah-olah sedang membaca fakta-fakta sejarah itu sambil menikmati alur cerita yang disuguhkan.

Begitulah, pada kenyataannya karya sastra mampu menghadirkan “fakta lain” yang dapat menjadikan fakta sejarah lebih hidup dan kuat. Berkat kekuatan imajinasi pengarang, fakta sejarah yang dikandungnya tidak harus membuat “dunia fiksi” menjadi beku dan kaku, tak berpenghuni, sebab karya sastra tetaplah fiksi, dunia imajinasi.***


Penulis berkerja di Balai Bahasa Riau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us