Oleh Kiki Sulistyo

May dan Para Tentara

14 November 2016 - 09.12 WIB > Dibaca 1228 kali | Komentar
 
May dan Para Tentara
Kami berjumpa di Taman Kota.
Di Taman Kota sedang banyak tentara. Ada pameran alutsista. Panser dan senjata yang kami tidak tahu namanya, dipajang seperti fosil hewan-hewan raksasa. Beberapa orang tentara berpangkat rendah, mencari tempat rindang, lalu duduk-duduk seperti pedagang keliling. Kadang, tak sengaja, kami saling pandang dengan mereka. Sekian lama tentara mengesankan hal-hal yang luar biasa sehingga kami terbiasa menyangka tak boleh bermain-main dengan mereka, sebab salah sedikit saja bisa-bisa muka terhantam popor senjata.

Seorang tentara muda menyapa saya. Mulutnya  menjulurkan suara  ke arah saya tapi matanya mengerling ke arah May. Seakan-akan apa yang dilakukannya hanya untuk menunjukkan bahwa dia sedang ada di sana dan karenanya membutuhkan perhatian. Saya balas menyapa, dengan sikap hati-hati, tapi May tak memberikan perhatiannya sama sekali. Saya agak takut dengan sikap May. Padahal May itu perempuan dan saya laki-laki.

Saya tidak mungkin bertemu May kalau saya tidak datang ke rumah seorang pensiunan tentara yang mengundang saya makan siang. Waktu kami berbincang-bincang di beranda, saya teringat pada suatu masa ketika Orde Baru baru saja jatuh dari tahta. Waktu itu ada kerusuhan besar, bermula dari sebuah tablik akbar di lapangan sepakbola. Saya lahir di Ampenan, waktu kerusuhan terjadi saya sudah cukup remaja untuk mengenal cinta. Tapi kota Ampenan, luluh lantak oleh kerusuhan itu. Tembok-tembok ditulisi huruf Arab, seperti grafiti dari rasa takut akan mati. Ada rumah sakit swasta hancur atapnya. Beberapa mobil terguling dan bau daging terbakar serta bau cinta yang pudar. Pagi hari beberapa jam sebelum kerusuhan terjadi, para taoke pemilik toko sudah lenyap semua. Seakan mereka serempak berubah jadi cenayang yang mengetahui apa yang belum terjadi. Berbondong-bondong mereka eksodus ke Bali, bagaikan kaum yang terusir dari tanah yang dijanjikan.   

May datang kemudian. Berkacamata. Rambutnya pendek. Ada beberapa jerawat di pipinya, seperti biji wijen di atas burger. Kulitnya putih seperti diimpor dari Tionkok. Pensiunan tentara itu kelihatan senang. Saya kurang senang. Bukan karena apa-apa, tapi karena biasanya jika ada keindahan, pastilah itu jauh dari jangkauan. Saya perkenalkan diri dengan nama yang saya pakai menulis cerita ini. Saya kira May memperhatikan bagaimana saya bicara pada menit-menit berikutnya. Itu pikiran saya . Waktu dulu saya bekerja di toko kaset, saya banyak mendengar lagu-lagu tentang orang yang putus asa. Setelah agak lama berbicara dengan May, saya kemudian tahu dia tidak percaya pada masa depan, suka menyakiti diri sendiri, dan jatuh cinta pada musik jazz yang kurang populer. Pensiunan tentara itu adalah bapak angkatnya, setelah kedua orang tua May bercerai lantaran ibunya merasa dirinya adalah seekor kuda.

Kami berjumpa di Taman Kota.     

Tiba-tiba saja tangan May bergetar. Saya melihat hantu di wajahnya. Langit di atas Taman Kota biasa saja, sehingga saya tak bisa mengibaratkannya sebagai apa-apa. Di genggaman May saya lihat sebilah jarum. Lalu tanpa ragu-ragu dia menggores-gores tangannya dengan jarum itu. Garis-garis lurus terbentuk oleh goresan itu. Garis yang pelan-pelan memerah lantas mengeluarkan darah. Saya sedikit panik, khawatir para tentara akan memperhatikan peristiwa itu lantas menyangka saya membuat celaka seorang wanita. Mereka bisa saja tiba-tiba punya peluang untuk jadi pahlawan. Sudah lama Orde Baru tumbang, dan para tentara seperti kehilangan peranan.

“Apa yang kau lakukan?” kata saya antara bertanya dan menghiba. “Tidak apa-apa, ini upacara,” katanya sembari memperhatikan darah di tangannya.

Dulu di beranda rumah bapak angkatnya, May lebih banyak bercerita perihal kesukaannya menyakiti diri sendiri. Aku ingat, pernah ada seorang perempuan di Ampenan. Suaminya meninggalkannya setelah gila lantaran gagal jadi tentara. Dia punya seorang anak. Pada hari pertama anaknya masuk sekolah, ia memasak air untuk mandi anaknya itu. Tapi ajaibnya ia lupa mencampur air dingin ke air yang sudah dimasaknya. Tubuh anaknya langsung melepuh. Kasihan sekali anak itu, sebelum jadi gila bapaknya sering memukulnya apabila dia dianggap berbuat salah. Saya bayangkan anak itu adalah May.



Kami berjumpa di Taman Kota.

Tiba-tiba tutur kata May berubah jadi kemayu, setelah tangannya luka dan air mukanya layu. Langit di atas Taman Kota masih tetap tak bisa diibaratkan. May memandang saya lama.

“Kamu siapa?’ katanya. Saya terheran-heran dengan pertanyaannya. Dan karenanya saya terdiam saja.

“Saya Amara,” katanya lagi. “Saya sudah mati 17 tahun lalu, waktu umur saya 17 tahun.” Saya terdiam sebentar, lalu saya julurkan tangan “Saya Soeharto,” kata saya. Dia menggenggam tangan saya. “Soeharto?”  

Amara cantik. Dia melepas kacamata dan bulu matanya tiba-tiba jadi lentik. Saya pernah kenal seorang tentara yang baru pulang dari Timor Timur. Tiap malam dia mabuk di perempatan tidak jauh dari tempat saya mengontrak kamar. Dalam keadaan mabuk tentara itu selalu mengulang-ulang cerita betapa beratnya bertugas di Timor Timur. Saya merasa bangga bisa mabuk bersamanya, dan pada kesempatan-kesempatan tertentu saya ceritakan hal itu pada siapa saja. Saya ceritakan ulang juga cerita dari tentara itu, seolah-olah saya sendiri yang mengalaminya.

 Amara dan Soeharto seperti sepasang kekasih yang lama tak pernah jumpa. Mereka menari-nari, meniti cahaya matahari, mengecil, memasuki selongsong peluru, merasakan darah dari masa lalu. Darah yang tenggelam di bawah darah masa kini yang sekarang sering dihidangkan televisi.   

Sesungguhnya apa yang terjadi membuat saya percaya bahwa yang digambarkan sebagai Dajjal dalam komik-komik murah tentang siksa neraka, memang adalah.. televisi! Televisi bermata satu. Televisi bisa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Meski kata seorang kawan yang sudah mati, -dan televisi takkan bisa menghidupkannya- Dajjal masih dirantai di sebuah pulau di tengah laut. Kelak kita semua akan melihat bagaimana kaki Dajjal yang lebih tinggi dari pohon kelapa tiba-tiba muncul di depan kita. Dan karena satu-satunya yang bisa membunuh Dajjal adalah Sang Juru Selamat, maka akan terjadi pertarungan antara mereka berdua. Televisi akan menyiarkan secara langsung pertarungan itu.

 “Masak kejadiannya akan begitu? Aku lebih percaya kalau Dajjal itu semacam software, “ bantah kawan saya yang lain, yang suka membaca blog-blog misteri.

Kami berjumpa di Taman Kota      

Tiba-tiba Amara berdiri, lalu seperti tidak sedang bersama siapa-siapa dia pergi begitu saja. Saya melihat langkahnya sekonyong-konyong jadi tegap. Seperti laki-laki. Atau seperti tentara. Saya memanggilnya, dia tak mendengar. Saya memanggilnya lagi, dia tak mendengar lagi. Pada panggilan ketiga, dia baru menolehkan kepalanya.

Dia menunjuk dadanya sendiri sambil bertanya, “Gua, Bang?”

Saya menghampirinya, ‘Iya, mau kemana sih?” Dia kelihatan terheran-heran. “Elo siapa, Bang?”

Pernah ada kasus yang agak mengherankan. Seorang anak muda dari sebuah kampung di Lombok berangkat ke Jakarta untuk suatu acara. Sebulan kemudian, ketika pulang ke kampungnya, dia sudah berbicara seperti orang Jakarta, seolah-olah lidahnya tertukar di ibukota. Tapi kasus ini tentu saja berbeda dan tak ada hubungannya dengan Amara.

“Gua, Elang, Bang. Gua udah mati 17 tahun lalu waktu umur gua 22 tahun,” katanya seraya menjulurkan tangan. “Elo, dari organisasi apa, Bang?”

Saya menggiringnya ke dekat tugu di tengah taman. Saya mau mengajak dia melawan lupa. Seperti Milan Kundera. Beberapa orang pegawai negeri sipil yang melarikan diri dari kantor memandang kami berdua dengan mata mengejek. Saya ingin melempar sepatu saya ke wajah mereka.

      

Bakarti,  2015

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Menulis puisi dan cerpen. Kumpulan puisinya Penangkar Bekisar (2015) masuk dalam long list Kusala Sastra Khatulistiwa. Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.   







KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Follow Us