GERAKAN INDONESIA MEMBACA DAN MENULIS

Sebuah Upaya Menumbuhkan Minat Baca untuk Menulis

27 November 2016 - 13.45 WIB > Dibaca 768 kali | Komentar
 
Sebuah Upaya Menumbuhkan Minat Baca untuk Menulis
Sastrawan Marhalim Zaini sedang memberikan materi Penulisan Puisi dalam acara Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis (GIMM) yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Riau di Hotel Grand Mempura, Siak Sri Indrapura, Selasa (15/8/2016) pekan lalu. (HARY B KORIUN/RIAUPOS.CO)
Salah satu kelemahan dalam dunia pendidikan dan dunia literatur kita adalah lemahnya minat baca. Satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu adalah “memaksa” anak didik dan masyarakat agar gemar membaca.
--------------------------------------------------------------

MARHALIM Zaini menggeleng-gelengkan kepala. Rambut gondrong salah satu penyair Riau itu terlihat  bergoyang. Dia setengah tak percaya dengan beberapa jawaban yang baru didengarnya. Dia bertanya kepada beberapa guru di ruangan itu, apakah pernah mendengar dan mengenal karya beberapa nama sastrawan yang disebutkan namanya. Misalnya Seno Gumira Ajidarman, Joko Pinurbo, Isabel Allande, Octavia Paz, Boris Pasternak, Hamsat Rangkuti, George Orwell, dan beberapa nama lainnya. Mereka menggelengkan kepala. Tak tahu.

“Jadi Bapak-bapak dan Ibu-ibu benar-benar belum mengenal dan belum tahu karya mereka?” tanya Marhalim.

Kembali mereka menggeleng.

 Di dalam ruangan itu, ada sekitar 40 guru bahasa Indonesia tingkat SLTA se Kabupaten Siak yang sedang mengikuti kegiatan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis (GIMM) bagi guru SLTA dan SLTP di Hotel Grand Mempura, Siak Sri Indrapura. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau 15 hingga 18 November 2016 pekan lalu. Marhalim Zaini, Hang Kafrawi, dan Hary B Kori’un menjadi instruktur/pembicara dalam kegiatan tersebut.

Di ruangan sebelahnya, sastrawan Hang Kafrawi yang masuk di kelas guru-guru SLTP, juga mendapatkan kenyataan yang sama. Banyak guru yang tak punya bacaan alternatif sastra selain buku pelajaran yang dipegangnya sebagai bahan ajar.

“Jika nama sastrawan terkenal seperti mereka saja banyak yang tidak tahu, bagaimana mungkin mereka pernah membaca karya mereka? Inilah problem dalam dunia literasi kita. Jika gurunya saja tak tahu, bagaimana dengan siswanya?” ujar Marhalim.

Marhalim juga menjelaskan, untuk bisa menulis, seseorang harus banyak membaca literatur. Sebab tak mungkin seorang yang gemar menulis tak suka membaca.

 “Kebutuhan seorang penulis itu ya membaca. Kalau tak membaca, saya yakin tulisannya tak akan bagus dan tak berkembang,” ujar pengajar di Universitas Islam Riau (UIR) dan Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) ini.

Hal yang sama juga disampaikan Kafrawi. Menurut Ketua Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak ini, persoalannya bukannya tak ada buku yang akan dibaca oleh para guru tetapi minat baca itu yang tidak ada.

“Di setiap sekolah pasti ada perpustakaan. Atau jika guru-guru itu pergi ke Pekanbaru atau kota lainnya bisa mampir ke toko buku,” jelas Kafrawi.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, Drs Suprapto MPd, saat pembukaan dan penutupan acara, juga menjelaskan bagaimana lemahnya minat baca guru-guru dan murid di sekolah. Dia membandingkan bagaimana ketertinggalannya minat baca  masyarakat Indonesia dengan negara-negara berkembang yang lain.

“Bayangkan, dari 60 negara berkembang yang disurvei minat bacanya, Indonesia berada di nomor dua dari bawah. Hanya unggul dari negara antah-berantah di Afrika, Bostwana,” jelasnya.

Suprapto meminta, salah satu program pemerintah yang mewajibkan anak didik membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, harus diterapkan di semua sekolah. Ini merupakan langkah awal agar anak-anak didik di sekolah gemar membaca.

Dari pemahamannya, dia menjelaskan, di negara-negara maju di Eropa maupun Amerika, bahkan di negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, siswa-siswa di sekolah menengah sudah diwajibkan membaca buku literasi non mata pelajaran seperti novel, puisi, kumpulan cerita pendek, dan lainnya. Minimal dalam dua smester atau satu tahun ajaran, siswa menyelesaikan 10 buku bacaan.

Dia juga meminta semua guru, terutama guru mata pelajaran bahasa Indonesia, menambah bacaannya di luar buku teks. Sebab, pengalaman membaca itu bisa ditularkan kepada anak didiknya.

“Guru harus member contoh. Juga harus menularkan minat bacanya itu ke siswanya agar masyarakat kita di masa depan tumbuh minat bacanya,” jelas Suprapto lagi.

Ketua panitia pelaksana acara, Chrisna Putri, menjelaskan, sasaran acara GIMM ini memang untuk guru-guru bahasa Indonesia SLTA dan SLTP. Diharapkan, sepulang dari workshop ini mereka bisa menularkan ilmu yang didapat kepada siswa-siswinya, sekaligus memotivasi mereka agar gemar membaca dan menulis.(hbk)

Editor: Boy Riza Utama

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us