ESAI SENI RUPA

Pergerakan Kaligrafi Melayu ke Era Baru

27 November 2016 - 14.01 WIB > Dibaca 899 kali | Komentar
 
Oleh Dantje S Moeis

Alquran adalah kitab suci yang redaksi kalimat pertamanya menggunakan kata perintah (fi’il amar) bukan kalimat berita (khabariyah). Bukan hanya itu. Konten pertama tersebut bersifat perintah, yaitu membaca. Suatu perintah yang telah terbukti menjadi landasan dan basis untuk membangun peradaban, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang terus berkembang. Dan ini secara sadar bagi umat Islam khususnya dan semua manusia pada umumnya, dipatuhi yang kemudian menjadi salah satu tonggak peradaban yang paling penting bagi kehidupan manusia masa lalu, kini hingga akhir zaman.

Perintah membaca ini, barangkali untuk konteks sekarang terkesan atau seakan-akan biasa biasa saja. Tapi pada empat belas abad yang lalu, saat Rasulullah menerima wahyu pertama, perintah tersebut jelas sangat revolusioner, ketika masyarakat Arab jahiliyah belum sama sekali mengenal aksara dan tentu saja membaca, melainkan hanya mengandalkan tradisi kelisanan (hafalan). Bahkan Rasulullah pun menggambarkan ke-jahiliyah-an bangsa Arab kala itu pernah mengatakan bahwa; orang-orang yang pandai membaca dan menulis dari kalangan bangsa Arab dapat dihitung dengan jari.

Secara explisit perintah membaca itu tentulah berkait-kelindan dengan hal yang bersifat keberaksaraan (huruf dan angka), bukan yang bersifat kelisanan. Yang kemudian diungkapkan dengan alasan tertuang dalam bidal “Scripta manent Verba Volant” apa yang terucap akan hilang terbang melayang, dan yang tertulis itulah yang akan abadi, lalu dalam bidal Melayu; “Lebih baik bertitip surat dari pade bertitip kate”.  Ada dua kemungkinan yang akan terjadi ketika kita menitip pesan, pesan akan bertambah panjang (ditambah-tambah) atau menjadi singkat (dikurang-kurangi) sehingga kemungkinan lari dari makna pesan yang sebenarnya.
Dari paparan awal sebagai pembuka tulisan ini, dapatlah kita memahami akan arti pentingnya aksara, huruf sekaligus angka. Kita mengenal cukup banyak bentuk aksara yang diciptakan manusia di muka bumi ini, dengan segala ragam rupa dan kaidah-kaidah pembacaannya. Namun pengenalan akan aksara tak berhenti di situ saja. Peran para pe-kreatif yang nota-bene adalah seniman perupa sesuai dengan motto yang dianut; “Seniman adalah orang yang selalu berdiri pada barisan paling depan ‘penciptaan’ dan kreativitas”.

Hasil kerja keras dari para seniman ini dapat kita lihat pada karya yang kemudian disebut dengan kaligrafi atau huruf-huruf/aksara yang diper-indah seperti yang cukup populer dan mendunia adalah kaligrafi huruf Jerman, Arab dan Cina.

Dengan sama sekali tak bermaksud merendahkan sebuah genre senirupa. Karya-karya kaligrafi yang populer tersebut diciptakan atau dibuat awalnya untuk kepentingan yang sangat terbatas. Sebagai penghias rumah-rumah ibadah (applied art), yang sama sekali belum terlihat kokoh sebagai sebuah karya utuh dan berdiri sendiri (fine art). 

Singkat kata bahwa, “Kaligrafi” sesuai makna umum, merupakan salah satu jenis karya seni rupa yang menekankan keindahan yang terdapat pada bentuk-bentuk huruf yang telah dimodifikasi atau diberikan aksentuasi tertentu, sehingga mempunyai nilai estetika. Keindahan bentuk ini mempunyai pengertian yang umum, artinya bentuk huruf tersebut tidak hanya berlaku untuk huruf-huruf tertentu atau asal dari jenis huruf tertentu. Salah satu contoh, misalnya kaligrafi tidak hanya berlaku untuk bentuk atau jenis huruf Arab (Hijaiyyah) saja, tetapi dapat juga berlaku untuk jenis-jenis huruf yang lain. Sehingga kata kaligrafi berlaku untuk umum, keindahan hurufnya bersifat umum, universal dan global.

Kaligrafi tidak hanya untuk mengungkapkan secara visual ayat atau surat-surat yang ada di Al Quran dan Al Hadits saja, tetapi juga bisa untuk mengungkapkan kalimat-kalimat sastra yang berbentuk huruf Latin, huruf China, huruf Jepang, huruf India, huruf Sansekerta maupun huruf Jawi (huruf Melayu). Pengertian masyarakat umum memang mempunyai pandangan dan pengertian yang kurang tepat, yang mengartikan bahwa kaligrafi adalah modifikasi keindahan pada bentuk-bentuk huruf Arab saja. Walaupun hal itu juga tidak dapat dipungkiri lagi karena yang berkembang pesat di wilayah kita (Indonesia) adalah banyaknya kreasi-kreasi kaligrafi yang ada, merupakan bentuk keindahan huruf Arab.

Hal ini memang sangat erat kaitannya dengan mayoritas seniman kaligrafi yang ada di Indonesia kebanyakan hanya mengembangkan kaligrafi Arab. Memang tidak dapat dipungkiri seniman berkarya juga terikat dengan penikmat seni yang ada di suatu wilayah. Penikmat kaligrafi Indonesia karena kebanyakan kaum muslimin, seniman pun menciptakanya disesuaikan dengan keadaan tersebut. Kalau kita mau melihat lebih luas, sebenarnya banyak juga ditemukan keindahan bentuk huruf ini yang berbentuk huruf selain huruf Arab. Keindahan bentuk huruf Jawi (Melayu), sebelum pada tahun 70 an masih sering ditemukan di kawasan berkebudayaan Melayu. Di Riau kini para pelajar. siswa dan anak-anak muda mulai berkarya memodifikasi/menggayakan huruf Jawi. Dalam perkembangannya kaligrafi dapat dipisahkan menjadi beberapa jenis kaligrafi. Kaligrafi tersebut antara lain, Kaligrafi Tradisional, Kaligrafi Klasik, Kaligrafi Modern, Kaligrafi Ekspresif dan Kaligrafi Kontemporer.

Semua jenis kaligrafi tersebut mempunyai kelebihan dan keunikan tersendiri tergantung dari jenisnya. Kekhasan yang sama pada seni kaligrafi adalah kreatifitas seniman di dalam memvisualisasikan bentuk karya ciptanya. Ada yang mempunyai kecenderungan kreatifitas pada objek utamanya saja, ada pula hurufnya masih dalam bentuk standard tetapi dipadukan latar belakangnya yang dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga kreatifitasnya lebih diutamakan pada latar belakangnyanya atau pendampingnya, adapula yang keduanya dipadukan artinya baik huruf maupun latar belakangnya diberikan aksentuasi sedemikian rupa, sehingga daya cipta bentuk kaligrafi betul-betul dimaksimalkan. Semuanya memang tergantung dari pencipta karya tersebut, lebih fokus dan lebih rileks yang mana, atau lebih cocok yang mana. Atau mungkin tergantung yang diinginkan oleh pasar (tergantung dari nilai fungsinya). Fungsi kaligrafi tersebut sebagai seni murni (fine art) atau seni terapan (applied art).

Kaligrafi Era Baru

Seni rupa Indonesia, hari ini, menghadapi titik simpang. Di satu sisi meneruskan proses adaptasi yang belum selesai pada modernisasi yang masih terus berlangsung, di sisi lain menghadapi perubahan yang terjadi di dunia internasional, yang mungkin melahirkan patokan-patokan baru pada konstelasi dunia. Perubahan mendasar: meninggalkan spirit industri dan spesialisme dalam seni murni.

Di Indonesia kita tentu tak dapat menampik peran dari Prof. Ahmad Sadali, Abdul Djalil Pirous atau Amri Yahya dalam upaya pengembangan bentuk dan fungsi, dari kesepakatan umum yang menempatkan karya kaligrafi dari sebagai bahagian hiasan dengan rambu tertentu ke kebebasan “penuh” yang memenuhi hasrat kreatifitas seniman perupa yang percaya pada modernisasi, bukan penyeragaman yang serba tunggal, melainkan beragam.
Dalam pandangan ini, seni rupa modern di negara berkembang tak disangkal berasal dari penyesuaian diri dengan konstelasi dunia. Namun perkembangannya tidak harus sama dengan perkembangan di negara maju. Maka perkembangan seni rupa kaligrafi modern di negara berkembang, mempunyai konteks internasional dan konteks nasional sekaligus hasrat mendapatkan satu seni rupa dalam wujud dan bentuk tersendiri, seperti halnya pameran Kaligrafi Kontemporer bertajuk “Populasi Aksara” (dalam rencana) yang akan diselenggarakan oleh Gerakan Perupa Melayu, Desember 2016 mendatang.
 
Pesertanya adalah para perupa terbaik, yang telah menunjukkan perkembangan individual yang lanjut. Perupa yang disertakan menunjukkan kreatifitas yang menjanjikan perkembangan mengacu pada perjalanan kreatifitasnya selama ini. Diharapkan dari karya-karya mereka kemudian mungkin bisa dilakukan kajian dari berbagai sudut pandang yang akhirnya mengacu ke hanya “satu seni rupa” yang betul-betul baru, berkembang dan modern. Modernisasi yang memiliki pemahaman mendasar.

Modernisasi seni rupa cuma mempunyai dua kemungkinan; penyesuaian diri secara total, atau tidak samasekali. Adaptasi, yang diikuti penafsiran kreatif adalah perkara musykil, karena dasar-dasar seni rupa modern tidak nyata dan tidak lepas dari berbagai kontradiksi.
Abad modern, menurut ahli sejarah seni rupa Barat, H.W. Janson, diawali Revolusi Prancis, Revolusi Industri yang berawal di Inggris, dan perkembangan demokrasi di Amerika Serikat. Ketiga kejadian besar ini sangat mempengaruhi terbentuknnya seni rupa modern dunia di awal abad ke 19.

Salah satu ciri pembentukan seni rupa modern itu adalah friksi desain dan seni murni. Spirit industri dan demokrasi membangkitkan arus menentang prinsip-prinsip keindahan seni murni yang dianggap membawa spirit lama. Muncul pandangan baru yang berorientasi pada fungsi dan kepentingan masyarakat.

Di tahun 1841 arsitek Inggris Welby Pugin untuk pertama kali menggugat keindahan itu. Ia menulis, “Keindahan tidak diperlukan lagi untuk kenyamanan, perilaku dan moral.” Pada 1908, desainer Austria Adolf Loos memuja mesin lewat eseinya yang terkenal, Ornament and Crime “Produk mesin akan indah selama tidak ditambah hiasan.”

William Morris, pengrajin dan sosialis Inggris, melihat modernisme, sebagai bangkitnya kaum pekerja dan buruh. Bagi Morris keindahan seni murni masih hidup selama berkaitan dengan produk kerajinan yang memberikan kebahagiaan pada pembuat dan pemakai produk. Pada 1861 ia menulis, “Seni bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga dibuat oleh masyarakat.”

Seni rupa Barat yang mendasari seni rupa modern dunia, berawal pada tradisi Renaissance Italia Abad ke 16. Seni di sini diperkenalkan sebagai artes liberales yang mengacu pada konsepsi Yunani mousike techne. Pengertian keduanya, “pekerjaan orang-orang bebas,” yang didasarkan pada premis Plato: mereka yang tidak berurusan dengan kegiatan praktis, bertugas melayani kebutuhan berpikir dan pencarian esensi kesenangan-kesenangan sensual. Dari sini lahir tata acuan High Art. Catat: Tata acuan ini masih membayangi persepsi dominan seni rupa modern dunia, sampai kini.

Seni rupa dalam tata acuan itu mula-mula dikenal sebagai La belle arti del disegno (seni perencanaan yang indah) dan di masa kini mapan dengan istilah fine arts. Seni rupa fungsional dimasukkan ke techne (mendasari kata teknik dan teknologi) yang tergolong pekerjaan biasa. Kegiatan ini dikenal pula dengan sejumlah istilah: mechanical arts, applied arts, decorative arts.

Di awal seni rupa modern kelompok mechanical arts itulah yang bangkit bersama revolusi industri menentang High Art. Catat: tidak sebagai, fenomena techne atau kerja, atau teknologi, tapi sebagai seni rupa, fungsional yang mendesak prinsip-prinsip “keindahan” mousike techne.

Ketika seni rupa modern dunia mengalami internasionalisasi, friksi seni rupa Barat itu yang sebenarnya mendasar untuk dipahami kebudayaan non-barat tidak muncul ke permukaan. Bahkan menjadi tidak relevan karena munculnya argumentasi “spirit industri” tadi.
Kondisi penyulitnya, tafsir yang dibangun dari premis Plato yang tidak didasarkan pada kebenaran obyektif tidak berlaku universal. Ini hanya salah satu persepsi yang tidak mempunyai kebenaran mutlak. Tidak semua kebudayaan mengidentifikasi kondisi mental berkesenian melalui pemikiran.

Maka tanpa pemahaman mendasar, upaya penyesuaian diri dengan seni rupa modern dunia cuma: meniru. Kita tak berharap akan memandang karya-karya kaligrafi yang dipamerkan pada pameran mendatang, adalah deretan karya-karya seni rupa (kaligrafi) yang hanya menyalin bentuk-bentuk karya modern dunia yang sudah ada. Setidaknya penonjolan kemelayuan melalui “Rupa Aksara Melayu, Rupa Makna makna Melayu, Rupa Kearifan Melayu, Rupa sastra Melayu dan rupa-rupa Melayu lainya” atau ciri kemelayuan lainnya mudah terlihat. Seni rupa (kaligrafi) yang terpajang adalah karya modern berpunca pada tampilan makna denotative sekaligus conotative hasil terjemahan dari rasa kemelayuan yang disiasati dari akar modernitas, yang tak dapat dipungkiri adalah kebudayaan lain yang mendahului (Barat, Arab dan China). Dikukuhkan dan dilegitimasikan sebagai ciri abad modern Melayu dalam konstelasi senirupa dunia. Semoga….***

SPN Dantje S Moeis
, kelahiran Rengat, Inhu, adalah perupa, penulis kreatif. Penerima beberapa penghargaan budaya, Pengurus Lembaga Adat Melayu Riau, dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Pekanbaru.   

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us