OLEH MUSA ISMAIL

Martabat Bahasa Melayu (Riau)

27 November 2016 - 14.09 WIB > Dibaca 1727 kali | Komentar
 
Martabat Bahasa Melayu (Riau)

MARTABAT, harga diri, atau muruah sering disematkan kepada manusia baik secara personal maupun komunal. Tidak sampai di situ saja, martabat ternyata juga ditemalikan dengan bahasa. R. Kunjana Rahardi menganggap martabat bahasa mengacu pada tinggi rendahnya derajat bahasa dari kacamata pemakainya (2006:5). Bila dikaitkan dengan bahasa Melayu, martabat bahasa Melayu dapat dimaknai sebagai tinggi rendahnya derajat bahasa Melayu oleh para pemakainya.

Martabat bahasa Melayu tidak saja berkaitan dengan dinamika sikap dan perilaku pemakai bahasa Melayu itu sendiri, tetapi juga berhubungan dengan bahasa itu sendiri. Persoalan keindahan (nilai estetis) dan keluasan pemakaiannya merupakan contohnya. Paduan antara kedua aspek itu (pemakai bahasa dan bahasa) mewujudkan martabat suatu bahasa termasuk bahasa Melayu.

Bahasa Melayu memiliki jalan sejarah yang berliku dan ranggi. Jalan ini sudah bermula sejak abad ke-7. Ketika itu, bahasa Melayu sudah dipakai sebagai bahasa kerajaan. Ini bermakna bahwa bahasa Melayu sudah berfungsi sebagai bahasa negara. Melalui peranan pihak kerajaan dan kaum pedagang, bahasa Melayu mampu berkembang pesat sebagai lingua franca. Kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan hubungan antarnegara pun berlangsung dalam nuansa bahasa Melayu. Selain itu, persoalan-persoalan lain seperti masalah agama, ekonomi, dan politik terjalin dalam lingkaran bahasa estetis ini.

Perkembangan keindahan bahasa Melayu bermula di Kerajaan Malaka, bahkan hingga kekuasaan Portugis. Perniagaan bangsa Portugis ke alam Melayu akan berhasil jika mereka mempelajari bahasa Melayu. Bangsa ini menyebut bahasa Melayu ketika itu sebagai bahasa Latin dari Timur. Nah, bahasa Latin merupakan salah satu bahasa tua yang sangat banyak dipergunakan dalam istilah-istilah sains untuk kepentingan pendidikan, agama, dan perniagaan. Jan Huygen van Linschoten menyatakan, bahasa Melayu telah sedemikian masyhurnya di kawasan ini. Lebih dari itu, bahasa Melayu telah dianggap sebagai bahasa yang sehormat-hormatnya dan sebaik-baiknya dari segala bahasa di Timur. Hal ini diungkapkannya pada akhir abad ke-16 setelah berkunjung ke wilayah nusantara. Bahkan, Linschoten menyejajarkan muruah bahasa Melayu dengan bahasa Perancis ketika itu. Dalam Itinerario (1596), pakar ini menyatakan bahwa  yang tidak berbahasa Melayu di Hindia-Belanda, dia tidak bisa turut serta seperti bahasa Perancis untuk kita” (lihat Ahmad Darmawi, 2010:294). Selanjutnya, Teew mengutip pendapat Linschoten bahwa setiap orang yang ingin ikut serta dalam kehidupan antarbangsa di kawasan itu mutlak perlu mengetahui bahasa Melayu.” Berdasarkan pendapat tersebut, bahasa Melayu menjadi syarat mutlak dalam perhubungan, baik nasional maupun internasional. Hal inilah yang memicu para sarjana Belanda (Eropa) mempelajari bahasa Melayu.

Selain sarjana tersebut, pendeta Francois Valentijn yang bertugas di Ambon (1685-1695 dan 1707-1713) juga mengungkapkan kemuliaan martabat bahasa Melayu. Katanya,

”Bahasa mereka disebut bahasa Melayu…. Bahasa ini tidak hanya dipergunakan di daerah mereka, tetapi juga dipergunakan di mana-mana  untuk bisa saling mengerti dan untuk dipakai di mana pun di seluruh Hindia, dan di semua negara di Timur, seperti halnya dengan bahasa Perancis atau Latin di Eropa. Orang yang bisa bahasa itu tidak akan kebingungan karena bahasa ini dikenal sampai dimengerti. Orang yang tidak bisa berbicara bahasa ini akan dianggap sebagai orang Timur yang kurang pendidikan.

Bahkan sebelum pernyataan tersebut, Valentijn pernah berujar, ”Bahasa itu indah, bagus sekali, merdu bunyinya, dan kaya, yang di samping bahasa Portugis, merupakan bahasa yang dapat dipakai di seluruh Hindia sampai ke Parsi, Hindustan, dan negeri Cina” (lihat Ahmad Darmawi, 2010:294-295). Simpulan pernyataan Valentijn adalah orang yang berbahasa Melayu ketika itu adalah orang-orang yang berpendidikan.

Kemuliaan bahasa Melayu juga dinyatakan Gubernur Jenderal J.J. Rochussen. Beliaulah yang mengusulkan bahasa Melayu dijadikan bahasa pemerintahan dalam pergaulan dengan para pembesar pribumi. Selain itu, dia mengatakan bahwa bahasa Melayu adalah lingua franca di seluruh kepulauan nusantara, dipakai dalam pergaulan oleh semua orang dari berbagai bangsa. Kebanyakan orang pribumi, terutama orang Jawa, tidak merasa sulit mempelajari bahasa itu dan hampir semua priyayi di Jawa mengerti dan juga menulisnya. Atas dasar inilah, bahasa Melayu mendapat tempat terpenting dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah pribumi ketika penjajahan Belanda.

Dinamika tersebut terus berkembang di Kerajaan Aceh setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis. Di Aceh inilah para ulama besar berperanan penting dalam pemakaian bahasa Melayu dalam karya-karyanya. Para ulama ini menulis karya sastra seperti syair dan kitab dalam bahasa Melayu yang sangat estetis. Ulama seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Nuruddin Arraniri inilah dinilai banyak kalangan sebagai pilar agung penyair Melayu (lihat U.U. Hamidy, 2003:12). Karya-karya mereka menjadi sangat kreatif karena dituliskan dalam tulisan Arab-Melayu. Menurut hemat penulis, tulisan ini merupakan keagungan kreativitas Melayu. Hal ini karena Melayu berhasil menggabungkan dua kebudayaan menjadi satu: tulisan Arab ejaan Melayu. Luar biasa!

Keagungan dan keindahan bahasa Melayu terus berlanjut pada masa Kerajaan Johor-Riau-Pahang-Lingga. Paling tidak, ada dua tokoh yang termasyhur, yaitu Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi di Singapura dan  Raja Ali Haji  di Pulau Penyengat (Kerajaan Riau-Lingga/bagian dari Indonesia). Namun, kedua tokoh ini memiliki peranan yang sangat berbeda karena berada di wilayah politik yang berbeda. Dari kedua tokoh ini, Raja Ali Haji dinilai paling berjasa membina dan memelihara keagungan bahasa Melayu. Di tangan beliaulah, karya-karya sastra tercipta dengan gemilang. Kejeniusan lokal tokoh ini bagai purnama di malam gelap. Karya-karya yang ranggi dari pemikirannya dan geliat budaya literasi pada zaman itu mengangkat martabat bahasa Melayu. Selain keteladanan dan karya-karyanya, keberadaan organisasi profesi Rusydiah Klub dan percetakan Mathabaat al-Riauwiyah di Pulau Penyengat juga sebagai kemuliaan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu (Riau) memang sangat terpelihara dan terbina melalui geliat kebudayaan di Kerajaan Riau-Lingga. Bahkan, menurut Umar Junus, Belanda telah mengambil bahasa Melayu Riau sebagai bahasa resmi kelas dua. Menurut sarjana Belanda, C.A. Mess dalam buku Tatabahasa Indonesia (1954), bahasa resmi di zaman Belanda itu berpokokkan bahasa Melayu Riau. Karena itu pula, Belanda mengutus tiga ahlinya untuk mempelajari bahasa Melayu Riau, yaitu H van Eisinga (yang belajar dengan Raja Ali Haji), H van de Wall belajar dengan Haji Ibrahim, dan Ch. van Ophuijsen juga belajar bahasa Melayu. Tokoh Belanda yang cukup fenomenal adalah van Ophuijsen karena beliau menulis  Logat Bahasa Melayu. Ada empat alasan van Ophuijsen menulis tatabahasa Melayu. Pertama, bahasa Melayu Riau mempunyai perpustakaan tertulis yang besar jumlahnya, baik yang lama maupun yang baru. Kedua, pengaruh sastra lama masih ditiru (dilestarikan) di Riau. Ketiga, bahasa Melayu Riau dipakai di istana-istana Melayu, dalam pergaulan, dan surat-menyurat golongan berpendidikan. Keempat, bahasa Melayu Riau paling sedikit mendapat pengaruh dari bahasa-bahasa lain (lihat U.U. Hamidy, 2003:19). Alasan ini membuktikan betapa martabat bahasa Melayu Riau sangat ranggi. Kepedulian Belanda terhadap bahasa Melayu Riau ini pun merupakan fakta terbantahkan tentang muruah bahasa ini.

Dalam sejarah Indonesia, bahasa Melayu kembali menunjukkan muruahnya. Sila ketiga Sumpah Pemuda, ”Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” bermakna pula bahasa Melayu merupakan bahasa persatuan. Perubahan wujud bahasa Melayu (Riau) menjadi bahasa Indonesia merupakan bentuk lain dari perjalanan martabat bahasa Melayu di alam nusantara. Meskipun di sana-sini terdapat pengingkaran-pengingkaran akan kemasyhuran bahasa Melayu (Riau), tetapi fakta sejarah tidak akan pernah terbantah. Bahasa Melayu ibarat mutiara. Ia akan tetap berkilau walaupun dibenam ke lumpur di dasar lautan.***

 

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us