OLEH ARIANTO ADIPURWANTO

Sadar Gana

27 November 2016 - 14.52 WIB > Dibaca 1767 kali | Komentar
 
Sadar Gana
Puq Dusaq yang dikenal abadi itu, pagi ini, ditemukan mati.  Batu, tanpa selembar pakaian pun di badannya, duduk diam di samping neneknya yang terbaring beku.

Batu  dipungut oleh Puq Dusaq di rempung pisang dalam kemisa. Hampir saja nyawanya direnggut oleh semut-semut yang mengerumuni sekujur tubuhnya kalau tidak Puq Dusaq cepat menemukannya. Tanpa pertimbangan apapun, Puq Dusaq menamainya Batu. Karena namanya yang aneh, Batu menjadi bunga bibir seisi kampung.

 Ketika Batu dibawa pulang dengan terbungkuk-bungkuk oleh Puq Dusaq, para warga menyambutnya dengan puluhan pertanyaan. Dan Puq Dusaq hanya menjawab, bayi Tuhan yang keluar dari batang pisang, dengan raut wajah yang datar melompong.

Kini, wajah kisut itu tampak suram, mengerikan. Sepasang mata wajah ini sedikit terbuka, di sudut-sudutnya mengental kotoran berwarna hijau; puluhan lalat mengerumuninya. Mulutnya menganga, mengeluarkan bau yang sangat menyengat, membuat mual, bak seluruh jenis bau di dunia ini telah bercampur jadi satu. Kedua lubang hidungnya dipenuhi darah berwarna hitam. Puq Dusaq terlihat seperti telah disakiti dengan sekejam-kejamnya.  

“Dia datang. Nenek dia tunggang, dia lempar-lemparkan,” tutur Batu dengan nada yang terdengar seperti dibuat-buat, tapi mengandung getaran yang menakutkan. Raut wajahnya barangkali hanya bisa disamakan dengan raut wajah neneknya ketika membawa ia dari gerbang kematiannya.

Rasa penasaran warga memuncak. Sekarang, seluruh mata telah tertuju pada tubuh yang sedang terbaring di atas tikar lusuh itu.

Puq Dusaq; sudah sangat tua. Tak seorangpun tahu kapan ia lahir. Ketika para warga yang sekarang mengerumuninya hadir ke dunia, Puq Dusaq sudah menjadi nenek-nenek. Semakin hari tubuhnya kian terbungkuk; seolah-olah setiap hari berat kepalanya semakin bertambah; seolah-olah segala yang ia lewati selama hidupnya diletakkan di atas punggungnya.

Meskipun begitu, ia terlihat sangat kuat, dan semakin hari terlihat kekuatannya semakin bertambah. Sorot matanya tajam, seperti hendak menguliti. Kedua kakinya, jika sudah menapaki bumi, semua orang akan pasti ragu: apakah akan mampu menjatuhkannya. Banyak orang meyakini, dia adalah ibu dari segala ibu, ibu yang melahirkan nenek moyang manusia.   
“Sudar Gana..Sudar Gana. Dia datang, dia datang.”

Sepersekian detik, seluruh aktivitas di dunia seperti terhenti. Jantung para warga berhenti bekerja mendengar nama yang diucapkan Batu.

“Sudar Gana? Heh! Jangan ngomong ngelantur. Dia tidak ada. Lagi pula, tahu darimana kamu tentang Sudar Gana?” Salah seorang warga mendadak menjadi tidak sabar.

Tanpa diduga sedikitpun oleh para warga, Batu yang tadinya meringkuk lemas di dekat neneknya, mendadak berdiri, berjalan pelan ke arah pintu, dan menatap ke arah langit. Para warga memberi jalan. Mengikutinya. Penasaran.

“Dia membawa nenek ke situ,” ucap Batu lirih sambil menunjukkan telunjuknya ke langit yang kini sedang diselimuti mendung tebal.

“Hai anak haram! Jangan permainkan kami, kamu!” salah seorang warga mendekat, hendak memukul. Tapi Batu telah lebih dulu berbalik. Sorot matanya tajam.

“Dia bawa nenek terbang ke situ!” katanya sambil berbalik dengan gerakan sangat cepat dan menuding lagi ke arah langit yang semakin menghitam.

Para warga mulai tidak sabar. Rasa dipermainkan mereka semakin bertambah besar. Tudingan-tudingan yang menyebut dia gila mulai terdengar. Namun, seperti namanya, ia kuat, kokoh, keras, dan tahan akan semua yang dikatakan oleh para warga padanya.

Sementara para warga seperti telah dikacaukan oleh perkataan Batu. Batu dengan tubuh telanjangnya, masih berdiri di depan para warga, telunjuknya masih bertahan seperti posisi semula; menunjuk ke arah langit.

“Hei anak pisang, coba ceritakan bagaimana rupanya Sunar Gana itu?” Pertanyaan salah seorang warga ini sontak mengambil seluruh perhatian warga yang lain. Sebagian dari mereka penasaran, namun sebagian lagi, setengah percaya pertanyaan semacam itu bisa dilontarkan. Dalam waktu singkat, sebelum Batu sempat menjawab pertanyaan warga ini, para warga yang berada dalam situasi setengah percaya, telah mengutuk-ngutuk warga yang melontarkan pertanyaan ini. Mereka mendakwa, warga yang bertanya ini percaya dengan keberadaan Sudar Gana. Selanjutnya, para warga yang penasaran, merasa wajib membela warga yang telah melontarkan pertanyaan, merekapun memberikan saran supaya warga yang melontarkan pertanyaan ini, tidak mendengar kata-kata para warga yang mengutuk-ngutuk dirinya. Di tengah kericuhan ini, Batu tertawa dengan suara yang renyah menggiriskan, mirip suara batu yang pecah ketika kena hantaman palu. 

“Dia hitam. Dia membawa keris yang menyala-nyala.” Batu mengakhiri kata-katanya dengan tertawa. Lalu seperti tadi, ia tiba-tiba berbalik ke para warga yang berkerumun di belakangnya. “Dan, sebentar lagi dia akan kembali. Dia akan kembali. Dia cari kalian. Dia akan bunuh kalian!”

Wajah para warga yang tadi penasaran tiba-tiba berubah tegang. Sedangkan warga lain yang masih setengah percaya akan keberadaan Sudar Gana, tidak menampakkan wajah takut sedikitpun. sebaliknya, wajah mereka penuh dengan raut mengejek.

“Bohong kamu bocah gila, kamu pasti sedang kesurupan roh nenekmu.”

Seperti tersadar dari tidur yang sangat panjang, para warga langsung memberikan tanggapan yang nyaris berlebihan kepada warga yang baru saja berbicara. Baik warga yang percaya maupun yang tidak percaya akan keberadaan Sunar Gana, kini menunggu keterangan lanjutan dari warga yang kini telah jadi pusat perhatian.

“Ya, benar. Puq Dusaq telah merasuki anak ini. Kita harus segera sadarkan dia. Ambilkan kelapa gading! Cepat!” perintahnya.

Namun, sebelum para warga berhasil melaksanakan perintah itu, Batu  tiba-tiba tertawa lagi, kali ini suara tertawanya semakin terdengar aneh.

“Kalau memang anak ini dirasuki roh Puq Dusaq, berarti kata-katanya benar. berarti benar Sudar Gana akan datang.” 

Dari beberapa warga yang telah berhasil menarik perhatian, warga inilah yang paling berhasil. Mendadak dunia senyap. Angin telah padam. Semua bunyi mati. Kemudian, wajah mereka berubah tegang. Dalam waktu sekejap, kulit mereka telah seperti diluluri kunyit.
Dari cerita turun-temurun, mereka tahu, Sudar Gana adalah makhluk pencuri jiwa. Tidak ada satupun jiwa yang berhasil kembali jika sudah dibawa pergi olehnya. Dan tidak satupun yang tahu  jiwa-jiwa itu dibawa kemana. Biasanya cerita tentangnya sering digunakan oleh para orang tua untuk menakut-nakuti anak mereka.

“Di mana Sunar Gana sekarang? Kapan dia akan datang?” tanya salah seorang warga yang paling tua di antara mereka. Suaranya bergetar penuh ketakutan. “Apa yang harus kami siapkan untuk melawannya?” lanjutnya. 

Sambil menunjuk ke arah langit yang semakin hitam, Batu berkata, “Itu dia. Itu! dia sedang kemari. Bersiaplah kalian!”

Para warga sontak melihat ke arah yang ditunjuk Batu. Tapi tidak ada apapun selain langit yang kini telah menghitam bagai jelaga.

“Dia terbang ke sini. Dia akan mengambil jiwa kalian.” 

Rasa ketakutan yang ditimbulkan oleh getaran suara Batu membuat para warga langsung terpecah. Mereka cepat mencari senjata. Para tetua pulang mengambil keris. Ibu-ibu membawa belida. Ada juga yang membawa parang, bambu runcing, dan tombak. Dan yang tidak mempunyai senjata, menggotong tubuh Puq Dusaq yang semakin terlihat mengerikan.
Sementara itu, Batu masih menatap tajam ke arah langit yang semakin lama semakin hitam di depannya, seperti sebentar lagi akan turun hujan badai yang sangat dahsyat. Mendung hitam itu tampak bergelombang. Bumi menggelap. Telunjuknya masih menuding lurus. Sedikitpun ia tidak terlihat takut. Ia terlihat tidak lagi seperti bocah-bocah, tetapi terlihat seperti seorang manusia yang telah mengecap kehidupan dari segala macam zaman. Ia tampak telah menguasai seluruh energi alam semesta.

“Mana dia ahh? Kami akan cincang-cincang dia,” kata seorang warga sambil memegang gagang kerisnya dengan erat.

“Dia sudah dekat. Sebentar lagi dia akan sampai.” Suara Batu terdengar menakutkan.
“Dia sudah dekat dengan kalian. Bersiaplah!”

Satu halilintar menghantam keras. Getarannya mematahkan dahan, menumbangkan pepohonan. Angin berhembus keras dari segala penjuru, menghempaskan atap-atap rumah, mencabut rasa ketidakpercayaan para warga. Hujan mengguyur beringas. 

Semua warga serempak mengambil posisi bertahan, seperti berada di bawah satu komando. Tangan mereka yang memegang senjata ditudingkan ke depan; penuh ketakutan. Beberapa warga mengangkat tubuh Puq Dusaq, menegakkannya di depan mereka, menjadikannya tameng. Puq Dusaq terlihat telah hidup kembali. Batu menjelma menjadi seorang pemimpin. Berdiri paling depan: telanjang, tanpa senjata.***

Arianto Adipurwanto, lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 Nopember 1993. Cerpen-cerpennya pernah disiarkan di surat kabar Tempo, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Batam Pos, Rakyat Sultra, Padang Ekspres, Suara NTB. Belajar di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.  

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 11:32 wib

Lepas Caleg dengan Seremoni Berdiri

Senin, 24 September 2018 - 11:30 wib

Pemprov Sediakan 80 Komputer

Senin, 24 September 2018 - 11:27 wib

Tergoda Suami Orang

Senin, 24 September 2018 - 11:11 wib

5 Hari Perbaiki LDAK

Senin, 24 September 2018 - 10:50 wib

Pencairan TB Dilakukan Bertahap

Senin, 24 September 2018 - 10:42 wib

350 Guru Komite Akan Diangkat Jadi Honor Pemko

Senin, 24 September 2018 - 10:40 wib

Baby Shima Bius Warga Kota Jalur

Senin, 24 September 2018 - 10:39 wib

Pelaku Curas Antar Provinsi Dibekuk

Follow Us