HARI PUISI INDONESIA 2016

Merayakan Puisi

4 Desember 2016 - 14.48 WIB > Dibaca 769 kali | Komentar
 
Merayakan Puisi
Rida K Liamsi.
Puisi dan harinya memang harus selalu dikumandangkan, diramaikan, dirayakan dan dibesarkan. Menjelang akhir tahun, perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) juga masih dirayakan pemerintah Riau. Ke depan, mudahan-mudahan lebih meriah.
------------------------------------------

HUJAN malam itu mengguyur deras. Sabtu malam (26/11) tepatnya. Panggung di gedung Taman Budaya Riau, sudah diterangi lampu pertunjukan warna-warni. Kain putih bersilang-silang, menghubungkan tembok belakang dengan bagian atas panggung sebelah depan. Di sisi kanan panggung, di tembok paling depan, terpampang tulisan "Hari Merayakan Puisi".

Kursi-kursi di depan panggung tidak begitu penuh. Hujan yang bermula sore, terus mengguyur hingga tengah malam. Semakin deras, semakin kuat pekik teriak para penyair. Mereka membacakan puisi, mengeluarkan suara hati, tentang negeri, tentang sejarah, tentang malam, hujan dan apa saja yang dirasa indah.

Banyak seniman dan penyair yang datang. Ada Rida K Liamsi, Taufik Ikram Jamil, GP Ade Dharmawi, Herman Rante, TM Sum, Marhalim Zaini, Hang Kafrawi, Jefry Al Malay, Kunni Masrohanti,Udin Semekot, Kunni Masrohanti dan beberapa lainnya. Puluhan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Lancang Kuning, turut meramaikan acara.

Para penyair itu membacakan puisi dengan banyak cara, banyak gaya. Tidak ada yang sama. Herman Rante berteriak menyerupai gagak. Membaca puisi tanpa teks. Berteriak dari kursi ke panggung, dan dari panggung ke kursi. Membentangkan kedua tangan, ke kanan , kiri dan atas. ‘’Kwak..kwak..kwak..’’ suaranya menggelar. Lantang. Menembus tembok-tembok Taman Budaya, mengalahkan hujan. Persis suara gagak. Ia seperti berparuh. Kerap mendongah. Nampak sekali ia hafal dan faham dengan puisi yang dibacanya itu. Herman membaca puisi sudah giliran yang ke sekian.

Sudah malam. Tapi hujan masih deras, dan penonton semakin bersemangat. Apalagi saat Mrhalim membacakan puisi. Gaya monolognya, semakin memukau. Panjang tapi tak membosankan. Tangannya tak henti memainkan stand mike di depannya. Kadang di bawanya ke arah belakang, dan kakinya menekuk. Kadang ke depan dan kakinya menjinjit. Kadang ke kanan, kadang ke kiri dan tubuhnya, matanya, bibirnya, suaranya terus bermain. Puisi panjang tak ubahnya monolog singkat. Mengesankan.

Hujan yang deras, diringi angin dan semakin dingin. Lebih berasa ketika puisi Kopi Sekanak dibacakan Rida K Liamsi sebelumnya. Juga panjang. Puisi yang mengisahkan tentang perjalanan kerajaan Melayu, kemegahan kerajaan Melayu dari zaman ke zaman itu, semakin asyik untuk disimak. Semakin lama, semakin ingin tahu akhirnya. Semaki direnung, semakin berisi, mengantarkan minda terus berimajinasi melintasi waktu-waktu ratusan, bahkan ribuan  tahun silam itu. ‘’Dan sesaplah!! ‘’ teriak Rida di ujung karya.

Suara nan tinggi, berderap, menghentak seolah tak berhenti, mengejutkan segenap penonton. Gaya Ade Dharmawi. Sebelah tangannya menjulang ke atas, dan dengan bebas ia berteriak. Sebuah puisi yang ditulisnya, dibaca, menjadi bagian kebersamaan dalam merayakan puisi malam itu.

Berlagu panjang. Berpuisi, lagu, melagu lagi, berpuisi lagi. Ini pula gaya Jefry  Al Malay. Suara merdunya, nandungnya, mengheningkan suasana yang hening semakin hening. Panjang puisi yang dibaca, melenggang, ke kanan, ke kiri, menguasai panggung belakang dan seolah hujan deras di luar tak terdengar lagi.

Membaca puisi tidak selalunya kaku. Selain galak, selalu ada gelak. Gaya Hang Kafrawi. Di antara bait-bait puisi yang dibacakan, terselip humor. Selalu. Ada saja yang diucapkan di tengah puisi itu. Penontonpun tertawa. Tapi, gaya pukaunya, juga membuat penonton tak bergeming. Tercenung panjang. Menyimak pesan yang terus mengalir bersama hujan yang terus mengguyur, juga dari penyair lain. Sudah pasti tak kalah gaya dengan abangnya, Taufik Ikram Jamil yang membaca  puisi sebelumnya, TM Sum, A Aris Abeba yang selalu menawarkan pemandangan baru dalam setiap panggungnya. Begitu pula dengan Tengku Hairi perwakilan Taman Budaya dan penyair lainnya.

Sementara itu, Yoserizal Zein, menyampaikan orasi kebudayaan. Membara. Berapi-api. Ia mengisahkan bagaimana tentang puisi dan lahirnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bagaimana puisi dan bahasa Indonesia melahirkan Sumpah Pemuda yang juga adalah sebuah puisi.

‘‘Hari Puisi Indonesia (HPI), diwujudkan sebagai dampak dari pembelakangan kebudayaan dalam kehidupan berbangsa selama ini. Ia barangkali mengingatkan kealpaan kita terhadap puisi sekaligus kebudayaan. Di sisi lain, puisi ingin dibangkitkan dari tanah Riau ini, sehingga dari sinilah dideklarasikan HPI tanggal 22 November 2013 atas prakarsa Datuk Seri Lela Budaya Rida K. Liamsi. Sebab tanah inilah yang memiliki alatnya berupa bahasa Melayu,’’ kata Yoserizal Zein.

Merayakan puisi malam itu tentunya tidak hanya dimeriahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau sebagai pelaksana perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) atau para penyair yang membacakan puisi, tapi juga, oleh masyarakat Riau. Hanya saja, hujan yang mengguyur malam itu membuat tidak terlalu banyak orang yang bisa menikmatinya.

Meski HPI 2016 telah dirayakan pada Juli lalu dan menghadirkan banyak penyair Indonesia bahkan enam negara, bukan berarti hari puisi tidak boleh dirayakan lagi. Semakin dirayakan, semakin besarlah ia. Semakin dimeriahkan, semakin akrablah ia di telingan masyarakat. Karena itu, Kepala Disdikbud melalui Kepala UPT Museum dan Taman Budaya selaku pelaksana, Sri Mekka SH MH, berharap perayaan hari puisi berikutnya akan lebih meriah dan semarak.

 ‘’Kami berharap tahun depan perayaan HPI akan lebih meriah, lebih baik. Hari puisi harus disadari oleh semua orang, semua masyarakat. Makanya, kita harus selalu memeriahkannya, selalu merayakannya agar orang-orang juga semakin tahu,. Apalagi Riau memiliki banyak penyair dan kita harus bangga dengan mereka semua,’’ kata Mekka. (kunni masrohanti)

 


 
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us