ESAI SASTRA

Ketika Puisi Menjadi "Sumpah"

4 Desember 2016 - 15.38 WIB > Dibaca 863 kali | Komentar
 
Oleh Yoserizal Zein

NEGARA ini lahir dari puisi, demikian ungkapan yang dicetuskan oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri beberapa tahun lalu dan kini begitu populer di bibir berbagai orang. Suatu ungkapan yang ia kemukakan tidak saja di Jakarta, tetapi juga di Pekanbaru, dan mungkin juga di berbagai tempat, yang kesemuanya menunjukkan suatu konsistensi berpikir maupun bertindak.

Ketika sumpah pemuda dilaungkan ke seluruh alam, dibendangkan ke seluruh jagat, 28 Oktober 1928, negara Indonesia belum ada. Tetapi pemuda bersumpah bahwa mereka bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia. Segala sesuatu yang belum ada dan dibayangkan sebagai ada, kata Sutardji yang lahir di Rengat, pernah bertempat tinggal di Pasirpengarayan, Bengkalis, dan Pekanbaru, sebelum menemui masa remajanya di Tanjungpinang, jelas merupakan sebagai imajinasi. Dan imajinasi sebesar apa pun ukurannya adalah puisi, membayangkan sesuatu yang belum ada untuk menjadi ada.

Begitulah dalam suatu kesempatan, penerima hadiah nobel dari Amerika Latin, Garcia Marquez mengatakan, imajinasi bukanlah sesuatu yang omong kosong. Imajinasi dilandasi oleh kenyataan-kenyataan yang ujud, setidak-tidaknya bisa direkonstruksi sebagai sesuatu. Semelambung apa pun imajinasi, ia tetap membumi. Oleh karena itulah, sastrawan kita, Taufik Ikram Jamil mengatakan, karya sastra termasuk puisi, selain alamiah juga ilmiah. Puisi bisa dijelaskan, memiliki tubuh dan sosok, memiliki hitung dan perhitungan, sama seperti membongkar rumus pythagoras dalam matematika.

Pemuda yang mencetuskan sumpah pemuda, pasti membayangkan, sudah berapa lama kawasan ini dijajah. Kejatuhan Melaka tahun 1511, membuka pintu penjajahan itu yang kemudian dalam berbagai bentuk menekan berbagai hal. Pemuda membayangkan juga bagaimana perlawanan terhadap kolonial tak pernah sudah. Di panggung HPI ini, saya membawa bayangan itu, bagaimana rakyat Riau sejak tahun 1512 tanpa henti mengenyahkan penjajah, mulai dari Gasib, Bukit Batu, Bengkalis, Inderagiri, dan Dumai. Puluhan tahun dalam setiap abad, senantiasa terjadi pertumpahan darah karena kedaulatan di tangan sendiri, memerintahkan putera-puterinya untuk segera membebaskan diri.

Dalam keadaan semacam itu pula, potensi lain berkecambah dalam kepala. Orang-orang di kawasan ini telah membangun peradabannya secara luar biasa seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Melaka. Menguasasi kawasan yang jauh lebih lebar dari bayang-bayangnya sendiri, memberi pesan ketangguhan dan kewaspadaan. Berbagai tekad diwujudkan, membias ke dalam apa yang disebut sebagai karya sastra—ditandai pakar komunikasi sebagai cara pribumi menyatakan pendapat dan pandangannya, termasuk dalam politik.

Saya berpikir, gabungan antara kenyataan dan potensi itulah yang melahirkan sumpah pemuda, mewujudkan dirinya sebagai puisi besar. Tetapi sebagai puisi, sumpah pemuda pun bukan sesuatu yang sekali jadi. Ia mengalami proses antara kenyataan dan potensi, bahkan berproses dalam teks. Konsistensi membimbingnya ke arah menghapus kata Melayu dalam sumpah ketiga menjadi Indonesia hanya beberapa jam sebelum dikumandangkan; bukan saja karena mempertimbangkan suku atau ras, tetapi di bawah alam sadar membawanya pada suatu kesan bahwa Melayu waktu itu sudah sesuatu yang nyata, tidak demikian halnya dengan Indonesia. Jadi, setidak-tidaknya, bukan saja dalam pengertian keseluruhan, dalam pemilihan diksi dan rima, sumpah pemuda pun bernyawa sebagai puisi.

Jika puisi adalah anak imajinasi, maka puisi adalah kehidupan itu sendiri. Sebab tidak ada kehidupan, bahkan kebudayaan sekaligus peradaban tanpa membayangkan, sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk. Puisi menjadi keniscayaan yang justeru dihancurkan oleh manusia itu sendiri, ketika ekonomi menjadi panglima pembangunan, sedangkan kehidupan manusia sesungguhnya dalam puisi, dalam peradaban. Maka jadilah kita mengingkari sumpah pemuda itu sendiri, mengingkari kemerekaan RI 17 Agustus 1945 yang di dalam lagu Indonesia Raya justeru dikumandangkan: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Sebagaimana dikatakan Daoed Joesoef dalam kegiatan Mufakat Budaya di Teluk Jakarta beberapa waktu lalu, pendiri bangsa ini melalui lagu tersebut justru menginginkan pembangunan jiwa, pembangunan kebudayaan dikedepankan lebih dahulu.

Begitulah, di mata saya, Hari Puisi Indonesia (HPI), diwujudkan sebagai dampak dari pembelakangan kebudayaan dalam kehidupan berbangsa selama ini. Ia barangkali mengingatkan kealpaan kita terhadap puisi sekaligus kebudayaan. Di sisi lain, puisi ingin dibangkitkan dari tanah Riau ini, sehingga dari sinilah dideklarasikan HPI tanggal 22 November 2013 atas prakarsa Datuk Seri Lela Budaya Rida K. Liamsi. Sebab tanah inilah yang memiliki alatnya berupa bahasa Melayu—jika bahasa dipandang sebagai proses komunikasi dalam sosial seiringan peranan kawasan ini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya—kemudian dibina molek di Kepulauan Riau pada abad ke-19.

Tak heran, jika Riau sebagaimana  mengemuka dalam Bengkel Pantun LAMR 2013, memiliki 24 model penyampaian puisi, bandingkan dengan Malaysia yang memiliki 13 model. Ini sesuai pula dengan tekad Riau untuk menjadikan dirinya sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Tak salah lagi memang, Riau memang bertanggung jawab terhadap keberadaan puisi kini dan akan datang.

Lalu, pada gilirannya, karena puisi adalah kehidupan itu sendiri sebagaimana yang saya sebutkan pada bagian atas, bukankah HPI juga pada gilirannya menjadi salah satu tapak untuk kita merenungkan kehidupan. Sejauh mana kita sudah berbuat untuk kehidupan ini, sia-sia ataukah bermakna? Maaf, saya tak akan menjawabnya...***

Peneulis adalah budayawan dan sastrawan Riau.


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Follow Us