ESAI SASTRA

Mengolaborasikan Karya Fiksi dan Pendidikan

4 Desember 2016 - 15.42 WIB > Dibaca 1179 kali | Komentar
 
Oleh Junaidi Khab

DALAM dunia kesusasteraan, dikenal dua macam karya, yaitu; karya fiksi dan non-fiksi. Di antara karya fiksi yaitu, cerita meski berangkat dari kehidupan nyata yang kadang difiksikan. Cerita merupakan salah satu karya sastra yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan banyak hal, seperti berita, ide atau pemikiran, pesan, dan pendidikan. Sudah sejak manusia hidup, bercerita menjadi media yang tepat dalam membangun komunikasi yang baik. Di dalam cerita, tak tampak unsur-unsur pemaksaan. Namun, dengan kekuatan kisah-kisah itu para pendengar bisa memahami dengan suka-cita atau duka dan mengambil hikmah dari cerita yang didengar.

Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga, bercerita menjadi tradisi turun-temurun, baik itu berupa dongeng, fabel, atau legenda. Sejak zaman dahulu, para orangtua (ibu kadang juga ayah dan anggota keluarga) menggunakan model cerita untuk menyampaikan suatu kabar atau idenya. Hal itu sebenarnya sangat lumrah dilakukan. Dalam berbagai tempat, orang-orang tentu akan hidup dengan cerita-cerita, baik itu cerita kehidupannya sendiri atau kehidupan orang lain.

Sangat rasional alasan masyarakat lebih cenderung menggunakan model cerita dalam menyampaikan berita atau gagasannya, yaitu karena cerita lebih mudah dan menarik untuk didengarkan. Kita mengakui, bukan hanya anak-anak dalam keluarga yang menyukai cerita, tetapi orang dewasa pun demikian. Hal ini yang menjadikan media cerita sangat tepat digunakan sebagai media pendidikan. Namun, untuk saat ini skill atau kecakapan bercerita dengan baik sudah mulai menurun akibat masyarakat candu alat elektronik dan digital yang menjadikan seseorang bersikap individulistik. Maka dari itu, orangtua harus cerdas dan lihai dalam mengatasi berbagai kendala ini, termasuk menyajikan cerita demi pendidikan anak-anak.

Kekuatan Cerita

Setiap lini kehidupan ini memiliki dimensi, kisah, atau cerita tersendiri. Tak ada alasan orangtua tidak memiliki cerita yang bisa disajikan bagi anak-anaknya di saat longgar atau menjelang tidur berikut dengan pesan-pesan moral yang mendidik. Ada banyak kisah dan cerita kehidupan yang bisa diambil dari binatang, kehidupan orang lain, atau buku-buku yang sudah beredar. Kadang orangtua tak memiliki kemampuan dalam menjawab pertanyaan anak karena keterbatasan pendidikan, sehingga orangtua sewaktu-waktu membungkam anak-anaknya agar tidak rewel dengan pertanyaan yang memeras otak untuk menjawabnya.

Padahal, bila seorang anak dihalangi agar tidak bertanya atau orangtua tak mau menjawabnya – entah itu karena malas atau tidak tahu jawabannya – itu akan berdampak buruk bagi perkembangannya. Maka dari itu, ketika orangtua kesulitan menjawab pertanyaan anak, maka untuk menjawabnya harus menggunakan imajinasi melalui cerita (Munif Chatib, 2016:24). Pada masa anak-anak, imajinasi merupakan salah satu kekuatannya untuk memahami segala hal.

Kemudian Chatib memberikan satu contoh jika orangtua ditanya tentang alasan langit yang biru. Andaikan orangtua tidak memiliki jawaban yang tepat, maka jawaban yang berupa gambaran-gambaran atau imajinasi seputar langit yang biru sangat penting. Hal tersebut mengingat kegemaran anak usia dini yang lebih suka berimajinasi. Lebih-lebih jika jawaban itu dibentuk menjadi sebuah cerita, tentu mereka akan antusias untuk mendengarkan ceritanya. Dengan cara ini, cara berpikir anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik.

Diakui atau tidak, dalam tataran praktik, memang ada banyak halangan bagi orangtua seperti perasaan lelah setelah bekerja serta menganggap mendongeng (bercerita) sangat merepotkan. Padahal, cerita atau dongeng mampu merekatkan hubungan antara orangtua dan anak serta membantu mengoptimalkan perkembangan psikologis dan kecerdasan anak secara emosional (Andini Widyastuti, 2016:106). Lebih lanjut Andini juga memaparkan tentang manfaat dongeng, di antaranya yaitu; mengembangkan daya imajinasi, membangkitkan minat baca, membangun kecerdasan emosional, dan membentuk rasa empati anak-anak.

Pendidikan Praktis dan Cerita

Bahkan mungkin lebih dari itu dari sekian kekuatan cerita. Kita dalam kehidupan keluarga – umumnya dalam ranah pendidikan lainnya – harus lebih banyak menggunakan metode bercerita dalam mendidik anak-anak selain memang memberikan pendidikan praktis secara langsung. Sementara itu, akan lebih baik jika kedua komponen tersebut dikolaborasikan antara media praktis dan cerita secara berselang-seling. Hal itu akan saling menunjang. Jika media cerita tidak memikat atau tidak mudah dicerna, maka media pendidikan praktis bisa menjadi inspirasi agar anak-anak kita melahirkan tindakan atau perilaku positif, begitu pula sebaliknya.

Sebuah cerita akan membangun keakraban dan kedekatan tersendiri bagi hubungan orangtua dan anak-anaknya. Sehingga, kesempatan mendidik melalui media cerita ini sangat efektif dengan menyelipkan segala bentuk pelajaran dan pesan moral bagi masa depan kehidupan anak-anak. Anak-anak jangan sampai dikekang dan dibebani banyak tugas yang melelahkan. Karena hal itu bisa menjadikannya bosan, fluktuasi, dan labil. Akan tetapi, dengan media cerita yang inspiratif terlebih diselingi tindakan praktis sebagai teladan, maka anak-anak bisa mendapat inspirasi dan pendidikan serta melakukan segala bentuk tindakan positif berdasarkan naluriahnya sendiri dari apa yang mereka dengar dan lihat baik melalui mata kepala atau mata intuisinya.

Melalui media cerita ini pula, pada hakikatnya keluarga berperan mewujudkan pendidikan karakter yang diwacanakan secara nasional dan digemborkan di era pemerintahan Jokowi  yang dikenal dengan “Revolusi Mental”. Orangtua jangan sampai lalai untuk menceritakan kisah-kisah inspiratif bagi anak-anaknya. Jika orangtua bercerita (tentunya cerita inspiratif), maka anak-anak kita akan terdidik penuh dengan cinta tanpa harus dipaksakan. Mari, kita hidupkan kembali media cerita dalam keluarga!***


Penulis adalah akademisi asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us