OLEH FATMAWATI ADNAN

Indonesia Bagus!

4 Desember 2016 - 15.48 WIB > Dibaca 1505 kali | Komentar
 
Indonesia Bagus!
“Indonesia bagus! Indonesia bagus!” Kalimat ini sering diucapkan oleh orang Arab kepada para jemaah haji asal Indonesia. Seorang jemaah haji yang baru pulang dari tanah suci menceritakan pengalamannya mencari tahu lebih jauh penyebab orang Arab memberi “cap” seperti itu kepada orang Indonesia. Ternyata, orang-orang Arab terkesan dengan cara jemaah Indonesia dalam berperilaku dan berbahasa yang dinilainya lebih santun daripada jemaah negara lain.

“Kebiasaan” berbahasa kebanyakan orang Indonesia yang disertai dengan perilaku santun menghadirkan penilaian yang baik dari orang Arab. Contoh perilaku berbahasa orang Indonesia tersebut antara lain: menyapa atau mengucap salam terlebih dahulu sebelum bertanya, berpamitan sebelum meninggalkan lawan bicara, membungkukkan punggung sambil meminta maaf jika melewati orang-orang yang duduk, menggunakan intonasi yang lembut, bersikap ramah, dan menunjukkan sikap menghargai lawan bicara. Perilaku berbahasa tersebut dianggap sebagai identitas sehingga cap “Indonesia Bagus” pun melekat pada bangsa Indonesia di mata bangsa Arab.

Menurut Ubaedillah dan Rozak (2008), salah satu unsur identitas nasional suatu bangsa adalah bahasa. Identitas nasional merupakan ungkapan nilai budaya suatu masyarakat atau bangsa yang bersifat khas yang membedakannya dengan bangsa lain. Dikenalnya suatu bangsa melalui bahasa negaranya melahirkan rasa kebanggaan dan semangat nasionalisme yang tinggi. Muslich dan Oka (2010) mengatakan bahwa antara bahasa negara dengan rasa kebangsaan terdapat hubungan kejiwaan yang saling menentukan. Bahkan dapat dikatakan adanya hubungan simbiosis antara bahasa negara dan rasa nasionalisme masyarakatnya.

Sebagai warga negara Indonesia sudah seharusnya kita bersyukur memiliki bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa resmi dalam pengajaran di sekolah, bahasa resmi dalam pembangunan dan pemerintahan pada tingkat nasional, serta bahasa resmi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan bangsa, lambang identitas nasional, alat perhubungan, dan alat pemersatu bangsa.
 Bayangkan jika Indonesia yang merupakan negara multikultur tidak memiliki sebuah bahasa yang mempersatukan seluruh rakyat Indonesia. Bayangkan juga seandainya Indonesia tidak memiliki bahasa yang dapat dikenali sebagai identitas nasional, tentunya yang muncul bukanlah nama “Indonesia” tetapi nama ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia. Kondisi tanpa bahasa nasional tersebut tentunya tidak melahirkan rasa kebangsaan dan kebanggaan nasional.

Mari kita lihat kondisi bahasa nasional di Singapura. Negara yang menjadi koloni Inggris pada tahun 1867 ini dikembangkan menjadi pusat komersial utama dan pangkalan angkatan laut yang kuat oleh negara Ratu Elizabeth tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, Singapura diduduki oleh Jepang selama Perang Dunia II (1939-1945). Negara ini mendapat kemerdekaan penuh pada tahun 1963 sebagai anggota dari Federasi Malaysia, tahun 1965 meninggalkan federasi dan menjadi Republik Singapura yang independen.

Masyarakat Singapura terdiri dari berbagai etnis, seperti etnis Melayu (penduduk asli), Cina, India, Pakistan, dan Eropa (terutama dari latar belakang Inggris). Sebagai penghormatan kepada penduduk asli, bahasa nasional Singapura adalah bahasa Melayu. Namun, untuk menjaga stabilitas nasional negara ini memberlakukan empat bahasa resmi, yaitu bahasa Melayu, Cina (dialek Mandarin), Inggris, dan Tamil.

Kondisi kebahasaan di Singapura saat ini adalah bahasa yang banyak digunakan dalam pemerintahan dan pendidikan adalah bahasa Inggris. Bahasa yang banyak digunakan dalam perdagangan dan kehidupan sehari-hari oleh kelompok mayoritas adalah bahasa Cina. Lalu, bagaimanakah kondisi bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Singapura? Bahasa Melayu menjadi bahasa minoritas dengan eksistensi yang lemah. Tentunya, dengan terpinggirkannya penggunaan bahasa Melayu di Singapura berarti bahasa nasional negara ini tidak berfungsi sebagai identitas nasional.

Betapa hebat para perintis kemerdekaan Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme dan semangat antipenjajahan yang tinggi. Kristalisasi rasa nasionalisme dan semangat antipenjajahan tersebut dituangkan dalam satu deklarasi pada Kongres Pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928 yang dinamakan “Sumpah Pemuda”. Teeuw menyebut “Sumpah Pemuda” sebagai penasbihan nama Indonesia bagi bangsa, tanah air, dan bahasa. Peristiwa ini memosisikan bahasa Melayu menjadi bahasa negara dan bahasa nasional bangsa Indonesia.

Samuel (2008) menjelaskan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, namun bahasa Indonesia bukan bahasa Melayu, karena bahasa Indonesia sudah sangat berbeda dengan bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia sangat banyak menyerap kosakata dari berbagai bahasa, baik bahasa asing maupun bahasa daerah di Indonesia. Bahasa asing yang berkontribusi dalam pengembangan bahasa Indonesia meliputi bahasa Sanskerta, bahasa India, bahasa Tamil, bahasa Portugis, bahasa Parsi, bahasa Cina, bahasa Jepang, bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Arab, dan bahasa Inggris, sedangkan dari bahasa daerah meliputi bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Minang, bahasa Palembang, bahasa Bugis, bahasa Banjar, bahasa dari Papua, bahasa dari Maluku, dan lain-lain.

Kembali pada bahasa Indonesia di Arab Saudi. Selain penilaian “baik” terhadap perilaku berbahasa orang Indonesia, bahasa Indonesia juga mendapat posisi “istimewa” di negara kaya tersebut. Faktor jumlah jemaah haji Indonesia yang senantiasa “membludak” setiap tahunnya berpengaruh pada perlakuan terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia muncul pada papan pengumuman, papan nama toko, dan ruang publik lainnya. Selain itu, para pedagang juga mempelajari bahasa Indonesia agar lebih mudah berkomunikasi dengan para pembeli asal Indonesia.

Kondisi di tanah Arab tersebut memperlihatkan fenomena bahwa bahasa Indonesia sudah mendunia dengan sendirinya. Seharusnya pemerintah Indonesia menyikapinya dengan tindakan yang serius dan intensif sehingga perkembangan bahasa Indonesia di luar negeri yang terjadi secara masif tetap terkendali dengan bijak. Pengendalian diperlukan karena tidak tertutup kemungkinan bahasa yang dikembangkan bukanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dewasa ini pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) semakin marak dilaksanakan di berbagai negara. Semoga bahasa Indonesia semakin mendunia dengan marwah dan martabatnya, semoga bahasa Indonesia mampu menjadi identitas nasional. Dan, semoga Indonesia tetap bagus di mata dunia.***

Penulis adalah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Follow Us