CERPEN GDE AGUNG LONTAR

Tuan Guru Syarif

4 Desember 2016 - 15.58 WIB > Dibaca 1110 kali | Komentar
 
Tuan Guru Syarif
TUAN Guru Syarif berhenti sejenak. Lalu perlahan menarik napas kandas ke relung. Pintu besi berjeruji itu sudah terbuka lebar. Bau pengap dan busuk. Sulit dilukiskan. Berhamburan dari bilik yang kecil itu. Mengingatkannya sejenak pada bau-bauan yang nyaris serupa dari hamparan gambut dan air redang di kampungnya. Jauh di belakang waktu. Tapi itu tentu tidak serupa sama sekali. Bau-bauan yang berhamburan di sini adalah bau-bauan lancung yang bercampur dengan kepedihan kesedihan dan penderitaan penghuni-penghuni sebelumnya, sementara aroma tanah dan air semerah teh di kampungnya adalah wangi-wangian alam murni yang berkelindan dengan berbagai kenangan masa kecilnya. Perkampungan pasang surut, yang rengat dengan seribu kanal.

Bibir Tuan Guru Syarif tampak bergerak-gerak tipis. Nyaris tak terlihat. Mungkin sedang berzikir. Atau berdoa. Atau sekadar berucap dalam hati. Entahlah. Terdengar bunyi besi berkelontang, tembok bata berdebam, lantai  bergemeretak. Telinga anjing dan kucing mendengarnya. Sekarang sipir muda itu beranjak ke samping.

“Silahkan, Tuan Guru.”

Tuan Guru ingat, 13 bulan yang lalu petaka ini bermula. Tetapi, punca semua ini adalah peristiwa 40 purnama yang lalu, saat beliau diundang memberikan tausiah pada sebuah acara di Kantor KemenAg sebuah Kabupaten. Di situ beliau mendapatkan apreasiasi yang luar biasa dari para hadirin. Tuan Guru Syarif tidak begitu ingat lagi kenapa mereka seolah begitu takjub begitu, karena sepengetahuannya ia hanya menyampaikan hal-hal yang biasa saja, dengan cara yang biasa-biasa saja; tidak ada yang istimewa menurutnya, apalagi mencoba melucu-lucu.

Sebelum itu Tuan Guru Syarif memang sudah cukup dikenal sebagai ustad atau pendakwah. Tetapi beliau sendiri sebetulnya lebih suka dipanggil dengan sebutan “Tuan Guru” saja. Alasannya, “Saya ini kan mengajar di pesantren; jadi saya hanyalah seorang guru. Itu saja. Lagi pula di kampung saya dulu sebutan ini hal yang lumrah bagi orang-orang seperti saya.”
Peristiwa tausiah di Kantor KemenAg itu rupanya berbuntut panjang. Bapak Kepala Kantor selesai acara itu kemudian secara khusus meminta Tuan Guru Syarif berkenan memberi ceramah dan tausiah pada acara ulang tahun Kabupaten yang akan diselenggarakan bulan depan. Tuan Guru pun menyatakan perkenannya.

Sebagai pemimpin sebuah pesantren kecil yang berdiri di pinggir kota yang kebetulan berbatasan dengan kabupaten itu, undangan itu dianggap oleh Tuan Guru sebagai sebuah kehormatan. Sekaligus mungkin juga sebuah kesempatan. Selama ini Tuan Guru praktis belum pernah memasuki wilayah kekuasaan. Beliau hanya memberi ceramah dan tausiah di acara-acara masyarakat biasa saja. Itu pun tidak sering dilakukannya, karena beliau sesungguhnya lebih suka mengajar para santrinya saja. “Sudah banyak yang menjadi penceramah,” katanya suatu kali, “tetapi kita masih saja kekurangan guru.” Namun perkembangan belakangan ini akhirnya diterimanya karena beberapa pertimbangan.

“Pertama, saya merasa masygul melihat kelakuan para penguasa dan aparat-aparat pemerintahan kita. Tabiat dan perilaku mereka niscaya akan membawa negeri kita ke jurang jahiliyah. Ketika rasa malu dan takut sudah lenyap, seluruh perbuatan dosa dengan mudah dapat dilakukan sembari tertawa-tawa. Kedua, adalah kewajiban kita semua untuk saling mengingatkan; dan nilai kewajiban itu kian bertambah besar seiring kian tingginya ilmu dan pengetahuan seseorang. Ketiga, beberapa sahabat saya mendukung agar saya menerima tanggungjawab semacam itu.”

Sejak itu nama Tuan Guru Syarif kian melambung di medan dakwah, termasuk pada acara-acara yang diselenggarakan kalangan pemerintah. Ibarat ustad-ustad selebriti yang banyak di televisi terkini, beliau pun mulai menjadi perhatian masyarakat daerah itu, sehingga menjadi salah satu ustad yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya. Beliau sendiri sampai sekarang tidak begitu paham betul apa yang menyebabkan orang-orang menjadi nyaris histeris semacam itu. Rasa-rasanya ia biasa-biasa saja. Dari segi fisik, ia belum dapat disebut gagah; apalagi sudah kepala empat ini. Wajahnya biasa saja menurutnya, dengan janggut lancip abu-abu mengakar di dagu. Matanya, bahkan menurutnya sendiri seperti orang yang sentiasa mengantuk. Model pakaian untuk berceramah yang sering dikenakannya pun rasanya tidaklah istimewa, hanya jubah ringan saja. Atau, karena materi ceramah yang ia sampaikan? Rasanya itu pun tidaklah spektakuler. Memang, Tuan Guru kadang mengetahui komentar-komentar seperti ini.

“Tuan Guru Syarif itu vokal juga, ya. Di depan para penguasa itu berani beliau menyampaikan kritikan. ‘Tidak amanah’-lah. ‘Tidak disiplin’-lah. ‘Tidak adil’-lah. Bahkan sampai dibilang munafik! Apa tidak takut timbul masalah nanti. Apa tidak kuatir telungkup periuk-nasinya.”
“Ah, bagi beliau itu semua masalah kecil. Saya bersyukur ada yang berani seperti itu. Lagi pula beliau kan pemimpin pesantren.”

“Pesantren kecil ....”

“Itu tak penting. Orang-orang banyak cerita, Tuan Guru Syarif sebenarnya juga seorang aulia, lho. Beliau orang keramat. Mungkin karena itu beliau tidak takut apa pun. Saya juga sudah bosan dan muak melihat perangai para pejabat itu.”

“Keramat bagaimana?”

“Entahlah. Banyak. Ada cerita, waktu salah satu bangunan pesantrennya pernah kebakaran malam-malam, lalu orang ramai menyiramkan air, banyak yang melihat beliau ikut juga. Padahal semua orang tahu saat itu beliau sebenarnya sedang berkunjung ke saudaranya di Indragiri.”

“Iya? Wah, seperti wali-wali saja ....”

“Yang lebih penting lagi menurutku, beliau berdakwah tidak dengan cara menakut-nakuti. Sudah berapa kali aku mengikuti ceramah beliau, rasanya beliau jarang sekali menyebut-nyebut soal akhirat, azab, atau neraka. ‘Agama bukan untuk menakut-nakuti’, kata beliau, ‘dan beribadah juga bukan sekadar untuk berbelanja pahala’. Jadi semangat sekaligus adeeem rasanya kita.”

Berbulan-bulan sejak itu Tuan Guru Syarif pun seperti tanpa disadarinya menjadi kian sering keliling memenuhi berbagai undangan. Ditambah dengan amplop yang diterimanya dari ahlul-bait kian lama kian menebal tanpa pernah beliau minta, Tuan Guru Syarif bersyukur dan berazam pendapatan itu akan dapat memenuhi secara layak kebutuhan pesantrennya; meskipun pada saat yang sama beliau juga sedikit diselimuti perasaan sedih karena terpaksa sering-sering meninggalkan mereka.

Tetapi perihal materi ini ada juga yang mulai menggelisahkan dirinya. Selama ini dalam membangun pesantrennya beliau praktis hanya menggunakan segala daya dan upaya yang ia dan para siswa punya. Karena itulah selama belasan tahun bentuk fisik pesantren itu sedikit saja mengalami perkembangan. Mereka nyaris tak pernah mengenal bantuan materi dari donatur, apalagi pemerintah. Tetapi sekarang, tiba-tiba saja mulai banyak yang datang menawarkan berbagai hal. Mulai dari sekadar buku-buku, perabotan, semen batu pasir besi keramik, komputer, sampai ke mobil dan uang tunai dalam jumlah yang selama ini tak pernah dikhayalkannya. Umumnya berasal dari pengusaha, tetapi ada juga yang berasal dari pejabat atau yang mengaku utusan pejabat. Lebih setahun yang lalu salah satu utusan bupati bahkan pernah ingin menyerahkan selembar cek bernilai 3 milyar, tapi Tuan Guru Syarif menolaknya dengan halus. Beliau masih ingat peristiwa bertahun lalu, saat didatangi seseorang yang mengaku dari PemKo, katanya bermaksud memberikan Dana BanSos lima puluh juta untuk pesantrennya. Uang itu terpaksa beliau tolak karena ternyata harus menandatangani kuitansi berangka seratus juta.

Pada mulanya Tuan Guru Syarif merasa lega dapat menyampaikan secara langsung apa-apa yang menjadi pikirannya dalam hal pemerintahan itu. Beliau tak kesah ceramahnya yang nyaring dan lantang itu mungkin telah menyinggung perasaan beberapa pejabat dan penguasa. Baginya, itu laksana tugas dan kewajiban sebagai dokter saat memberikan terapi dan obat yang mungkin pahit dan menyakitkan, tapi demi kesembuhan pasien itu sendiri. Namun, menjelang tahun kedua itu, Tuan Guru Syarif mulai menyadari sesuatu: ia merasa seperti sedang berteriak-teriak ke sebentangan tembok tebal.

Tuan Guru Syarif juga sempat takjub melihat berbagai Islamic Center di daerah-daerah yang pernah dikunjunginya, tapi kemudian mulai menyadari, ketika tak ada perhelatan Islamic Center itu nyaris selalu sepi. Pernah juga takjub melihat pakaian-pakaian islami yang dikenakan terutama oleh para pejabat itu, kefasehan mereka kala menyampaikan sambutan, keramah-tamahan mereka, kebaikan-hati mereka; tapi tetap saja kemudian Tuan Guru menyaksikan kasus-kasus korupsi, syahwat primordial, perselingkuhan dan pertengkaran politik, penganggaran yang tidak banyak bermanfaat bagi masyarakat, dan seterusnya.
 
Namun di lain pihak, anehnya pula ketika sebagian besar masyarakat mengutuk kebatilan-kebatilan semacam itu, pada saat yang sama pula mereka justru begitu menyanjung pejabat-pejabat yang terlihat seolah-olah ringan-tangan memberi bantuan berbagai macam; apalagi bila berbentuk uang. Tuan Guru sampai terpikir, jangan-jangan masyarakat kita dan – utamanya – kalangan penguasa di negeri ini sudah benar-benar kehilangan rasa malu dan takut itu, namun yang lebih menyedihkan lagi: juga bersifat munafik. Na’uuzubillaah.
Petaka itu pun terjadi sekitar tiga bulan yang lalu. Beliau diundang berceramah di sebuah acara kabupaten. Saat itu sedang persiapan pilkada provinsi untuk pemilihan gubernur, dan sang bupati menurut berita bermaksud ikut mencalonkan diri. Tetapi Tuan Guru Syarif – yang sudah banyak mendengar isu dan cerita yang tak sedap tentang sang bupati – hari itu sedikit meningkatkan tensi ceramahnya, meski menurutnya masih di dalam batas koridor kesantunan sebagai pendakwah. Tetapi sang bupati rupanya tidak berkenan dan kemudian memasukkan gugatan pencemaran nama baik. Akibatnya, sejak itu beliau terpaksa bolak-balik ke kantor polisi.

Tetapi, seperti keberuntungan yang sering datang beruntun, kemalangan juga demikian. Sebulan yang lalu menyusul pula Tuan Guru Syarif disangkakan tersangkut kasus BanSos berjumlah seratusan milyar yang menimpa seorang mantan bupati. Tuan Guru dituduh telah menerima dari Dana BanSos itu sejumlah tiga milyar tanpa melewati prosedur yang benar. Meski membantah, tak urung Tuan Guru digaruk juga menyusul sang mantan bupati untuk sejenak bertarak di bui.

*

Kelontangan besi kembali nyaring, disusul gemerincing kunci menggaruk sepi. Kini wajah Tuan Guru Syarif terlihat dingin di balik garis-garis berkarat, lalu perlahan ditelan kegelapan. Hari menjelang malam.

Di pesantren tak banyak yang tahu kejadian yang menimpa Tuan Guru Syarif itu. Apalagi para santri, mereka sekarang justru sedang sibuk mempersiapkan acara Khatam Al Quran. Selepas isya semuanya sudah duduk berkumpul di tanah lapang. Para pengurus, para guru, dan para santri. Banyak yang heran kenapa Tuan Guru belum kelihatan, tapi tak ada yang berani bertanya. Ketika waktu yang direncanakan sudah tiba, sebagaimana biasa acara pembacaan Al Quran secara bertadarusan itu akan diawali oleh Tuan Guru. Beberapa pengurus yang tahu sudah mempersiapkan siapa yang akan menggantikan beliau, tetapi begitu waktunya tiba, tiba-tiba saja terdengar suara pengajian dari pelantang masjid pesantren. Suara itu terdengar jernih, lembut berirama, dan penuh perasaan. Semua tahu itu suara ngaji Tuan Guru Syarif.

Beberapa pengurus pun saling berpandangan.***

Penulis berdomisili di Pekanbaru. Karya-karya cerpennya banyak dimuat di berbagai lokal dan nasional.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 09:55 wib

Polisi Wajib Ikuti Tes Dapatkan SIM

Jumat, 21 September 2018 - 09:51 wib

Pemasok Sabu ke Oknum Satpol PP Ditangkap

Jumat, 21 September 2018 - 09:28 wib

Banyak WP Menunggak Pajak

Jumat, 21 September 2018 - 09:26 wib

Unri Teliti Laju Sedimentasi Kolam Patin

Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Follow Us