HARI ANTI KORUPSI INTERNASIONAL

Tolak Korupsi dengan Puisi

11 Desember 2016 - 16.20 WIB > Dibaca 905 kali | Komentar
 
Tolak Korupsi dengan Puisi
TOLAK KORUPSI: Para penyair nusantara foto bersama ucai membaca puisi tolak korupsi di Kampus Unilak, Jumat (9/12/2016) KACAMATA GOBER FOR RIAU POS
Berjamaah melakukan korupsi. Berjamaah pula menolak korupsi. Dengan apa? Apa saja bisa. Juga dengan puisi. Pastinya dengan kesamaan niat dan ideologi.
-----------------------------------

SELASA (6/12), Pekanbaru kedatangan 20 penyair dari berbagai pelosok Indoenesia. Profesi mereka juga tak sama. Ada PNS, guru, dokter, professor dan masih banyak lainnya. KPK yang memerintahkan mereka datang ke Pekanbaru. Mereka menjadi bagian rangkaian perayaan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) yang dipusatkan di Riau.

Para penyair ini mewakili penyair di daerah mereka masing-masing melalui gerakan Puisi Menolak Korupsi (KPK) yang lahir, tumbuh dan membesar di berbagai kota oleh tangan lincahnya Sosiawan Leak, penyair Indonesia. Mereka sampai ke Pekanbaru juga dengan persayaratan yang rumit. Harus membuat puisi, harus mengirimkan esai dan melalui proseses kurasi.

Sesampainya di Pekanbaru, mereka juga harus berdiskusi, mencari solusi bagaimana memutus rantai korupsi dari generasi ke generasi. Membawa pulang hasil pertemuan itu dan menyampaikan kepada rekan-rekan lain di daerah masing-masing tentang capaian-capaian yang diperoleh. Kerja keras para penyair dan sastrawan ini dibayar penuh oleh KPK dengan menanggung semua biaya perjalanan dan segala keperluan dari daerah masing-masing menuju Pekanbaru hingga kembali lagi ke tempat masing-masing.

Para penyair tersebut adalah, Ahmadun Y Herfanda (Tangerang, Banten), Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru, Kalimantan Selatan), Badaruddin Amir (Barru, Sulawesi Selatan), Dr. Dewa Putu Sahadewa SpOG (Kupang, NTT), Fakrunnas MA Jabbar (Pekanbaru, Riau), Ir. Fikar W Eda (Bogor, Jawa Barat), Gol A Gong (Serang, Banten), Drs. Heru Mugiarso, M.Pd. (Semarang, Jawa Tengah), Hilda Rumambi, Nanang Farid Syam (Depok, Jawa Barat), DR. RD Kedum (Lubuklinggau, Sumatera Selatan), DR. Ribut Basuki (Surabaya, Jawa Timur), Roesda Leikawa (Ambon, Maluku), DR. Salman S Yoga (Takengon, Aceh), Shantined (Bontang, Kalimantan Timur), Sosiawan Leak (Solo, Jawa Tengah), Prof. Sudaryono (Jambi), DR. Sulaiman Juned (Padang), Sulis Bambang (Semarang, Jawa Tengah) dan Vonny Aronggear (Jayapura, Papua).

Koordinator gerakan PMK, Sosiawan Leak, menyampaikan alasan kenapa gerakan ini harus wujud dan terus bergerak. ‘’Gerakan PMK merupakan sebuah manifesto kebudayaan berbasis komunitas yang melakukan berbagai aktifitas kesusastraan dan kesenian dalam bingkai Puisi Menolak Korupsi ini bermaksud menumbuhkembangkan kesadaran kolektif bangsa untuk menolak perilaku koruptif yang ada di sekeliling kita,’’ katanya.

Jalan sastra, jalan puisi, hanyalah salah satu jalan memutus sikap koruptif yang sudah tumbuh, berkembang, berakar dan beranak pinak di tanah Indonesia ini. Ketika perayaan HAKI dilaksanakan di Riau, bukan berarti tidak ada alas an. Sudah pasti karena Riau juga memiliki tingkat sikap koruptif para pemimpinnya yang sangat tinggi. Lalu, Riau menjadi sasaran pemberantasan itu.

Saat para penyair dan sastrawan ini merumuskan ‘tangkal’ terampuh untuk menolak korupsi melalui karya sastra, mereka yang lain juga melakukan hal serupa. Seruan tolak korupsi menrebak kemana-mana. Ke sekolah, ke kantor-kantor hingga ke panggung-panggung. Berbagai aksi panggung, pertunjukan seni menolak korupsi, turut digelar di Pekanbaru.

Dua puluh penyair, ditambah dengan puluhan penyair Riau lainnya, juga melakukan aksi panggung. Siang mengikuti diskusi, malamnya aksi baca puisi. Di antaranya di DK Kafe Jalan Pembangunan. Dilanjutkan lagi dengan diskusi, dan kembali beraksi. Selanjutnya di Universitas Lancang Kuning. Kampus ini memang ditunjuk sejak awal untuk menjadi salah satu tempat sosiasliasi korupsi melalui puisi-puisi.

‘’Satu hati tolak korusi!. Satu hati tolak korupsi!’’ Teriakan-teriakan itu kuat terdengar di kampus Lancang Kuning, Jumat (9/12). Para penyair dan ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, meneriakkan hal serupa. Sambutan-sambutan mengawali pertemuan tersebut juga hanya dilakukan dengan pembacaan-pembacaan puisi semata.

Wakil Rektor I Unilak DR Junaidi M.Hum, Dekan FIB Hermansyah, Ketua Jurusan Sastra Indonesia Muhammad Kafrawi, segenap dosen dan mahasiswa, menyambut gegap gempita kedatangan penyair nusantara itu. Bahkan, DR Junaidi yang membacakan sambutan dengan puisi, membuang jas dan dasinya, sebagai simbol penolakannya terhadap korupsi. Ia melemparkannya ke tanah.


‘’Sebab di jas dan dasi ini ada jabatan. Dalam jabatan itulah makhluk bernama korupsi itu berada. Di balik jas dan dasi itulah para koruptor bersembunyi,’’ kata Junaidi disambut pekik riang segenap hadirin.

Puisi-puisi tentang korupsi memenuhi lapangan terbuka yang disulap warna-warni. Payung-payung bergelantungan, bukan sesuatu untuk melindungi para koruptor. Kain warna-warni bersilangan dari pohon ke pohon, dari tiang ke tiang, simbol indahnya keberagaman tanpa korupsi. Terus, puisi-puisi menolak korupsi itu dibacakan bergantian oleh penyair dari Timur hingga Barat Indonesia.

Sosiawan Leak, koordinator gerakan PMK seperti ‘kejang-kejang’ menyuarakan anti korupsi. Tangannya ke atas, ke samping, kadang juga ke bawah. Berjalan, mengelilingi ruang kosong di bagian tengah, naik ke atas panggung, berdiri tegak dan lagi-lagi, ‘’Satu hati tolak korupsi!’’ teriaknya yang disambut dengan pekik yang sama.

Leak juga mengabarkan betapa bahayanya penyakit korupsi. Mengepung seluruh bagian bumi pertiwi. Tapi di antara virus berbahaya itu, di sudut-sudut kampung, melalui tangan para guru, pekerja seni, denyut penolakan korupsi bergejolak. Lantang. Sangat keras dan melakukan perlawanan tanpa batas.

‘’Melalui tangan para penyair, sastrawan, kita tuliskan bahaya korupsi, kita tuliskan dampak korupsi, kita catatkan sengsaranya negeri karena korupsi. Tuolisan, catatan yang kita buat, lalu kita tinggalkan, kita abadikan agar dibaca anak cucu kita. Kita putus rantai hitam berkarat bernama korupsi itu,’’ kata Leak lagi.(fiz)

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us