SENI TRADISI

Pesta Seni Tradisi

11 Desember 2016 - 21.30 WIB > Dibaca 565 kali | Komentar
 
Pesta Seni Tradisi
Ahad lalu (4/12), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau melalui UPT Museum dan Taman Budaya menggelar pesta seni tradisi. Pertunjukan seni dari berbagai bidang ditampilkkan secara bergantian di gedung pertunjukan Taman Budaya Riau. Ada berbalasa pantun, lagu Melayu, syair bahkan puisi mantra. Gedung itupun dipadati pengunjung dan seniman baik yang berdomisili di Pekanbaru maupun luar Pekanbaru, yang datang sendiri maupun datang karena jemputan.

Panggung pertunjukan juga disulap tidak seperti biasa. Sangat berbeda. Pelaminan megah dengan corak kuning emas yang mendominasi, menjadi tumpuan pandangan segenap tamu dan undangan. Apalagi di tengahnya duduk sepasang pengantin (model) yang tampan dan rupawan. Tepung tawar juga dilakukan kepada keduanya, bukan peristiwa adat yang sesungguhnya, melainkan simbol dan pameran belaka.

Malam itu juga diluncurkan buku kumpulan karya tradisinoal berjudul Bukan Batang Terendam. Dalam buku ini terdapat puisi, syair, pantun, gurindam dan juga kumpulan mantra. Para penyair Riau seperti Soetandji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Rida K Liamsi, hingga Fakhrunnas MA Jabbar, Kazzaini, Jefry Al Malay dan beberapa penyair lain, karyanya juga termaktub dalam buku ini.

‘’Berbeda tapi sama adalah karya tradisi yang harus kita jaga, pelihara dan abadikan bersama. Makanya, salah satu cara yang kita lakukan yakni dengan mengumpulkan karya-karya tersebut dalam sebuah buku,’’ kata Sri Mekka, Kepala UPT Musem dan Taman Budaya malam itu.

Tidak hanya peluncuran buku, baca puisi, melagu, berpantun atau bersyir saja, malam itu juga dibicarakan tentang bagimana buku itu dibuat dan diciptakan. Seminar tentang buku tersebut didengarkan segenap undangan dengan pembicara budayawan dan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Al Azhar serya penyair, seniman dan sastrawan muda, Marhalim Zaini. Keduanya mengupas buku dan isinya secara detil dan rapi.

Al Azhar maupun Marhalim, mengabarkan dan membeberkan tentang bagaimana mantra, misalnya, sebagai karya sastra lama, masih tetap  muncul dan mendominasi puisi-puisi sebagian penyair saat ini. Hal tersebut menunjukkan betapa karya sastra Riau berbeda dan memiliki ciri khas sendiri jika bersanding dengan karya sastra dari daerah-daerah lain, khususnya puisi.(kun)

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us