ESAI SASTRA

Malam Puisi Pekanbaru: Sebuah Refleksi

11 Desember 2016 - 21.37 WIB > Dibaca 1875 kali | Komentar
 
Malam Puisi Pekanbaru: Sebuah Refleksi
Sastrawan Marhalim Zaini saat membaca puisi di acara Malam Puisi Pekanbaru (MPP) beberapa waktu lalu. (HARY B KORIUN/RIAUPOS.CO)
Oleh Boy Riza Utama

NAPAS panjang dunia kepenulisan Indonesia, terutama puisi, tak bisa dilepaskan dari kehadiran para pengarang muda. Baik pemula maupun yang tarafnya boleh disebut nyaris purna –karena prestasi atau hal-hal lainnya-, semuanya seolah berhimpun karena ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa kehadiran mereka di dalam dunia kepenulisan adalah untuk menyemai harapan-harapan baru bagi keberlangsungan tradisi adiluhung tersebut.

Jika harus berkaca kepada masa silam, nama-nama penting dalam jagad kesusastraan Indonesia modern, semisal Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani (trisula maut dari Angkatan ‘45), diketahui telah meniti jalan panjang itu sejak usia muda. Bergerak ke kurun 50 hingga 60-an, kita pun bersua nama-nama penting lainnya, seperti WS Rendra, Goenawan Mohammad, Taufik Ismail, hingga Sapardi Djoko Damono, yang lagi-lagi menghamparkan satu fakta penting bahwa  karier kepenulisan mereka –jika harus disebut begitu- berpangkal pada usia yang boleh disebut muda, bahkan belia.

Sederat kenyataan itu pun bermuara kepada satu pokok yang saya kira penting untuk kita kedepankan bersama: masa depan kesusastraan Indonesia berutang banyak kepada generasi muda tanpa sedikit pun meluputkan pengaruh dari generasi sebelumnya –meski jadi penting juga, kiranya, untuk melihat sejauh mana pengaruh generasi sebelumnya itu kepada para pengarang muda yang mulai membiak dalam jagad kesusastraan saat itu.

Hal itu pula yang saya temukan dalam acara sastra bertajuk Malam Puisi Pekanbaru (MPP). Diinisiasi oleh sejumlah anak-anak muda, MPP yang digelar satu bulan sekali ini boleh kiranya disebut telah menjadi motor penggerak baru dalam dunia kepenulisan di Riau, khususnya puisi. Tanpa meniadakan peran komunitas (sastra/kepenulisan lainnya) sebagai kantung-kantung kebudayaan, MPP memang telah mengambil peran tersendiri dalam menjaga keberlangsungan tradisi bagi apresiasi sastra di Bumi Lancang Kuning, terutama di Kota Pekanbaru.

Sejak mengudara kali pertama pada Januari 2014 lalu, MPP telah menjadi magnet tersendiri bagi bertemunya dua arus utama dalam dunia kepenulisan: penulis dan pembaca. Sekian kali sudah saya temukan beberapa penggemar karya sastra (puisi) datang dan memberikan apresiasi penuh terhadap acara yang saat ini diketuai oleh Reky Arfal tersebut.

Di sisi lain, berkali-kali pula saya dapati bahwa para penulis hadir dan membacakan karya-karya mereka di panggung yang telah disiapkan. Mulai dari Agus Sri Danarda (Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat/mantan Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau), Marhalim Zaini (Sastrawan), Hary B Koriun (Sastrawan), Budy Utami (Sastrawan), Desy Wahyuni (Balai Bahasa Provinsi Riau), Kunni Masrohanti (Sastrawan), hingga Jefry Al Malay (Sastrawan), diketahui pernah hadir dalam acara tersebut.

Selain untuk memberi dukungan tersendiri bagi acara itu, kedatangan mereka pun dapat ditangkap sebagai  usaha untuk menyuntikkan semangat bagi para penulis muda yang juga hadir di sana. Suntikan semangat itu sendiri tentu penting mengingat jalan panjang yang mesti ditempuh para pengarang muda tersebut boleh disebut tak akan jauh berbeda dengan yang sudah dilalui oleh para pengarang pendahulunya itu.

Hal semacam itu pula yang kemudian menelurkan pengarang-pengarang baru yang selanjutnya akan diuji oleh waktu. Terutama di era percepatan informasi, sebagaimana saat ini, kehadiran para pengarang ternama tersebut tentu akan menjadi semacam refleksi tersendiri bahwa batas-batas yang saat ini nyaris tertaklukkan oleh kemajuan teknologi, ternyata tak serta merta meniadakan hal-hal yang sifatnya inheren dan mempengaruhi.

Sebut saja pertemuan yang terjadi di acara MPP itu sebagai contohnya. Sebab, pertemuan dengan para pengarang ternama yang namanya hanya kerap dijumpai di media atau sejumlah buku itu nyatalah telah menjadi pemantik tersendiri dari gelap-pengapnya kehidupan menulis selama ini. Para pengarang muda yang sering kali gagap dan nyaris tanpa ideologi dalam berkarya itu, lambat laun mulai berani untuk keluar dari batas-batas yang selama ini melingkupinya. Lagi- lagi, semua itu tak lepas dari kehadiran para pengarang yang saya sebut di atas.

Untuk personel MPP sendiri, di usianya yang sebentar lagi masuk tahun ketiga ini, kehadiran para pengarang tersebut tentu menjadi satu garansi tersendiri yang menerang-jelaskan bahwa acara yang mereka bikin bukanlah sesuatu yang sifatnya sementara. Hal yang sama saya kira juga terjadi di kota-kota lain yang juga mengadakan Malam Puisi.

Berangkat dari niat yang sama tadi, Malam Puisi di kota lain pun juga tak luput dari pantauan para penulis ternama. Mereka pun tampak hadir dan memberikan dukungan bagi acara tersebut. Akan tetapi, datangnya permasalahan tentu tak terelakkan seiring dinamika yang terjadi. Bongkar-pasang personel hingga sederet permasalahan elementer lainnya akan dan telah hadir sebagai bagian dari kedewasaan acara tersebut.

Namun, tujuan bersama yang sedari awal telah ditetapkan bersama, yakni menjadikan MPP sebagai wadah bertemunya penulis dan pembaca, sejatinya, telah meniadakan apa yang dikhawatirkan itu. Tapi, di titik itulah, saya kira, MPP perlu juga sedikit berbenah. Terkhusus soal komitmen dari penyelenggara sendiri  alih-alih kesiapan mereka.

Misalnya saja soal pembagian peran yang, menurut saya, masih belum jelas. Sebagaimana diketahui, kegiatan yang baik tentulah terstruktur dengan baik pula. Perpaduan antara tiap-tiap bagian kerja, selanjutnya akan menjadi modal terbesar mereka –para penyelenggara MPP- dalam menghadapi dinamika dan sederet perubahan yang kelak terjadi.

Perubahan itu bisa kita simpulkan sebagai kejenuhan, baik dari penyelenggara maupun para hadirin yang datang ke sana. Di situlah, saya kira, kreativitas beroleh peran; kreativas itu sendiri tentu lahir dari analisis yang matang berikut evaluasi tiap kali acara itu selesai digelar.

Berkali-kali pula rasanya masukan dan solusi ditawarkan kepada MPP sepanjang pergelarannya hingga belakangan ini. Meski begitu, perlu pula diatensi bahwa hadirnya MPP itu sendiri tak lepas dari kreativitas anak-anak muda dalam era digital ini. Sebagai catatan, MPP sendiri konon lahir dari kecintaan terhadap sastra, khususnya puisi, yang digiatkan di laman media sosial. Diskusi ringan itulah yang kemudian memantik lahirnya sebuah kegiatan yang digelar dari kafe ke kafe setiap bulannya ini.

Maka, pada aras itulah kaitan antara kecintaan terhadap sastra bertemu dengan semangat muda. Beberapa tahun ini pun MPP telah membuktikannya. Kemudian, selayaknya dunia seni, jaringan yang ada pun kian direnda sempurna. Beberapa kali pula MPP tersebut dihadiri oleh kawan-kawan dari beragam komunitas seni yang ada. Mulai dari teater, musik, dsb., kehadiran sejawat-sepertalian itu tentu kian mengukuhkan MPP sebagai salah satu acara yang menjadi salah satu pusat pertemuan para seniman muda.

Hal itu, saya kira, jadi penting bagi keberlangsungan tradisi diskusi dan berpikir pada umumnya. Oleh karena itu, masukan agar MPP lebih sering menggelar diskusi dengan sejumlah komunitas seni perlu pula diketengahkan di dalam tulisan ini. Sebab, selain sebagai sarana untuk bersilaturahmi dan saling berbagi pengetahuan, kehadiran ruang diskusi itu tentu penting bagi keberlangsungan seni itu sendiri.

Di Pekanbaru sendiri tak dapat dipungkiri bahwa ruang-ruang untuk mengekspresikan diri sangat lebar terbuka. Terutama bagi generasi muda, sekat atau batas yang dijelmakan oleh lembaga kesenian nyaris tak menjadi halangan bagi mereka untuk terus menelurkan karya. Bahkan, dengan separuh bercanda, mesti kita akui bahwa lembaga kesenian kadang hanya asyik melegitimasi seseorang atau beberapa seniman yang, sebenarnya, sudah sangat dikenal, tapi kadang lupa membidani alih-alih membaptis lahirnya generasi baru yang kelak tentu akan menjadi penyambung dari api perjuangan yang ada saat ini. Namun, boleh  pula kita katakan bahwa lembaga kesenian memang mesti melakukan hal itu itu mengingat minimnya apresiasi pun lagi perhatian pemerintah terhadap kehidupan dan masa depan para seniman.

Terkait hal itu, para seniman muda yang masih bertarung dengan egonya itu sendiri memang mesti merumuskan satu tujuan yang ke depannya mesti ia raih. Hal itu juga perlu menjadi perhatian bagi MPP sebagai salah satu “petarung” di dalam dunia kesenian (Riau) saat ini.
Mereka, para personel hingga hadirin, akhirnya memang tak bisa menyerahkan segalanya kepada perjalanan waktu. Dengan kata lain, harus ada suatu rumusan yang jelas ditambah terobosan baru demi tumbuh-kembangnya acara yang mereka bangun tersebut. Misalnya saja dengan mulai menggelar diskusi-diskusi sebagaimana yang dipaparkan tadi.

Kabar baiknya, saat ini MPP mulai mengadakan Kelas Menulis Puisi dengan tujuan mendekatkan kegiatan yang biasanya berlangsung pukul 20.00 WIB s/d selesai pada Sabtu malam tersebut dengan hadirin dan para penikmat puisi yang ingin menambah atau berbagi ilmu di sana. Selain bermanfaat bagi peserta, kegiatan yang kali pertama digelar bulan lalu dengan pemateri May Moon  Nasution (Sastrawan) itu tentu penting bagi para penyelenggara MPP itu sendiri. Dari situ mereka memperoleh banyak masukan hingga kritik yang berguna bagi peningkatan mutu acara ke depannya.

Maka, lagi-lagi kita berharap bahwasanya MPP ini ke depannya bukan hanya menjadi acara yang sifatnya seremonial belaka, melainkan juga menjelma sebagai ladang persemaian bagi bibit-bibit baru yang, barangkali, belum atau kurang terakomodasi –akibat satu atau banyak hal- saat ini.

Mengutip Chairil Anwar bahwa “sebuah sajak adalah dunia yang menjadi”, tentu kita berharap tak hanya sajak yang lahir dari tangan-tangan terampil yang datang dan membacakan puisi-puisi mereka di dalam acara ini, tetapi juga sebuah dunia baru yang menjadikan generasi teranyar kepenyairan Riau yang saat ini berhimpun di dalam MPP adalah sajak-sajak itu sendiri, yang lahir dari pergulatan tak sebentar dan diasuh oleh para pengarang ternama yang hingga saat ini masih menyempatkan diri untuk hadir ke acara tersebut.***

Boy Riza Utama lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 4 Mei 1993. Bergiat di Komunitas Paragraf.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us