Cerpen Bayu Pratama

Agama Paling Pagi bagi Laki-laki

11 Desember 2016 - 22.18 WIB > Dibaca 1729 kali | Komentar
 
Agama Paling Pagi bagi Laki-laki
“Nah, pernah kau lihat hari di mana buah kapuk itu pecah di tempat ini. Hari ini harinya. Aku kira pohon itu bakal diam di sana sampai aku tua, sekarang tumbang juga. Hei, itu…”

“Ada apa?”

Maja seketika gelisah memperhatikan sesuatu, matanya seperti gagap mengamati. Wanita itu, namanya Gugur Bunga, dan biasa dipanggil Bunga. Aku dan Maja sering sekali melihatnya berjalan lewat depan rumah, dan jika diperhatikan lebih lama, semua orang akan sadar jika dia tidak memiliki ukuran dada seperti wanita biasanya, dalam artian ukuran yang menggoda.

“Ah, aku kira dada tidak begitu penting,” kata Maja padaku saat kami menyesap kopi bersama pagi ini. “Kemarin begini, sekarang ya begini juga. Cuma pemandangannya berubah jadi pohon kapuk tumbang dan petugas pemerintah kota yang baru datang itu,” sambungnya kemudian.

Gergaji mesin mulai dikeluarkan.

“Bah, Dada penting juga lah Ja. Anakmu bakal makan di mana nanti?” timpalku sekadarnya, aku menyeruput kopiku.

“Nah, aku kira juga tidak pernah membayangkan bakal jadi sama si Bunga itu. Coba kau lihat dia, Coba kau lihat aku.”

“Lah, Apa salahnya punya mau? Toh Cuma mau.”

“Yak, Aku sih mau-mau saja. Apa susahnya? Tapi mau juga bisa bikin sakit hati. Hidup sudah banyak sakitnya, kau minta tambah lagi dengan mau sakit hati. Bodoh benar itu aku kira.”
Suara gergaji mesin mulai melengking. Para petugas berseragam itu mulai menangani pohon tumbang.

“Nah, sepertinya tuhan ingin Bunga lewat lagi di depan rumah Ja.”

“Kau kira tuhan itu punya malaikat yang pake seragam pegawai. Kalau Tuhan yang mau Bunga lewat rumahmu lagi, petugasnya pasti pakai jubah besar, warnanya juga pasti putih.”

“Ah, Tuhan juga pake seragam lah.”

“Kalau si Bunga?”

“Nah, kalau dia lebih baik… Ah! Kau tahulah.” Aku dan Maja kemudian tertawa. Entah karena sesuatu yang berkaitan dengan naluri purba kami atau hanya sebuah kebodohan karena waktu-waktu kami selalu dihabiskan untuk membahas hal-hal tidak penting, sambil menyesap kopi di teras rumah.

Suatu waktu, kami pernah menghabiskan waktu untuk membahas mana yang lebih dingin, mandi hujan pada malam hari atau berenang di laut pada malam hari. Dan, dari kedua hal itu, mana yang lebih baik untuk dilakukan jika sedang patah hati. Aku memilih ‘mandi hujan di malam hari’. Karena itu hanya akan membuat tubuh minimal terkena gejala demam, untung-untung demam sungguhan. Sedang Maja memilih ‘berenang di laut di malam hari’, katanya lebih baik hanyut dan dibawa arus ketimbang basah kuyup dan hanya menambah penyakit.

Minimal bisa kena hipotermia. Atau di lain waktu kami membahas tentang mana yang lebih tinggi, pohon kapuk atau sebuah mimpi. Maja menjawab ‘pohon kapuk’, katanya karena dia bisa dipanjat dan jika jatuh siapa saja bisa mati sungguhan. Apapun yang tinggi harus bisa membunuh dengan pasti menurutnya. Dan aku tentu saja menjawab ‘mimpi’, karena mimpi bisa membuat orang mau memanjat pohon kapuk untuk alasan-alasan yang tidak penting.
Maja memang tidak pernah mau menyetujui hal yang sama denganku. Jika aku memilih A, maka dia akan memilih B. Jika aku memilih B, maka dia akan memilih Z. Menurutnya, tidak perlu ada kesamaan pendapat atau pilihan. Satu-satunya pilihan adalah, jika bukan aku yang benar, maka dia yang benar –dan tentu saja sebaliknya.

Aku merasa Maja adalah saudaraku. Bukan karena darah, tapi karena waktu. Kami seolah-olah dirancang untuk menikmati waktu bersamaan. Maja dan aku lahir di tahun dan hari yang sama. Dia dilahirkan di kasur empuk sebuah rumah bersalin di kota. Ibunya adalah seorang penyanyi yang tidak pernah bisa terkenal tapi memiliki banyak penggemar di daerah pinggiran –bukan karena suaranya, tapi lebih karena gerakan refleks yang dibuat tubuhnya ketika mengikuti lagu yang dinyanyikannya –setidaknya hal itu juga membuat wanita itu mampu melahirkan Maja di kasur empuk sebuah rumah sakit bersalin. Ayah Maja sendiri adalah salah satu dari sekian banyak penggemar ibunya, dan ibunya sendiri tidak pernah bisa memastikan yang mana orangnya. Tapi Maja tidak pernah merasa terganggu dengan silsilahnya yang serumit gulungan rambut gimbal itu. Menurutnya, semua akan baik-baik saja selama semua dianggap baik-baik saja. Jika untuk sebagian orang silsilah semacam itu memalukan, maka Maja hanya akan mengangkat kedua bahunya dan menyunging senyum malas yang bisa diartikan sebagai, “Mau bagaimana lagi? Toh tidak ada masalah apa-apa. Semua baik-baik saja”.

Tepat saat maja lahir, aku juga lahir. Ibuku melahirkanku di kasur rumah kami yang cukup empuk tapi tidak seempuk kasur rumah sakit bersalin. Ibuku adalah seorang juru masak di sebuah rumah makan. Dia adalah wanita yang rajin dan sangat suka memasak. Ayahku sendiri adalah seorang supir truk pengantar telur ayam untuk rumah makan itu. Selebihnya tidak ada yang lebih spesial lagi tentang kelahiranku. Tarian aneh yang dilakukan oleh ayah dan ibu dibalik tumpukan telur waktu itu adalah tiketku menuju dunia ini.

Suara gergaji mesin melengking.

“Ja, Apa kau ingat kapan kita lahir?”

“Nah, kalau kau ingat itu. Aku juga ingat.”

“Kapan? Ah, tapi tahun dan harinya sama.”

“Ya, sama. Untung saja ibunya tidak.”

“Lah, kenapa?”

“Nanti itunya sakit lah. Melar melahirkan dua orang macam kita. Kau, Aku. Kita kecil tapi ada besar-besarnya juga. Nah, semacam keinginan kita. Aku kira kalau ibu kita sama, itunya tidak bisa juga melar menyesuaikan dengan yang semacam itu. Nah, jadi, untung saja ibu kita tidak sama.”

“Yah, hal semacam itu cuma pas sama kepalamu. Juga, mana ada orang yang melahirkan hal macam itu. Yang lahir kita, ya cuma kita. Mimpi atau keinginan atau harapan-harapan itu lahirnya belakangan, dari vagina yang ada di kepala kita.”

“Hus! bilang saja ‘itu’. Jangan disebut langsung.”

“Lah, masalah nama Ja. Semua masih baik-baik saja juga seperti yang kau sering bilang itu.”

“Iya baik. Tapi. Nah, itu. Wanita semacam itu yang itunya akan melahirkan mimpi-mimpi. Keinginan kita juga pasti akan lahir sehat, dengan berat empat kilo gram, dan tertawa-tawa.”

Gugur Bunga, dengan pakaian kemeja katun putih tipis, semakin dekat dengan depan rumah. Rambutnya dikibaskan angin yang tiba-tiba berhembus dengan cara yang melankolis. Para petugas berseragam menghentikan lengkingan gergaji mesin mereka sejenak, menyeka keringatnya. Semua orang merasa bahagia. Awan yang menggumpal membuat siang terasa lebih teduh, mengirim sinar matahari yang menyusup masuk seperti garis lurus pada grafik geometri. Tiga burung gereja terbang dari pohon kapuk yang tumbang, mereka mulai berkicau.

Maja menunjuk Gugur Bunga.

“Nah, wanita semacam itu yang akan melahirkan keinginan-keinginan kita. Dari itunya yang penuh harapan akan lahir harapan-harapan kecil. Setan-setan kecil.”

“Lah, Harapan atau setan?”

“Ya setan. Harapan itu kan mirip-mirip sama setan. Selalu menggoda untuk berharap lagi, berharap lebih, melakukan banyak hal. Hal yang lain-lain dari yang sebelumnya lain.”

“Kedengaran semacam jadi banyak masalah.”

“Yah, Bukan masalah juga. Semua baik baik saja, selama semua baik-baik saja. Cuma, apa iya yang tidak baik, berarti tidak baik? Ya baik juga. Cuma, memang sedang waktunya tidak baik.”

“Aku pusing.”

“Yah, itu di kepalamu tidak bisa juga melahirkan hal-hal semacam yang aku sebut-sebut. Bukan masalah.”

“Menurutmu wanita semacam itu mirip seperti apa?”

“Hem, Aku kira itu Agama. Bukan mirip, tapi pasti dia itu agama. Coba bayangkan, kita percaya padanya bahkan waktu dia sekadar wanita tidak jelas yang suka lewat depan rumah. Yah, tapi cantik juga sih. Kalau beriman itu artinya percaya, berarti Agama itu apa yang kita percaya. Nah, itu.”

“Wah, kalau begitu ada agama cantik macam itu ya. Enak dipeluk. Aku kira agamamu digoda malaikat-malaikat berseragam.”

“Ah, mereka cuma sedang berdoa.”

Kami menyesap kopi kami, sampai habis. Para petugas berseragam mengakhiri pekerjaannya dengan menyisakan banyak batangan kayu kapuk dan lebih banyak lagi ampas gergaji di jalan.
Pagi-pagi sekali Maja terbangun. Tadi malam aku mendengarnya berteriak-teriak tentang pohon kapuk tumbang –mungkin mengigau karena mimpi buruk.

Sisa batang pohon kapuk yang tumbang kemarin belum juga dibersihkan. Buahnya pecah, basah oleh embum. Mengeluarkan serat-serat putih basah yang membuat hari ini susah dikenali. Tiga burung gereja terbang, keluar dari sarangnya. Mereka mulai berkicau. Sinar matahari keluar dari awan yang menutupinya, dan sisa-sisa bulan terlihat masih pucat di sebelah barat. Di pagi yang lembab itu, Maja gelisah mencari sesuatu, dia mulai berjalan menghampiri batang kapuk itu. Duduk di sana, aku melihatnya mengukir sesuatu di batang kapuk itu dengan kukunya, entah apa itu. Matanya seperti gagap menunggu. Wanita itu, namanya Gugur Bunga. Maja berdiri, mencari. Memastikan semua masih baik-baik saja.***

2015

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon, Mataram. Cerpen-cerpennya terbit di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Solo Pos, Banjarmasin Pos, Batam Pos, Sumut Pos, Suara NTB, Fajar Sumatra, Radar Surabaya.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us