OLEH IMELDA YANCE

Sikap Bahasa

11 Desember 2016 - 22.36 WIB > Dibaca 1828 kali | Komentar
 


"Setia ga kamu dengan bahasa Indonesia? Bangga ga kamu dengan bahasa Indonesia? Peduli ga kamu terhadap norma bahasa Indonesia? Kalau jawaban ketiga pertnyaan itu iya; kamu dianggap sudah memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia.” Demikian seorang dosen bahasa Indonesia bertanya kepada mahasiswanya. Pertanyaan dosen itu merupakan tiga indikator yang diusulkan oleh Garvin dan Mathiot (1968) untuk mendeteksi sikap bahasa seseorang. Walaupun sudah jadul, ketiganya masih dipakai sampai saat ini oleh peneliti untuk mengukur sikap bahasa. Ngomong-ngomong, apa itu sikap bahasa?

Sikap bahasa (language attitude) merupakan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap bahasanya sendiri dan bahasa orang lain. Melebihi itu, sikap bahasa dapat pula dipandang sebagai konstruksi psikologis individu yang didasari oleh bahasanya sendiri dan/atau bahasa orang lain (Crystal dalam Coronel-Molina, 2009).

Sikap bahasa merupakan salah satu topik dalam kajian sosiolinguistik. Sikap bahasa bertemali dengan banyak topik lain: pemilihan bahasa (language choice), pemertahanan bahasa (language maintenance), pergeseran bahasa, (language shift), perencanaan bahasa (language planning), kebijakan bahasa (language policy), pembelajaran bahasa (language learning), hingga kematian bahasa (language death) misalnya. Oleh sebab itu, saat orang menyoal topik-topik ini, orang itu berupaya untuk menelaah pangkalnya, sikap bahasa.

Salah satu gejala pergeseran bahasa yang dialami oleh bahasa Indonesia adalah maraknya pemakaian bahasa Inggris pada media luar ruang (terutama) di daerah perkotaan di Indonesia, tak terkecuali di Pekanbaru. Tengoklah, papan nama hotel, nama bangunan/ruangan, nama tempat usaha, nama perumahan, nama kuliner seolah membuat pembedaan dengan berbahasa Inggris. Padahal, ranah (domain) itu adalah ranah pemakaian bahasa Indonesia (lihat UU No. 24 Tahun 2009). Bahasa Indonesia seolah telah kehilangan ranah (domain loss) di sana.

Pergeseran dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris ditenggarai disebabkan oleh sikap bahasa sebagian masyarakat, terutama pengguna media luar ruang, yang lebih positif terhadap bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Kesetiaan bahasa (language loyalty), kebanggaan bahasa (language pride), dan mungkin juga kesadaran mereka terhadap norma bahasa Indonesia (awareness of language norms) dipertanyakan.

Kalau mereka mempertahankan bahasa Indonesia dan jika perlu mencegah adanya pengaruh bahasa asing, mereka telah menunjukkan kesetiaan terhadap bahasa Indonesia. Kalau mereka terdorong dan mendorong orang untuk mengembangkan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat, mereka telah menunjukkan kebanggaan berbahasa Indonesia. Kalau mereka terdorong dan mendorong orang menggunakan bahasa Indonesia secara cermat dan santun, mereka sebenarnya telah menunjukkan kesadaran akan adanya norma bahasa. Sikap itulah yang kurang tercermin dalam pemakaian bahasa pada media luar ruang kita.

Lalu, mengapa penutur memiliki sikap tertentu terhadap suatu bahasa /dialek/subdialek? Menurut sebagian penutur, pada bahasa/dialek/subdialek tersebut melekat berbagai penilaian. Misalnya, bahasa/dialek/subdialek A dianggap anggun, ekspresif, vulgar, kasar, sopan, tidak sopan, menyenangkan, tidak menyenangkan (Holmes, 2008). Ada pula yang memandang bahasa/dialek/subdialek B lebih modern, kampungan, hangat, akrab, dll. Ada juga yang menilai bahasa/dialek/subdialek C: kaya, miskin, indah, jelek, enak didengar. Alasan lainnya menyangkut kesederhanaan dan kerumitan linguistis, mudah atau sukar dipelajari, peran pentingnya, dan status sosial. Kategori-kategori itu memengaruhi sikap bahasa penutur.

Apabila dicermati, bagi sebagian masyarakat kita, bahasa Inggris dianggap lebih modern, kaya (bukan dalam pengertian uang), enak didengar, sangat berperan dalam kehidupan modern dan zaman global, serta memiliki status sosial yang tinggi  daripada bahasa Indonesia dan bahasa etnik. Ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kita lebih bersikap positif terhadap bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia dan bahasa etnik.

Kesadaran dan perilaku positif terhadap bahasa Indonesialah yang masih perlu ditumbuhkembangkan di tengah masyarakat. Itu bukanlah mimpi karena sikap bahasa penutur bisa berubah sepanjang waktu. Situasi perekonomian suatu daerah, baik atau buruk, turut memengaruhinya menurut Anastasia Parianou dalam buku Translating from Major Into Minor Languages (2009).

Bahasa Inggris (juga bahasa asing lainnya), bahasa Indonesia, dan bahasa daerah (etnis) sama pentingnya. Salah satunya bukanlah musuh bagi yang lainnya. Ketiga bahasa itu merupakan –meminjam istilah Bourdeu—modal (capital). Bahkan, semboyan, kuasai bahasa asing, cintai bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah; sesungguhnya merupakan pengejawantahan harapan agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat multilingual. Bangsa Indonesia diidamkan menjadi warga dunia tanpa harus kehilangan “tempat berpijaknya”.

Kajian sikap bahasa pun dapat dijadikan pijakan untuk kepentingan yang tiidak melulu menyangkut bahasa itu sendiri. Sikap bahasa ternyata dapat pula dipakai untuk mendeteksi sikap penutur suatu bahasa terhadap penutur bahasa lainnya. Ini sesuai dengan pandangan Fasold (1984) tentang sikap bahasa yang memperluasnya sebagai sikap terhadap penutur suatu bahasa termasuk dialek. Melalui amatan terhadap sikap bahasa penutur suatu bahasa terhadap bahasa lainnya dapat diketahui sikapnya terhadap penutur bahasa lain.

Sudah banyak pula peneliti bahasa berupaya membuktikan pandangan itu terutama di bawah judul language attitude and stereotypes. Scott James Baird pada 1969 misalnya, melakukan penelitian untuk disertasinya perihal reaksi penutur kulit putih terhadap tuturan bahasa Inggris orang negro (“Employment interview speech: A social dialect study in Austin, Texas”). Baird menemukan kuatnya hubungan antara sikap bahasa dan stereotip ras. Hal serupa juga terjadi dalam penelitian oleh Tucker, G.R. and W. E. Lambert pada  1969 mengenai White and Negro listeners’ reactions to various American English dialects.  Stereotip orang negro sebagai warga kelas rendah diperoleh melalui penelitian sikap bahasa itu (Patrick, 2007).

Penelitian yang mirip sebenarnya dapat dilakukan oleh peneliti sikap bahasa terhadap bahasa-bahasa yang ada di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendeteksi riak-riak konflik antaretnis. Yang demikian dapat dijadikan sebagai salah satu cara menyusun strategi untuk memperkuat ketahanan nasional. Melalui sikap bahasa, dua tiga pulau terlampaui. Mengapa tidak?***

Imelda Yance adalah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us