Pesan Puisi di Rumah Rakyat

19 Desember 2016 - 10.41 WIB > Dibaca 481 kali | Komentar
 
Pesan Puisi di Rumah Rakyat
Penyair Riau dari berbagai generasi, berpesta puisi. Mereka mengikuti helat Kenduri Puisi yang dilaksanakan Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) Ahad lalu. Kali ini dilaksanakan di rumah rakyat alias gedung DPRD Riau.
----------------------------------------------

BISA jadi untuk apa saja. Yang jelas, puisi juga menjadi jalan penyampai pesan. Bebas. Kepada siapa saja. Orang terkasih, pahlawan, presiden, orangtua, guru, teman seperjuangan, atau juga wakil rakyat. Karena itu, Komunitas Seni Rumah Sunting melaksanakan Kenduri Puisi di sana, tepatnya Ahad (11/12/2016). Lobi gedung wakil rakyat itu pun dipenuhi banyak penyair dan seniman.

Penyair yang hadir dan membacakan puisinya malam itu antara lain, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Taufik Ikram Jamil, Temol Amsal, Mosthamir Thalib, Tien Marni, Herlela Ningsih, TM Sum, Herman Rante, Bambang Kariawan, Hang Kafrawi, DM Ningsih, Hening Wicara, DR Junaidi dan beberapa penyair muda seperti Muhammad De Putra dan lainnya. Dihadiri juga  berbagai komunitas seni di Pekanbaru maupun luar Pekanbaru Seperti, Sanggar Sendayung dan Bengkel Seni (Lipatkain).

Komunitas lain juga turut hadir. Antara lain, Sindikat Kartunis Riau (Sikari), Forum Lingkar Pena (FLP), Community Pena Terbang (Competer), Konkow Nulis, Latah Tuah dan masih banyak lainnya. Ada yang hanya datang untuk meramaikan kegiatan, tapi juga ada yang turut mengambil bagian sebagai pengisi acara seperti Sendayung dan Bengkel Seni yang menampilkan musikalisasi. Begitu juga dengan kelompok musikalisasi Gendul (Pekanbaru).

Kegiatan yang dipusatkan di rumah rakyat itu disaksikan langsung oleh anggota DPRD Riau, Ade Hartati.  Para penyair itu pun membacakan puisi-puisi tentang pemimpin, tingkah polah pemimpim termasuk puisi-puisi korupsi. ‘’Koruptor ada di mana-mana, mungkin di sekeliling kita sekarang ini,’’ teriak Herman Rante yang membacakan puisinya sambil naik ke anak tangga di kiri panggung.

Semakin malam semakin meriah. Macam-macam gaya membaca puisi yang dipertunjukkan. Macam-macam pesan disampaikan. Ada juga dramatisasi puisi yang mengusung tema tentang arti sebuah kepemimpinan yang disimbolkan dengan kursi ketika itu. Kursi tersebut menjadi property panggung yang sederhana. Senuah kursi diletakkan di atas meja dan disorot dengan lampu. Itu kursi kosong. Sengaja dikosongkan dan diletakkan di tempat tinggi. Kursi inilah yang menjadi sasaran aktor dramatisasi puisi. Kurisi itu jadi rebutkan, diangkat tinggi-tinggi, dibawa lari ke sana kemari hingga keluar panggung. Sebuah sindiran tajam tentang pemimpin dan wakil rakyat yang harus selalu adil dan amanah.

Malam itu, Ade Hartati, politikus perempuan dan pencinta puisi, juga membacakan puisi-puisinya. Seperti air, semua mengalir begitu saja. Mengalir semakin deras. Seperti angin, desaunya semakin kencang. Para penyair membaca puisi dengan gaya yang semakin gila. Tidak hanya di anak tangga, tapi juga di atas kursi dan sudut-sudut ruangan tersebut.

‘’Mengapa tema yang kita angkat ‘Kembali ke Tanah Ibu’, pasti ada niat yang tersirat. Tema ini kita maksudkan agar kita semua berbuat lebih bersungguh-sungguh lagi untuk Riau yang kami sebut tanah ibu. Kalau kita berjuang atas nama rakyat, sudah benar-benarkah untuk rakyat Riau. Kalau kita penulis, sudahkah kita menulis untuk Riau. Kalau kita pemuda, sudahkah kita berbuat lebih untuk Riau. Inilah maksud kembali ke tanah ibu selain karena Desember merupakan hari ibu dan DPRD dipimpin oleh seorang ibu. Juga semacam catatan akhir tahun untuk kita semua,’’ kata Pembina KSRS Kunni Masrohanti.

Rencana menggelar Kenduri Puisi di rumah rakyat bersama penyair-penyair lain sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu. ‘’Akhirnya terlaksana juga. Alhamdulillah mendapat respon positif dari Ketua DPRD meski tak bisa hadir. Beruntung ada Kakanda Ade Hartati yang mendukung penuh kegiatan ini,’’ kata Kunni lagi.

Malam puncak Kenduri Puisi juga diwarnai dengan makan dan doa bersama di awal acara. Sedangkan di penghujungnya, para peserta melepaskan lampion bersama di halaman gedung DPRD tersebut. Ada lima lampion yang dilepas. Ini disamakan dengan kenduri puisi yang sudah memasuki kali ke lima selama setahun ini. Pelepasan lampion juga dimaksudkan agar puisi terus memberi warna, terbang tinggi dan menjadi karya sastra yang berguna bagi bangsa dan Negara.

Bincang Petang

Rangkaian acara lain dalam Kenduri Puisi adalah bincang petang yang mengusung tema ‘Perempuan dan Puisi’. Bincang petang yang dilaksanakan di Bidara Café and Resto tersebut  menghadirkan pembicara Fakhrunnas MA Jabbar dan Ade Hartati dengan Ibnu Khalid sebagai moderator. Penyair lain seperti Husnu Abadi, Tien Marni, Hang Kafrawi, Herman Rante, TM Sum dan berbagai perwakilan komunitas, juga meramaikan acara tersebut.

Ade Hartati, saat bincang petang atau ketika malam puncak berlangsung, mengakui, dirinya bersedia dan menyediakan diri sebagai penyambuang aspirasi para seniman dalam memajukan dunia kesenian dan kesusasteraan di Riau. ‘’Justru saya sudah lama menunggu moment seperti ini. Duduk, berbincang dan berdiskusi, Insyaallah saya siap menjadi penyambung lidah, menampung aspirasi teman-teman seniman sekalian,’’ katanya saat bincang petang.(fiz)

Laporan ERWAN SANI, Pekanbaru
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us