ESAI SENI RUPA

Populasi Aksara, Pameran Kaligrafi, dan Tulisan Arab Melayu

31 Desember 2016 - 01.37 WIB > Dibaca 2463 kali | Komentar
 
Populasi Aksara, Pameran Kaligrafi, dan Tulisan Arab Melayu
Kata "populasi" yang artinya "penghuni suatu tempat" menyiratkan pengertian bahwa penghuni tersebut bermukim dan berkembang. Begitulah halnya dengan aksara yang dipakai oleh masyarakat kita sekarang yakni aksara Latin. Jauh sebelum aksara Latin menjadi sarana informasi aksara Arab Melayu mendominasi dalam masyarakat. Tulisan ini disebut juga tulisan Jawi di mana huruf Arab diadopsi, lalu bahasa yang yang digunakan adalah bahasa Melayu dengan penambahan tanda huruf untuk bunyi yang tidak terdapat pada vokal Arab seperti nga, nya, ga, pa dan ca.

Dalam catatan sejarah, semua kerajaan dan institusi-institusi di Riau menggunakan tulisan Arab Melayu. Kita bisa menoleh ke belakang pada masa Melayu di Penyengat jaya-jayanya, atau Kerajaan Siak Sri Indrapura, tulisan Arab Melayu sangat akrab dan apa pun yang ditulis menggunakan tulisan ini baik untuk surat-menyurat, dokumen, pamflet-pamflet, batu nisan dan lain sebagainya. Hal ini baru menyangkut kebutuhan primer, sangat ekslusif untuk kebutuhan sekunder, jarang ditemukan sebagai properti interior namun sebagai tulisan sampul buku cukup untuk memberi tanda zaman di mana kaligrafi Arab Melayu memiliki keindahan dan pencitraan luar biasa.

Populasi Aksara Arab Melayu dan Eksplorasi Seni

Seni menulis halus Arab yang populer dengan khat atau kaligrafi sudah dikenal semenjak kedatangan Islam di Indonesia. Bukti kaligrafi paling tua terdapat pada nisan-nisan kuno. Sedangkan bukti yang lebih mutakhir diperoleh dari sumber-sumber media seperti kitab, mushaf Alquran tua atau naskah perjanjian (Qoulul-Haq). Aksara Arab pada angkatan ini digunakan pula untuk naskah-naskah berbahasa Melayu atau Indonesia yang disebut Pegon, huruf Jawi atau huruf Melayu.

Seiring perkembangan budaya penjelajahan kreativitas tulis-menulis juga berkembang. Beriringan pula dengan berkembangnya seni, corak seni, jenis seni, aliran dan tujuan terciptanya karya seni, karena seni senantiasa mengangkat realitas ke dalam dunia kenyataan baru. Kenyataan itu telah masuk ke dalam pikiran, imajinasi, maupun intuisi.

Bagaimana aksara bisa berada pada  alam nyata tentunya melalui kreativitas, tidak menutup kemungkinan pula bahwa kaligrafi Arab dapat dijadikan sebagai lambang sakral, karena setiap gubahan memiliki unsur filosofis. Seniman muslim telah merancang kaligrafi, sebut saja tokohnya Ibnu Muqlah dan Ibnu Albawwab. Mereka melatarbelakangi kesempurnaan enam tulisan besar yang disebut Al-Qolam Assittah dengan wahyu Alquran dan Hadits, menurut mereka tanpa dua mata air itu tidak akan ada seni Islam. Suatu karya seni dapat dikategorikan sebagai seni bukan semata-mata diciptakan seorang muslim namun berlandaskan wahyu.

Menempati kedudukannya sebagai alat ungkap dan dekorasi, kaligrafi berfungsi menjadi ekspresi kesenian. Akan tetapi mengingat keberadaannya sebagai aksara yang memiliki makna secara lugas maka di antara keseluruhan manifestasi seni rupa, kaligrafi masih perlu mendapatkan tempat lebih khusus sebagaimana jelasnya suatu lukisan, patung atau relief nonkaligrafis berbicara meskipun masih sekadar membatasi pada ungkapan abstrak dan keindahan semata.

Karya seni lahir dari jiwa seorang seniman, melalui pengolahan media yaitu mengerjaan bahan, alat, dan teknik tertentu. Tak disangsikan karya seni sering kali menampilkan hal-hal yang khas dan unik dari suatu pribadi. Tapi jiwa seorang seniman, dari mana karya lahir, tumbuh, dan memperoleh bentuknya adalah seumpama acuan yang padanya telah bekerja kekuatan-kekuatan sejarah.

Ubaidillah Ibnu Abbas menyebutkan, kaligrafi adalah suara tangan, duta akal, penasehat pikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, suara yang menyimpan rahasia dan khazanah berbagai masalah kehidupan. Dia ibarat ruh di dalam tubuh.

Kaligrafi dan Pameran

Sebelum Pameran Kaligrafi yang mengambil tema "Populasi Aksara" dibuka pada 21 Desember 2016, sempena malam Anugerah Sagang di Gedung Graha Pena Riau, sebaiknya kita menapaki sedikit ingatan ke belakang, akan begitu pentingnya tumpuan dan lompatan untuk hari ini.

Suatu masa yang menarik adalah munculnya seniman seni rupa dalam  masyarakat yang memulai melirik karya kaligrafi lalu menciptakan karya kaligrafi pula. Masa ini disebut masa pendobrakan kesadaran, yang membuat masyarakat, khususnya kalangan muda, memberikan perhatian lebih beringas terhadap kaligrafi. Mereka berangkat menuju publik di antaranya AD Pirous, Amri Yahya, dan Amang Rahman. Kemudian dilanjutkan oleh angkatan di bawahnya yaitu Syaiful Adnan, Hatta Hambali, Abay D Subarna dll. Beberapa orang di antara mereka berangkat dari rumusan kaligrafi standar terutama jenis Farisi. Mereka hadir dengan mempopulerkan apa yang kemudian diistilahkan dengan lukisan kaligrafi atau kaligrafi lukis untuk membedakan dengan kaligrafi murni.

Dari pandangan dunia seni yang luas keberadaan mereka dianggap positif, namun dipandang sinis oleh sebagian penulis kaligrafi karena dianggap memperkosa kewajaran kaligrafi baku. Di sini terdapat dua kutub pandangan kaligrafi di mana akhirnya menyatu padu dalam kancah musabaqoh. MTQ cabang kaligrafi yang berjalan puluhan tahun mengedepankan kategori tulisan naskhi atau tulisan formal untuk naskah, berkembang menjadi beberapa jenis kaligrafi selanjutnya namun masih dalam wilayah formal dan standar.

Pada cabang lainnya adalah karya yang mengandalkan zukhruf, yakni ornamen yang fungsinya sama dengan kaligrafi secara visual, kaligrafi yang dibubuhkan tetap formal dan baku. Begitu juga pada cabang dekorasi yang misi utamanya adalah ruang interior, sampai di sini masih tetap kaligrafi standar dan konvensional. 

Ada yang lebih menarik pada perkembangan akhir-akhir ini yakni cabang kaligrafi kontemporer. Dalam cabang ini wacana seni rupa dengan objek kaligrafi dapat merespon antusias ekspresi yang menggelora dalam diri seniman kaligrafi, karena sebagian mereka pernah bertanya: kalau lukisan kaligrafi tidak memiliki publik maka menetap jadi seniman bebas itu lebih baik.

Riau pelan-pelan telah membangun dunia kaligrafi, paling tidak mengembang hidupkan seni yang sudah ada. Baik berupa tulisan maupun dekor interior. Jika kita ternganga oleh keindahan kaligrafi masjid yang hampir ada pada masjid di Riau, terutama di Pekanbaru, itu  berarti telah berhasil menarik perhatian kita terhadap kaligrafi dan zukhruf-nya. Beberapa pengembang seni ini masih eksis, sebut saja Ahmad Syafruddin, Muktamar, Yudi Oktabari, termasuk saya sendiri. Semuanya berkat jasa kaligrafer dan penulis kaligrafi yakni  D Sirajuddin AR. Dia tak henti-hentinya mengayomi perupa kaligrafi baik di Pesantren Lemka (Lembaga Kaligrafi) Sukabumi mau pun institusi Lemka yang diasuhnya di Jakarta.

Berbeda dengan kaligrafi interior, pameran lukisan kaligrafi jarang kita dengar dan lihat langsung. Dunia pameran adalan dunia pengungkapan, ekspresi, ide-ide, dan mengurai pernak-pernik. Pameran lukisan tidak selalu mengedepankan hiasan sebagai pajangan. Ada seni sebagai hiasan namun ada yang lain yang lebih penting  yakni perwujudan eksplorasi alam spiritual manusia sebagai penanda budaya dan penanda zaman. Maka, oleh sebab itu berkarya harus dilakukan, pameran mesti dilaksanakan.

Riau pernah melestarikan kaligrafi Melayu yang ditempatkan pada pamflet dan nama-nama instansi hingga nama jalan, eksis sampai hari ini, yang merupakan ide para seniman dan budayawan Riau. Setidaknya  aksi nyata dari gagasan itu telah memberi kesan spontan bahwa kita berada di daerah Melayu yang dulunya pemakai aksara Melayu. Dengan kesan kemelayuan itu kuat kemungkinan khazanah lebih terbangun oleh citra positif, meskipun jarang terlihat tapi tak betul-betul hilang, mengisyaratkan tak hilangnya Melayu di bumi, dan alhamdulillah di sekolah-sekolah pun tulisan Arab Melayu diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal.***

Khalil Zuhdy Lawna, praktisi seni rupa (kaligrafi, lukis interior, dan eksterior). Alumni ISI Yogyakarta Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Follow Us