Usung Tradisi Lewat Festival

1 Januari 2017 - 10.33 WIB > Dibaca 557 kali | Komentar
 
Usung Tradisi Lewat Festival

Dua pekan lalu, masyarakat Lipatkain, Kecamatan Kamparkiri, berpesta. Pesta tradisi dan budaya. Peninggalan masa lalu bukti kebudayaan masyarakat di masanya, diperkenalkan kembali. Adat tradisi yang mulai jauh, juga didekatkan melalui sebuah sajian bernama festival.
---------------------------------------------------------------------


TUMPAH ruah. Selama tiga hari bertuturt-turut, halaman Mesjid Raya Lipatkain dipenuhi banyak orang. Balai Adat yang berdiri megah di samping mesjid, menjadi salah satu pusat kegiatan. Sementara, di halaman antara mesjid dan Balai Adat, panggung terbuat dari kayu, berdiri sederhana. Di sini jugalah segala kegiatan festival berlangsung. Tidak hanya di panggung, tapi sampai pelataran nan luas.

Sabtu, 18 Desember siang itu misalnya. Ini merupakan hari ketiga kegiatan. Waktu itu, halaman mesjid dan Balai Adat dipadati banyak orang. Bahkan di jalanan. Tepi-tepi jalan hampir tidak ada ruang kosong. Penuh dengan parkir mobil maupun sepedamotor. Banyak plat hitam, tapi tak sedikit plat merah. Ibu-ibu, anak-anak, petani, pedagang, dan semua masyarakat berbondong-bondong menuju halaman tersebut.

Di dalam ruang terbuka Balai Adat, datuk nan sembilan dari sembilan suku yang ada di Kanagarian Lipatkian, sudah menunggu. Mereka adalah, Datuk Jalelo dari Suku Patopang Basah, Datuk Godang dari Suku Patopang Tonga, Paduka Tuan dari Suku Domo, Datuk Majo Datuak Marajo dari Suku Melayu, Datuk Tanaro dari Suku Melayu Palotoko, Datuk Manghudum dari Suku Melayu nan Empat, Datuk Tumenggung dari Suku Paliang, Datuk Sinaro dari Suku Maliliang, dan Datuak Paduko Marajo dari Suku Melayu Bendang. Mereka semua duduk bersila. Di hadapan mereka, sebuah kupiah hitam berlilit kain hitam berpilin yang disebut letegh atau soluok yang menggambarakn tali berpilin tigo, ditelak di atas tempat khusus. Inilah kopiah khusus yang bakal diberikan kepada seseorang, calon penerima gelar Gelar Paduko Dirajo.

   Gelar yang memiliki arti penghormatan kepada orang besar yang dihormati ini dberikan kepada Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman. Kopiah yang dikenakannya dibuka dan diganti oleh Datuk Singo dengan kupiah berikat letegh atau soluok tersebut begitu penabalan dilaksanakan. Gelar diberikan dengan tujuan tertentu dengan pantang larang yakni,  sebagai orang yang dihormati yang bersangkutan harus memberikan contoh dan teladan yang baik dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai baik dan kebenaran. Ke sembilan datuk, tokoh masyarakat, tokoh agama, ninik mamak dan tokoh-tokoh di Kenegerian Lipatkain siang itu, menunggu gubernur di dalam Balai Adat.

   Begitu Gubernur datang, para datuk dan ninik mamak menyambut hingga depan pintu Balai Adat. Begitulah ketentuan dan keagungan para datuk. Di dalam balai itulah penabalan gelar Datuk Paduko Dirajo berlangsung. Dilanjutkan dengan makan bersama yang disebut dengan makan bajambau. Segala lauk pauk khas dan tradisi Kanagarian Lipatkain, keluar. Semua hasil kerja keras dan olahan ibu-ibu Lipatkain.

Usai makan bajambau, kegiatan dipusatkan di halaman atau panggung utama. Di hadapan para tamu besar, remaja, anak-anak dan semua masyarakat, kesenian tradisional dipertontonkan. Kekayaan yang ada, yang dimiliki dipersembahkan. Penabalan gelar, makan bersama dengan makanan tradisi, kegiatan seni pada hari itu, hanya sebagian kegiatan dari rangkaian panjang kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari bertuturt-turut. Kegiatan besar itulah yang diberi nama Festival Equator.

   Festival ini dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Riau. Awalnya memang digagas oleh pemuda tempatan, yakni pimpinan Sanggar Bengkel Seni yang  berdomisili dan besar di Lipatkain, Dody Rasyid Amin. Gagasan tersebut kemudian disampaikan Dody kepada pemuda lain, tokoh masyarakat hingga ninik mamak serta Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau yang akhirnya langsung ditanggapi posistif dan dibesarkan serta dilaksanakan Disparekraf berkerjasama dengan Bengkel Seni dan seluruh masyarakat Lipatkain.

Festival Equator ini hanyalah bungkus. Di dalamnya, segala kegiatan tradisi dan kebudayaan masyarakat diperkenalkan kembali, dimeriahkan kembali, didekatkan sebisa mungkin kepada masyarakat dan generasi masa kini. ‘’Di provinsi lain, ada juga Festival Equator. Digaungkan dan dimeriahkan serta dirayakan dengan sangat besar. Di Lipatkain ada tugu Equator. Ini potensi yang bisa diangkat secara nasional. Bermula dari sinilah lalu kami menggagas festival ini. Isinya tetap tentang bagaimana kebudayaan, kekayaan negeri, adat istiadat bisa terangkat kembali, bisa dikenali orang banyak lebih dekat lagi. Bahkan bisa menjadi destinasi wisata baik alam maupun kebudayaannya,’’ kata Dody.

Dalam Festival Equator juga diperkenalkan tujuh hal penting yang merupakan peninggalan sejarah masa lalu.Tujuh hal ini juga diharapkan bisa menjadi destinasi wisata di Lipatkain. Tidak hanya alam, tapi juga peninggalan masa lalu, tradisi dan kebudayaan masyarakat di sana. Tujuh hal yang disebut dengan The 7 Miracle of Lipatkain tersebut yakni , bendungan, Sei Kitang, Takaw Godang, lokomotif kereta api, tugu equator, Balai Adat dan Masjid Raya serta Air Terjun Koboko.

   Bendungan perlu dijadikan destinasi wisata karena dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soeharto yang bertujuan menciptakan areal persawahan untuk meningkatkan pertanian. Namun seiring waktu alam bendungan telah digunakan dalam bentuk yang lebih ramai seperti tambak ikan, kolam ikan, taman bermain air dan lain-lain.

   Desa Persawahan Sungai Geringging dianggap penting untuk dijadikan salah satu destinasi wisata juga nilai memiliki keistimewaan. Yakni sebuah kawasan transmigrasi yang dibangun pada  zaman orde lama dan sampai saat ini kegiatan pertaniannya masih berjalan. Di sana juga terdapat air terjun yang bernama Sungai Ngkitang

Selanjutnya, Takaw Godang. Takaw Godang  adalah kendi besar yang merupakan peninggalan Datuk Kumbuk yang berbadan besar dan tinggal di Koto Tua, Desa Lipatkain Selatan . Kendi ini adalah benda yang digunakan beliau untuk mengangkut air. Di masanya Kendi ini menggelinding dari bukit sehingga menimbulkan rasa takut  masyarakat karena saat itu menggelindingnya di tengah kampung. Maka saat itu ibu-ibu  yang sedang menumbuk padi memukul salah satu kendi itu sehingga mulut kendi pecah dan tak menggelinding lagi. Lalu kendi diabadikan oleh anak cucu Datuk Kumbuk sebagai warisan mereka.

Gerbong lokomotif kereta api peninggalan Jepang. Lokomotif ini peninggalan penjajah pada masa itu ditinggal karena mengalami kekalahan. Pada masa dulunya merupakan jalur untuk distribusi batu bara dari sawah lunto menuju Pekanbaru danmenelan banyak korban jiwa sebagai pekerja paksa yang membangun jalur rel tersebut.

Berikutnya yakni Tugu Equator, sebuah tugu yang merupakan peninggalan penjajah yang menyimbolkan tentang titikk letak atau seimbol-simbol yang berkaitan dengan keperluan pemetaan penjajahan pada masa itu. Tidak hanya di Riau, Tugu Equator juga ada di beberapa wilayah lain di Indonesia.

Komplek Mesjid Raya dan Balai Adat adalah bangunan yang dibangun di pusat Kota Lipatkain sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan dengan bangunan megah dan tertata sedemikian rupa. Kedua bangunan ini dinilai penting dan dianggap harus dijadikan salah satu dari tujuh destinasi wisata tersebut.

Terakhir, Air Terjun Koboko. Air terjun ini merupakan kekayaan alam Lipatkain yang sudah ada sejak lama dan baru dibuka secara resmi pada 2015 dengan ketinggian air terjun sekitar 15 meter. Air terjun ini terdapat di alam yang asri dan sejuk. Sejak diresmikan, air terjun ini telah banyak dikunjungi masyarakat Lipatkain, Pekanbaru, Kuansing atau kota-kota sekitarnya.

Datuk Paduko Dirajo dan segenap tamu yang datang hari itu, juga diajak keliling menyaksikan keistimewaan tujuh destinasi wisata yang baru dirancang tersebut. Mereka berkeliling Kota Lipatkain tidak lagi dengan mobil pribadi atau mobil dinas yang mereka kendarai saat ke sana, tapi menggunakan becak hias. Becak-becak ini dihias sedemikian rupa. Semuanya ada sembilan buah yang melambangkan sembilan persukuan yang ada di Kanagarian Lipatkain.

Satu hal yang menarik, selain makan bajambau, berbagai festival seperti festival rebbana, masak Pakasam (makanan khas Kamparkiri), di sana juga ada kacau kalamai.  Kuali besar dengan tungku kayu, menjadi hiasan paling unik di halaman mesjid tersebut. Aromanya yag harum, sangat menggoda dan menarik orang-orang di halaman itu untuk mendekat lokasi kacau kalamai.

‘’Kita berupaya semua yang berbau tradisi dan kebudayaan masyarakat Lipatkain, kita pertunjukkan kepada khalayak ramai. Ya, supaya mereka dan orang-orang tahu bahwa Lipatkain kaya dengan kebudayaan dan tradisi bahkan memiliki destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi,’’ beber Dody lagi.

Kepala Disparekraf Riau, Fahmizal mengatakan, Festival Equator merupakan salah satu festival besar yang ada di Kecamatan Kamparkiri selain Festival Subayang yang telah dilaksanakan tahun sebelumnya. Sama seperti Festival Equator, Festival Subayang juga dibidani Dody Rasyid Amin bersama Bengkel Seni yang dipimpinnya dan didukung ninik mamak, tokoh masyarakat, pemerintahan setempat dan juga masyarakat.

   ‘’Festival Equator bukan hanya mengangkat kekayaan alam saja, tapi juga tradisi dan kebudayaan daerah yang ada di Lipatkain. Festival dengan tujuh destinasi wisata yang ada, menjadi bagian terpenting dan menambah jumlah destinasi wisata yang ada di Riau saat ini. Ada wisata alamnya, budaya, religi, bahkan wisata sejarahnya. Lengkap,’’ jelas Fahmi.

Melihat antusias masyarakat dan pengunjung yang luar biasa, sangat memungkinkan untuk menjadikan Festival Equator sebagai festival tahunan atau aganda wisata tahunan Disparekraf. Apalagi di dalamnya sangat kental  dengan adat istiadat, tardisi dan kebudayaan.  ‘’Bukan soal akan dilaksanakan setiap tahun atau tidak, ini kan ivent. Tapi lebih dari itu Festival Equator telah menjadi stimulant dan menjadi salah satu wisata unggulan di Riau,’’ sambung Fahmi.(fiz)

Laporan KUNNI MASROHANTI, Kamparkiri
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us